Kisah Lokananta, Pabrik Piringan Hitam Pertama Indonesia 

"Seperangkat gamelan yang mampu berbunyi sendiri di negeri para dewa."

- Presiden Soekarno

Tahun 2007 Malaysia merilis video klip promosi. Tensi hubungan dengan Indonesia pun memanas. Biang keroknya adalah penggunaan lagu ”Rasa Sajange” sebagai suara latar media promosi tersebut. Menteri Pelancongan dan Kebudayaan Malaysia, saat itu dijabat oleh Adnan Mansor, mengklaim lagu itu merupakan khasanah rumpun Melayu dimana Malaysia menjadi bagiannya. Polemik ini berakhir selesai setelah pihak Indonesia menyodorkan bukti otentik.

Lagu ”Rasa Sajange” terdapat pada pringan hitam kompilasi The 4th Asian Games: Souvenir From Indonesia, buah tangan dari pemerintah kita kepada negara-negara peserta Asian Games IV yang diselenggarakan di Jakarta pada 1962. Salah satunya, ya, Malaysia.

Dari mana barang bukti ditemukan? Dari salah satu ruang penuh debu di Lokananta, pabrik piringan hitam yang terletak di jalan Jend Ahmad Yani – dulu jalan Terusan, Solo. Petugas di sana berhasil menemukannya setelah satu minggu mengaduk-aduk 40 ribu piringan hitam yang berjamur dan penuh debu. Fakta ini merujuk pada sebuah kondisi: betapa payahnya sistem pengarsipan musik Indonesia.

Perusahaan rekaman milik negara ini didirikan resmi pada 29 Oktober 1956 tepat pukul 10.00 pagi. Cikal bakalnya adalah instruksi Dirjen R Maladi kepada 49 stasiun RRI di seluruh Indonesia untuk mengirimkan dua lagu daerah per stasiun. Setelah diperbanyak dalam format piringan hitam, hasilnya kemudian disebarkan kembali ke cabang seluruh Indonesia. Kini berbagai arsip penting yang berhubungan dengan audio tersimpan di Lokananta, termasuk Mars Nasakom, pembacaan teks Proklamasi dan tidak kurang dari 5000 pita reel.

Semula nama yang diusulkan adalah Indra Vox, namun langsung ditolak oleh Presiden Soekarno karena dinilai terlalu berbau asing. Pilihan nama Lokananta diambil dari cerita pewayangan yang kurang lebih berarti ‘seperangkat gamelan yang mampu berbunyi sendiri di negeri para dewa’. Arti ini seperti mendramatisasi keberadaan tempat bersejarah tersebut. Petugas keamanan kerap mendapati perangkat gamelan yang berbunyi sendiri pada malam hari.

Seperti halnya RRI dan TVRI, secara struktur Lokananta menginduk ke Departemen Penerangan. ‘Kiamat’ datang saat pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Depertemen ini dibekukan atas nama efisiensi. Perlahan-lahan Lokananta memasuki periode suram. Untuk dapat bertahan dari masa sulit, managemennya memutuskan sebagian dari lahan yang ada sebagai peruntukan lapangan futsal.

Nama Lokananta ngetop lagi setelah di halamannya digelar Record Day pada 19 – 20 April 2014. Permintaan penggandaan kaset tiba-tiba melonjak drastis (halaman 42). Sebagian besar konsumennya adalah band-band metal. Informasi bahwa Lokananta melayani penggandaan kaset berkembang dari mulut ke mulut. Bagi kebanyakan musisi indie, ketersediaan Lokananta melayani penggandaan dalam skala kecil menjadi sebuah oase, terutama setelah Tropic gulung tikar.

Sebelumnya Tropic merupakan toko musik merangkap tempat penggandaan kaset, berlokasi di kota Bandung, yang dalam perjalanannya menjadi salah satu mata rantai penting rilisan produksi band independen seperti Pas Band, Puppen, Burgerkill, Koil, Homicide sampai Pure Saturday.

Tropic berhenti beroperasi pada Desember 2012. Lokananta lantas muncul menawarkan solusi. “Di kami, satu kaset pun kami layani,” kata Bemby Ananto, 37 tahun, dari bagian remastering dan transfer digital. Sebagai warisan Orde Lama, Lokananta sekuat tenaga menolak renta. Beberapa tahun terakhir managemennya terus-menerus melakukan pembenahan, termasuk menjalin kerjasama dengan pihak luar.

Glenn Fredly bahkan membuat rekaman album secara live di Lokananta dan merilisnya dalam DVD dan CD berjudul Glenn Fredly and The Bakuucakar Live At Lokananta.

Perjalanan jatuh bangunnya label piringan hitam pertama inilah yang coba diungkap oleh Fakhri Zakaria, Dzulfikri Putra Malawi dan Syaura Qotrunadha dalam sebuah buku yang mereka terbitkan.

Ada deskripsi proses rekaman grup Pandai Besi - menyusul White Shoes & The Couple Company, wawancara dengan Candra Darusman dan, ini yang tidak kalah menarik: penampakan sejumlah sampul album piringan hitam, kaset dan  CD.

Presiden Soekarno boleh habis-habisan berusaha membendung masuknya pengaruh Barat, akan tetapi ilustrasi sampul ketika itu umumnya terlihat mengadaptasi pengaruh tersebut meski tetap dibungkus dengan nilai-nilai lokal.

Buku ini juga menyentil ‘kecerobohan’ laten dalam konteks penerbitan piringan hitam, yakni luputnya pencantuman tahun produksi. Baik pada sampul mau pun kepingannya. Terkesan sepele namun sebenarnya keteledoran yang serius.

Hal ini juga yang mendorong Philip Yampolski, peneliti asal Winsconsin, untuk meriset seluruh rilisan Lokananta sejak awal diproduksi untuk disertasinya : Lokananta: A Discography of The National Recording Company of Indonesia 1957 – 1985.

Melalui teknik penyajian yang ngepop, baik kerenyahan teknik bertutur mau pun visualisasi fisik, buku ini menjadi semacam pintu masuk untuk mengenal lebih jauh sejarah perkembangan musik Indonesia. Salah satu buku yang patut Anda miliki. 

Oleh Denny MR
Foto: Dok. Buku Lokananta & Lokananta