MengakaliKaryaSeniMediaBaru

August 15, 2018Qubicle Art
Pameran yang menampilkan karya seni media baru bisa saja gagal di tengah jalan karena listrik mati

Beberapa kali kami mendapati beberapa karya seni yang menggunakan elektronik dalam pemasangannya tidak menyala pada saat dipamerkan, betapa disayangkan. Karya-karya dengan elektronik itu biasanya dinamai sebagai seni media baru. Penciptaan karyanya tak lepas dari teknologi media terkini yang dikeluarkan industri. Sang seniman, sebagai pengguna, akan mencoba memahami fungsi dan batasan teknologinya. Dia harus cukup jeli agar pendobrakan yang Ia lakukan sebagai segi seninya bisa memungkinkan untuk dipamerkan. Seniman juga manusia, Ia akan menempuh banyak trial and error. Yang sudah makan asam-garam-nya akan punya berbagai akal seperti kasus-kasus di bawah ini.

Bicara elektronik, salah satu pemicu kematiannya adalah ketidakstabilan listrik. Karya seni media baru ciptaan Keisuke Takahasi untuk Jakarta Biennale 2017 pada suatu waktu mati karena listrik anjlok. Masalahnya tidak sampai di situ. Saat coba dihidupkan kembali oleh Sigit, si penangan karya, kewalahan karena piranti lunaknya berbahasa Jepang. Sang seniman sudah keburu sayonara dari Indonesia. Akhirnya, mereka mencari panitia yang bisa berbahasa Jepang untuk memandu mereka menyalakan karya dan untunglah ada.

  Fictional Island (2016) yang dipamerkan di Jakarta Biennale 2017 karya Keisuke Takahasi (foto: jakartabiennale.net)  

Persoalan bahasa bukan hanya antar manusia. Jika berkarya dengan video, seniman bisa dibuat tegang ketika mesin media player tidak menjalankan file videonya. Kasus ini kerap menimpa para seniman video pengguna Mac. Saat menyalin file ke USB atau SD Card, Mac kerap kali menambah file baru (.trashes, MACOSX, dsb.) yang tidak dimengerti bahasa media player. Alhasil, file asing itu menghambat video untuk diputar terus-menerus (looping). Solusinya, file video harus dipindah lewat komputer Windows, sehingga jika ada file bawaan dari Mac, bisa terdeteksi dan dihapus. Seniman dan penangan juga harus teliti dalam menaruh file ini. Pernah ada kasus, di mana USB sudah bersih dari bawaan Mac, namun tetap tidak bisa diputar. Usut diusut, ternyata, file ini mendapat ekstensi dua kali (misal: filevideokece.mp4.mp4), sehingga tidak bisa dibaca media player.

Standarnya, presentasi karya video menggunakan media player (dikawinkan dengan proyektor) serta monitor atau TV yang dilengkapi USB/slot SD Card. Memutar video lewat opsi wi-fi penuh resiko terputus. Kalau internet memang bagian dari karya, seniman pun harus menyiapkan modem yang selalu di-charge, lengkap dengan kuota yang tak terbatas. Karya seni internet Soemantri Gelar dan Berto Tukan yang berjudul "4 Sehat 6 Sempurna" (2017) misalnya, menggunakan Facebook Live lewat tab yang dipajang, untuk menyiarkan selama sebulan berpameran: semangkuk mi instan goreng, makanan dari Sabang sampai Merauke itu, demi melihat apakah mi instan yang terkenal berpengawet, bisa membusuk atau tidak. Walaupun siaran kadang terputus, ternyata itu diantisipasi seniman sebagai simbol soal sinyal internet masih sering lamban di Indonesia. Eror juga bisa jadi bagian karya. 

Menyiarkan mi instan di Facebook Live selama sebulan (foto: Instagram Soemantri Gelar)

Karya yang menggunakan banyak monitor biasanya diakali agar gampang dioperasikan tim pameran. Contohnya, menggunakan satu merek TV dalam rangkaian instalasinya, sehingga bisa dinyalakan dengan satu remote control. Cara Ricky “Babay” Janitra lain lagi. “Gue gak mau nyusahin volunteer pameran” katanya. Untuk karya-karya instalasi videonya, dia selalu memprogram agar karyanya bisa menyala hanya lewat satu kabel listrik, sehingga ketika dicolok, semua monitor otomatis menyala dan menavigasi memory card untuk memutar file videonya. 

  Ricky Janitra, SURROUNDED, 7 Ch Video Surround Installation, 7.1 Audio Surround -- SYNC, di Following Exhibition at National Gallery, Jakarta-Indonesia 2017. (foto: Dok. Seniman)  

Tidak hanya video, menggunakan sensor dan per-coding-an jugalah ragam dari karya seni media baru. Karya Moch. Hasrul berjudul “In the Midst of Chaos, There is Also Bibibtulit” (2018) menggunakan empat puluh lima tank mainan plastik yang sudah diretas dengan software. Ketika mendapat suara yang keras, sensor akan memancing tank untuk lasak, bagaikan bocah-bocah yang overdosis makanan bergula. Jika dipancing terus-terusan, energinya akan habis lalu diam tak berkutik. Tank-tank itu harus dicopot baterainya untuk di-charge setiap 4 jam sekali. Di sinilah peran petunjuk karya yang selalu disiapkan Hasrul dan penjaga pameran yang telaten menjadi penting.  

Moch. Hasrul berpose di samping karya " In the Midst of Chaos, There is Also Bibibtulit" miliknya. (foto:  Jin Panji. Dokumentasi seniman) 
  Petunjuk karya Moch. Hasrul, "In the Midst of Chaos, There is Also Bibibtulit". (foto: Dok. seniman) 

Perkembangan teknologi yang begitu pesat juga punya imbas. Sebaru-barunya seni media, nyatanya beberapa karya sudah dimuseumkan, sebagai penanda sejarah agar anak cucu bisa menertawakan bagaimana tidak efisiennya teknologi di zaman kita. Karya Nam June Paik, yang dinobatkan sebagai pionir seni video dunia, sering menjadi salah satu koleksi wajib museum-museum seni rupa dunia. Karya-karyanya yang dibuat pada era 1960-2000an memusingkan ahli konservator seni sampai-sampai dibutuhkan simposium internasional khusus untuk berbagi strategi. Sebab, kalaupun mau dimintai pertanggungjawaban, beliau sudah almarhum dan mulai jarang pula pabrik yang memproduksi suku cadang TV tabung yang digunakan di karyanya. Karya seninya menjadi ketinggalan zaman.  

Nam June Paik, Hans Christian Andersen Robot, 1996, audio-visual design, 297 x 145 x 53 cm, koleksi Statens Museum for Kunst Denmark. (foto: Dok. penulis)

Itulah kilasan soal menghidupkan karya seni media baru ini. Kalau tidak dipikirkan sejak awal, fungsi pameran untuk memamerkan karya bisa jadi gagal di tengah jalan. Beberapa kasus di atas menunjukkan beberapa cara dari seniman dan penyelenggara pameran untuk mengatasi kematian karya, tapi bukan berarti yang paling saklek. Namanya bukan seni kalau tidak banyak akal.


Penulis: Gesyada Siregar

Like what you read? Give Qubicle Art your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Qubicle User

Qubicle Art

Similar stories

Stay Updated.

Every day, a dose of inspirations.🎉
Subscribe Qubicle
Qubicle Logo
© 2018 Qubicle. All rights reserved
FOLLOW US