Mengenal: Mocca

Oleh: Felix Dass

Beberapa tahun belakangan ini, Mocca bangkit dari kubur. Setelah memutuskan untuk vakum selama beberapa waktu karena vokalis Arina Ephipania menghabiskan waktu beberapa tahun di Amerika Serikat, mereka mulai kembali beraksi di panggung. Pelan-pelan kuantitasnya digenjot.

Selain Arina Ephipania, Mocca juga diperkuat oleh Riko Prayitno (gitar), Indra Massad (drum) dan Toma Pratama (bas). Formasinya tidak pernah berganti.

Selepas kebangkitan ini, Mocca menjadi salah satu raksasa yang penghasilan kotor dari manggungnya paling besar di antara sejumlah band independen lain. Mereka mengklaim kembali apa yang pernah mereka miliki di masa lalu; perhatian sebagai band yang memang meletakkan peran penting dalam cetak biru scene independen lokal Indonesia.

Pertama kali, Mocca muncul di tahun 2002, lewat album My Diary. Album itu membuat banyak orang tercengang. Tidak hanya perkara musik yang segar, tapi packaging yang luar biasa bikin orang ngiler; ngiri, karena label besar tidak mungkin mengejar pendekatan desain produk yang mewah seperti itu.

Jalan terbuka lebar dan mereka terus menari dengan musiknya. Mencapai satu demi satu torehan kisah yang penting untuk diceritakan ke orang banyak.

Sampai hari ini, selain My Diary, Mocca telah merilis Friends (2004), Music Inspired by the Movie: Untuk Rena (2005), Colours (2007), Dear Friends (2010) dan Home (2014).

Katalog yang banyak itu, kebanyakan bagus. Kecuali mini album kompilasi Dear Friends yang bisa dibilang tidak punya nyawa.

Tujuh lagu di bawah ini adalah perkenalan yang mungkin bisa jadi cocok untuk memulai cerita personal dengan musik Mocca. (*)

It’s Over Now

Track penutup album Friends. Suara gitar lagu yang disambut gebukan tipis drum menghadirkan lagu balada paling cantik yang pernah mereka hasilkan. Dimainkan kadang-kadang di atas panggung. Biasanya sehabis diteriakkan oleh orang-orang tertentu. Kalau suka, boleh ikut teriak di panggung mereka berikutnya. Supaya lagu ini lebih sering dimainkan. Kisah cinta yang gagal, tapi disajikan dengan seperlunya. Mengena di hati kalau didengarkan berulang-ulang.

Do What You Wanna Do

Lagu ini menampilkan sejumlah nama sebagai pengisi vokal latarnya. Dua di antaranya adalah Rektivianto Yoewono dari The SIGIT dan Risa Saraswati dari Sarasvati. Lagu ini, merupakan provokasi aktif untuk mengejar kebebasan yang bisa jadi mimpi siang bolong untuk banyak orang. Mereka seolah bilang, “Eh, kebebasan itu bukan omong kosong loh.”

Lucky Man

Senada dengan It’s Over Now, Lucky Man juga mengedepankan suara gitar yang dominan dan menempel dengan erat di kepala setelah didengarkan berulang-ulang. Secara konstan, di latar belakang, permainan piano digital yang konstan juga menjadi contoh baik bagaimana kontribusi pemain tamu Agung Nugraha, anggota kelima Mocca yang menyertai mereka sejak era awal band ini.

Life Keeps On Turning

Video lagu ini menampilkan Satria Nur Bambang dari Pure Saturday dan Teenage Death Star. Salah satu single dari album My Diary yang berputar kencang untuk orang banyak di era MTV Indonesia sedang jaya-jayanya. Lagu klasik yang kalau dimainkan sekarang, mungkin menguras napas karena temponya agak kencang.

Sebelum Kau Tidur

Di mini album Music Inspired by the Movie: Untuk Rena, lagu ini menjadi satu dari dua lagu pertama Mocca yang ditulis dalam Bahasa Indonesia dan dirilis untuk orang banyak. Menampilkan sisi band itu yang tidak sering-sering muncul. Syahdu.

Changing Fate

Menampilkan vokal Cil dari The Triangle, band sampingan Riko Prayitno. Diambil dari album Home yang dirilis dengan status band yang dewasa. Sisi lain Mocca yang lengkap; dengan vokal latar yang bernyanyi di hampir sepanjang lagu dan megah.

When We Were Young

Ini paling gila: Arina Ephipania yang memang dikenal freak dengan kemampuan presisi suara dan gaya bernyanyi, bersanding dengan vokalis metal Vicky Mono dari Burgerkill. Suaranya? Ya jelas musiknya Mocca. Di beberapa artikel yang bertebaran di internet, Vicky dikisahkan mendapatkan pelajaran bernyanyi dari Arina.

You’re the Man

Secara konstan, band ini menyimpan ketertarikan ke banyak jenis musik. Makanya bisa super variatif dan kaya dari segi aransemen. You’re the Man, yang diambil dari album Home, menjadi contoh terbarunya. Brass section mereka yang memang selalu ambil bagian menyumbang peran dominan di lagu ini. Mungkin juga, lagu ini memfasilitasi kecintaan Riko Prayitno pada musik rockabilly.


Keterangan foto:
- Foto tema Mocca oleh Terry Manoppo
- Foto di bodi teks oleh Shutterbeater