Mau Nyantai Bareng Kera Nikmati Jatiluhur? Kesini Aja!!

“Kecil-kecil cabe rawit. Namanya tak berjejer di antara tujuh puncak gunung pencakar langit di Indonesia. Bahkan jarang yang tahu. Meski demikian, sebaiknya Anda tidak meremehkan jalur pendakian Gunung Lembu. Gunung Lembu tidak bisa dipandang sebelah mata.”

Teks dan foto oleh Iyos Kusuma



Sekali lagi saya menyeka peluh di dahi. Padahal pendakian baru saja dimulai lima menit yang lalu. Tidak dikira, jalur menanjak terhidang sebagai menu pembuka jalur pendakian di Gunung Lembu, Purwakarta, Jawa Barat.

Setelah mendaftar di pos awal pendakian dan membayar retribusi sebesar Rp10.000, saya langsung memasuki jalur rindang. Sebagian besar vegetasi adalah pepohonan bambu. Beruntung, rimbunnya menangkal sengat matahari yang cukup terik siang itu.

Sejak awal, jalur pendakian adalah tanah yang dibuat berundak seperti tangga. Cukup licin karena hujan baru mengguyur Gunung Lembu pada malam sebelumnya. Tanah tak cepat kering, terhalang kanopi dedaunan. Tangan saya beberapa kali mencengkeram batang bambu sebagai pegangan. Untungnya, seutas tali tambang juga sudah disiapkan sebagai pegangan di beberapa tanjakan.

Sekitar 15 menit mendaki, tibalah saya di pos pertama. Sebuah dataran luas. Terlihat ada beberapa warung bambu di sana. Saya pun duduk di bale-bale salah satu warung sambil merehatkan badan. Perjalanan yang begitu menguras energi. "Ini baru seperempat jalan, Kang", kata pemilik warung. "Ah, iya, Pak," jawab saya sambil tersenyum. Entah segetir apa senyum saya saat itu.

Di pos ini saya mencoba menaiki tangga bambu menuju sebuah panggung. Pemandangan dari atas panggung cukup mengalihkan letih. Saya sudah bisa melihat Waduk Jatiluhur, bendungan terluas di Indonesia dari atas sini. Masih belum sempurna pemandangan di sini, tertutup pucuk pepohonan. Ah, saya harus segera melanjutkan perjalanan ke tempat yang lebih tinggi.

Perjalanan menuju pos kedua juga belum banyak memberi bonus kepada pendaki. Tetap terjal. Bahkan lebih menukik dari curamnya jalur pendakian menuju pos pertama. Pada beberapa titik saya harus benar-benar berpijak pada batu-batuan karena tidak ada pijakan tanah yang dibuat seperti anak tangga. Beruntung, hanya butuh sekitar 20 menit untuk sampai di pos kedua. Berbeda dari pos pertama, tidak ada lagi dataran luas apalagi warung di sini. Saya langsung melanjutkan perjalanan tanpa rehat di pos kedua ini.

Akhirnya bonus itu tiba. Medan pendakian menuju pos ketiga, atau pos terakhir tidak banyak tanjakan. Bahkan cenderung mendatar. Kali ini saya memutuskan untuk rehat di sebuah warung yang ada di antara pos kedua dan pos ketiga. Sama seperti warung-warung sebelumnya, warung di sini juga menjual bermacam minuman dan makanan ringan. Naluri saya tak salah, segelas minuman jeruk dingin tidak gagal menghilangkan dahaga. Saya memesan segelas minuman dingin sambil menyantap bekal makan siang.

Tebih keneh ka puncak, Pak?” Saya menanyakan estimasi waktu tempuh menuju puncak ke pemilik warung. “Paling setengah jam,” jawabnya. Jawaban yang menyulut semangat untuk segera melanjutkan perjalanan.

Gunung Lembu tak terlalu ramai hari itu. Sepanjang pendakian saya hanya susul-susulan dengan empat kelompok pendaki. Itu pun para pendaki yang juga sedang menuju puncak, bukan menuruni gunung. Penjaga pos pendaftaran pendakian mengakui bahwa Gunung Lembu hari ini tak sedang banyak didatangi pendaki. Karena hujan, katanya. Namun pada hari Minggu, jumlah pendaki bisa mencapai seratus orang. Ah, suasana sepi ini tidak boleh saya sia-siakan. Saya ingin menikmati keheningan di puncak. Saya pun bergegas melanjutkan pendakian.

Selepas melewati warung, saya seperti berjalan di punggung gunung. Waduk Jatiluhur sudah semakin terlihat jelas di kiri dan kanan jalur pendakian. Jalur menuju pos ketiga kembali menguras tenaga. Saya menuruni jalur bebatuan, sambil mencengkeram seutas tali tambang. Seperti biasa, saya selalu berusaha memastikan batu yang akan saya pijak benar-benar kuat dan aman, sebelum saya mambuat pijakan ini sebagai tumpuan berat badan. Hal ini biasanya lengah dilakukan oleh pendaki ketika mulai letih berjalan.

Seperti yang disampaikan oleh pemilik warung yang saya temui, jalur kembali menanjak setelah saya menuruni jalur bebatuan. Tanjakan terakhir, katanya. Benar saja. Setelah saya sampai di puncak jalur berbatu, saya tiba di pos ketiga, pos terakhir. Puncak sudah tak jauh lagi di depan saya. Ternyata puncak Gunung Lembu bukanlah lahan gundul berbatu seperti puncak beberapa gunung di Indonesia. Puncaknya masih berupa tanah yang dipenuhi oleh pepohonan. Di sekitar jalur puncak banyak lahan yang cukup luas untuk dijadikan tempat berkemah. Sepi. Benar-benar tidak ada orang di atas sini. Apa benar sesepi ini Gunung Lembu hari ini?

Ketika saya melewati puncak untuk menuju Batu Lembu, saya mengira melihat ada kerumunan orang di Batu Lembu. Menuju Batu Lembu —tempat paling sempurna untuk memandang Waduk Jatiluhur— saya menuruni jalur pendakian sekitar lima menit. Dugaan saya luput. Setibanya di Batu Lembu, ternyata yang saya lihat bukanlah kumpulan pendaki, melainkan kawanan kera! Kera-kera itu langsung berhamburan melarikan diri ketika saya tiba. Saya harus berhati-hati untuk tidak meninggalkan tas saya di sini.

Dua kelompok pendaki kemudian menyusul kedatangan saya di Batu Lembu. Tempat ini memang sempurna betul untuk bersantai menikmati panorama Waduk Jatiluhur. Dari atas sini saya melihat jelas Gunung Parang dan Gunung Bongkok. Sama seperti Gunung Lembu, keduanya juga berada di sekitar Waduk Jatiluhur. Ratusan atau mungkin ribuan keramba ikan terlihat dari atas sini. Waduk Jatiluhur yang membendung aliran Sungai Citarum bukan hanya memberi kehidupan bagi para nelayan di sekitar waduk, namun juga berfungsi sebagai sumber irigasi pesawahan di sekitar sana, pembangkit tenaga listrik, sekaligus juga kawasan wisata.

Jika Anda ingin mencari tempat wisata singkat pada akhir pekan, Gunung Lembu atau Waduk Jatiluhur bisa menjadi pilihan. Tidak perlu menginap atau berkemah. Saya melakukan perjalanan ini dalam satu hari. Pendakian ke gunung setinggi 792 mdpl ini saya lakukan selama kurang lebih 1,5 jam. Lalu waktu untuk turun kembali ke Desa Panyindangan hanya sekitar 30 menit. Selamat mencoba!