LinerNotes:EksperimenSembilanBelasSembilanSatu

March 15, 2017Majalah Cobra

Kaset 1991 adalah salah satu album terkelam Iwan Fals paling favorit saya, dan boleh jadi itu karena Iwan khusus mengajak Cok Rampal, frontman dari band electric folk ultra-obscure asal Bandung bernama INPRES untuk turut serta menggarap musiknya. Nama-nama lain sebagai backing band di album ini pun tak kalah unik: Mates pada bass dan Gilang Ramadhan pada drum (dua musisi yang lebih sering berkecimpung di musik jazz), meski tetap ada nama langganan, Toto Tewel, di departemen gitar. Album ini dibuka dengan petikan lirih gitar Iwan dan sebaris gumam yang menggambarkan isi keseluruhan album ini, "..dalam gelap 'ku berjalan/ membelah belantara akar/ sendiri, sendiri, selalu sendiri..// ..dalam terang 'ku merenung/ mencari kesejatian/ mencari, mencari, selalu mencari.." Sangat terasa tegangan Iwan dan kawan-kawan di sini, antara menghayati-yang-sepi dan mencari-yang-sejati. Nomor-nomor selanjutnya lebih mirip jam session panjang, melibatkan instrumen-instrumen tak lazim untuk ukuran repertoar Iwan, seperti cow-bell (klenengan sapi), terompet reog, blues harp, flute, juga saksofon dari Embong Rahardjo; dengan durasi per lagu hampir semuanya di atas lima menit, bahkan ada yang hampir sembilan menit. Lirik-liriknya pun penuh sesak dengan metafora, yang tak mudah dipahami pendengar awam secara langsung, apalagi melodinya cenderung susah untuk dipakai sing along. Ini jelas pilihan estetik yang berani. Tak heran album ini konon kurang laku di masanya, bahkan di antara para penggemar Iwan sendiri. Jika di album terdahulu Iwan Fals pernah bernyanyi tentang anak sulungnya untuk kritik sosial yang tajam di lagu "Galang Rambu Anarki", maka di album ini, lagu dengan judul nama anaknya yang lain (yang juga menggambar sampul album ini), "Cikal", lebih memilih diksi-diksi halus untuk menyembunyikan makna lebih mendalam: perhatikan kiasan fabel nan puitik tentang interaksi antarkelas sosial yang rumit berkelindan di situ, "..kerbauku kerbau petani/ ularku ular sanca/ bayiku bayi harimau/ ia ada di gorong-gorong kota.." Ada pula pertanyaan abadi manusia tentang spiritualitas di lagu "Ada" dan "Alam Malam", serta tema nuklir (!) di "Proyek 13". Album ini sophisticated dengan caranya sendiri, bermain-main cantik penuh risiko di antara batas gelap dan terang, meliuk-liuk lembut namun sekaligus bertenaga, dan bisa terbayang betapa segala proses kreatif di belakangnya pastilah menguras banyak tenaga, waktu, dan pikiran. Apalagi setelah membaca liner notes-nya yang singkat, padat, dan jelas, berikut ini:

_

SALAM.

Setidak-tidaknya kami sudah bekerja, melelahkan tapi asik.

Baik dan buruk kami kembalikan kepada yang berhak.

_

Teks dan Foto oleh: Budi Warsito 

Like what you read? Give Majalah Cobra your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Comments

    Qubicle User

    Majalah Cobra

    We found it's important to give people on good music whether they're made by established musicians or newcomers.

    Stay Updated.

    Every day, a dose of inspirations.🎉
    Subscribe Qubicle
    Qubicle Logo
    © 2018 Qubicle. All rights reserved
    FOLLOW US