LAGUNDI

Kano itu terbuat dari beberapa jerigen yang dibelah lalu disatukan oleh batangan panjang kayu pohon ingul. Diatasnya satu anak sekitar umur delapan tahun dan yang satunya lebih kecil. Mereka mendayung mendekati kayak kami dengan lihai. Mereka mengenakan jaket dan bukannya pelampung. Mereka saling bicara dengan bahasa batak Toba yang saya tak mengerti. Kebetulan teman saya, Rahmat Hutagalung, yang paham bahasa tersebut sedang mendarat untuk mencari tau lokasi kami (kami tak pakai GPS). Saya orang Bandung sedangkan teman saya, Tommy Sembiring, yang masih mendayung adalah orang (batak) Karo.

Saya mendekat dan bertanya nama mereka. Sang kakak bernama Sabungan Gultom dan sang adik bernama ....saya lupa nama depannya siapa yang pasti marganya Gultom. Tetapi saya pernah dengar bahwa di tanah batak Toba yang paling penting adalah mengingat marga,atau klan, jika lupa nama depan cukup menyebut lae kemudian nama marga. Maka saya boleh bilang di atas kano plastic itu ada dua Lae atau Ucok Gultom. Itu cukup sepertinya.

Saya mencoba mengobrol dengan kedua anak itu. Saya tau mereka dapat berbahasa Indonesia namun saya tak dapat menangkap jelas kata-kata mereka. Itu adalah hari pertama libur akhir tahun, itu bisa saya tangkap. Maka saya kembali hanya menyimak mereka mendayung kesana kemari, entah berkhayal mencari ikan atau apa. Danau Toba di hadapan desa Lagundi sore itu begitu datar seperti cermin. Awan-awan diatasnya terpantul sempurna, begitu pula bayangan seekor elang yang melayang tanpa mengepakkan sayapnya. Cermin danau itu hanya terusik oleh kano anak-anak klan Gultom tadi.

Kawan kami, Lae Hutagalung, terlihat menjauh dari warung diatas bukit dan turun ke pesisir. Saya dan Tommy Sembiring mendarat. Kami diberi izin oleh penduduk Lagundi untuk membuka tenda di pesisir tersebut. Karena kami bertiga dan tenda kami hanya satu, kami bersyukur ada sebuah bangunan karang taruna yang tak lagi terpakai. Bangunan itu terkunci tapi kami dapat membuka tenda di bawah kanopi terasnya Untuk sebuah tempat yang tak terpakai tempat tersebut memilik halaman yang cukup rapih. Kami menggeser ketiga kayak kami lebih dekat ke tenda kami agar kami dapat mengawasinya, meski di tempat yang sedamai itu sulit membayangkan keberadaan pencuri.

Kedua teman saya menyiapkan makan malam dengan lauk telur dan tempe-teri-kacang. Saya yang tak lihai memasak hanya berpura-pura sibuk merapihkan isi tenda yang sudah rapih sejak tadi.

Kami makan malam cukup awal, sambil menyaksikan awan mendung kembali mengusap muka danau Toba. Di langit Selatan, terdapat pojok langit yang masih belum tertutup awan. Dari pojok itu senja berwarna jingga, lalu semakin gelap seperti bara, lalu ditutup pula oleh awan. Kami menghabiskan makan malam kami seolah itu adalah menu paling lezat dan mahal. Kami mengantuk namun enggan tidur karena tak ingin melewatkan indahnya Danau Toba meski sesaat. (/)