Meditasi Kayak Laut

Foto & Teks: Priyo Utomo

Saya belum pernah berlayar dan saya belum pernah menyelam. Tak hobi pula saya berenang tangan kosong di lautan. Satu-satunya media penghubung saya dengan laut adalah kayak laut saya, The Red Sulphur. Istilah Red Sulphur atau Belerang Merah, merujuk pada suatu zat khayal dalam ilmu magis Alkemi. Zat tersebut dipercaya dapat mengubah segala jenis logam menjadi emas. Bagi para mistikus seperti para Sufi, Belerang Merah kemudian menjadi symbol dari suatu ilmu yang dapat membuka kebijaksanaan dalam setiap hal.

Demikian Red Sulphur adalah media meditasi saya. Ia telah dan akan mengantarkan saya ke kondisi-kondisi paling meditatif, entah itu di laut lepas, hutan bakau, danau, bendungan, bahkan kolam. Karena ada sesuatu dalam jiwa manusia yang terbangunkan ketika ia ditopang oleh perairan. Ketenangan maupun ketegangan muncul di saat bersamaan. Seolah rasa aman timangan Ibu ketika kita melayang dalam air ketuban, berpadu dengan kekhawatiran mahluk darat yang kehilangan pijakkan padat.

Di Teluk Penanjung, lepas pantai Batu Karas, Jawa Barat, saya pertama kali mencicipi duduk diatas sebuah Samudra (Hindia). Gelombangnya yang demikian panjang, warnanya yang biru gelap, dan cakrawala yang seperti mengepung membuat saya berfikir tentang batas-batas terjauh kehidupan. Saya menutup mata sembari tetap menjaga keseimbangan. Saya merasakan detak jantung saya dan menghela nafas yang dalam. Rasa takut dan semangat dan rindu dan sedih dan gembira...semua rasa datang bertubrukkan hingga pada suatu titik mereka saling menghapus. Yang tersisia hanya suara angin dan debur di pantai. Dan jiwa yang tenang.

Di lorong-lorong hutan bakau Pondok Bali, Subang, Jawa Barat, labirin bakau begitu mengular dan teduh. Saya berhenti hanya mendengarkan kawanan koak dan bijih-bijih bakau yang berjatuhan. Salah satu hal yang paling indah dari berkayak-atau berkano adalah tak adanya suara mesin. Juga tubuh sampan yang ramping dan rendah mengizinkan pedayung mencapai tak hanya tempat terpencil tapi juga tersunyi. Di Pesisir Utara Jawa dengan sejarah dan reputasinya yang sedemikian aus rupanya saya menemukan ceruk bagi jiwa saya untuk bersembunyi dan beristirahat dari peradaban.

Bukan berarti peradaban adalah suatu hal yang buruk. Di hadapan teluk yang di pojoknya terdapat kota kecil Meat, Kabupaten Toba Samosir, Danau Toba, Sumatera Utara, saya berhenti hanya untuk merasakan angin. Tangan saya mengusap air danau. Sekumpulan serangga sangat kecil seperti lalat buah dalam jumlah besar mengambang mati seolah dedaunan. Entah kenapa. Hutan pinus yang demikian cantik di lereng-lereng lembah tampak baru saja menghijau setelah kemarau panjang. Lalu saya mendengar suara anak-anak berlatih menyanyi. Suara mereka terbawa angin merambat di muka danau. Paduan suara mereka terdengar jernih, seperti sebuah harapan, atau sinar yang hangat. Sepertinya meraka anak-anak gereja yang sedang berlatih untuk menyambut natal. Saya seorang Muslim, namun yang saya simak saat itu tak terdengar seperti umat asing menjalankan ritual iman asing, melainkan anak-anak manusia menyuarakan harap akan peradaban yang damai pada Pencipta Alam Semesta.