MerusuhBersamaAlbumTerbaruSeringai

August 10, 2018Qubicle Music
Kami bertemu dengan Seringai untuk bercakap-cakap seputar perjalanan mereka dari membuat hingga merilis album terbaru, 'Seperti Api'.

Klaim bahwa setiap album Seringai terdengar seperti “Seringai yang sudah-sudah” jelas perlu ditinjau kembali. Jika kalian cukup jeli, tidak sedikit unsur atau eksplorasi baru yang kerap ditawarkan oleh Seringai pada setiap album anyar mereka. Ini juga berlaku untuk Seperti Api, album terbaru Seringai yang baru saja dirilis akhir Juli lalu.

Coba simak nuansa doom/post-metal pada lagu “Ishtarkult” yang menampilkan vokal clean Arian13—bahkan lebih clean dari suaranya di “Marijuanaut” —atau “Bebal” dengan riff utama dan pola ritme di bagian intro yang sarat akan pengaruh post-punk ala Killing Joke. Dari segi lirik, album terbaru Seringai juga bertendensi lebih puitis. Beberapa poin yang telah disebutkan hanya mewakili sebagian dari ragam eksplorasi yang Seringai lakukan di album terbaru mereka.

Pada tanggal 8 Agustus kemarin, Seringai mengadakan konferensi pers serta sesi penandatanganan album terbaru mereka di Borneo Beerhouse, Kemang, Jakarta Selatan. Di antara jeda konferensi pers dan sesi tanda tangan, kami berkesempatan untuk melakukan wawancara dengan para personelnya, tentang pendekatan yang Seringai lakukan dalam menyusun materi-materi di album terbaru, usaha penyampaian pesan dengan cara yang lebih subtle, hingga fakta miris bahwa setelah bertahun-tahun, tema-tema lagu yang diangkat Seringai masih relevan. Atau dalam arti lain: kita masih berkutat dengan permasalahan-permasalahan yang sama.

Seringai ketika acara perilisan album terbaru, 'Seperti Api'. (foto: Adam Bagaskara)

Seperti Api merupakan kali ketiga di mana Ricky Siahaan berperan sebagai produser. Apa yang membedakan peran Ricky sebagai produser pada masa penggarapan album terbaru kalian ini dibandingkan dengan album-album sebelumnya?

Sammy: Sekarang Ricky lebih sadis mungkin dalam hal songwriting (tertawa). Kalau dari sudut pandang gua sebagai yang diproduseri, proses rekamannya seperti yang sudah pernah kami ceritakan, memang singkat banget. Proses kreatifnya memang jadi lebih ribet dan njelimet. Tapi, proses ini memperoleh hasil yang menurut gua lebih maksimal. Detail-detail lagu sudah kami pikirkan dari jauh-jauh hari. Ricky untuk album ini modelnya yang lebih kayak, “Gua pokoknya nanti nggak mau nyesel, nanti begitu udah direkam dan udah jadi, gue nggak mau kita yang-tiba, ‘Eh, harusnya bagian ini bisa begini, nih.'" Dari segi produksi, di Seperti Api kami menghindari hal-hal seperti itu, dijaga untuk menghindari penyesalan-penyesalan dalam proses rekaman.

Ricky: Dan ternyata, proses mixing dan mastering untuk album ini cukup panjang, sih, sebenarnya, walaupun proses rekamannya pendek. Kayaknya ini ada hubungannya dengan gua akhir-akhir ini semakin terkutuk menjadi seorang overthinker (tertawa). Segala hal benar-benar dipikirin, gua nggak bisa yang berkompromi kayak “Ah, udah lah.” Gua yang kayak, “Nggak, bisa kok bisa. Kalau misalnya bisa diperbaiki, ayo kita perbaiki, kalau bisa dibuat bagus, ayo kita buat bagus.” Dan gua yakin karena hal itu juga Seperti Api terdengar berbeda dari album-album sebelumnya, kami lebih perfeksionis dalam mengerjakannya.

Tapi yang gua dapet dari segi musicianship, si anak-anak Seringai ini dari sudut pandang gua sebagai produser, mereka jauh lebih skillful. Satu shift untuk take bass itu agak membuat gua jadi mencari-cari kesalahan (tertawa). Sammy take bass satu hari, Khemod take dua belas lagu cuma empat hari. Arian yang biasanya satu shift untuk satu lagu, kali ini empat shift udah selesai. Jadi, ketakutan dan kekhawatiran gua terkait kelancaran rekaman nggak ada yang terjadi, semuanya berjalan lancar.

Dan gua akui ini terjadi karena skill anak-anak Seringai semakin baik, mungkin karena jam terbang manggung tiga tahun terakhir semakin tinggi sehingga musicianship mereka semakin matang. Hal itu tentunya memudahkan pekerjaan gua sebagai seorang produser dibandingkan dengan pengerjaan album-abum sebelumnya.

Sammy: Jadinya sekarang punya stok riffs yang misalnya dulu kami pikir “keren, nih”, tapi setelah didengar lagi agak mirip sama lagu lain atau rasanya jadi terdengar kurang oke, itu banyak banget. Berikut juga tema-tema lagu, banyak yang udah pernah kami bahas, “Oh, coba kita bikin lagu tentang ini!”, banyak yang belum terpakai dan mungkin jadi stok atau bahkan nggak terpakai sama sekali, kami belum tahu, sih.

Ricky: [Proses kreatif] juga berprogres secara natural, nggak yang terlalu dipikirkan. Nggak seperti “Kita mau kayak gimana, ya? Kita sekarang mau berkembang jadi band yang seperti apa? Gua mau eksplorasi ke mana?”, bukan yang seperti itu. Semuanya berjalan secara alami dan gua juga sudah menyadari bahwa setiap personel memiliki permainan yang sangat berkarakter. Mungkin [pernyataan] itu adalah euphemism untuk keterbatasan [skill], ya (tertawa). Kami pikir, ke mana pun arah kreatifnya, selama anak-anak Seringai yang memainkan, akan tetap terdengar seperti Seringai. Orang-orang nggak akan jadi berpikir, “Kok gini, sih?”.

Sammy: Cara menulis lagunya akan tetap seperti cara yang biasa Seringai lakukan, karena kami sukanya menulis dengan cara itu.

Ragam aransemen yang disajikan dalam album terbaru ini terdengar semakin luas. Apa saja yang kalian dengar dalam rentang waktu rekaman album?

Sammy: Iya, sih. Kali ini kami dengar mulai dari lagu-lagu baru sampai lagu-lagu lama, yang keren-keren kami serap. Nah, untuk album ini kami coba mencari bentuk mentah untuk masing-masing gitar, drum, bass, atau vokal yang belum pernah kami lakukan sebelumnya. Kalaupun bagi yang dengar ada lagu yang terdengar mirip, “Oh, lagu ini mirip sama lagu [Seringai] yang ini,” sebenarnya kalo lo benar-benar bedah lagunya, akan terdengar bedanya. Kami juga terbiasa mendengar macam-macam musik, nggak hanya metal. Kami dengar lagu pop juga, new wave juga, macam-macam. Kami pada dasarnya memang suka musik secara umum.

Ricky: Kalau dari gua pribadi, cara gua dalam menikmati musik yang sedang gua suka dan akhirnya sedikit atau banyak mempengaruhi penulisan lagu Seringai sudah agak bergeser. Kalau dulu tuh, masa-masa ABG, gua sangat menghamba dengan genre dan estetika suatu band tertentu. Misalnya, “Gua suka band ini karena mereka main hardcore punk.” Kalau sekarang fokus gua lebih tertuju pada cara seorang artis dalam membuat lagu, cara dia mengekspresikan apa yang dia rasakan dalam sebuah lagu dengan komposisi dan aransemen yang cerdas, sehingga gua nggak peduli lagi dengan apa genre-nya. Itu yang Seringai tuju juga, sih. Jadi gua pengen ketika orang dengar Seringai sampai di titik di mana mereka nggak peduli lagi dengan apa genre Seringai, tetapi dia bisa menikmatinya dan bisa merasa relate tanpa misalnya tahu kenapa. Itu sih yang mau dicapai. Jadi orang bisa suka sama Seringai bukan karena musik kami mereka anggap “Metal, man!”, bukan itu. Kami mau sesuatu lebih dari itu.

Bagaimana dengan artis, secara spesifik, yang mempengaruhi penulisan Seperti Api?

Sammy: Kami banyak dengar lagi lagu-lagunya Prong, terus kami banyak dengar Entombed. Apa lagi, ya?

Ricky: Banyak, sih. Bahkan seperti Killing Joke, Neurosis, kadang-kadang yang nggak rock atau metal sama sekali.

Sammy: Duran-Duran.

Ricky: Iya, atau artis-artis new wave zaman dulu.

Sammy: Cara mereka nulis lagu bisa dari sini, terus berubah jadinya kayak gimana. Progresi chord-nya, atau transisi dari satu bagian ke bagian lain. Kami merasa kayak, “Wah, anj*ng! Kok gini ya?”, jadi kami coba in a metal way.

Ricky: Yang kami coba hadirkan adalah approach mereka dalam menulis lagu mereka, bukan meniru riffs-nya. “Oh, kayaknya pendekatan mereka seperti ini. Ayo kita coba dengan versi kita, kita coba pendekatan mereka dalam membuat lagu kita jadinya seperti apa.”

Bicara soal Killing Joke, riff utama lagu “Bebal” terdengar seperti terpengaruh band tersebut. Ada rasa post-punk yang kental.

Ricky: Iya, iya. Ada, ada.

Sammy: Ada, ada. Di situnya ada.

Ricky: Kami juga banyak dengerin rock n’ roll yang kayak Turbonegro.

Sampul depan album terbaru Seringai, 'Seperti Api', karya vokalis mereka, Arian 13. Inspirasinya dari Oni, makhluk dari cerita rakyat Jepang. (foto: dok. Seringai)

Seringai pernah merasakan menjual CD hingga puluhan ribu keping untuk album Taring, sedangkan saat ini orang-orang begitu terbiasa mendengarkan musik melalui layanan streaming. Adakah kekhawatiran bahwa kalian tidak lagi bisa menjual album berformat fisik dalam jumlah besar?

Ricky: Awalnya ada, karena terus terang ketika kami mau merilis album ini ada banyak hal yang dikhawatirkan, bukan hanya penjualan CD.

Sammy: Karena kami rilis terakhir sudah enam tahun lalu, tren pastinya sudah berubah, dong.

Ricky: Tren sudah banyak berubah, teknologi banyak berubah. Gua sebagai produser aja jadi agak minder, “Gua masih bisa ngerjain recording, nggak, ya?” Karena saat itu gua pikir terakhir Seringai rekaman udah enam tahun lalu, jangan-jangan teknologi rekaman udah nggak kayak dulu (tertawa sambil memperagakan suara robot).

Sammy: Iya, siapa tahu operatornya sekarang robot (tertawa).

Ricky: Waktu mau cetak CD, persoalan yang lo tanya juga jadi salah satu pertimbangan kami. Kami bertanya-tanya apakah mau langsung cetak banyak atau tidak. Karena waktu itu kami ada rasa percaya diri, “Nggak, dulu pas Taring kita cetak dalam jumlah yang langsung banyak, laku-laku aja, kok.” Tapi kan saat itu belum ada Spotify, Apple Music, dan lain-lain. Akhirnya kami berstrategi, kami gak bisa menafikan bahwa sekarang sudah era digital dan banyak orang mendengarkan [musik] melalui platform digital. Kami memutuskan bahwa kami akan melayani kebutuhan orang-orang ini, tapi kami tetap mau rilis dalam format fisik. Karena tetap saja, buat band rock atau metal, rilisan fisik rasanya memiliki kedudukan yang tinggi dalam tatanan hierarki. Kami sendiri juga dibesarkan di era rilisan fisik, di mana kami merasakan sendiri experience mengoleksi. Hal ini yang membuat kami tetap merilis dalam format fisik. Tapi nantinya lagu-lagu kami akan tetap ada dalam platform digital, mungkin belum sekarang karena kami masih fokus dengan penjualan format fisik.

Berbeda dengan album-album sebelumnya, album terbaru Seperti Api tidak disertai dengan pembahasan lirik pada sleeve album. Adakah alasan tertentu?

Ricky: Kayaknya kalau gua melihat hal ini disebabkan masing-masing lirik di Seperti Api sudah speaks for itself. Kalau lo baca lirik-liriknya, lo bisa paham sendiri. Mungkin ada beberapa orang yang bertanya, “Kalian masih semarah dulu nggak, sih?” Kalau gua melihatnya lirik-lirik di album ini mungkin lebih puitis. Penjelasan lirik di album-album sebelumnya sebenarnya mengamplifikasi concerns dan kemarahan kami.

Mungkin dulu sekitar enam tahun lalu waktu Taring dirilis, media-media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain belum sebesar sekarang. Jadi saat itu kalau mau menyampaikan pesan harus jelas, jangan sampai terjadi miskomunikasi dalam memahami lirik sehingga kami kasih penjelasannya. Kalau sekarang, semua orang sudah bisa berpendapat, kami berstrategi untuk menyampaikan pesan secara lebih subtle dan lebih enak dibaca. Karena menurut gua pesan akan lebih mudah sampai ketika lo nggak marah-marah dalam menyampaikannya.

Sekarang saking banyaknya orang marah-marah di media sosial, terlepas dari pesannya baik atau tidak, lo udah nggak suka duluan sama orangnya karena dia marah-marah. Kami juga jadi memikirkan hal itu, sepertinya sekarang cara untuk menyampaikan pesan tidak kalah penting dengan isi dari pesan itu sendiri.

Sammy: Terlepas dari ada dan nggak ada penjelasan lirik, dan benar bahwa memang kami mencoba menulis pesan se-subtle mungkin agar pesannya sampai, ide untuk membuat booklet pembahasan lirik, walau sebenarnya perlu-nggak perlu untuk dilakukan, menarik bagi gua pribadi, sih. Walau maksud liriknya sudah jelas, tetapi apa yang melatarbelakangi Seringai untuk menulis lirik tersebut mungkin menarik untuk dibahas. Kami terbuka dengan ide-ide yang bisa jadi turunan dari segala macam hal yang kami lakukan sekarang. Maksudnya, Khemod dengan cita-citanya untuk membuat film pendek tentang Seringai, kami sebenarnya udah obrolin soal ini. Jadi ide seperti booklet yang gua bahas tadi atau biografi sebenarnya juga udah ada orang yang menawarkan diri untuk menulis. Biar bagaimanapun juga enam belas tahun bukan waktu yang singkat, jadi mungkin udah ada banyak hal yang bisa diceritakan. Ke depannya ide-ide itu bisa aja kami wujudkan, who knows?

Ricky: Kami sedang memikirkan, sih. Kalau memang harus dibuat, kira-kira bagaimana cara membuatnya. Karena gua pernah bekerja lama sebagai seorang penulis, gua tahu membuat buku itu butuh waktu dan usaha yang banyak. Apalagi Seringai tipenya yang perfeksionis dan cerewet, udah pasti kami akan sangat detail dalam mengurus proyek-proyek ini. Untuk mewujudkan proyek-proyek ini dibutuhkan persiapan yang matang, segala hal harus dipikiran baik-baik, bagaimana cara melakukannya. Jadi mungkin belum sekarang, ya. Tapi kalau suatu saat bisa diwujudkan, pasti keren, sih.

Empat kepala unit senang-senang rock oktan tinggi (searah jarum jam): Arian 13, Ricky, Sammy, Khemod. (foto: Adam Bagaskara)

Bicara soal penyampaian pesan dengan cara yang lebih subtle, apakah ini ada kaitannya dengan gestur penulisan lirik di album terbaru yang terkesan lebih santai? Apakah dilakukan secara sengaja?

Ricky: Nggak, sih. Gua rasa kesannya jadi seperti itu karena pendekatan Arian dalam menulis lirik lebih puitis aja di album ini. Kalau dari diskusi yang cukup sering gua lakukan sama Arian, menurut dia penyebabnya seperti yang sudah gua jelaskan tadi, sekarang semua orang “berteriak”. Kalau itu juga yang kami lakukan, apa yang membedakan cara kami dan cara orang lain? Lo mungkin bisa menyampaikan sesuatu yang penting, tetapi jadi nggak dipedulikan aja sama orang-orang karena lo “teriak-teriak”. Untuk menyampaikan pesan dengan lebih efektif, kami coba dengan cara yang lain, kami pikir siapa tahu bisa jadi lebih efektif dan lebih bisa didengarkan, karena nggak ada orang yang suka dikuliahi, kan? Jadi ubah gayanya sedikit, lah, nggak se-meledak-ledak dulu.

Pembahasan lirik di sleeve album selalu menjadi ciri khas Seringai. Pada penjelasan lirik “Lagu Lama” dari album Taring, kalian bilang bahwa ide lagu tersebut muncul karena kalian merasa permasalahan di Indonesia begitu stagnan. Enam tahun beranjak dari dirilisnya album itu, apakah menurut kalian kita masih berkutat dengan permasalahan-permasalahan yang sama?

Arian13: Gua tuh selalu berharap bahwa tema-tema lagu yang diangkat Seringai akhirnya tidak relevan lagi. Kayak misalnya kalo di Amerika tahun ’80-an band-band thrash metal-nya punya tema lagu yang spesifik, yaitu perang dingin antara AS dan Rusia, isunya berkenaan dengan perang nuklir. Kemudian band-band di sana mendokumentasikan fenomena tersebut dengan tema-tema lirik seputar nuklir atau mutasi manusia menjadi makhluk-makhluk yang aneh. Lirik semacam itu pada masanya relevan, saat ini mungkin tidak karena AS dan Rusia bekerjasama dalam bidang tersebut. Nah, kalau di lagu-lagu Seringai, sayangnya lagu-lagu yang sudah berusia lebih dari delapan tahun ternyata masih relevan dengan apa yang terjadi saat ini. Dan mungkin tidak hanya topik-topik yang diangkat Seringai, tapi juga dengan band-band lain dari generasi yang sama dengan Seringai maupun dari generasi yang lebih muda.

Gua melihat beberapa [band lain] yang terutama punya benang merah berkenaan dengan topik tertentu yang mendokumentasikan keadaan Indonesia di masa 2010 ke atas. Kalau David [Tarigan] kan dia mendokumentasikan musik, ya. Itu bisa dilihat, apa saja yang terjadi di kancah musik Indonesia atau apa yang terjadi di Indonesia di tahun 2010-an, mungkin bisa dilihat dari lirik-lirik lagu yang dibuat pada masa itu. Ternyata tema-tema lirik yang diangkat Seringai masih relevan, dan perubahan yang terjadi masih sedikit, sih, ya.

Sammy: Sadly, lagu itu masih valid sih buat gua. Seringai bukan band yang pernah memberikan label bahwa kami adalah band yang politis. Namun, memang ada beberapa social concerns yang kami sampaikan di lagu. Sayangnya, sih, “Lagu Lama” masih relevan. Alangkah baiknya kalau kondisi yang ada bisa berubah, tapi sayangnya “Lagu Lama” ya masih jadi “lagu lama” (tertawa). In a way, ide yang dituangkan dalam lagu “Enamlima” permasalahan lama juga sebenarnya.

Ricky: Kadang susah, ya. Jadi capek sendiri kalau memikirkan hal itu. Memikirkan bahwa keadaan nggak berubah. Seringai nggak pernah bermimpi untuk mengubah dunia, sih. Maksud gua, John Lennon aja gagal dalam mengubah dunia. Kami hanya menyampaikan apa yang terjadi di sekeliling kami. Perhatian pada masalah sosial hanya merupakan salah satu pengamatan kami. Kami juga sering menulis lagu tentang bersenang-senang karena hal itu sendiri juga dekat dengan kami. Ketika masalah di sekeliling kami tidak berubah, kami akan tetap menyuarakan apa yang kami suarakan. Pastinya ada rasa sedih. “Apakah anak kita berikutnya?” Sadly, sepertinya demikian. Tapi kalau pertanyaannya adalah “Apakah cucu kita berikutnya?” mungkin kita belum tahu jawabannya (tertawa).

Sammy: [“Lagu Lama”] itu kan kayak reload, ya? Load-nya itu “Mengadili Persepsi”, reload-nya “Lagu Lama.” Masa kita perlu re-reload? (tertawa)

Adakah lagu yang jadi personal favorite dari Seperti Api? Atau lagu apa yang saat ini sedang sering didengarkan atau kalian enjoy untuk mainkan dari album terbaru?

Sammy: Karena baru banget dirilis, gua memang sedang menikmati lagu-lagu yang kami rekam, sih. Karena semakin lama didengar rasanya kayak, “Ck…Dengerin yang lain kali, ye?” Gitu, kan? Kalau sekarang, banyak, sih. Kalau gua salah satunya mungkin “Adrenalin Merusuh”, karena lagu ini salah satu yang kami berempat langsung klik di awal, “Ini, nih!”. Lagu ini pasti seru dimainkan, kami juga expect bahwa penonton akan liar di lagu ini. “Selamanya” juga, karena sudah kami mainkan di beberapa tempat. Banyak, sih, sebenarnya. Lagu yang sama Danilla (“Ishtarkult”) juga suatu bentuk baru yang belum pernah kami lakukan sebelumnya, kami belum yakin bisa bawakan lagu itu di setiap panggung karena ada vokal perempuannya, tapi lagu itu sangat enak didengar di kuping gua.

Ricky: Kalau personal favorite gua, apa, ya? Kalau lagi di mobil dan dari dua belas lagu yang ada di album gua hanya bisa dengar satu, mungkin gua akan pilih untuk dengar “Ishtarkult”. Karena lagu itu ada perjalanannya, kalau dengar lagu itu rasanya lengkap aja. Tidak ingin yang terlalu meluap-luap, tapi enak didengar sambil nyetir. [Lagu] itu, sih, yang paling sering gua dengar. Bukan artinya lagu itu yang paling favorit, ya. Kami sering memainkan “Persetan”, itu juga enak banget dibawakan di panggung. Mungkin untuk saat ini karena album juga baru banget dirilis, belum banyak lagu baru yang sering kami mainkan di panggung sehingga kami belum bisa menentukan lagu mana yang favorit untuk dibawakan live, walaupun sebenarnya respons yang dikasih penonton sudah bagus sejak video dirilis. Ketika kami main “Selamanya” di dua panggung terakhir, penonton memberikan respons yang seru. Tapi kita lihat aja nanti, masih ada banyak lagu baru yang belum dibawakan

Video terbaru dari single "Adrenalin Merusuh" yang berisi pesta ugal-ugalan ala Seringai dan aktor laga kelas berat. 


“Persetan” dan “Disinformasi” sudah lama dimainkan sebelum album terbaru kalian dirilis. Seberapa penting bagi Seringai untuk mencoba memainkan lagu baru di atas panggung sebelum akhirnya diluncurkan?

Ricky: Penting, sih. Hal ini sudah kita lakukan dari dulu. “Program Party Seringai” dan “Dilarang di Bandung” sudah kami mainkan sebelum albumnya dirilis. Respons penonton bisa ketahuan sekali dengan cara ini. Kalau mereka terlihat interested, itu berarti lagu yang dibawakan sampai ke mereka. Apa yang kami maksud dari lagu ini bisa sampai ke mereka, entah dari segi lirik atau musiknya. Karena kami juga penggemar musik yang suka menonton konser, kalau melihat sebuah band menyelipkan satu lagu yang belum pernah dimainkan di mana-mana menjadi suatu hal yang menarik bagi kami. Kami biasa berdiri di dua sisi, sebagai penonton konser dan yang bermain di atas panggung. Itu penting.

Sammy: Penting untuk menunjukkan hal yang udah dijelaskan Ricky, tapi juga penting untuk menjaga supaya nggak kebanyakan [memberi bocoran lagu baru]. Satu-dua lagu nggak apa. Kita perlu tampil sexy, pastinya. Lo kasih paha dulu, jangan langsung telanjang, nanti nggak seru lagi (tertawa). Pas lo kasih paha dulu, orang-orang akan respons, “Wehhh… Mulus, nih! Kayaknya bagus, nih.” Apakah nantinya setelah telanjang dan dibeli orang-orang dan jadinya “Wah! Jelek, nih!” itu urusan belakangan, yang penting sexy dulu di depan” (tertawa).

Seringai adalah sebuah band yang konsisten dengan branding-nya, kerja sama yang kalian lakukan dengan pihak lain terlihat diperhitungkan agar tetap relevan dengan citra band. Seberapa penting bagi kalian untuk melakukan hal ini?

Ricky: Kami menjaga agar semua hal tetap natural, sih. Kami bukan yang tipenya suka menjual sesuatu yang “bukan kami”. Jadi, ketika kerja sama dengan Vans dan diminta untuk kasih testimoni tentang kerja sama tersebut kami pikir, “About time, anj*ng!” (tertawa).

Sammy: Nggak dari lima belas tahun lalu aja waktu kita pertama kali main? (tertawa). Jadi memang jadi sesuatu yang lo pakai setiap hari, gimana, sih? Tiba-tiba lo kerja sama dengan mereka, it comes naturally aja. Kayak, lo ketemu teman lama lo.

Ricky: Kami tidak akan jadi orang lain untuk menjual sebuah produk. Jadi, semua brands yang bekerjasama dengan kami telah menjadi bagian dari [identitas] kami. Brands yang mendukung dan Seringai ini seperti teman lama yang akhirnya baru ketemu lagi aja (tertawa).

Adakah rencana untuk tur promosi album terbaru?

Sammy: Kalau rencana pasti ada, kalau fixed, belum. Masih kami godok, lah.

Ricky: Dari dulu, sih, kami selalu ingin. Tapi kelihatannya saat ini mulai ada pembicaraan-pembicaraan ke arah yang lebih serius tentang tur. Mungkin akan terjadi di Sulawesi, atau di mana, karena kami bukan yang modelnya tur secara intensif, bisanya pas weekend aja. Dengan adanya manajemen baru di Seringai dan karena sebelumnya kami belum punya manajemen, hal-hal yang sebelumnya tidak di­-follow up jadi bisa di-follow up. Jadi, bisa jadi banget ada tur, sih.


Penulis: Adam Bagaskara

Like what you read? Give Qubicle Music your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Qubicle User

Qubicle Music

Similar stories

Stay Updated.

Every day, a dose of inspirations.🎉
Subscribe Qubicle
Qubicle Logo
© 2018 Qubicle. All rights reserved
FOLLOW US