KisahPahitManisJadiFreelancerdariDielaMaharanie

May 15, 2018Qubicle Art
Kalian yang mau jadi freelancer? Nih, simak dulu cerita Diela yang banting setir dari akuntan jadi freelancer

Duh enak banget kayaknya jadi freelancer. Ga musti masuk kerja tiap hari, bisa milih kerjaan suka-suka, bayaran bisa lebih gede, apalagi kalo karya kita bisa ada dimana-mana.

Yakin?

Jangan liat manis-manisnya aja, di balik sesuatu yang keliatannya seru, pasti ada pait-paitnya. Pasti ada perjuangannya juga. Misalnya; toleransi sama pencairan invoice yang mundur, bergelut dengan deadline yang suka nggak peduli kita sakit, ngatur waktu atau ga boleh baper saat sepi order.

Terus gimana cara maintain biar proses berjalan lebih mulus? Retina sempet ngobrol sama Diela Maharanie. Tau dong, karyanya Diela yang khas banget dan super menyenangkan itu belakangan makin ada dimana-mana. Dari furniture sampe brand clothing kekinian.

Fabelio X Diela Maharanie
Karya Diela di Cotton Ink

Diela termasuk salah satu orang yang memutuskan untuk berbelok arah. Bukan sekedar dari kantoran ke freelancer, tapi juga dia punya keputusan besar untuk mengikuti passion-nya menjadi ilustrator, padahal sebenernya dia udah terjun ke dunia akutansi.

Nah, langsung aja ya, ini hasil obrolan yang bisa jadi bekal buat kamu yang sudah menjadi freelancer di industri kreatif atau memutuskan menjadi freelancer.

Hai Diel, ceritain dikit dong dari proses perpindahan dari profesi lo sebagai akuntan yang udah jelas gaji bulanannya lalu lo punya keberanian untuk jadi freelancer menjalani passion lo?

D:Jadi ‘banting setir’ dari akuntan ke profesi illustrator waktu itu modal nekat karena gambar pun gue otodidak dan terjun ke dunia ilustrasi/kreatif yg sama sekali awam buat gue, intinya waktu itu learning by doing banget, pas udah banting setir jadi illustrator, gue sebelumnya masih kerja kantoran jadi inhouse illustrator di perusahaan retail kurang lebih 3 tahunan, memutuskan untuk freelance itu sendiri lebih karena waktu itu jarak antara kantor dan rumah jauh dan lebih karena capek dijalan dan ngerasa kayaknya gue bisa lebih produktif kalau jalan sendiri dan akhirnya mutusin untuk freelance aja”

    Foto Proses Berkarya    

Apa aja saat itu yang lo persiapkan untuk menjadi freelancer di industri kreatif?

D:Selain portofolio yang bisa merepresentasikan diri lo sebagai kreatif juga harus mengerti sedikit banyak mengenai administrasi/marketingnya dan kalau berdasarkan pengalaman gue ya yang pasti harus paham kalau bekerja sebagai freelancer itu sudah jelas effort-nya bisa berkali lipat dibanding kerja kantoran yang sistem dan penghasilannya sudah pasti”

Apa aja tips untuk mengenalkan karya lo dulu saat lo menjadi beginner?

D:Dulu sih gue bener2 memanfaatkan platform online gallery untuk promosi karya-karya gue, dan dulu rajin banget update gallery sehari bisa satu dua gambar, tipsnya paling memanfaatkan platform online gallery tersebut, aktif pameran, melakukan kolaborasi”

Karya Diela

Saat lo udah kecebur di dunia freelance, apa sih suka dukanya yang paling berkesan?

D: “Dulu awal2 dukanya ya paling kalau invoice telat dibayar yaa hahaha, tp itu jd biasalah setelah sekarang 7 tahun freelance, tapi lebih banyak sukanya karena project-nya berbeda2 dan bisa pilih sendiri project yang akan diambil, dan bisa punya waktu lebih untuk istirahat main atau berkarya”

Ceritain dong pengalaman paling menyedihkan dan menyenangkan dengan karya dan klien?

D: “yang menyedihkan paling klo ada pitching tapi terusnya gagal, kalau yang menyenangkan banyak sih, kalau klien appreciative dan ga ada revisian hahhaa..”

Diela Mural di Mall

Apa tips untuk menjadi freelancer yang tangguh? Apa aja yang lo lakukan untuk pengembangan potensi dan skill?

D: “Apa ya soalnya gue sendiri masih berusaha di bidang ini sebagai freelance illustrator, ya paling terus berkreasi dan kalau mengerjakan sesuatu berusaha se-professional mungkin “

Ada tips khusus gak menghadapi revisi yang sudah melampaui batas atau invoice yang gak kunjung cair?

D: “kalau gw biasanya smua sudah gw cantumin di awal quotation, seperti berapa maksimal revisi yg bisa gw berikan dan maksimal berapa lama tenggang waktu pembayaran setelah invoice dikirim, jadi dari awal sudah ditetapkan”

Perlu gak sih menyiapkan rate card dan portfolio?

D: “Iya perlu dong..”

Oh iya, Diela juga menambahkan soal pentingnya menyiapkan rate card dan portfolio. Karena seringkali job datang tak terduga. Jangan lupa, kamu harus bersahabat dengan deadline, karena tanpa deadline, kamu gak akan terpicu untuk membuat sistem manajemen waktu yang baik.

Gimana, udah siap jadi freelancer di industri kreatif dan merintis sukses seperti Diela?


Jangan lupa juga untuk follow akun sosial media kami di:

IG: @retinaqube

FB: Retinaqube


Sumber Foto: Diela Maharani

Like what you read? Give Qubicle Art your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Qubicle User

Qubicle Art

Similar stories

Stay Updated.

Every day, a dose of inspirations.🎉
Subscribe Qubicle
Qubicle Logo
© 2018 Qubicle. All rights reserved
FOLLOW US