MengetahuiPeranPentingArtHandlerMelaluiArtJakarta 

August 10, 2018Qubicle Art
Suka dan duka art handler dalam sebuah pameran seni besar. Kami menangkap berbagai cerita penangan seni Art Jakarta 2018.

Seribu lebih karya dipasang hanya dalam sehari semalam untuk festival seni rupa Art Jakarta 2018. Didatangkan dari berbagai kota dan negara, karya-karya ini harus ditangani dengan cepat dan serba hati-hati agar bisa dinikmati oleh para hadirin pada 2-5 Agustus 2018. Tak jarang, puluhan galeri yang mengisi 7.500 meter persegi dari Ballroom The Ritz-Carlton Jakarta Pacific Place itu membutuhkan kepala dan tangan lebih untuk memajang karya. Di situlah jasa penangan seni (art handler) turut serta.

“Syukurlah semuanya berjalan lancar” cerita Bowo, penangan seni dari Serrum Art Handling, di kala rehatnya. Untuk menangani empat belas booth dari berbagai negara di Art Jakarta 2018 ini, Serrum mengerahkan tiga puluh orang penangan seni.

  Kumpulan truk dan mobil boks pengantar karys-karya (foto: Qubicle)  

Awalnya, pihak galeri menerapkan berbagai strategi untuk menyulap venue yang sejatinya tidak dirancang untuk kebutuhan pameran seni rupa. Karya kecil bisa masuk dari eskalator orang. Untuk karya-karya besar, biasanya dimasukkan ke peti kemas dan boks-boks kayu lalu dibawa dengan truk. Sesampainya, truk-truk ini harus mengantri dulu di dok pemuatan, menunggu giliran untuk muatannya diangkut portir ke lokasi Art Jakarta di lantai empat. Sesudah diangkut pun, mereka harus menunggu peti kembali untuk disimpan di tempat lain, supaya tidak sesak di sana. Begitu karya sampai di booth, itulah aba-aba untuk penangan seni mulai bekerja.


  Para awak berdiskusi ketat sebelum memajang karya (Foto: Qubicle)  

Pembukaan peti kemas harus dihadiri pihak galeri untuk memastikan karya dalam kondisi utuh. Pasalnya, pernah ada karya yang pecah akibat penanganan ala kadarnya selama karantina oleh pihak Bea Cukai. Beberapa galeri pun kini bersiasat dengan membawa pihak Bea Cukai ke lokasi pameran Art Jakarta agar dapat memeriksa karya di tempat.

Di sinilah persoalan administratif yang bisa begitu penting. Data karya seperti nama seniman, judul karya, foto karya, ukuran, berat, serta tambahan seperti cara pemasangan idealnya disiapkan jauh-jauh hari. Lebih baik lagi kalau ada rancangan peletakan karya. Menurut Sigit, koordinator lapangan dari Serrum yang sudah beberapa kali mengerjakan Art Jakarta, hanya ada segelintir galeri yang punya rancangan itu. “Keren banget, tuh. Itu paling cepat”. Berkat itu, penangan seni bisa menghitung berapa kru yang dibutuhkan hingga alat yang mesti dipersiapkan. “Kadang kita mau masang, layout-nya belum ada. Ya sudah, paling PR-nya dia gambar di kertas, bikin ukuran-ukuran karya, jadi kalau nanti dipindah-pindah, dari situ aja. Yang penting sudah dapat ukuran eye level.” timpal Galang, penangan seni dari Serrum.

Berhati-hati dalam merangkai karya (Foto: Qubicle)

Hitungan titik ketinggian mata bisa berbeda untuk tiap galeri. “Dia ngeliat pasar umumnya, takutnya ada orang Eropa dateng, ngelihat karya agak nunduk gitu aneh, yaudah ratain saja 160 cm (dari lantai). Beda lagi nih kalau ngelihat pasarnya dari orang Asia, itu kisaran 140-150 cm, Kalau (Museum) MACAN 155 cm, jadi setengahnya, Eropa dan Asia, tuh” kata Bowo. 

Proses pemasangan lukisan mempunyai patokan ukuran khusus (foto: Qubicle)

Salah satu tantangan paling besar bagi penangan seni ini adalah panel. Waktu satu hari pemasangan itu juga termasuk dari pembangunan panel-panel booth. Pernah ada kasus di berbagai Art Fair di mana mereka menunda memasang karya karena panel belum siap, bahkan rubuh. “Waktu di Art Stage Singapura, lima belas meter panel berjejer, ambruk. Ada tiga orang yang kena, langsung ambulan datang. Habis itu langsung dikerjain lagi, "show must go on (tertawa)”, cerita Bowo. Untunglah, pembangunan panel bukan wilayah penangan seni.

Selain kesiapannya, ketebalan panel juga menantang dan mempengaruhi kecepatan bekerja. Ketebalan panel yang berukuran enam milimeter ternyata membuat karya-karya berat harus dapat perlakuan ekstra. Tim dari Serrum pun sudah menyiapkan pelapis tambahan dari kayu multipleks yang dipotong sesuai kebutuhan, sehingga sekrup untuk menggantung karya mendapat sokongan. “Kalau panel kayu bisa ada standarisasi, misal sembilan sampai dua belas milimeter, gitu, bakal enak banget, sih”, ujar Galang.

Pemasangan karya yang mempunyai waktu singkat (foto: Qubicle)

Beberapa galeri sudah menyiapkan tambahan khusus karya. Galang bercerita, ketika menjemput karya dari galeri, ia diperingatkan jangan sampai dudukan karyanya hilang atau patah. ”Ini mahal bikinnya, saya sudah bikin berapa kali”, kata si Ibu. "Oh, siap, Bu, gue bilang. Terus disuruh tanda-tangan di surat perjanjian, demi dudukan custom itu”. Walaupun nantinya tak begitu kentara di Art Jakarta, mereka juga bertanggung jawab akan model-model benda kecil tapi krusial macam itu.

Sesudah itu semua, tinggal adu teknik kecepatan memasang. “Kita kan dibayar untuk memasang karya, ya sudah, semaksimalnya, kadang ada yang cepat, ada yang BM (banyak mau). Akhirnya masalah pelayanan saja. Kita kan di wilayah jasa.” kata Bowo. “Target kita kan banyak. Misal satu galeri, ada dua sampe tiga orang minimal, tergantung kuota karya, misal dua puluh satu karya, yaudah, sikat.” kata Galang. “Biasanya per dua-tiga jam untuk satu galeri, karena kalau galerinya banyak, waktunya padat, mau nggak mau, harus split waktu. Kalau ini, kan, dikejar waktu, besok sudah opening Art Jakarta”.

Para penangan seni tengah beristirahat di sela-sela kejar waktu menjelang pembukaan Art Jakarta 2018 (foto: Qubicle)

Begitulah mereka, si kepala dan tangan lebih untuk festival Art Jakarta 2018. Bayangkan, kalau tidak ada jasa mereka. Alih-alih melihat karya, mungkin yang dilihat hanya cetakan tulisan di kertas HVS: “The works are still in the studio, please be patient”.


Penulis: Gesyada Siregar

Like what you read? Give Qubicle Art your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Comments

    Qubicle User

    Qubicle Art

    If you curious about visual art movement, here is the best place to feed your curiosity.

    Stay Updated.

    Every day, a dose of inspirations.🎉
    Subscribe Qubicle
    Qubicle Logo
    © 2018 Qubicle. All rights reserved
    FOLLOW US