KisahKulinerKesukaanPresidenIndonesiaPertama

August 17, 2018Qubicle Culinary
Presiden Indonesia pertama mencintai beragam kuliner di tanah air. Mari rayakan kemerdekaan dengan menyantap makanan favoritnya
Ir. Soekarno, Presiden Indonesia pertama (Foto: Dok. Istimewa)

Soekarno sebagai presiden Indonesia pertama pernah mengatakan bahwa dirinya bukan apa-apa tanpa rakyat; ia besar karena rakyat; berjuang karena rakyat; menjadi penyambung lidah rakyat. Sikap hingga kebiasaan pria yang lahir di Surabaya pada tanggal 6 Juni 1901 ini memang merakyat, bahkan membuat kata “lidah rakyat” seakan harafiah dengan berbagai makanan favoritnya. Memperingati hari kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus ini, mari menyantap berbagai makanan favorit sang bapak proklamator sekaligus Presiden Indonesia Pertama.

Menurut buku berjudul Kesaksian Tentang Bung Karno, 1945-1967 (1999) yang ditulis Mangil Martowidjojo selaku pengawal pribadinya, pilihan kuliner Soekarno cukup sederhana dan yang pasti makanan Indonesia. Salah satunya adalah semangkuk kecil nasi, sayuran lodeh atau sayur asem, dan telur mata sapi — seringkali disantap menggunakan tangan bukan dengan sendok dan garpu.


Sayur lodeh yang memiliki kenangan bagi Soekarno (Foto: Dok. Istimewa)

Sayur lodeh memiliki kenangan manis tersendiri baginya. Dalam buku Srihana-Srihani: Biografi Hartini Sukarno (2009) yang ditulis oleh Arifin Surya Nugraha, Soekarno bertemu dengan calon istrinya bernama Hartini untuk pertama kalinya di rumah Walikota Salatiga karena menyantap sayur lodeh buatannya. Presiden Indonesia pertama yang memiliki nama asli Koesno Sosrodihardjo ini jatuh hati pada pandangan pertama setelah bertanya kepada walikota siapa yang membuatkan sayur tersebut. “Rumahnya di mana? Anaknya berapa? Suami? Keluar dari mulut Soekarno sambil memegang tangan perempuan yang akhirnya menjadi istrinya.

Hampir semua orang tahu ikan asin dan sambal terasi adalah makanan umum orang Indonesia. Soekarno pun menyukainya dengan satu syarat: sambal harus tetap berada di cobek atau wadah menguleknya yang biasa terbuat dari batu, tidak boleh di piring. Soekarno juga menyantap hidangan ini di pagi hari dengan nasi dan sayur singkong, kemudian pisang dan sawo. Pilihan sarapan lain insinyur lulusan Technische Hoogeschool te Bandoeng ini adalah tempe goreng atau roti bakar dengan dua sendok madu tawon dan telur mata sapi. Teh atau kopi tubruk dengan satu setengah sendok gula juga ikut serta menemani.


ikan asin salah satu menu favorit Soekarno (Foto: Dok. Istimewa)

Bagar ikan hiu menjadi makanan favorit Soekarno saat diasingkan dari 1938 hingga 1942 di Bengkulu. Memiliki kemiripan dengan rendang, hidangan ini menggantikan daging sapi dengan ikan hiu sebagai daging utamanya. Kontroversi muncul, namun melihat konteks daerahnya, ia tetap merefleksikan rakyat karena memakan apa yang memang wajar disantap oleh masyarakat Bengkulu.

Unik saat dibandingkan dengan makanan yang lebih umum di daerah lain Indonesia dan kontroversial saat membahas ikan hiu sebagai satwa yang harus dilindungi. Namun sang Presiden Indonesia pertama juga memberikan perspektif bahwa setiap daerah memiliki corak budayanya masing-masing, ia tetap dekat dengan rakyat karena beradaptasi dibandingkan harus meminta makanan yang ia sukai. Dalam prosesnya, bagar ikan hiu pun menjadi salah satu makanan favorit pejuang yang juga diasingkan ke Ende selama empat tahun ini.

Nasi jagung juga menjadi salah satu makanan kegemarannya, menurutnya jagung melambangkan dunia tani, menunjukkan kekuatan. Apabila tidak tersedia di tempat makan seperti warung atau restoran, kita bisa membuatnya sendiri dengan mencampurkan beras dan jagung, rebus kemudian dikukus hingga matang.

Pria yang dipanggil Putra Sang Fajar karena lahir di pagi hari ini dekat dengan jagung. Saat kecil ia memakannya bahkan menggunakannya sebagai analogi saat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. “Kalau dulu saya berkata, sebelum jagung berbuah Indonesia akan merdeka, sekarang saya dapat memastikan Indonesia akan merdeka sebelum jagung berbunga,”ucapnya di Lapangan Terbang Kemayoran, Jakarta pada tanggal 14 Agustus 1945 yang dilanjutkan melalui perjuangan yang dilakukan oleh sang proklamator dan seluruh rakyat Indonesia, merah putih berkibar menjadi negara yang merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Proklamasi dibacakan di Jl. Imam Bonjol No. 1, Jakarta Pusat yang merupakan kediaman Laksamana Muda Maeda Idashi oleh Soekarno.


Sate ayam melengkapi kemerdekaan Indonesia (Foto: Dok. Istimewa)

Pada tanggal 18 Agustus Soekarno didaulat menjadi Presiden Indonesia pertama bersama Bung Hatta sebagai wakilnya. Menurut buku Bung Karno: Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (1966) karya penulis asal Amerika Serikat bernama Cindy Adams, setelah dilantik ia pulang berjalan ke rumah tanpa alas kaki dan bertemu dengan pedagang kaki lima yang menjual sate. Soekarno kemudian memberikan perintah pertamanya sebagai presiden yaitu membeli sate sebanyak lima puluh tusuk yang disantap bersama koleganya.

Salah satu kepedulian dan dedikasi nyata Soekarno atas makanan Indonesia dapat dibuktikan dari kitab kuliner berjudul Mustika Rasa (1967). Dengan 1123 halaman, buku yang menyediakan sekitar 1600 resep makanan nusantara ini dikerjakan selama 7 tahun. Buku yang diterbitkan oleh Departemen Pertanian ini dimulai dengan penjelasan atas diversifikasi pangan, untuk kemudian menjadi pedoman bagi rakyat Indonesia dalam memanfaatkan bahan makanan yang ada di sekitarnya.

Apabila Amerika Serikat merayakan kemerdekaan dengan menyantap daging barbeque, sayap ayam, hotdog, dan hamburger, kita bisa menyantap makanan-makanan asli Indonesia yang mewakili bangsa sendiri, baik di hari kemerdekaan atau sehari-hari. Pilihannya banyak dan beberapa diantaranya menjadi favorit sang Presiden Indonesia pertama bapak Soekarno seperti sayur lodeh dan sate yang bisa kita santap di tanggal 17 Agustus ini. Seperti kata Soekarno dalam Bung Karno: Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (1966), “Kita punya panganan enak kepunyaan kita sendiri, mengapa tidak itu saja dihidangkan?”


Penulis: Bramantyo Indirawan


Like what you read? Give Qubicle Culinary your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Qubicle User

Qubicle Culinary

Similar stories

Stay Updated.

Every day, a dose of inspirations.🎉
Subscribe Qubicle
Qubicle Logo
© 2018 Qubicle. All rights reserved
FOLLOW US