MengenalArian13LebihDalamLagi

August 11, 2018Qubicle Music
Obrolan panjang dengan Arian 13 dari Seringai: soal dirinya, perkenalan dengan musik, kegiatan di luar band, dan slogan hidup adalah konser.

Siapa yang tidak kenal dengan Arian 13? Namanya jelas sulit lepas dari cap sebagai vokalis Seringai. Suara gaharnya sudah menemani kuartet rock oktan tinggi seminal tersebut selama 16 tahun terakhir. Persona Arian 13 juga tidak bisa dipisahkan dari Lawless Jakarta, dimana dirinya menjadi salah satu pengurus utamanya. Di kedua entitas tersebut, Arian 13 merupakan artworker. Sebagai seniman visual, karya-karyanya punya peranan penting dalam membentuk image Seringai dan Lawless menjadi salah satu yang definitif dan punya ciri khas tersendiri. 

Selain itu, Arian 13 juga dikenal sebagai kolektor musik, terutama piringan hitam. Entah ada berapa banyak koleksi yang dimilikinya. Sepertinya, dirinya memang tidak bisa jauh dari musik. Dari kegiatan sampai hobi, semuanya berhubungan dengan musik. Namun, bagaimana perkenalan awal Arian 13 dengan musik? Apa yang membuatnya memutuskan untuk mengoleksi piringan hitam?

Kami mengunjungi Arian 13 di kantornya di daerah Jakarta Selatan dan mendengarkan ceritanya mengenai kegemarannya terhadap musik, awal perkenalan awalnya dengan musik, album-album yang yang memiliki pengaruh pada hidupnya, dan lain-lain. Tidak hanya itu, Arian 13 juga dengan santai bercerita mengenai kegemarannya pada makanan hingga impian yang ingin ia capai. Karena ia doyan ngobrol, kisah yang Arian 13 bagikan pun cukup panjang. Berikut kira-kira hasil perbincangan kami dengannya.

Sebenernya siapa itu Arian 13?

Orang yang sebenernya suka musik. Orang yang passionnya di musik lebih ke metal dan punk rock dan lain-lain. Pada dasarnya orang yang biasa tapi suka nggak biasa. Underrated, tapi suka overrated. (tertawa) Iya, bisa dua-duanya. (tertawa)

Di luar Seringai dan mengurus Lawless, kegiatan Arian 13 apa aja, sih?

Sebenernya udah, sih, itu doang. Maksudnya, sama Seringai udah banyak menghabiskan waktu karena gue suka sekali main band. Jadi di Seringai juga gue suka melakukan apapun dengan kegiatan gue. Kayak ngedesign. Nggak hanya ngedesign. Kadang-kadang gue hire orang, "Eh lo bisa nggak bikin ilustrasi buat sesuatu?" gitu, Apapun itu. Biasanya sih jadinya merchandise. Misalnya gitu. Sama dengan Lawless, kegiatannya juga gitu. Ngurus ilustrasi, ngurus design. Sama kayak gitu juga, nyari orang buat bikin ilustrasi untuk clothingan si Lawless. Buat ini, itu. Kalo sekarang ada Lawless Burgerbar, punya ide untuk bikin menu atau nggak marketingnya gitu-gitu.

Di luar itu, kadang-kadang jadi narasumber atau pembicara. Suka ada talkshow atau apa. Lainnya, dulu gue suka nulis. Sekarang udah nggak sempet. Gue suka apa yang menjadi hobi, juga ternyata menghasilkan. Ya nggak hanya itu semua, tapi kayak, tiba-tiba jualan kaos, jualan CD, jualan plat (baca: piringan hitam). Yang kayak gitu-gitu. Gue pada dasarnya suka proses jual beli.

Logo Lawless Jakarta buatan Arian 13. Sebagai artworker, karyanya bisa dibilang cukup definitif. (foto: dok. Lawless)
Sampul album terbaru Seringai, 'Seperti Api', karya Arian 13, yan terinspirasi dari monster di cerita rakyat Jepang. (foto: dok. Seringai)

Banyak orang ngeliat Arian 13 nggak lepas dari label 'Seringai' atau 'Lawless'. Tapi ada nggak sih hal yang tidak diketahui oleh orang dan tidak disangka-sangka dilakukan oleh seorang Arian 13?

Banyak, sih. Pada dasarnya gue—lebih gue dan temen-temen gue yang satu geng gitu—kita senengnya party sih. Jadi partynya tuh bisa yang kayak rock party, bisa juga kalo misalnya party di club gitu, bisa aja. Atau party dengan cara kita sendiri. Gitu, lebih kayak menikmati hidup kali ya. Jadi ketika misalnya ada orang ketemu gue di club, "Wah, gue nggak nyangka lo ada di club." Nah, berarti lo nggak tau gue. (tertawa)

Orang kan lebih tau gue lebih di permukaannya. Taunya lebih kayak mungkin dulu yang ada di pangung kayak apa. Terus sekarang Seringai punya vlog, jadi mungkin lebih kayak di situ juga. Tapi itu baru kayak 10% doang, sisanya, sih, pada nggak tau.

Arian 13 cukup suka gaya musik dreampop, indie pop, shoegaze dan lain-lain. Apa tanggapan Arian 13 sendiri mengenai mereka yang mengomentari "bentukan metal tapi dengerinnya manis"?

Nggak peduli, gue yang seneng kok. Ya gue sih sebenernya pada dasarnya emang suka semua musik. Cuman passionnya yang paling gede tuh ke metal dan punk rock, itu artinya lebih kayak, let say, ada konser Neurosis, ada konser My Bloody Valentine. Gue disuruh pilih mana, ya gue pilih Neurosis. Dua-duanya pengen, tapi gue lebih mau nonton itu. Tapi kayaknya hari gini udah nggak terlalu sih ya. Maksudnya, dulu sih jaman gue ya iya. Gue aja jadi DJ rock dulu, orang taunya DJ Tigabelas, "Apaan sih, lo DJ sekarang?" karena mereka mikirnya DJ-nya adalah DJ EDM, atau apa yang kayak gitu-gitu. Padahal gue maininnya rock dan metal juga. Tapi image DJ tuh kesannya kayak gitu. Mungkin ada yang ngomong gitu tapi gue nggak pernah peduli juga, sih, jadi nggak dengerin juga.

Arian 13 cukup aktif nge-review makanan kan sekarang? Alesannya apa?

Gue tuh seneng makan. Nah, itu salah satu yang orang nggak tau juga, gue seneng kuliner. Dan sekarang nyobanya macem-macem. Gue seneng kalo misalnya sama Seringai, senengnya tuh traveling juga. Pasti nyobain kuliner lokal-lokal situ. Dan kalo di Jakarta pun juga bukan tipe yang stuck di Selatan nggak kemana-mana. Kalo weekend nggak macet gue pasti ke Barat, ke Timur, ke Utara. Itu yang malah jauh-jauh. Atau malah kadang ke Tangerang buat ngejar makanan. Dan hasilnya gendut. (tertawa) Tapi kenapa review makanan, ya karena seru aja, sih. Pernah ada temen gue nanya, “Ini temen gue punya band, dia punya rilisan. Bisa nggak lo nge-review?" Terus gue malah, “Pertama, gue udah nggak ada platformnya nih buat nge-review band. Terus gue lebih nge-review makanan sekarang!” (tertawa)

Jadi kan Arian 13 suka nulis, tapi sekarang nyalurinnya ke nulis soal makanan?

Iya, soalnya nulisnya agak singkat kan kalo makanan. Malah ada orang-orang bilang “Lo kayaknya kepanjangan deh nulis soal makanan!". Kalo lo liat ada orang "Ih, itu orang makanan udah dateng bukannya dimakan malah difoto-fotoin dulu", itu gue! Gue tipe yang begitu. Ini buat di-review. (tertawa) Gue kalo di Zomato, top reviewer di Kemang! Nah sekarang kan gue bisnis kuliner. Itu juga tambah seru sih. Kan selama ini cuma pasif, makan gitu. Sekarang pas bisnis kuliner, ternyata seru, sih. Dulu pas pertama kali baru mau niat bisnis kuliner gue ngajak temen gue, dia kayak "Wah ini, bisnis kuliner tuh repot lagi, lo harus ditungguin, ini itu, jadi lo gak ada waktu lagi". Mungkin kalo ngerjain sendiri, iya. Tapi kalo sekarang kan gue ada tim. Jadi nggak harus ditungguin. Ya maksudnya diawasin iya. Tapi nggak yang ditungguin 24 jam harus ditongkrongin.

Kalo misalnya Arian 13 bisa milih melakukan hal lain di luar Seringai ataupun mengurus Lawless, mau ngapain?

Traveling, terus nonton konser deh. (tertawa) Apa lagi makna hidup? Tapi kayaknya kalo kayak gitu doang, agak membosankan, sih. Misalnya, gue seneng berkegiatan dengan adanya si Seringai, Lawless, dan kawan-kawannya. Itu jadi lebih ada kegiatan gitu. Gue tuh orangnya lumayan nggak bisa diem. Bahkan kalo temen tuh kayak, 'Ah gue libur nih, gue di rumah aja deh nggak mau ngapa-ngapain'. Iya. Bisa enak. Tapi kalo gue “Ngapain ya, ngapain ya," gitu, harus berkegiatan gitu. Nggak bisa diem, sih. Nggak terlalu ekstrim, tapi tetap nggak bisa diem.

Arian 13 dan kompatriotnya di Seringai. (foto: Adam Bagaskara)

Arian 13 kan cukup sering nonton konser di luar dan membuat slogan "hidup adalah konser". Konser apa yang membuat Arian 13 berpegang teguh pada slogan tersebut dan terus-terusan pengen nonton?

Kalo gue lebih kayak, apa yang membuat gue terus-terusan. Sebenernya itu baru kayak 5-7 tahun belakangan yang jadi lebih sering dan lebih jauh. Kalo dulu kan konser paling deket ya paling kalo dulu di Bandung, ya gue ke Jakarta. Kalo sekarang gue ada di Jakarta, mungkin di Singapura. Terus mulai, ya seneng aja sekalian traveling gitu. Liat budaya tradisional di luar Indonesia. Terus gue mulai seneng merambah, misalnya ke Jepang, ke Australia. Masih yang deket-deket. Akhirnya sampe ke yang paling jauh mungkin Skandinavia, itu Eropa. Itu makanya ada hashtag hidup adalah konser karena akhirnya gue kerja, cari duit, nabung, buat dihabisin untuk traveling. Akhirnya hidup lo buat konser. (tertawa)

Tapi jalan-jalan sendiri sebenernya gue suka. Tapi kalo gue sekaligusin mumpung ada festival, bisa nonton band banyak, yaudah sekalian aja gue nonton. Abis itu atau sebelumnya pasti bisa keliling-keliling, liat budaya orang luar. Apa yang menyebabkan ya, emang seneng aja, sih. Terutama kayak gue gitu, jaman gue waktu masih muda atau SMA gitu kan konser nggak terlalu banyak. Terus banyak selera musik yang gue suka itu nggak banyak yang mendekati ke Indonesia. Kalaupun ada ya satu atau dua. Jadi ya gue lebih kayak yaudah deh, gue kejar aja deh daripada mati penasaran nunggu. Dan konser-konsernya rata-rata emang bagus-bagus. Mungkin ada satu atau dua yang hmm, ternyata biasa ya. Tapi sejauh ini sih bagus-bagus.

Konser apa yang paling berkesan buat Arian 13?

Banyak sih. Kayak, Kvelertak waktu masih belom terkenal, mereka main di Singapura terus gue ke sana. Mereka manggung terus akhirnya tiba-tiba pindah ke jalanan. Itu lucu juga, sih. Padahal amplinya tetep di dalem club. Terus mereka main di jalanan kan masih kedengeran gitu di luar. Itu juga chaos. Terus nonton Black Sabbath. Tapi yang kedua, soalnya yang pertama agak terlalu penuh jadi kayak kurang nyaman gitu. Itu bagus banget. Oh! Nonton Soundwave di Perth, tapi itu rame-rame. Jadi waktu itu Seringai baru rilis Taring dan kita berhasil ngejual 1000 copy album deluxe Taring dalam dua hari, terus udah balik modal uang rekamannya. Terus kita dapet sisa lumayan buat beli tiket pesawat ke Perth waktu itu. Jadi akhirnya kita rame-rame satu band, tapi sama beberapa temen nonton [festival] Soundwave . Jadi lebih kayak school trip anak-anak brengsek bareng-bareng di Australia, itu seru sih! (tertawa) Terus nonton Neurosis 4 jam, itu lumayan, sih. Maksudnya itu dalam dua hari, 2 jam-2 jam. Tapi itu lumayan mindblowing.

Gue nonton emang udah banyak banget, gue udah nulis daftarnya tapi gue belom hitung berapa tuh yang udah gue tonton. Mau liat? (tertawa)

Album apa yang berkesan bagi hidup dan membentuk diri Arian 13 yang sekarang?

Banyak, tapi mungkin yang pas jaman gue SMP atau SMA ya. Dulu pas jaman SMP gue suka Duran Duran, tapi kalo dibilang album yang mana tuh agak susah, karena dulu tuh jamannya bajakan jadi dulu tuh kayak Duran Duran The Very Best Of. Jadi udah semuanya bagus gitu. Duran Duran, tuh pas lagi jamannya new wave kan.

Terus pas SMA mungkin Sepultura album Schizophrenia sama Beneath the Remains. Dulu tuh ngeliatnya karena waktu itu kan era itu tuh 90-an, Brazil dibilang mirip Indonesia. Negara dunia ketiga gitu istilahnya. Wah, ternyata dari Brazil mengeluarkan band sekeren Sepultura gitu. Ada koneksi gitu ya. Tapi ternyata sekarang Brazil lebih maju ya, kitanya stuck. (tertawa) Ya gitu, si Sepultura mereka bisa go international. Terus, lirik-liriknya juga.

Sebetulnya pada zaman itu liriknya bukan yang bagus banget atau apa, tapi lo pas SMP-SMA kan kayaknya "Anj*ng, ini keren nih!", “Wah dia bicarainnya sosial politik gitu”. Terus si Sepultura kan si Max Cavalera-nya sering pake t-shirts aneh-aneh. Jadi gue tau Ratos de Porão, atau gue tau band A, band C, band-band punk rock. Kan si Max Cavalera suka pake baju band punk rock. Itu dari situ, “Ini apa ya? Ini kok keren ya?” Akhirnya gue coba dengerin. Waktu itu gue emang juga lagi banyak bacaan tuh majalah Thrasher. Dan di majalah Thrasher tuh ada kolomnya sih Pushead. Dia ngebahas tentang band-band underground. Rata-rata hardcore punk gitu. Jadi gue nyari. Jadi kalo ada sodara ke luar negeri atau apa, gue nulis list gitu kayak nulis 10 atau 20 list, “Bisa gak tolong cariin ini?”. Ntar dapet, kadang-kadang dapet kasetnya. Kayak gitu. Ya udah, dari situ sih. Dari yang berkesan ya itu albumnya.

Waktu SMP juga gue udah suka Iron Maiden. Tapi ya itu, The Very Best of Iron Maiden kan dulu. (tertawa) Terus, dulu, sih, awalnya kalo ditarik mundur, gue diperkenalkan dengan musik, jadi, keluarga gue tuh emang, bokap gue, nyokap gue tuh suka dengerin musik. Bokap gue tuh punya record player, dia selalu pasang lagu-lagu evergreen atau nggak, Beach Boys. Jadi gue suka Beach Boys. Somehow bokap gue nggak punya Beatles, jadi gue nggak terlalu relate sama The Beatles. Nyokap gue senengnya musik-musik Indonesia tahun 60an, 70an. Ada Dara Puspita, ada siapalah, Koes Plus. Dulu Koes Plus lengkap gitu di rumah. Jadi waktu gue masih kecil, atau masih SD, bokap gue tuh sering ngajak gue ke toko kaset. Gue juga pengen punya kaset kan tuh si Arian kecil. "Itu, band yang pantai-pantai itu apa Pa?", "Oh itu Beach Boys". Jadi gue beli The Very Best Of Beach Boys. Dan toko kaset tuh nggak terlalu jauh sama rumah gue. Jadi gue kadang-kadang kalo nggak punya duit bisa jalan ke toko kaset buat beli. Uang gue ngepas gitu, beli kaset yang gue mau satu atau dua, yang sepasnya aja gitu. Terus pulang lagi.

Arian 13 punya cerita yang cukup panjang soal album yang paling berkesan dalam hidupnya. (foto: Rigel Haryanto) 

Terus CD pertama gue Faith No More, The Real Thing. Itu gue punya CD-nya duluan dibanding dengan player-nya. Waktu itu ada toko CD baru buka di Setiabudi, Dago, Bandung. CD-nya cuma ada dua. Faith No More, sama Soundgarden. Tapi CD tuh sesuatu yang baru banget gitu. Gue waktu itu liat harganya Rp25 ribu. Anj*ng, mahal banget. Jadi gue nabung. Tapi ini keren, formatnya tuh lebih gede dari kaset gitu kan. Gue nggak terlalu mikirin ada format platnya karena waktu itu di rumah tuh referensi plat-platnya tuh jadul. Jadi nggak terlalu mikir kalo CD tuh ada format platnya. Tapi pas liat si CD "Anjir, keren gini euy. Kayaknya canggih." gitu. Akhirnya gue beli tuh, CD Faith No More. Beli, udah, nggak bisa disetel kan tapi gue punya kasetnya juga dulu. Akhirnya baru berapa lama kemudian, bokap gue ganti si tape decknya. Di atasnya ada CD-nya gitu. Wah itu seneng banget tuh. Diputer, waw canggih! Nggak usah direwind gitu, bisa langsung skip. (tertawa)

Nah, waktu SMA gue mulai ngumpulin plat karena, dulu gue seneng korespondensi. Jadi dulu di cover-cover band kan suka ada alamat Po Box. Nah, terus di kantor pos tuh ada namanya IRC (International Reply Coupon), jadi biasanya kalo di belakang-belakang cover tuh ada "Please respond with two IRCs" gitu, jadi gue nanya, jadi ternyata IRC tuh ada di toko pos. Jadi gue beli di toko pos, lo tulis surat ke bandnya. Itu pengganti perangko. Lo kirim tuh ke alamat itu. Itu suka dibales. Nah, ternyata mungkin gue lumayan jadi orang pertama dari Indonesia yang suka kirim surat ke band-band itu. Jadi gue suka ngirimnya, cuma say hi gitu.. Nanya-nanya. Ya anak kecil lah, kayak apa. Taunya mereka ngirim baliknya kadang-kadang T-shirt. "Wah, kita kaget karena dapet surat dari Indonesia! Ini pertama!", gitu-gitu. "Bisa nggak band kami main di situ? Kalo bisa, nih ada nomornya". Masih pake nomor telepon kan dulu, bukan e-mail atau apa, gitu. Yaudah, dari situ, salah satunya ada yang ngirim gini "Glad you like the band, this is our new 7 inch". “Wah, piringan hitam? Ternyata masih ada ya?”, gue mikirnya gitu dulu. Terus kadang-kadang kan mereka kirim katalog, terus gue kirim surat ke label ada katalognya, terus gue mulai order-order dari situ. Jadinya akhirnya hooked dengan format plat.

Jadi salah satu faktor Arian ngumpulin plat karena itu?

Iya, karena korespondensi. Dikasih gitu kan. Gue inget tuh dulu gue kirim surat ke Dropkick Murphys waktu mereka belom beken. Terus si bassistnya ngirimin 7 inch dua, sama majalah tentang punk rock gitu. Wah, senang. Tapi cuma sekali itu doang. Nggak jadi korespondensi terus-terusan. Yang terus-terusan tuh nggak banyak sih. Karena waktu itu duit gue terbatas sementara gue pengen kontak semua orang, gitu. (tertawa)

Arian 13 dan deretan koleksi piringan hitam di belakangnya. (foto: Rigel Haryanto)

Sebelumnya kan Arian 13 pernah bilang kalau suka ngeliat band kesukaan pake kaus apa gitu, terus kemudian ngecek dan mencari tahu perihal kausnya. Pernah kecewa dari apa yang Arian 13 cek nggak?

Pernah. Dulu sih kecewanya bukan kecewa gimana gitu. Tapi lebih kayak, "Eh kok tidak sesuai ekspektasi?". Misalnya dulu ada pemain band luar. Phil Anselmo waktu awal-awal kan suka pake kaos Eyehategod. Itu kan jaman-jaman ketika Phil Anselmo beken, jamannya death metal, grindcore, sama thrash lagi naik banget. "Wah apa nih, Eyehategod, serem juga namanya". Terus gue nyari, gue dapet tuh ternyata ada CD-nya, CD bekasnya. "Wah, ini dia nih yang suka dipake sama Phil Anselmo!". Gue beli, gue pasang, "Kok lagunya nggak cepet-cepet?". (tertawa) Ya akhirnya gue simpen aja. Tapi kayak kok nggak sesuai. Itu untuk mengerti Eyehategod akhirnya [butuh waktu] nggak bentar sih. Pas lebih dengerin kayak Black Sabbath, Black Flag, itu baru kayak "Oh, gue ngerti sekarang". Jadi nggak yang langsung suka gitu. Gitu misalnya.

Tapi kalo misalnya kecewa, bukan dari kaus sih. Tapi lebih dari, kadang-kadang lo browsing di toko kaset terus kayak "Anjir ini covernya keren nih", tapi pas lo dengerin lo kayak, "Hmm, nggak sebrutal covernya nih". Gitu. Gue tuh waktu itu dengerin kayak gitu tuh Gwar. Gwar tuh kayaknya anjiiir keren nih! Pas dengerin, loh kok nggak sesuai ekspektasi. Kalo Gwar tuh kayaknya lebih seru kalo lo nonton live dibanding dengerin lagunya gitu. Gitu sih.

Pokoknya yang dulu gue ikutin karena gue liat kaosnya keren-keren tuh Max Cavalera sama bassistnya Nuclear Assault tuh. Siapa tuh, Brutal Truth juga. Dan Lilker. Kaosnya selalu aneh-aneh. Yang bikin gue penasaran. Wah ternyata Carcass. Wah terus apa lagi gitu. Selalu aneh-aneh. Jadi pengen nyari. Dan dulu kan internet nggak ada gitu, jadi nyarinya lebih susah. Kadang-kadang lo tau kaosnya tapi nggak tau bandnya karena tulisan bandnya nggak kebaca. Dulu Carcass gue liatnya gitu, nggak bisa baca gitu nih band apaan sih? Tapi kok kayaknya kaosnya keren gitu kan. Terus pas keluar di Earache (kolom iklan di sebuah majalah), "Eh logonya sama kayak ini!". Terus ada penjelasannya 'Carcass', oh bacanya Carcass (tertawa). Akhirnya tau.

Sama thanks list. Dulu kan banyak band disebutkan, nah itu gue catet satu-satu tuh. Terus gue cari. Jadi dulu kalo nitip album ke orang, ke sodara atau apa, itu kadang-kadang cuma nama bandnya aja. Jadi nggak lengkap dengan nama albumnya. Jadi sedapetnya. Kadang-kadang dapet album topnya, tapi kadang-kadang juga dapet pas dia lagi era jelek gitu. Itu juga bisa tuh. (tertawa) Sama dulu di Jakarta, di Duta Suara itu banyak kaset import. Dari Malaysia. Kaset bajakan juga. Tapi mereka lebih lengkap, lebih macem-macem bandnya. Terus cetakannya lebih bagus. Jadi seperti kaset asli. Tapi setau gue itu kaset bajakan kayak VSP, terus apalah itu. Lo kalo mau kaset album metal keren, atau punk rock, di Duta Suara banyak!

Terus bokap gue ada tugas ke Jakarta. Gue tanya, "Boleh ikut nggak? Pengen ke toko ini.", "Oh yaudah, ikut aja tapi kamu nggak apa-apa ya nungguin Papa kerja?", "Oh iya, nggak apa-apa". Gue nungguin seharian terus sorenya gue ke Duta Suara. Anj*ng, seneng! Eh, kaset import-nya tinggal dua. Cuma ada King Diamond album Conspiracy. Sama ada band, Sabbat, gue nggak tau waktu itu Sabbat kayak apa. Ini Sabbat dari Inggris, bukan yang Jepang. Ah yaudahlah, udah jauh-jauh ya. Yaudahlah, beli dua-duanya. Pas dengerin King Diamond—gue dulu nggak pernah dengerin King Diamond. Terus pas dengerin, "Anji*ng, serem gini ya orang!" (tertawa) Maksudnya liriknya horor, gitu. Tapi kan waktu itu masih SMA kelas 1 gitu, jadi kaya "Anjir serem banget ni orang". Akhirnya nggak pernah gue dengerin lagi soalnya takut. Gue baru dengerinnya bertahun-tahun kemudian. Baru bisa appreciate King Diamond juga tuh.

Kalo Sabbat, "Anj*ng, keren amat ya thrash metal! Tapi lagunya lama amat ya 9 menit?" Gitu. Sekitar 9 sampe 15 menit gitu lagunya. Terus dia liriknya kayak Lords of the Ring gitu lho. Atau nggak kayak kisah-kisah dongeng tapi dibikin kayak lirik gitu. Jadi, dulu perjuangan mencari kaset tuh susah. Kalo sekarang kan udah tinggal browsing, download, di Spotify ada, di Youtube ada. Kalo dulu, hit and miss!

Balik lagi soal konser, Arian 13 tuh nyaris tiap tahun datang ke Roadburn Festival di Belanda kan ya?

Kemaren tuh tahun ketiga gue. Gue sih kalo punya duit, pengen mengunjungi semua festival yang seru di Eropa. Tapi kan kasian Seringai nggak manggung-manggung (tertawa). Kalo Roadburn tuh lebih, awalnya banyak band yang gue suka main di situ. Mulai tahun ke dua tuh gue udah mulai, dia buka tiket, tapi belom ngasih line up. Jadi gue mikir, "Ah beli aja dulu, kayaknya line up-nya oke," ternyata memang oke. Ada mungkin yang gue nggak tau, tapi pas gue nonton, gue jadi suka. Karena Roadburn tuh festival tapi nggak segede Hellfest gitu kan. Kalo Hellfest kayak ada tujuh panggung gitu kan. Itu sehari kayaknya energi kalo lo nonton full satu band tuh kayak cuma bisa 6-8 band, abis itu lo cape karena acaranya outdoor. Karena lo harus jalan ke panggung yang A, B, atau C yang jaraknya jauh-jauh. Tapi kalo si Roadburn nggak terlalu besar. Jadi lebih apa ya, festival gede, tapi scoopnya lebih kecil. Jadi lebih enak aja ke panggung ini deket, ke panggung itu deket. Dan lo sehari bisa nonton 12 band atau 14 band gitu.

Salah satu poster Roadburn Festival 2018 yang berlangsung selama 4 hari berturut-turut. Roadburn adalah festival yang dalam beberapa tahun terakhir selalu dikunjungi oleh Arian 13. (foto: dok. Roadburn Festival 2018)

Apa Arian 13 ngerasa pergi ke sana jadi kewajiban tiap tahun?

Iya! (tertawa) Kayak nggak mau ketinggalan sih. Tapi kalo pilihan lain Roadburn, dulu gue ke Temples Festival. Itu sebenernya juga seru. Gue nonton Temples Festival yang kedua. Yang pertama tuh nggak nonton karena gue salah mengukur pengerjaan visa. Jadi visa gue tuh keluar pas hari kedua festival. Jadi, udahlah, itu udah cancel. Tapi gue ke festival lain akhirnya beberapa bulan kemudian. Nggak kewajiban sih. Lebih ke nggak mau ketinggalan. Dan serunya sih, dari festival-festival itu, jadi sebelom ke Roadburn tuh gue ke Temples, terus ada juga Desert Fest juga, seru. Terus ada beberapa festival di Inggris yang juga seru. Itu gue ketemu satu-dua orang yang sama. Dan mereka kalo nonton band-band tertentu, itu berarti seleranya sama gitu.

Kayak waktu gue nonton Eyehategod di Desert Fest, gue ketemu ada cewek nonton di sebelah gue. Di front row gitu kan. Maksudnya kalo di sini tuh kan kayak, apa ya, nggak kenal tapi kadang-kadang kayak saling menjaga gitu. Misalnya handphone lo jatuh gitu, ntar kayak "Eh, sini gue ambilin". Gitu. Sesederhana itu kan. Tapi festival berikutnya, pas di jalan, "Anj*ng, gue inget nih, cewek yang waktu itu nonton Eyehategod." Terus gue sapa "Hey!", terus dia, "Hey!". Ternyata dia juga inget gue. Terus akhirnya setiap tahun jadi ketemu, terus jadi temenan. Maksudnya jadi, festival goers.

Dan itu nggak hanya dia doang. Ada beberapa yang jadi temen. Terus nanti mendekati Roadburn, mulai tuh keluar [obrolan] WhatsApp "Hey man, are you going this year?" gitu. (tertawa) Dan mereka, yang cewek tuh orang Irlandia. Ada temen gue satu lagi orang Swedia. Yang satu lagi, gue baru tahun kemaren terus jadi ketemu tuh gara-gara hari terakhir festival kita pulang naik shuttle bus gitu. Nah, gue ketemu orang ini, dia orang Portugal. Terus kita duduk sebelahan terus jadi ngobrol. Terus sepanjang perjalanan jadi ngobrol. Akhirnya jadi temenan juga, gitu. Terus kayak, "Wah line up-nya belom keluar ya? Tapi tiketnya udah dijual nih!" Jadi kayak temen-temen seantero dunia. Tapi ya, akhirnya semua janjian kan. “Eh lo kalo dateng ke Swedia, lo dateng ke Stockholm, lo kabar-kabarin gue deh. Rumah gue terbuka untuk lo". Gitu-gitu, sih.

Jadi gara-gara festival, punya banyak temen mancanegara ya?

Iya. Jadi akhirnya ketika lo ke Roadburn atau ke festival-festival yang sejenis, lo akan ketemu kayak like-minded people gitu yang kayak "Heeey!", "Temenin yuk!". "Nonton ini yuk!!" "Ngebir dulu!" atau apa gitu. Ya, jadi temenan aja (tertawa). Kadang-kadang skip satu band buat di bar doang, nongkrong aja gitu (tertawa). Dan di festival sebesar Roadburn, kemungkinan lo ketemu pemain band, besar banget sih, asal lo tau orangnya. Kayaknya gue ada folder gitu foto bersama si A, B, C, D (tertawa). Kayak katro gitu, "Bang foto bang!".

Ada nggak sih hal yang pengen Arian 13 capai sekarang?

Gue sih pengen touring ya. Touring keluar. Itu belom pernah gue lakukan. Tapi touringnya juga nggak harus dengan band gue. Kalo ada band yang gue jadi merchandisernya juga nggak papa. Itu kali ya. Gue sih masih punya list band-band-yang-belum-gue-tonton-tapi-harus, masih panjang sih itu (tertawa), kayaknya nggak kelar-kelar. Mengirimkan nyokap naik Haji (tertawa). Oh iya! Ada, tapi ini di luar musik. Punya Ford Mustang! (tertawa). Keinginan-keinginan gue duniawi ya? (tertawa). Tapi kalo nonton konser gitu sih gue merasa spiritual sih. Pengalaman spiritual. Lo nonton band, bandnya bagus banget, terus lo bersyukur, gitu. Pengalaman spiritual gue tuh di situ.

Penulis: Anida Bajumi

Like what you read? Give Qubicle Music your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Comments

    Qubicle User

    Qubicle Music

    We found it's important to give people on good music whether they're made by established musicians or newcomers.

    Stay Updated.

    Every day, a dose of inspirations.🎉
    Subscribe Qubicle
    Qubicle Logo
    © 2018 Qubicle. All rights reserved
    FOLLOW US