Menghias Kue dengan Fondant, bersama Dianne dari Keiku Cake

Dianne mengambil buku resep.

“Elu masih butuh baca resep?”

“Soalnya hari ini bikin yang gede. Kalau bikin yang kecil, gua udah hafal takarannya.”

“Bukannya tinggal elu kali dua aja takarannya? Hehehe…”

“Huh? Ya nggak bisa. Mau bikin ½ ukuran yang biasa, terus elu ngurangin telur ½ nya? Pasti jadi nggak bener kuenya. Bantat lah, keras lah, dll. Terus misalnya, elu mau bikin chocolate cake. Nggak bisa sembarangan pakai resep vanilla cake, terus elu cuma ganti takaran vanillanya sama coklat.”

Pantesan waktu itu bikin kue cubit gagal melulu. Rasanya memang cukup enak, kayak kue bolu. Pas matang, cukup fluffy. Setelah dingin, melempem.

Dianne. Lebih dari dua windu belum pernah bertemu lagi. Terakhir kali melihatnya, kami masih berseragam putih abu. Lalu semesta membawa kami bercakap-cakap lagi, dalam pertemuan maya berbahan bakar kuota.

Tiga hari kemudian, liputan menghias kue tetiba menjelma piknik minum teh. Bercerita panjang tentang kehidupan setelah remaja berlalu. Sambil mengunyah irisan kue coklat yang bersisa setelah kue dibentuk. Sementara ia sibuk menyusun kubah kue coklat, dengan krim coklat kental sebagai perekat.

“Elu kok malah makin langsing dibanding waktu SMA? Padahal sekarang kerjaannya bikin kue.”

“Justru sejak mulai bikin kue, sekitar 8 tahun lah, pola makan gua jadi lebih bener.”

“Eh? Lebih bener gimana?”

“Gua udah nggak kabita makan dessert. Gara-gara dua tahun ngulik bikin kue. Jadi udah bosen . Kecuali kalau kuenya unik, spesial banget. Hahaha…”

Ia mengambil fondant. Pasta gula, gelatin, dan gliserin. Lalu mulai menguleni. Setelah dibuat tipis, sesekali ada gelembung udara. Ia pecahkan satu-persatu dengan jarum. Akhirnya, halus merata. Ia tutupi kubah kue, membentuk tubuh ayam.

“Kenapa elu nggak ikutan grup WA reuni? Kita ada arisan bulanan juga.”

Kujawab, “Hmmm… gimana, ya? Mungkin karena kerjaan gua udah selalu ke tempat rame. Beberapa kali seminggu harus manis-manis sama banyak orang. Suka atau nggak suka sama orangnya. Jadi pas nggak kerja, rasanya… I want to have some quality time with myself. Gua pengen menyepi dan simpen ponsel.”

“Ooohh… iya juga, yah. Elu mah kan manggung terus. Kalau gua, bikin kue di rumah. Bener-bener sendirian. Kalau lagi banyak pesenan, kayak pas Christmas kemaren, gua bisa sebulan cuma bolak-balik antara rumah dan toko bahan kue di depan. Nggak bisa keluar nongkrong makan sama temen.”

Jalan hidup yang begitu kontras. Tak pernah terbayangkan waktu sekolah dulu. Jaman ketika kami semua diisi kepusingan seragam soal integral dan struktur atom. Kini, sebagian kesepian di rumah, sementara yang lain capek di keriuhan. Teman SMA, ada yang masih melajang, ngurus anak tiga, atau malah sudah janda.

Ia mewarnai sedikit fondant. Merah, hitam, dan oranye. Membentuk anak ayam.

“Kalau udah lama sendirian bikin kue, gua jadi kangen kerja kantoran lagi. Seneng ketemu banyak orang.”

“Emang dulu pernah kerja di mana aja?”

“Di toko kue. Di Jakarta. Dulu resigned karena pusing sama kelakuan bos.”

“Hahaha… Ya, begitulah dunia kerja. Nggak ada yang nggak pusing sama bos, rekan, atau bawahan. Makanya gua seneng kerja manggung freelance. Soalnya orangnya ganti-ganti. Kalau sebel sama si A, gua tinggal menghibur diri ‘Biarin lah, cuma sehari ini. Besok juga udah nggak ketemu lagi.’”

“Iya. Setelah kerja, gua baru bisa lihat bahwa korupsi itu nggak hitam putih. Kita dulu bertiga susah payah ngebersihin orang-orang korupsi di toko kue itu. Sampai-sampai salah satu tim gua ada yang nyegat dan ngedorong, pas lagi jalan. Untung nggak kenapa-napa. Setelah berhasil mengamankan stock opname barang yang masuk dan keluar, eh si bos motong hak lembur pegawe-pegawe distribusi. Ya gimana mereka nggak kegoda korupsi?”

Sungguh sayang, dulu kita tidak pernah diajarkan real life lessons. Hidup nyata banyak daerah abu-abu, seperti seragam kita dulu.