Mengibar Layar Bersama The Panturas

Hampir semua genre yang dimainkan oleh setiap artis lokal merupakan produk impor. Namun, tidak berarti bahwa mereka tidak dapat tampil otentik dengan aliran yang mereka pilih untuk usung. Menyesuaikan apa yang dipelajari dari luar dengan apa yang bisa diamati dari konteks lokal bisa menjadi salah satu cara yang ditempuh untuk tampil menonjol.

Meleburkan surf rock dengan konteks kelautan Indonesia menjadi daya pikat The Panturas. Mereka mempertontonkan sebuah kemungkinan segar yang bisa dieksplorasi oleh sebuah band surf rock lokal. Alih-alih merepresentasikan pantai dan laut di Indonesia sebagai situs-situs yang memiliki kesan indah, grup asal Bandung ini lebih antusias berbicara soal pengeboman ekosistem laut dan hal-hal kelam serupa.

Kami menemui The Panturas satu hari sebelum mereka menggelar 'Pesta Mabuk Laut' di Jakarta. Acara tersebut merupakan perayaan atas rilisnya album perdana milik band yang diberi tajuk Mabuk Laut. Pada pertengahan April lalu, 'Pesta Mabuk Laut' telah diselenggarakan di Bandung dan dipenuhi dengan momen-momen epik.

Kuartet selancar kontemporer, The Panturas, ketika ditemui di luar studio paska latihan. (foto: Adam Bagaskara)

Saat ditemui, Kuya (drum), Acin (vokal, gitar), Rizal (gitar), dan Gogon (bass, vokal latar) baru saja selesai berlatih di Palm Studio—tempat di mana keseluruhan dari Mabuk Laut direkam—yang terletak di wilayah Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kepada kami, The Panturas menceritakan tentang experience yang mereka coba wujudkan di setiap penampilan, pengaruh Spongebob Squarepants sebagai serial kartun yang begitu dikenal pada masa usia tumbuh keempat personel, hingga mengapa di era internet ketidaksesuaian antara karakter sebuah band dengan kondisi geografis sekitarnya tidak lagi penting untuk dipermasalahkan.

Sebagai genre yang kalian mainkan, surf rock identik dengan pantai dan laut. Nah, kalau kita bicara soal pantai maupun laut, setiap pantai dan laut di Indonesia punya corak atau ciri khasnya masing-masing. Kenapa memilih Pantura untuk mewakili identitas kalian?

Gogon: Karena Pantura (baca: Pantai Utara—pesisir panjang di sebelah utara Pulau Jawa) adalah pantai paling underrated. Bukan underrated, sih, emang nggak bagus aja (tertawa). Mungkin banyak band-band surf rock atau band-band dengan tema pantai lain yang membahas keindahan pantai-pantai di Indonesia, misal tentang indahnya ombak-ombak di pantai-pantai tersebut. Kalau Panturas, khususnya di album Mabuk Laut, kami banyak bahas soal masalah-masalah yang terjadi di pantai dan laut Indonesia. Seperti pengeboman laut yang dilakukan oleh nelayan-nelayan untuk menangkap ikan, terus banyaknya kapal-kapal asing yang masuk wilayah Indonesia secara ilegal, atau perdagangan perempuan di pesisir pantai Indonesia. Kami lebih banyak membahas sisi gelap dari pantai dan laut Indonesia. Di balik keindahan pantai-pantai di Indonesia, sebenernya ada banyak permasalahan yang terjadi.

Kuya: Sebenernya kalau The Panturas sendiri mengambil nama bukan dari Pantura, Nama The Panturas dipelesetkan dari band surf legendaris The Ventures, gitu aja sih. Terus kami pikir citra Pantura itu mewakili musik kami yang raw, jadi kalau band-band surf rock lain menggambarkan suasana pantai yang keren dan bersih banget, The Panturas mah lebih menggambarkan suasana yang kotor dan raw.

Kami selalu merasa bahwa The Panturas nge-punk, dalam arti selain musik kalian yang ngebut, sikap dan semangat yang kalian tuangkan dalam lirik cenderung merefleksikan masalah-masalah sosial layaknya band-band punk, mungkin konteksnya aja di Pantai. Adakah pengaruh spesifik dari genre tersebut?

Gogon: Ada sih pasti, terutama dari segi aransemen. Hal ini sebenernya pernah jadi pembahasan orang-orang. Mereka suka nanya, “kok surf rock musiknya kayak [punk] gini, sih?” Itu sebenernya kenapa kami menyebut diri kami sebagai Klub Surf Rock Kontemporer, bukan surf rock pada umumnya. Kami banyak memasukkan unsur-unsur lain, salah satunya punk. Pengaruh punk mungkin terdengar paling kental di lagu "Fish Bomb”, atau “Arabian Playboy” yang ada bagian punk-nya juga. Tapi benang merahnya tetap surf rock.

Kuya: Lagu-lagu yang paling banyak kami dengar waktu SMA emang punk, sih.

Gogon: Iya, apa pun ragamnya. Mulai dari pop punk sampai crust punk.

Kuya: Awalnya The Panturas emang bingung mau memainkan musik yang kedengarannya surf rock banget, atau turut memasukkan pengaruh dari Dead Kennedys yang juga nge-surf.

Gogon: Kalau manggung pun kami cover lagu Dead Kennedys, yang “Too Drunk to F*ck”.

Di salah satu wawancara yang pernah kalian lakukan, kalian mengaku musisi-musisi surf seperti The Ventures, Dick Dale, hingga La Luz mempengaruhi kalian. Di luar musik, ada pengaruh-pengaruh lain?

Rizal: Spongebob [Squarepants] cukup kuat, sih.

Gogon: Kami pun pernah membawakan lagu “Ripped Pants” yang ada di Spongebob.

Rizal: Bahkan ada beberapa orang yang ketika pertama kali dengar nama The Panturas, yang pertama muncul di bayangan mereka sebelum nonton kami adalah Spongebob.

Gogon: Artwork pertama yang dipakai Panturas adalah tokoh ikan di Spongebob, yang komentator itu.

Acin: Kami pertama kali kenal surf rock juga dari Spongebob, cuma nggak tau itu namanya surf rock (tertawa).

Gogon: Sama ini sih, paling kalo film dari karya-karyanya [Quentin] Tarantino. Kami juga pernah membawakan “Misrlou”, lagu Dick Dale yang juga merupakan soundtrack dari film Pulp Fiction karya Tarantino. Sampai banyak orang yang menyebut kalau surf rock adalah Tarantino rock, seperti di Spotify ada playlist yang judulnya “Tarantino Rock”, padahal itu surf rock. Mungkin ini terjadi karena banyak film-film Tarantino yang diisi dengan lagu-lagu surf rock.

Kuya: Awalnya “Gurita Kota” tuh bukan lagu tentang asap polusi di ibu kota, gua dulu pernah buat lirik judulnya “Virginia Shipboy” yang liriknya diadaptasi dari film berjudul The Legend of 1900. Jadi ceritanya tentang seseorang yang semasa hidupnya berada di laut dan gak pernah menginjak daratan.

The Panturas dari kiri ke kanan: Acin, Rizal, Kuya, dan Gogon. (foto: Adam Bagaskara)

Bagaimana dengan penulisan lirik?

Gogon dan Rizal: Kuya sama Acin.

Kuya: Kalau penulis lirik lain, [pengaruh] Jimi [Multhazam] ada sih. Kalau buku lebih banyak dari puisi, biasanya yang gua ambil diksi-diksinya. Gua baca Remy Sylado yang Puisi Mbeling, terus kayak Joko Pinurbo, yang kayak gitu-gitu lah. Kalau cerita gue justru lebih tertarik untuk ambil dari koran, beberapa tema lagu dari Mabuk Laut gua ambil dari koran. “Fish Bomb” gua ambil dari koran. “Fisherman’s Slut” pun awalnya gua iseng lagi cari-cari berita, terus Gogon nyeletuk, “ini kayaknya tentang pemenuhan libido pelaut.” Jadi ceritanya tentang nelayan yang pergi ke laut lepas dan bawa pelacur untuk menemani mereka selama pelayaran panjang. Terus gua teh pas nyari-nyari, “Anj*r, ada yang kayak gini juga, emang beneran kejadian, di Balikpapan kalau gak salah.” Setelah gua konfirmasi ke orang Balikpapan, katanya emang ada yang kayak gitu.

Ada proses riset, ya?

Gogon: Iya, karena kebetulan kami semua mahasiswa jurnalistik.

Acin: Yang kami lakukan itu musikalisasi berita.

Semua: (tertawa)

Album perdana kalian, Mabuk Laut, dirilis oleh La Munai Records. Bagaimana kerja sama ini terwujud?

Kuya: Kami awalnya nggak kenal sama sekali sama La Munai, nggak pernah kenalan. Terus salah satu orang yang berjasa dalam proses perkenalan kami dengan La Munai adalah Japra, vokalis Indische Party. Saat itu Indische Party tur ke Bandung dan kami berkesempatan untuk membuka konser mereka. Setelah itu, Rendi dari La Munai Records mengontak kami dan dia cerita bahwa dia kenal The Panturas dari Japra. Kata Japra ke Rendi saat itu, “Udah lah, [rilis] yang ini aja, nih.” Terus Rendi kontak kami, dia ngobrol sama Iksal, manajer kami, dan menawarkan untuk merilis album perdana kami. Kami mah kan seneng-seneng aja kalau ada yang kasih tawaran.

Rizal: Awalnya La Munai yang mau merilis album kami dan Jimi Multhazam yang mau mengajak The Panturas untuk main di 'Thursday Noise' Vol. 12 yang diadakan di Jakarta sempat ragu karena belum pernah melihat pernampilan live kami. Tapi sekali lagi bang Japra menegaskan, “The Panturas itu bagus, dibawa aja untuk main di Jakarta.”

Bagaimana peran tim manajemen yang membantu mengelola The Panturas?

Rizal: Kalau manajemen lebih mengarahkan kami agar kami gak keluar track, kalau aspek kreativitas kami dikasih kebebasan.

Gogon: Sama mungkin juga bantu susun timeline, ya. Manajer kami, Iksal, cukup tegas terhadap kami dan dia biasanya memastikan agar kami tetap bisa bebas tanpa keluar track. Selain itu dia juga bantu kami mengembangkan jaringan, dia banyak cari jaringan-jaringan baru, seringkali dia yang kenal duluan sama band-band lain, baru setelahnya kami yang dikenalkan ke mereka. Orang yang memulai perkenalan kami dengan salah satu kolaborator yang akan ikut tampil besok , Noise dari Onar, juga Iksal.

Kami termasuk salah satu yang menggemari branding The Panturas, siapa saja yang berperan dalam mengemas gimmick kalian?

Rizal: Bareng-bareng, sih.

Kuya: Untuk urusan konten branding, Iksal juga termasuk salah satu orang yang membentuk gimmick kami.

Gogon: Di balik semua konten branding kami, juga ada kehebatan Kuya dalam mendesain konten-konten visual The Panturas. Untuk poster dan konten-konten visual lainnya, Kuya sih yang eksekusi. Gua, Rizal, dan Acin gak bisa desain, jadi kalau kami bertiga punya konsep, kami bilang ke Kuya dan dia biasanya akan kasih masukan. Untuk fondasi visual sih lebih perannya Kuya, tapi kalau gimmick secara umum kami urus bareng-bareng.

Branding yang menurut kami baik ini tertuang di cover art album perdana kalian, siapa yang mengerjakannya?

Rizal: Kami kerja sama dengan sebuah creative group bernama Toma & Kako, kami cuma kasih lagu-lagu di album dan minta mereka untuk interpretasi lagu-lagu tersebut ke bentuk visual. Terus mereka kasih respons, “Oke, kalau isi albumnya kayak gini gimana kalau kita buat gambarnya kayak warung-warung makan di Jalur Pantura?” Kami setuju dengan tawaran mereka, terus foto kalender seperti yang ada di cover. Semua konsep kemasannya kami buat sesuai dengan ornamen-ornamen yang identik sama Jalur Pantura. Karakternya yang norak-norak gitu, tapi emang konsep itu yang kami kejar.

Kuya: Toma & Kako itu orang-orangnya adalah Dian Tamara dan Iwang,

Rizal: Kami juga dibantu buat video klip sama mereka.

Gogon: Awalnya mereka buat video klip dulu, terus mereka lanjut bantu buat konsep untuk kemasan visual album.

Sampul depan album Mabuk Laut. Estetikanya diambil dari suasana warung makan di Jalur Pantura. (foto: dok. La Munai Records)

Dua video klip kalian disutradarai oleh Dian Tamara, bagaimana kerja sama kalian berlangsung?

Rizal: Tamara pada dasarnya adalah orang yang pemilih, dia bilang bahwa dia hanya mau kerja sama dengan orang-orang yang karyanya emang dia suka. Karena dia emang suka dengan apa yang kami buat, jadi proses kreatifnya mengalir aja. Setelah buat video klip pertama, terus dia langsung ajak lagi untuk video klip kedua.

Gogon: Sebenernya niat awal kami justru merilis video “Fisherman’s Slut” dulu sebelum “Sunshine”, timeline awalnya kayak gitu. Tapi karena proses pengerjaan video “Fisherman’s Slut” panjang, dan video “Sunshine” beres duluan, ditambah saat itu kami udah mau rilis album jadi kami pilih untuk rilis “Sunshine” lebih dahulu.

Lagu “Sunshine” kelihatannya berhasil menyentuh emosi audiens, terutama setelah video klipnya dirilis. Respons baik yang kalian terima dari lagu tersebut cukup ramai, apakah kalian sudah menduga hal ini sebelumnya?

Kuya: Itu gua nggak menyangka banget, sih. Ini semua berkat Tamara, karena dia yang interpretasi lagu ke bentuk video. Jadi Tamara cerita bahwa dia pernah jalan-jalan naik mobil sama ayahnya, dan karena ayahnya jaim, beliau nggak pernah ikut nyanyi ketika ada lagu yang diputar di dalam mobil. Suatu hari, ketika Tamara lagi jalan-jalan dengan ayahnya, ada satu lagu yang muncul dan mengingatkan sang ayah dengan masa mudanya. Karena Tamara juga suka dengan lagu itu, akhirnya mereka berdua berujung nyanyi bareng di mobil. Nah, dari situ kami mikir gimana caranya angkat cerita ayah dan anak. Akhirnya dikemas dengan cerita yang kami sajikan di video.

Gogon: Dulu waktu meeting untuk video “Sunshine” sama Iksal dan Tamara, gua sempat takut dengan konsep yang disepakati. Alasannya karena saat itu lagu “Akad” dari Payung Teduh lagi booming banget. Terus gua tanya Tamara, “Tam, lo yakin gak sama konsep ini? Gua takut malah dibanding-bandingin sama video klip "Akad", deh.”

Kuya: Konsepnya sama-sama di dalam mobil, ya?

Gogon: Iya. Terus, Tamara saat itu meyakinkan gua, “Tenang, Gon, akan gua bikin beda, mulai dari shots dan segala macem.” Akhirnya ya udah, gua serahkan ke Tamara.

Video klip The Panturas, "Sunshine" karya sutradara muda Dian Tamara. (foto: Adam Bagaskara)

Kami juga sempat beberapa kali lihat di internet bahwa “Sunshine” di-cover oleh beberapa orang dan band. Kalian kenal dengan orang-orang itu? Kemudian, gimana rasanya lagu kalian dijadikan pilihan cover?

Rizal: Kalau kenal atau enggak, sebenernya enggak, sih.

Kuya: Cuma beberapa di antara yang cover, sempat dateng waktu kita manggung. Mereka cerita bahwa mereka yang pernah cover lagu kami.

Gogon: Sempat juga waktu kami bawain “Sunshine” di sebuah acara yang diselenggarakan di daerah Potlot, di tengah-tengah lagu ada suara cewek. Terus Acin kaget, dia pikir itu suara gua, Acin pikir suara dua gua kok tinggi banget. Setelah kami tau, ternyata cewek ini nyanyi dari mixer depan. Cewek ini juga pernah cover “Sunshine” di YouTube, dan menurut kami itu salah satu cover terbaik “Sunshine”.

Kuya: Wah, kami mah seneng banget. Kemaren juga ada anak SMA nanya, “Bang, boleh cover ‘Sunshine’ buat di acara perpisahan sekolah?” Terus kami bilang, “Boleh, boleh, pake aja.” Kami juga pernah manggung di salah satu kampus di Bandung, setelah itu mereka buat lagi acaranya di lain waktu dan ada yang cover lagu The Panturas sampai tiga lagu.

Rizal: Intinya kami sih seneng kalau lagu kami direspons bahkan sampai di-cover, itu berarti pesannya sampai ke pendengar.

'We The Fest' 2017 menjadi salah satu panggung yang dianggap melambungkan nama The Panturas, boleh ceritakan bagaimana acara tersebut berdampak bagi eksposur kalian?

Rizal: Yang paling utama sih membuka jaringan yang lebih luas di Jakarta.

Gogon: Sebenernya untuk jadwal manggung kami di Jakarta saat itu, kami lebih excited untuk main di 'Thursday Noise' Vol. 12 yang diadakan dua hari lebih awal dari 'We The Fest' 2017 (tertawa). Dari masanya gua belum masuk The Panturas dan masih jadi additional, gua kan masuk band ini paling terakhir, gua bilang ke yang lain kalau The Panturas bisa banget main di 'Thursday Noise'.

Rizal: Saat itu kami pikir 'We The Fest' jadi bonus aja sebenernya.

Gogon: Mungkin bagi orang-orang yang nggak biasa lihat kami main di scene, mereka lebih kenal kami sebagai band yang pernah main di 'We The Fest'.

Kuya: Setelah main di 'We The Fest', followers kami di Instagram naik sampai beberapa ratus orang.

Gogon: Sebenernya dibanding sama penampilan kami di 'We The Fest' 2017, acara audisi live untuk band-band yang terpilih dari tahap audisi demo lebih seru. Pas kami turun [panggung] orang–orang yang kayak, “Eh, keren banget,” kata orang-orang yang baru kenalan sama kami di sana. Karena kalau di acara 'We The Fest' 2017, kami tampil di saat yang sama dengan Potret dan The Adams (tertawa). Walaupun ada yang nonton, penonton di acara audisi live lebih hyped.

Pertanyaan selanjutnya mungkin terkesan agak bercanda, tetapi kami beneran penasaran dengan jawabannya. Siapa sebenarnya figur Abdullah yang muncul di lirik lagu “Arabian Playboy”? Kenapa dia sering disinggung dalam unggahan-unggahan kalian di media sosial?

Gogon: Sebenernya Abdullah ini adalah campuran antara tokoh fiksi dan kenyataan. Kisah fiktifnya, jadi dulu di buku teks yang dipakai di kampus kami ada kumpulan cerita yang ditulis oleh sepuluh wartawan, salah satunya bercerita tentang sebuah pesta di kapal di wilayah Timur Tengah di mana orang-orang berjudi dan ada banyak perempuan di sana. Campuran kisah nyatanya, ada teman kami seorang perempuan yang pernah digoda oleh seorang lelaki keturunan Timur Tengah yang kemudian kami dapatkan bahwa dia adalah seorang playboy. Terus kami bercanda sama teman kami ini, sebut saja nama dia Mawar, “Eh, Mawar, nanti kami buatin lo lagu deh tentang si Arabian Playboy.”

Acara pesta rilis album perdana The Panturas bertajuk 'Pesta Mabuk Laut' mencapai kesuksesan besar dalam penyelenggaraannya di Bandung. Kami lihat dari dokumentasi-dokumentasi acara bahwa penontonnya sangat liar, bahkan ada yang crowdsurfing dengan menaiki sebuah perahu karet. Apa saja yang kalian persiapkan sampai orang-orang begitu antusias menyambut acara tersebut?

Kuya: Awalnya teh kami tegang banget. Takut nggak ada yang dateng, padahal segala gimmick dan promosi udah disiapkan sedemikian rupa.Tapi ternyata pada hari penyelenggaraan tiketnya sold out dan masih banyak orang yang mau masuk dan nggak bisa masuk karena tiketnya habis.

Gogon: Untuk persiapannya, kami bekerja sama dengan salah satu kolektif asal Bandung yang bernama PapahCerewet. Kami dulu pernah main di salah satu acara yang mereka selenggarakan. Waktu itu mungkin adalah panggung ter-chaos The Panturas yang pertama. Ada yang lompat dari atas speaker PA, ada yang sampai pakai celana dalem doang. Jadi kami pikir kalau Pesta Mabuk Laut diurus PapahCerewet Kolektif bisa jadi chaos juga, nih. Mereka bantu kami organisasi acaranya, juga urus dekorasi. Mulai dari nyediain perahu karet sampai band mobil untuk orang-orang ngambang.

Kuya: Kami mau terus pertahankan konsep di mana kami bisa sepenuhnya kasih experience ke penonton bahwa seolah mereka benar-benar ada di laut. Tapi lautnya adalah lautan manusia.

Setelah acara 'Pesta Mabuk Laut' di Jakarta, apakah The Panturas berencana untuk melanjutkan acara itu ke kota-kota lain?

Kuya: Nggak tau, lihat budget, sih (tertawa).

Gogon: Kalau ada rezeki untuk tur, kami mau berangkat, sih. Saat ini ide untuk tur lagi digodok.

Ada destinasi kota tertentu yang kalian antusias untuk kunjungi?

Kuya: Kalo gue Bali, sih.

Gogon: Iya, Bali sih pasti. Beberapa orang bilang, “Kalian harus dibawa ke Bali, nih.” Dulu kami juga pernah main di Malang, Malang juga seru. Beberapa kota yang belum pernah kami kunjungi kayak Jogja atau Semarang juga menarik. Tapi Bali yang paling pengen kami kunjungi, sih.

Kuya: Karena related aja, pantai.

The Panturas ketika berbincang dengan Qubicle, jelang persiapan konser 'Pesta Mabuk Laut' beberapa waktu lalu. (foto: Adam Bagaskara)

Pertanyaan ini mungkin sudah sering kalian terima, tapi kami penasaran untuk dengar jawabannya sendiri dari kalian. Kalian adalah band yang terbentuk di Jatinangor, sebuah wilayah dataran tinggi di Provinsi Jawa Barat. Kemudian kalian memainkan musik pantai atau laut yang berada di wilayah-wilayah dataran rendah. Pendapat kalian tentang hal ini?

Kuya: Menurut gua adanya internet membuat wilayah-wilayah yang ada di dunia ini jadi lebur, batasan-batasan geografis jadi suatu hal yang nggak relevan. Sekarang kan udah eranya internet, dan referensi orang jadi macem-macem. Kayaknya ya udah kalau era internet mah semua orang bisa buat musik kayak apa aja. kita jadi nggak harus terpaku sama konteks geografis kita.

Gogon: Makanya beberapa band surf rock yang muncul kayak The Mentawais dari Bogor. Bogor jelas-jelas daerah yang dingin, kan? Juga ada The Cat Police, walaupun mereka nggak spesifik main surf rock, tapi ada unsur surf dalam musik mereka. Mereka dari Tangerang, kota industri, tapi buat video klip yang menampilkan papan surfing. Jadi nggak menutup kemungkinan orang di mana aja bisa bikin musik kayak apa aja.

Kuya: Justru kalau kita mah, istilahnya dengan The Panturas, pengen buat vibe pantai gitu. Jadi di mana pun lo, kalau ada Panturas pokoknya ayo selancar.


Penulis: Adam Bagaskara