Meti Kei : "Laut Surut, Ikan pun Pasang"

Text & Foto: Imelda Abdullah

Ubi, jagung dan makanan tradisional lain khas Pulau Kei lengkap tersaji di tempat tunggu yang didominasi oleh perempuan ini, mulai dari bocah, remaja, STW sampai lansia berkumpul.

Cemilan dan obrolan membuat mulut kami terus bergerak tak ada lelahnya, entahlah apa yang diobrolkan

-cuaca, objek wisata di pulau Kei, Makanan khas Kei yang enak. Yaah… Ngarol ngidul berbagi cerita sambil menunggu saatnya para kaum hawa boleh turun ke laut untuk ikut serta acara akbar yang diadakan satu kali setahun; acara Meti Kei.

Meti Kei diadakan setiap meti besar atau ketika permukaan laut surut maksimal, biasanya terjadi satu tahun sekali. Saking besarnya laut surut , para terumbu karang bermunculan ke permukaan.

Sejak nenek moyang dulu, warga Kei memanfaatkan Fenomena alam ini dimanfaatkan dengan baik. Setiap Meti datang, sejak subuh warga pria akan turun ke laut, menggiring ikan menuju ke tempat yang dangkal. Laut semakin lama semakin surut, ikan yang berada di tempat dangkal pun semakin terpapar ke permukaan, membuatnya rentan dari para pemburu.

Suara tiupan keong kambing membahana, menandakan semua warga boleh turun ke pantai. Para pria telah melaksanakan tugasnya, ikan-ikan sudah berada di tempat dangkal.

Dibantu dengan laut yang surut maksimal, warga dapat dengan mudah menangkap ikan yang telah terjebak. Riuh ramai terdengar di sepanjang garis pantai, ada yang berteriak girang –pasti ia dapat ikan besar! Ada pula yang berteriak geli ketika ikan melewati kakinya, maklum saja, semua orang boleh ikut turun disini, mulai dari nelayan, petani, pelajar, turis hingga mbak-mbak mall.

Ikan yang ditangkap beragam jenisnya, ada bobara, titan trigger fish, ikan cendro dan ikan kakak tua. Tak hanya ikan, tangkapan meti Kei sangat beragam, ada bia atau kerang, hingga bulu babi. Telur bulu babi ternyata sangat nikmat lho.

Sejauh mata memandang saya lihat ratusan orang memenuhi garis pantai, waah ini sih sepertinya lebih banyak orangnya dibandingkan ikannya. Tak heran ketika saya survei ke beberapa pengunjung meti kei, rata-rata hanya mendapat 1-2 ikan saja, bahkan banyak juga lho yang tidak dapat apa-apa

“Yaa yang penting saya senang, bisa ikutan meti kei ini” kata mereka menghibur diri.

Ada beberapa peraturan Meti Kei yang diterapkan secara adat, beberapa diantaranya

Warga yang turun ke laut tidak boleh mengenakan warna merah, saya belum menemukan alasan jelasnya hingga sekarang, karena ketika bertanya ke warga lokal jawabannya pasti “itu sudah ketentuan adat dari nenek moyang.” Mungkin saya bertanya ke orang yang salah.

Aturan kedua adalah para wanita tidak boleh menggunakan tombak sebagai alat tangkap ikan, hanya boleh menggunakan jala atau jaring. Kalau ini sih secara logika bisa dimengerti, pasti takut tombaknya malah nyasar ke kaki orang haha.

Aturan ketiga yang telah saya sebut sebelumnya, yaitu wanita tidak boleh turun kelaut sebelum diizinkan oleh para pria penggiring ikan.

Setelah selesai, ada beberapa warga yang merelakan ikannya dibakar dan disantap bersama di pinggir pantai. Para mama pun sudah menyiapkan teman-temannya yang lain, seperti nasi dan sambal. Waaah mantap! Ini lah yang sebut sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia.