Kritik dalam Lagu "Hari Lebaran" Karya Ismail Marzuki


Lagu-lagu bertema Lebaran biasanya berkumandang ketika perayaan Idul Fitri. Banyak sekali lagu “wajib” yang dinyanyikan dan diciptakan para musisi kita. Lagu “Hari Lebaran” karya komponis besar, Ismail Marzuki, merupakan salah satu lagu paling populer dan tak lekang zaman.

Menurut Nunuy Nurhayati dalam artikelnya berjudul “Yang Klasik yang Abadi” di Koran Tempo edisi 28 Agustus 2011, “Hari Lebaran” kali pertama dinyanyikan oleh Didi, dengan dan direkam label Irama pada 1954 di studio RRI, Jakarta. Pengiringnya Lima Seirama, pimpinan A. Usman.

Nunuy menulis, Didi merupakan nama samaran dari Suyoso Karsono, pemilik label Irama. Dilansir dari artikel Wenri Wanhar berjudul “Irama Record, Babad Alas Industri Musik Indonesia” di JPNN edisi 15 November 2015, Suyoso Karsono atau yang lebih dikenal sebagai Om Yos adalah mantan pilot Angkatan Udara Jepang pada 1942.

Pada 1946, ia menjadi pimpinan staf administrasi di Markas Tertinggi TNI-AU, Yogyakarta. Ia juga dikenal sebagai penggemar musik. Bahkan ia pernah membentuk grup musik Hawaiian, Lieve Soveniers di Semarang. Selepas pensiun dengan pangkat komodor pada 1952, Yos mendirikan Irama Record pada 1954. Irama sendiri adalah label pertama Indonesia pasca-kemerdekaan.

Pada 1964, “Hari Lebaran” direkam dalam bentuk piringan hitam, dengan penyanyi Didi, diiringi Orkes Mus Mualim.

Kritik Moral dan Sosial

“Bapak saya memang selalu membuat lagu berdasarkan peristiwa yang sedang terjadi,” kata putri Ismail Marzuki, Rachmi Aziah, kepada Koran Tempo, edisi 28 Agustus 2011.

Jika dicermati, memang lagu “Hari Lebaran” ini sarat kritik sosial. Ada sebagian lirik yang hilang, dan tak dinyanyikan saat ini.

Ninok Leksono dalam bukunya Seabad Ismail Marzuki, Senandung Melintas Zaman, mengutip versi lengkap lagu ini. Bagian yang saat ini tak dinyanyikan, mungkin jarang diketahui orang, sebagai berikut:

“Dari segala penjuru mengalir ke kota
Rakyat desa berpakaian baru serba indah
Setahun sekali naik terem listrik perei
Hilir mudik jalan kaki pulang sampai sore

Akibatnya tenteng selop sepatu terompe
Kakinya pada lecet babak belur berabe

Maafkan lahir dan batin
Lan tahun hidup prihatin
Cari wang jangan bingungin
Lan Sawal kita ngawinin”

Kemudian, setelah interlude musik, lirik lain yang tak dinyanyikan sekarang, sebagai berikut:

“Cara orang kota berlebaran lain lagi
Kesempatan ini dipakai untuk berjudi
Sehari semalam minum ceki mabuk brendi
Pulang sempoyongan kalah main pukul istri

Akibatnya sang ketupat melayang ke mate
Si penjudi mateng biru dirangsang sang istri

Maafkan lahir dan batin
Lan tahun hidup prihatin
Kondangan boleh kurangin korupsi jangan kerjain”
(Hal 117-118).

Ismail Marzuki yang orang Betawi membuat lirik lagu ini serasa kocak, namun satir. Khas gaya bahasa Betawi. Ismail membandingkan─kalau tak mau dibilang menyindir─cara berlebaran orang desa dan kota, pada masa itu. Orang desa diibaratkan bermigrasi ke kota, ketika Idul Fitri. Mereka juga digambarkan, hanya setahun sekali saja bisa merasakan naik trem listrik.

Trem listrik adalah moda transportasi yang ada di Jakarta, dari tahun 1930-an. Sarana transportasi ini hilang pada 1960-an, diganti bus-bus kota. Orang desa juga digambarkan lugu, dengan menenteng selop sepatu karena kebanyakan keliling kota.

Berbeda dengan gambaran Ismail tentang orang kota. Ismail menyindirnya dengan sarkas. Ia menggambarkan orang kota berlebaran dengan bermain judi dan mabuk-mabukan.

Selain itu, lirik “Lan tahun hidup prihatin/Cari wang jangan bingungin/Lan Sawal kita ngawinin,” juga sarat pesan. Ismail mengingatkan mencari nafkah yang pontang-panting, dan harapan untuk mencari biaya menikah. Setiap tahun hidup prihatin.

Ismail pun berpesan, agar jangan berbuat korup dalam lirik, “Kondangan boleh kurangin korupsi jangan kerjain.” Datang ke hajatan bisa dikurangi, karena hidup setiap tahun prihatin.

Saya kira, lirik-lirik tadi memiliki pesan moral dan sosial yang pedas. Entah kenapa, saat ini, lirik-lirik itu tak dinyanyikan lagi. Apakah terlalu panjang, atau ada “pesan” agar tak dinyanyikan? Saya belum berani memastikannya. Yang pasti, lirik “Selamat para pemimpin, rakyatnya makmur terjamin,” menurut saya juga merupakan sebuah sindiran yang cerdas.

Catatan:

Dalam artikel sebelumnya disebut Seabad Usmar Ismail, Senandung Melintas Zaman. Yang betul adalah Seabad Ismail Marzuki. Senandung Melintas Zaman. Terimakasih kepada Indra Suhyar untuk koreksinya. Artikel diperbaiki 20 Juni 2017.

Oleh Fandy Hutari
Penulis lepas, peneliti sejarah. Tinggal di Jakarta.
Blog: www.fandyhutari.com