MenelaahLebihdalamAlbumBaruMilikNothing

September 04, 2018Qubicle Music
Kami berulang kali mendengarkan tiap lagu di album baru Nothing, 'Dance on the Blacktop', dan dengan senang hati membahasnya secara rinci.

Nothing - Dance on the Blacktop (Relapse Records, 2018)

4,5 / 5

Kuartet alternative asal Philadelphia, AS, Nothing, kembali lagi dengan album baru bertajuk Dance on the Blacktop. Sama seperti dua album terdahulu, album baru mereka ini dirilis di bawah naungan Relapse Records. Sebagai info tambahan, selain merilis album baru , Nothing juga memperkenalkan pemain bass baru mereka yaitu Aaron Heard, yang juga merupakan vokalis dari sebuah band hardcore asal kota yang sama, Jesus Piece. Walaupun begitu, pengerjaan bass pada album baru ini masih dikerjakan oleh bassist lama Nothing, Nick Bassett sebelum dirinya memutuskan untuk hengkang dari grup ini.

Secara keseluruhan, album ini diproduseri oleh John Agnello, yang sebelumnya pernah mengerjakan album-album milik grup-grup seminal seperti Dinosaur Jr. dan Sonic Youth. Uniknya lagi, album baru ini mereka kerjakan di Dreamland Studio yang sebenarnya adalah gereja tua yang dibangun sejak tahun 1896. Untuk urusan sampul album—yang mengerikan-namun-mempesona—semua dikerjakan oleh seniman sekaligus sosok hardcore punk kugiran, Mark McCoy dan sang frontman, Domenic Palermo. Kalau kalian bertanya siapa perempuan yang memakai topeng di sampul tersebut, dia adalah penulis asal New York yaitu Chelsea Hudson.

Nothing formasi terkini, ki-ka: Brandon Setta, Kyle Kimball, Aaron Heard, dan Domenic Palermo. (foto: dok. Nothing)

Berbicara soal album baru Nothing ini sendiri, semuanya terdengar sangat solid dan memilik alur yang tidak disangka-sangka. Dibuka dengan "Zero Days", single pertama yang mungkin saja mengingatkan kalian pada Deftones namun dengan vokal yang lebih dreamy. Jujur, ketika pertama kali mendengarkan lagu ini, kami merasa lagu ini kurang punya power dan hook seperti single pertama pada album Tired of Tomorrow, "Vertigo Flowers". Namun setelah beberapa kali memutar "Zero Days", kami malah tidak bisa berhenti mendengarkan. 

Lagu kedua diisi oleh "Blue Line Baby". Hook gitar yang dimiliki pada lagu ini seakan sedang menyihir dengan tenang dan perlahan ketenangan tersebut dihancurkan ketika masuk chorus. Dibalik lagu indah ini, sebenarnya lagu ini bercerita mengenai seorang perempuan yang pernah Domenic kenal dan overdosis pada umur 13 tahun. Bukan Nothing namanya kalau liriknya tidak suram.

Berbeda dengan lagu-lagu Nothing sebelumnya yang memiliki perasaan gloomy, lagu "You Wind Me Up" yang jadi track ke tiga justru memberikan lantunan yang menyenangkan dan nampaknya bisa menjadi sing along anthem yang seru juga. Selain itu, lagu ini mampu mengingatkan kami kepada lagu-lagu alternative 90-an seperti yang dibuat oleh Dinosaur Jr. Mungkin karena pengaruh tangan produser John Agnello?

Berikutnya ada "Plastic Migraine". yang kembali punya hawa getir dan gloomy seperti lagu-lagu Nothing sebelumnya. Dengan tempo yang lambat, lagu ini sekilas terdengar seperti lagu sludge dengan sentuhan yang manis. Suara Domenic yang mengawang terasa seperti sedang berperang dengan suara gitar Brandon Setta yang penuh distorsi.

Tidak seperti gaya vokal lagu Nothing pada album-album terdahulu, beberapa suara vokal pada album ini terdengar lebih clean. Contohnya seperti vokal manis pada lagu "Us/We/Are". Mendengar sekelebat verse pada lagu ini mengingatkan saya pada lagu "Creep" milik Radiohead. Track setelahnya, "Hail on Palace Pier", seakan menghajar telinga dengan kemanisan yang menyedihkan. “Young and dumb and full of tears / It’s never a true love that’s near the coast”. Entah apa yang dimaksud dengan Domenic ketika menuliskan lirik tersebut, yang pasti ia ingin pendengar tertampar dengan kesedihan dan bergantung pada harapan.

"I Hate the Flowers" menyeruak sebagai track 7. Secara personal, lagu ini adalah lagu favorit kami pada album baru mereka, walaupun kami menyukai bunga. Putaran distorsi pada lagu ini seakan seperti petir yang diikuti oleh hujan yang melankolis. Dengan lantunan distorsi tersebut, Domenic menyanyikan lirik : “Stop all the clocks in my brain / Clog all the veins in the drains / Build a coffin around this house /Dismantle the soil from the couch”. Tampaknya mereka memang pandai menyatukan kegaharan dengan kesuraman.

"The Carpenter’s Son" adalah track ballad lembut yang merupakan tribut untuk mendiang ayah dari Domenic yang bekerja sebagai tukang kayu dan kecanduan alkohol. Nothing mampu menumpahkan keresahan dan perasaan Domenic dengan indah. Ketukan drum Kyle Kimball pada lagu ini terasa kering dan mentah, kalian bisa merasakan heningnya akustik ruangan besar pada gereja tempat mereka merekam album ini. Secara keseluruhan, lagu berdurasi 7 menit ini mampu membuat kami termenung memikirkan hidup sambil berbaring melihat langit-langit kamar.

'Dance on the Blacktop' adalah album penuh ketiga Nothing di bawah label Relapse Records. (foto: dok. Nothing)

Album baru Nothing ini ditutup oleh "(Hope) Is Just Another Word with a Hole in It". Lagu dimulai dengan riff gitar memekik dan juga ritem gitar grungy menemani di belakangnya, yang menempel di kepala kami seharian. Memasuki bagian verse, atmosfernya langsung terasa seperti sebuah lagu dari band shoegaze 2000-an awal. Namun di berbagai bagian, tetap terdengar rasa-rasa alternative 90-annya. Menjelang akhir lagu, ada sebuah bagian yang jika kalian dengar dengan seksama menggunakan earphone, terasa seperti dibisiki oleh sang vokalis diiringi suara gitar. Layaknya album-album Nothing sebelumnya, selalu ada lagu dengan ending megah. Dan kali ini, lagu tersebut yang punya peran jadi ending megah untuk album baru Nothing ini,

Album baru Nothing, Dance on the Blacktop, ini lagi-lagi berhasil menyihir kami. Mereka berhasil membuat sesuatu yang segar dan tidak monoton. Terlepas dari itu, mereka tetaplah Nothing dengan lirik lagu personal, suram, dan penuh kegetiran yang membuat banyak pendengarnya semakin merasa relate dengan apa yang ditulis oleh Domenic Palermo. Mungkin akan terdengar bias sepertinya, karena selama ini kami memang menggemari Nothing. Namun, karya bagus tetaplah karya bagus.


Oleh: Anida Bajumi 


Like what you read? Give Qubicle Music your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Qubicle User

Qubicle Music

Similar stories

Stay Updated.

Every day, a dose of inspirations.🎉
Subscribe Qubicle
Qubicle Logo
© 2018 Qubicle. All rights reserved
FOLLOW US