kiniSURGAduluSIANIDA

May 10, 2016Qubicle Travel

Words and Photo by: Rita Istiana

Ini adalah yang kesekian kalinya saya menginjakan kaki di bumi para dewa, Bali. Selalu ada yang istimewa setiap kunjungan ke pulau nan cantik ini, termasuk di kedatangan saya kali ini. Undangan dari teman lama, bli eka, untuk menyelam di desanya, membuat saya memperpanjang waktu liburan saya di Bali. Perjalanan dari denpasar menuju desa Les, Tejakula, kabupaten Buleleng ini memakan waktu kira-kira 3 jam setengah. Walupun terdengar sebagai perjalanan yang panjang, tetapi waktu tempuh itu tidak terasa, karena pemandangan alam yang bagus, melewati 3 danau indah di bali, yaitu : bedugul, buyan dan tamblingan.

Sesampainya saya di sana, saya langsung disambut oleh senyum ramah bli Eka dan tawaran yang tidak mungkin saya tolak." Bagaimana, apakah kita langsung menyelam saja, mumpung cuaca masih sangat bagus ?" kata bli Eka, sambil melemparkan senyum khas nya. Dan saya pun, langsung menyambutnya tanpa basa basi, apalagi ditambah bonus menyaksikan cara nelayan mendapatkan ikan hias yang ramah lingkungan.

Desa Les merupakan desa ikan hias ramah lingkungan yang sudah sangat terkenal di manca negara.Pada jaman dahulu, Sebelum tahun 1982 hanya terdapat nelayan ikan konsumsi di Desa Les.Nelayan dari pulau jawa yang mencari ikan hias di desa inilah, yang mendorongnelayan Les mempelajari apa yang sedang dilakukan oleh nelayanjawa tersebut.

Kemudian, nelayan Les pun mulai beralih dari profesi sebagai nelayan ikankonsumsi, menjadi nelayan ikan hias sejak saat itu. Pada awalnya nelayan ikan hias les hanya berjumlah empat sampai tujuh orang.Kemudian melihat perkembangan yang dihasilkan, jumlah nelayan ikan hias juga berkembang dalam jumlah yang lumayan besar.

Cara tangkap yang dilakukan pada waktu itu adalah dengan menggunakanjaring yang tradisional. Sejalan dengan meningkatnya permintaan pasar sertatergiur kemudahan yang ditawarkan penggunaan sianida nelayan kemudianberalih menggunakan sianida.

Padahal Pemakaian dalam jangkawaktu yang lama, akan mengakibatkan kerusakan pada terumbu karang.

Karena kebutuhan keluarga yang mendesak, maka kegiatan menggunakan sianida ini, berlangsung cukup lama. Dan secara perlahan terumbu karang desa Les semakin rusak. Ikan-ikan hias dan konsumsi pun berkurang secara drastis. Para nelayan desa les, harus mencari ikan hias jauh dari kampung halaman mereka. Di waktu itu, pencarian ikan hias bisa mencapai dataran sulawesi dan nusa tenggara timur.

Beberapa orang dan LSM pencinta lingkungan pun , mulai mengadakan perdekatan ke beberapa tokoh nelayan ikan hias desa Les. Dan beberapa diantaranya mulai terketuk dan sadar akan bahaya dari sianida.

Pada tahun 2001, Sianida pun mulai ditinggalkan, dan kembali pada jaring tradisional. Bahkan jaringpun digunakan yang lembut, agar tidak merusak karang-karang desa les. Rehabilitasi karang pun dilakukan. Kelompok nelayan ikan hias juga dibentuk, untuk mewadahi kegiatan para nelayan. Dan dilakukan standarisasi untuk pencarian ikan hias yang ramah lingkungan.

Bahkan dari desa nelayan ikan hias, les juga sudah menjelma menjadi desa wisata selam yang cukup menarik. Berkat program transplantasi karang yang dilakukan kelompok nelayan les, terumbu karang les yang dulunya rusak karena sianida, sekarang sudah menjelma menjadi barisan hard dan soft coral yang indah. Ikan-ikan warna warni yang dulunya hilang, kini kembali berdatangan menghiasi dunia bawah laut desa les.

Dan ini saya buktikan dengan mata kepala saya sendiri. Karang yang warna warni dan ikan-ikan yang berteburan berenang di sekitar karang ikut menemani penyelaman saya dengan bli eka. Keindahannya tidak kalah dengan destinasi selam yang lainnya.

Dan tidak berapa lama kemudian, nampak beberapa nelayan mulai menebarkan jaring yang sangat lembut untuk menangkap ikan hias. Jaring lembut ini dimaksudkan supaya tidak merusak karang di sekitar penangkapan ikan hias. Salut, untuk para nelayan desa les. Tanpa keinginan yang keras untuk berubah ke arah yang lebih baik, maka akan mustahil bisa jadi desa les yang seperti sekarang ini.

Saking indahnya, 1 jam lebih penyelaman kami, terasa sangat singkat. Dan saya harus mengakhiri sesi menyelam saya kali ini. dan karena saya harus kembali ke jakarta besok malam, maka hari ini saya hanya menyelam satu kali saja, ini untuk memenuhi kuota 24 jam before flight after dive, untuk menghindari tekanan yang berlebih saat terbang nanti. Dan saya menghabiskan sisa malam saya dengan mengobrol panjang lebar dengan bli Eka tentang laut, karang dan ikan-ikan yang kini mulai banyak terdapat di desa Les. Bagi saya desa les adalah desa impian, yang punya banyak potensi alam, terutama dunia bawah lautnya, sekaligus menunggu untuk di explorasi oleh para wisatawan selam.


Like what you read? Give Qubicle Travel your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Comments

    Qubicle User

    Qubicle Travel

    The ultimate place for reflective travel and adventure experience.

    Stay Updated.

    Every day, a dose of inspirations.🎉
    Subscribe Qubicle
    Qubicle Logo
    © 2018 Qubicle. All rights reserved
    FOLLOW US