KunjungiTamanKotaTokyoiniSaatWisatakeJepang

August 08, 2018Qubicle Travel
Taman kota Tokyo berharmoni untuk memenuhi kebutuhan akan ruang terbuka hijau. Eksistensinya mengawal kemegahan & kecanggihan kotanya
Landscape Taman Yoyogi di Tokyo, Japan (Foto: Dok. Istimewa)

Taman bukan sekadar tempat rekreasi atau estetika kota semata. Apabila merujuk pada definisi dari Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 5 Tahun 2008, ruang terbuka hijau memiliki fungsi sebagai paru-paru kota, pengatur iklim, produsen oksigen, penyedia habitat satwa, hingga penyerap polutan media udara, air, dan tanah.  Peraturan itu juga memaparkan fungsi tambahan seperti penggambaran ekspresi budaya lokal, media komunikasi warga, hingga menstimulasi kreativitas dan produktivitas warga kota.

Menghabiskan waktu di taman juga memiliki dampak positif pada kesehatan mental kita seperti yang ditemukan Juyoung Lee dalam riset berjudul Influence of Forest Therapy on Cardiovascular Relaxation in Young Adults. Lee menemukan bahwa alam atau ruang terbuka hijau di kota dapat membuat kita lebih rileks, mengurangi stres, dan mengatasi kecemasan. Roger Ulrich beserta peneliti lain asal Texas A&M University yang membuat penelitian di Journal of Enviromental Psyhcology pada tahun 1991 menemukan apabila kita terekspos oleh alam, otak akan mencerna dengan baik. Taman kota yang memadai pun dapat dimanfaatkan sebagai tempat dengan berbagai fungsi. Dari tempat berkumpulnya warga hingga rekreasi untuk menurunkan tingkat stres.


Kuil untuk Kaisar di tengah hutan

Torii, gerbang khas agama Shinto di taman Yoyogi (Foto: Dok. Istimewa)

Dibalik modernitas ibu kota Jepang ini, sejarah dan kebudayaan masih melekat kental di berbagai sudut kota. Kuil tersebar di berbagai tempat, wanita berkimono masih memadati keramaian, dan kedai makanan seperti ramen, udon, serta sushi yang telah mendunia berjejer di sepanjang jalan.

Salah satu ruang terbuka hijau yang sering dikunjungi adalah Taman Yoyogi. Di tengah-tengah kepadatan kota, cukup mengejutkan menemukan ruang terbuka hijau yang sangat luas ini. Pepohonan mengelilingi jalan besar dengan fungsi untuk memudahkan perjalanan wisatawan. Terletak di daerah Shibuya, taman ini bisa dicapai melalui berbagai cara seperti menaiki kereta Tokyo Metro ke jalur Yoyogi-koen yang dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar dua hingga tiga menit. 

Setelah berjalan-jalan di perkotaan, berkunjung di paru-paru kota akan memberikan angin segar bagi kita. Menghirup oksigen, merasakan hilangnya penat urban saat kita memasuki kawasan taman yang memiliki luas 54 hektar ini.

Dari warga setempat hingga pelancong mancanegara mengunjungi taman ini. Dihiasi gerbang-gerbang khas agama Shinto bernama torii yang memiliki arti “burung terdiam”, kebanyakan orang ini mengunjungi Kuil Meiji Jingu yang tidak jauh dari Taman Yoyogi. 

  Tong sake berwarna-warni menghiasi taman Yoyogi  (Foto: Dok. Istimewa)

Selain torii, tong-tong berisi sake dengan beragam warna yang dinamakan sebagai juga menghiasi jalur menuju Kuil. Tong sake ini dibawa dari seluruh Jepang untuk digunakan saat upacara atau festival. Konon katanya, minuman alkohol yang difermentasi melalui beras ini digunakan untuk menandakan hubungan antara manusia dan Tuhan.

Setelah melewati torii terakhir, gerbang besar Kuil bernama Minami Shin-mon akan menyambut pengunjung. Arsitektur khas Jepang pun seakan membawa kita ke masa lampau, penuh sejarah dan mistisme.

Kuil Meiji Jingu, Taman Yoyogi (Foto: Dok. Istimewa)

Disini banyak yang berdoa atau beribadah. Sebelum masuk ke Kuil Meiji Jingu, kita dianjurkan untuk melakukan ritual yaitu mencuci tangan dan kumur-kumur dengan air yang disediakan. Saat berada di Kuil kita bisa melakukan berbagai aktivitas seperti melemparkan koin di ruangan utama, membeli jimat, atau menulis harapan di sebuah kayu yang kemudian digantung.

Kuil Meiji Jingu sendiri dipersembahkan untuk Kaisar Meiji yang telah membuka Jepang kepada dunia luar dan modernisasi. Sampai sekarang hal ini bisa kita lihat dari perpaduan kota-kota besar seperti Tokyo. 

Cukup jelas bahwa Taman Yoyogi memiliki fungsi sebagai tempat wisata hingga menjadi paru-paru kota. Akan tetapi hadirnya Kuil Meiji Jingu yang megah juga menambahkan fungsi ekspresi budaya lokal pada taman kota.


Taman Shinjuku-gyoen  

  Taman Shinjuku-gyoen yang berhimpitan dengan perkotaan di Tokyo (Foto: Dok. Istimewa)  

Taman kota Tokyo lain yang tidak kalah populer terletak di Shinjuku dengan nama Taman Shinjuku-gyoen. Untuk memasuki taman dengan luas 58 hektar ini kita harus merogoh kocek sebesar 200 yen (sekitar Rp24.000). Taman yang sempat hancur pada Perang Dunia II ini dibuka kembali pada tahun 1949 hingga kini memberikan tempat rekreasi yang memancarkan estetika terbaik dari alam.

Seperti Taman Yoyogi, fungsi paru-paru kota juga terlihat karena lokasi Shinjuku-gyoen yang cukup rapat dengan perkotaan melalui gedung-gedung besar dan kesibukannya.

Tempat yang memiliki lebih dari 100.000 tumbuhan ini dibagi menjadi tiga area bertema yaitu Kebun Jepang, Kebun Inggris, dan Kebun Prancis.

Berbagai pengunjung, baik pelancong mancanegara hingga penduduk lokal ikut serta menikmati taman kota Tokyo ini. Kita bisa duduk bersantai, meminum teh hijau di bangunan-bangunan tradisional hingga menikmati pemandangan sambil berjalan kaki.

Tidak sedikit juga pengunjung yang membawa kamera profesional untuk mengabadikan momen di Taman Shinjuku-gyoen. Dari pepohonan, keindahan alam, kolam penuh bebek, hingga pencampuran bangunan khas Jepang yang bersebelahan dengan alam.


Sejarah, budaya, dan hewan di Taman Ueno

  Suasana keramaian di taman Ueno (Foto: Dok. Istimewa)   

Apabila harus memilih taman kota yang paling menggambarkan Jepang, dapat dikatakan taman Ueno sebagai pemenang. Dibuka untuk umum pada tahun 1873, taman yang dibangun dengan model kebarat-baratan ini memiliki luas sekitar 53 hektar.

Bertemunya budaya lokal dengan luar tentunya membuat taman kota Tokyo ini memiliki karakter yang menggabungkan kultur barat dan timur. Kuil, pagoda, hingga patung khas Jepang hadir untuk memberikan corak budaya pada berbagai sudut. Berbagai museum seperti Shitamachi beserta Museum Alam dan Sains juga hadir di Taman Ueno.

Keramaian di taman ini menunjukkan fungsi berupa wadah komunikasi masyarakat. Contohnya adalah berkumpulnya komunitas atau bahkan demonstrasi produk seorang pedagang yang ditonton oleh orang-orang. Pelajar, baik berseragam atau baju bebas juga hadir meramaikan Taman Ueno, sekadar bertamasya atau berkumpul dan berbincang.

Gerbang emas di Kuil Toshogu di taman Ueno (Foto: Dok. Istimewa)

Budaya kental Jepang dapat direfleksikan dari Kuil-Kuil yang berdiri sejak zaman dahulu. Sebut saja yang telah hadir sejak periode Edo saat klan Tokugawa masih berkuasa. Dahulu tempat ibadah ini lebih besar dengan 30 bangunan, setelah pergolakan zaman yang tersisa hanyalah ruangan utama dan pagoda lima lantai.

Tokugawa telah memimpin sekitar 250 tahun sebelum diambil alih oleh pemerintahan Meiji. Kuil Toshogu Ueno juga menjadi warisan budaya klan ini. Tempat suci yang ada sejak tahun 1600-an ini juga dikenal sebagai ruang penyimpanan emas.

Peninggalan klan Tokugawa memberikan warna kultural di Taman Ueno. Bahkan tempat ini menjadi peperangan terakhir yang dilakukan oleh Shogun Tokugawa melawan pemerintahan yang dipimpin oleh Kaisar Meiji pada tahun 1868. Penuh darah dan kehancuran, Kuil Toshogu Ueno tetap berdiri melalui masa-masa perang bahkan gempa bumi. Melekat dengan sejarah, Kuil-Kuil ini masih dilestarikan oleh pemerintahan Jepang hingga kini.


Pagoda di Taman Ueno, Tokyo (Foto: Dok. Istimewa)  

Apabila kita melihat fungsi taman salah satunya adalah menjadi habitat bagi hewan. Burung, bebek, tupai, dan serangga menjadi hewan yang dapat dijumpai di taman-taman kota Tokyo. Beda cerita dengan Ueno yang memiliki ratusan hewan di Kebun Binatang Ueno.

  Pintu masuk kebun binatang di taman Ueno (Foto: Dok. Istimewa)  

Cukup dengan 600 Yen (sekitar Rp78.000) kita bisa melihat beragam jenis hewan dari berbagai belahan dunia di kebun binatang yang berdiri sejak tahun 1882 ini. Panda menjadi salah satu atraksi paling populer di Kebun Binatang. Saudaranya juga bisa kita lihat, sebut saja panda merah, beruang hitam Jepang, atau beruang coklat Hokkaido.

Hewan dari beragam iklim juga bisa kita lihat disini secara bersamaan. Sekumpulan penguin, beruang kutub, hingga anjing laut dapat berada di satu kebun binatang yang sama dengan macan, singa,gajah, tapir, dan kuda nil. Di Ueno pun fungsi melindungi satwa dapat dilihat dengan kehadiran kebun binatang ini.

Anjing Laut di kebun binatang taman Ueno (Foto: Qubicle)

Stres dan kesehatan mental dapat diatasi apabila kita menghabiskan waktu di alam. Taman kota menjadi tempat praktis karena tidak sejauh gunung atau hutan. Dengan standar tinggi, taman-taman kota Tokyo menjadi fasilitas yang bisa dimanfaatkan warganya.

Keseimbangan diperlukan untuk menciptakan harmoni sehingga sudah sepantasnya taman melengkapi kehidupan metropolitan dengan segala pesona yang bisa diberikannya.


Penulis: Bramantyo Indirawan

Like what you read? Give Qubicle Travel your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Qubicle User

Qubicle Travel

Similar stories

Stay Updated.

Every day, a dose of inspirations.🎉
Subscribe Qubicle
Qubicle Logo
© 2018 Qubicle. All rights reserved
FOLLOW US