MenempuhPerjalananKosmikBersamaKelompokPenerbangRoket

November 09, 2018Qubicle Music
Kelompok Penerbang Roket menyalurkan kegemaran jamming mereka melalui EP Galaksi Palapa yang kental unsur psychedelic.

Sebelum diluncurkan, Kelompok Penerbang Roket (KPR) memang terbiasa melakukan banyak jamming selama pesawat luar angkasa mereka masih parkir di kosmodrom. Akibatnya, saat lepas landas mereka menjadi salah satu grup rock Indonesia dengan jam paling luwes dan mengalir.

Jika diamati dari penampilan live-nya, Kelompok Penerbang Roket seolah mewarisi “sihir” dari band-band rock tahun ’70-an yang memang banyak mereka jadikan acuan. Selain memainkan jam yang terasa organik, Viki Vikranta (drum), Coki (bass, vokal), dan Rey Marshall (gitar, vokal) memiliki ikatan gaib di atas panggung yang membuat setiap hentakan yang mereka mainkan terasa bernyawa. Suatu pencapaian yang tidak mudah menimbang hal ini diwujudkan di era modern seperti saat ini.

Kelompok Penerbang Roket berkesempatan untuk menyalurkan kegemaran mereka memainkan jam panjang melalui mini album/EP terbaru berjudul Galaksi Palapa, Dengan lagu-lagu yang berdurasi cenderung panjang dan penuh progresi, Galaksi Palapa seolah merupakan sebuah soundtrack untuk menemani perjalanan kosmik berjarak jauh dalam rangka mencari sebuah galaksi baru dengan kondisi yang lebih baik dari planet bumi.

Beberapa saat lalu, kami berkesempatan untuk berbincang dengan Viki dan Coki seputar EP terbaru mereka di kantor label rekaman yang meninggikan Kelompok Penerbang Roket, Berita Angkasa. Kepada kami, Kelompok Penerbang Roket menceritakan bagaimana nuansa eksperimental yang hadir dalam EP terbarunya muncul karena mereka “ke-space rock-an”, merefleksikan kondisi nyata di sekitar mereka melalui metafora fiksi, hingga menakar kadar eksplorasi untuk tetap mempertahankan identitas musik.

Apa yang membuat Kelompok Penerbang Roket memutuskan untuk merilis Galaksi Palapa? Apa latar berlakangnya dan bagaimana cerita penggarapan mini album ini?

Viki: Galaksi Palapa sebetulnya udah dikerjakan dari lama, sih. Kalau nggak salah mulai dari sekitar dua tahun lalu. Awalnya kami emang tertarik untuk bikin album yang bisa dibilang lebih eksperimental. “Kita bikin album yang nyebrang sedikit, yuk. Tapi tetap dilakukan dengan cara kita.” Saat itu gue dan Coki emang lagi banyak dengar band-band space rock, jadi saat itu kami berpikir untuk buat sekitar empat sampai lima lagu yang musiknya bernuansa seperti lagu-lagu yang sedang kami sering dengar saat itu.

Sebenarnya sebelum lagu-lagunya jadi seperti yang bisa didengar sekarang, kami udah sempat rekam materi-materi Galaksi Palapa di studio lain, cuma saat itu kami kurang hoki dan ngerasa bahwa hasilnya kurang memuaskan. Kami ngerasa bahwa materi-materi di Galaksi Palapa ini harus perfect dari segi sound, karena kalau nggak begitu pesan dari musiknya nggak akan sampe, karena materi-materinya musikal banget, bisa dibilang lebih ekspresif. Porsi vokal juga nggak banyak, seperti misalnya di lagu “Dusta”, walaupun emang ada, tapi perannya lebih sebagai guide dan aksen, sisanya bener-bener instrumen yang bernyanyi. Akhirnya kami dapat kesempatan untuk rekam ulang materi-materinya di Musica (Studios), hasil dari rekaman di Musica adalah yang bisa didengar sekarang.

Coki: Seperti yang Viki bilang, saat itu kami emang lagi ke-space rock-an. Sekitar tahun 2015 kami lagi seneng-senengnya nge-jam dan dengar Hawkwind.

Viki: Lagi seneng-senengnya dengan efek echo (tertawa).

Coki: Iya, mood dari lagu-lagu yang kami hasilkan dari jamming tadi emang ke arah sana, yang bernuansa psychedelic. Ketika kami bahas dengan Risma (manajer), lagu-lagu yang udah dibuat ini dikembangkan dari musik ke suatu hal yang lebih imajinatif, sekalian aja kami putuskan saat itu untuk buat Galaksi Palapa ini berkonsep. Itu kenapa kami balut Galaksi Palapa ini dengan sebuah cerita fiksi.

Gambar sampul mini album terbaru Kelompok Penerbang Roket, 'Galaksi Palapa'. (foto: dok. Berita Angkasa)

Di dalam press release yang tersebar, Kelompok Penerbang Roket bahkan menyebutkan ada pengaruh krautrock pada Galaksi Palapa.

Coki: Itu Viki, tuh.

Viki: Pada saat kami buat Galaksi Palapa, emang ada macam-macam musik yang kami dengar. Intinya, kami pengen musik yang gue hasilkan hujan akan echo. Gue membayangkan sound gitar yang mewakili cerita-cerita science fiction, terus juga solo gitar yang nggak melulu berisi melodi, tapi solo gitar yang misalnya dihasilkan dari permainan efek yang dimainkan sesuka hati. Eksplorasi-eksplorasi seperti ini yang membuat kami berpikir bahwa aspek produksi dari Galaksi Palapa ini nggak boleh sembarangan, kalau nggak materi-materinya hanya akan terdengar seperti musik yang dimainkan sekelompok orang yang kebetulan punya alat-alat yang cukup bagus dan efek-efek yang bisa dimain-mainin. Kami nggak mau dicap seperti itu.

Apakah eksplorasi yang lebih eksperimental menjadi alasan bagi Kelompok Penerbang Roket mengapa Galaksi Palapa digarap sebagai EP dan bukan album penuh?

Viki: Iya juga, sih.

Coki: Dan mood penggarapannya emang berhenti di lagu kelima yang dibuat.

Viki: Kami tutup di situ.

Coki: Iya, lima lagu itu dibuat dari sekitar tahun 2015 akhir sampai 2017 awal. Lagu terakhir yang dibuat adalah “Alfa Omega”, Viki yang buat lagu itu. Gue rasa lagu itu mengakhiri segala output yang kami hasilkan dari banyak mendengar space rock, dan ternyata setelahnya arah musik kami emang udah punya nuansa yang baru. Kayak sekarang, gue, Viki, sama Rey udah punya pikiran yang beda lagi soal arah musik. Daripada maksain buat lagu yang banyak, kami pikir lebih baik total aja dengan ide yang kami punya, dan mood menulis materi seperti di Galaksi Palapa emang berhenti di lagu kelima.

Di satu sisi, penggemar Kelompok Penerbang Roket nampaknya sudah nyaman dengan lagu-lagu anthemic seperti yang ada di dalam album Teriakan Bocah. Dengan kondisi tersebut, kenapa Kelompok Penerbang Roket memutuskan untuk membuat EP yang berisi lagu-lagu lebih rumit—berdurasi panjang dan penuh progresi?

Coki: Karena mood-nya aja, sih. Saat itu kami emang lagi nyaman dengan membuat materi-materi seperti ini. Sebenernya hasil lagu-lagu di EP ini nggak terlepas dari proses jamming yang kami lakukan di studio, karena Kelompok Penerbang Roket pada dasarnya emang band yang terbiasa nge-jam. Kalau orang-orang emang suka Kelompok Penerbang Roket, menurut gue mereka akan mencoba untuk mengerti, dan gue rasa mereka akan bisa enjoy.

Viki: Kami sebetulnya juga nggak terlalu mikirin bahwa orang-orang akan suka atau nggak. Walau sempat ada pikiran, “Materi-materi ini terlalu berat, nggak, ya?” Tapi, ya sudah, lah (tertawa). Kami emang pengen buat karya yang nggak banyak batasannya. Nggak mau terlalu banyak berpikir kayak, “Kalau ini dan itu dilakukan, nanti orang-orang akan gimana?” Ya, sudah, jangan terlalu dipikirin.

Coki: Kalau buat gue, kekhawatiran itu muncul ketika berkenaan dengan bagian teknis, sih. Kekhawatirannya adalah kalau materi-materi yang menurut kami bagus ini nggak bisa dinikmati secara total sama orang-orang karena sound-nya terlalu “busuk”. Balik lagi, ketika mood untuk menulis lagu-lagu ini muncul, kami emang lagi seneng denger materi-materi yang busuk dan lo-fi, ternyata di satu sisi kebablasan (tertawa).

Viki: Jadi untuk soal sound kami cari yang paling pas aja, sih.

Lewat Galaksi Palapa, Kelompok Penerbang Roket membuat suatu pondasi fiksi di mana kalian bercerita tentang tiga orang astronot yang mencari sebuah galaksi baru. Apakah latar belakang fiksi ini merefleksikan kondisi-kondisi nyata atau memang murni fiksi?

Coki: Awalnya kami mau buat cerita fiksi yang kami karang sendiri, ternyata emang sejalan dengan keadaan di sekitar. Kayak di lagu “Ironi”, gue melihat orang-orang yang mencoba berbuat baik, tapi nggak akan bertahan di lingkungan orang-orang yang jahat. Gue melihat situasi ini sebagai suatu hal yang ironis. Terus kalau dilihat-lihat, kelihatannya masalah seperti ini emang udah jadi suatu hal yang general aja, mau di ranah politik dan lain-lain.

Nah, kondisi nyata ini ternyata nyambung sama cerita fiksi yang kami bangun; bahwa ada perang ego yang sedang berlangsung di dunia dan membuat tiga orang astronot untuk pergi dan mencari suatu galaksi baru. Seru aja rasanya menggambarkan situasi-situasi nyata ini lewat dongeng.

Salah satu lagu dari Galaksi Palapa yang menangkap perhatian kami—karena cukup berbeda dari kebanyakan lagu Kelompok Penerbang Roket—adalah “Alfa Omega”, dari mana ide pembuatannya berasal?

Viki: Gue bilang sama yang lain, “Ini kan album konsep, jadi jangan tanggung-tanggung, deh.” Gue pengen buat sesuatu yang aneh aja. Kelompok Penerbang Roket kan selama ini dikenal sebagai band hard rock yang bermain penuh tenaga, pengen aja tau-tau rilis lagu tanpa drum, cuma berisi organ Hammond, synthesizer yang dimainkan dengan teknik arpeggio, juga vokal yang mengawang. Ingin aja memperdengarkan ke orang-orang, bahwa Kelompok Penerbang Roket juga punya musik dengan format seperti ini.

Coki: Untuk “Alfa Omega”, gue dan Viki dari awal udah punya bayangan sekilas tentang aransemennya, tapi belum tau persis bagaimana cara eksekusinya. Setelah Viki kerjakan, ternyata jadinya persis dengan apa yang ada di bayangan gue. Kami bertiga emang suka era ’70-an, jadi lagu ini nggak lepas dari pengaruh era itu. Pada era itu penggunaan synthesizer mulai dilakukan, seperti yang juga dilakukan Pink Floyd gue rasa juga memberikan pengaruh kepada kami.

Bagaimana dengan format KPR dalam memainkan “Alfa Omega”?

Viki: Gue main organ, Coki main bass synthesizer, Rey tetap main gitar. Jadi, minus drum aja, drum diganti organ. Lucu aja, kan? “Kok Kelompok Penerbang Roket formatnya seperti ini?” (tertawa)

Kalau kalian diminta memperkirakan gaya musik Kelompok Penerbang Roket setelah Galaksi Palapa, kira-kira akan seperti apa kedengarannya? Apakah kalian akan kembali ke gaya anthemic di Teriakan Bocah, bernuansa eksperimental seperti di Galaksi Palapa, atau justru terdengar berbeda lagi?

Viki: Beda lagi sih pastinya.

Coki: Gaya musik kami sekarang udah beda lagi. Maksudnya, Galaksi Palapa termasuk gaya lama kami, karena udah dibuat dari akhir tahun 2015.

Viki: [Ke depannya] kita akan terdengar lebih.. Lebih apa, ya?

Coki: Lebih gondrong, sih. (tertawa) Nggak, gue bercanda.

Viki: Gue rasa salah satu hal yang seru dari bermusik adalah memikirkan suatu konsep [musik], kemudian hasilnya bisa jadi beda dari yang kita bayangkan di awal, tapi jadinya keren juga (tertawa).

Galaksi Palapa kalau menurut gue pribadi bisa dibilang sebagai cendera mata dari Kelompok Penerbang Roket buat orang-orang yang suka musik rock, yang suka psychedelic. Nah, itu juga sih, banyak orang yang menganggap bahwa Kelompok Penerbang Roket adalah band psychedelic rock, padahal album kami sebelumnya bukan album psychedelic rock, album kami sebelumnya adalah album rock aja.

Coki: Paling ada sedikit rasa psychedelic di lagu “Tanda Tanya” aja, ya?

Viki: Iya, dan rasa psychedelic itu hanya terasa di sebagian lagunya aja. Kebetulan kami emang suka musik psychedelic dan belum pernah bikin album psychedelic. Ya udah, nih! Kalau mau tau Kelompok Penerbang Roket buat musik psychedelic, Galaksi Palapa ini hasilnya, tapi kami lakukan dengan cara kami.

Ada beberapa musisi yang karena terlanjur merasa nyaman jadi memilih untuk bertahan dengan gaya aransemen maupun sound tertentu. Bagaiamana Kelompok Penerbang Roket memandang hal ini?

Viki: Kalau bicara soal warna musik, menurut gue Kelompok Penerbang Roket udah punya warnanya sendiri, sih. Dari sound bass Coki, sound gitarnya Rey, ditambah sound drum gue; ketika ketiga instrumen ini bunyi bersama menurut gue udah menghasilkan warnanya Kelompok Penerbang Roket. Jadi gue rasa eksplorasi yang dilakukan lebih banyak di segi irama. Kami bertiga juga hobi terus-terusan dengar lagu, jadinya suka bm (banyak mau).

Dalam suatu hari ketika kami latihan mungkin John (nama asli Coki, John Paul Patton) lagi semangat-semangatnya memainkan riff bergaya hard rock yang rusuh. Di lain kesempatan latihan mungkin Coki lagi nge-punk banget, “Riff-nya asik tuh, John!” Sistem kerja mesinnya Kelompok Penerbang Roket dalam membuat lagu emang seperti itu, dari awal terbentuk kami emang terbiasa nge-jam, dan kami biarkan aja tetap seperti itu.

Hasil dari keseluruhan proses ini adalah gaya musik kami jadi macem-macem, yang penting dikumpulkan dulu materi-materinya, urusan gimana dirilisnya biar dilihat aja nanti. Kadang kami juga jadi bingung, “Abis ini musiknya kayak apa, ya?” Tapi kami juga nggak mau terlalu pikirin, karena kami udah terbiasa dengan cara kerja yang spontan dalam buat materi.

Kalau buat Kelompok Penerbang Roket, apakah terus mengeksplorasi gaya musik merupakan suatu hal yang penting?

Viki: Somehow gue pribadi merasa kalau terlalu banyak mengeksplor terkadang warna atau identitas dari musisinya bisa hilang. Gue banyak lihat band-band keren, tapi mungkin karena terlalu banyak eksplorasi, warna atau identitas mereka jadi hilang.

Coki: Boleh eksplorasi, tapi jangan sampai identitasnya hilang, dan hal ini emang agak tricky. Ada banyak faktor juga yang bisa diperhatikan untuk menghindari hal itu. Kalau buat gue pribadi, seorang musisi atau sebuah band, ketika merilis album baru, harus beda dari yang mereka rilis sebelumnya. Menurut gue itu penting, sih, untuk menawarkan sesuatu yang beda pada karya baru. 


Oleh: Adam Bagaskara

Foto: Yogha Prasiddhamukti

Like what you read? Give Qubicle Music your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Qubicle User

Qubicle Music

Similar stories

Stay Updated.

Every day, a dose of inspirations.🎉
Subscribe Qubicle
Qubicle Logo
© 2018 Qubicle. All rights reserved
FOLLOW US