MisiTeaterPandorauntukMasaDepanSeniPertunjukan

November 10, 2018Qubicle Art
Teater Pandora: kelompok teater potensial dan kisahnya mengarungi ranah seni pertunjukan di Indonesia

Pementasan Rumah Rahasia Perempuan (RRP) adalah garapan ke-8 nya Teater Pandora di empat tahun berdirinya teater ini. Melalui proses dan hasilnya, kelompok teater ini terbukti telah menunjukkan dedikasi besar sebagai kelompok teater yang selalu membawakan naskah-naskah menarik. Industri seni petunjukan, tidak dipungkiri masih memiliki antusiasme yang kurang di Indonesia. Entah karena pemasarannya atau hal teknis lainnya, ternyata Teater Pandora memiliki pandangan yang sama. Bedanya, mereka mau dan mampu mengambil langkah lebih tegas untuk isu-isu ini. 

Kami mendapatkan kesempatan untuk bicara dengan salah satu pendiri Teater Pandora, yaitu Yoga Mohamad untuk bicara mendetail tentang Teater Pandora. Dengan misi besar yang dijunjung, dalam pentas RRP, Teater Pandora mampu memberikan bekas dan kesan untuk para penontonnya. Berikut bincang-bincang kami dengan Yoga.

Ceritain dong misi dan awal terbentuknya Teater Pandora?

Pada masanya, beberapa diantara kami adalah anggota teater kampus dari tiap fakultas masing-masing (FISIP dan FIB). Pada tahun 2013, kami berkesempatan untuk pentas bersama dan seusai pentas muncul keinginan untuk membuat grup baru yang mandiri dan memiliki semangat berkarya di luar kampus (pertimbangan saat itu didasari karena rata-rata para pendiri Teater Pandora adalah alumni dan beberapa diantaranya hampir lulus).

Maka pada tanggal 24 Oktober 2014, lahirlah Teater Pandora, sebagai kelompok seni yang bertujuan untuk mandiri dalam manajemen artistik maupun marketing. Alasan utama lepas dari label Teater Kampus lebih kepada menciptakan tantangan baru untuk lebih mandiri dalam memiliki sanggar sendiri, sumber daya sendiri dan menghindar dari persoalan-persoalan birokrasi kampus yang semakin rumit terhadap kegiatan seni.

Teater Pandora belum mengatakan sepenuhnya sebagai Teater industri. Kami memilih Teater sebagai jalan tengah, antara industri dan non-industri. Secara industri, kami belajar profesionalitas dalam membuat sistem yang lebih mumpuni dari segi produksi dan manajerial. Secara non-industri, kami tetap mempertahankan idealisme sebagai kelompok Teater yang mengutamakan proses daripada tujuan dan disiplin-kekeluargaan. Selama empat tahun, misi utama kami terangkum dalam tiga hal yang selama ini menjadi pedoman dalam berkarya. 

Ketiga hal tersebut merupakan: Afiliasi, Apresiasi dan Edukasi. Afiliasi merupakan program kerjasama oleh semua pihak. Baik pelaku seni senior–junior, rekan komunitas maupun industri. Apresiasi merupakan program pementasan karya. Baik skala kecil–besar (nasional) yang di agendakan tiga kali selama setahun. Edukasi, merupakan program sharing pengetahuan mengenai seni pertunjukkan maupun pengetahuan lainnya melalui metode latihan reguler, diskusi, seminar dan kegiatan sosial.

Dari delapan karya Teater Pandora yang sudah diangkat, apa sih isu menarik yang selalu diangkat?

Saya sebagai penulis dan sutradara memulai dari ketertarikan pribadi terhadap problem eksistensialisme. Bagaimana individu menghadapi problem dengan dunia luar dan kaitannya dengan sistem sosial yang melingkupi individu itu sendiri. Individu dengan sosial, keluarga dan alam. Terlepas dari itu, kami, Pandora selalu mengutamakan tema-tema yang populer, ringan namun berbobot secara kritik dan pesan. Pernikahan darah di tahun 2014 menceritakan konflik personal antar-personal (hubungan cinta), Jelaga menceritakan konflik individu dengan society (persekusi massal) dan terakhir, RRP menceritakan konflik antar personal dalam sistem keluarga. Entah itu akan berakhir secara tragedi atau komedi, realis atau absurd, Teater Pandora berusaha menyajikan ‘sesuatu’ dalam pertunjukannya untuk bisa dibicarakan, dipikirkan atau sekedar dikenang oleh penonton. Ketika tema tersebut sudah jelas dan disepakati oleh tim, kemudian kami akan mengerjakan semua aspek artistik di dalamnya. Dalam proses RRP, misalnya. Tujuh bulan pertama sebelum pentas, tim artistik sudah harus mulai merencanakan set panggung, adaptasi naskah, kostum, cast dan sebagainya demi mempertahankan dan menjaga kualitas pertunjukkan.

Proses “Rumah Rahasia Perempuan”?

Bermula ketika saya menonton film August: Osage County yang diperankan oleh aktor-aktor favorit saya secara personal. Film tersebut membuat saya kagum sekaligus kesal. Kagum karena masalah keluarga yang diangkat cukup intens dan gila, kesal karena garapannya yang kurang greget. Setelah itu saya berniat untuk mengangkat kisah yang ditulis oleh Tracy Letts ke atas panggung bersama Teater Pandora dengan beberapa catatan:

1. Kisah ini harus relevan dengan kondisi dan situasi keluarga di Indonesia

2. Karena drama ini ber-genre realis, maka saya tidak ingin setengah-setengah dalam penggarapan artistiknya

3. Butuh latihan keaktoran yang lebih banyak dibanding produksi sebelumnya (latihan ke aktoran harus memakan waktu selama 300 jam).

Ketika pembicaraan ini disetujui oleh tim inti Pandora, maka kami memulai dengan membentuk tim yang bertanggung jawab di bidang produksi, artistik, marketing dan desain produksi. Sebagai sutradara saya bertanggung jawab dalam penggarapan artistik secara keseluruhan. Proses naskah dilakukan secara bertahap, mulai dari penelitian, penerjemahan sampai proses adaptasi dilakukan selama dua bulan. Proses casting terjadi dengan memainkan pemain-pemain Teater Pandora yang sudah terbilang cukup senior. Merancang set panggung dan bekerja sama dengan interior design yang kemudian diterjemahkan secara partnership oleh beberapa vendor furniture, set dresser, clothing dan sebagainya yang sejalan dengan ide. Tidak lupa, dalam proses membangun pementasan kali ini, kami mulai disiplin dalam mencatat semua formulasi dan strategi setiap divisi yang nantinya menjadi cetak biru dalam membuat sebuah produksi.

Bicara teknis, yang menarik kemarin yang menarik kemarin adalah peletakkan clip-on di masing-masing aktor. Kita semua tahu resikonya, seperti teknisi yang mungkin lupa menaikkan volume saat adegan mulai, aktor yang vokalnya bocor di belakang panggung, dll. Latihannya dan penjadwalannya seperti apa sih?

Di RRP saya sadar betul akan kebutuhan mic sebagai alat yang membantu untuk menangkap suasana cerita serta membangun realisme di atas panggung. Maka, ketika mulai masuk proses produksi, kami sudah memulai kerjasama dengan beberapa vendor sound system untuk ikut terlibat dalam latihan. Bagaimana secara jeli mencatat dialog pemain, in-out pemain dan menghitung timing adegan. Proses tersebut kami lakukan untuk menghindari problem teknis yang kerap kali terjadi oleh sebagian kelompok teater di Indonesia. Selain itu, sudah menjadi tradisi dan tugas saya sebagai sutradara untuk bekerja di ruang FOH (Front of House) bersama tim lampu dan penata suara. Sutradara harus ikut fokus mengeksekusi segala kegiatan teknis di luar keaktoran demi tujuan artistik yang solid dan meminimalisir kesalahan teknis yang terjadi di atas panggung.

Sebagai teater mandiri, bagaimana Teater Pandora menggarap suatu pentas? Kita sadar betul bahwa tidak banyak teater di Jakarta yang bisa konsisten terus berkarya diantara aktivitas anggotanya. Bagaimana selama ini Teater Pandora mengaturnya?

Modal utama dari tim kami yang didominasi oleh anak-anak muda adalah fighting spirit, disiplin dan keyakinan. Tahun ini kami sudah melalui empat pementasan. Tentu merupakan hal yang melelahkan, tapi kami selalu berusaha untuk tidak berpuas diri. Sudah menjadi tradisi, seusai pentas, kami akan diskusi mengenai cerita berikutnya, bagaimana eksekusi tim produksi dan bagaimana strategi menjual produk. Dan yang mungkin sulit dipercaya oleh sebagian orang di luar kelompok Teater Pandora adalah kami percaya betul terhadap energi. Ketika kita berkumpul, lalu melakukan sesuatu yang positif, maka energi akan lahir semakin besar dan mampu menarik siapapun untuk peduli atau bahkan ikut ambil bagian dari produksi yang kami lakukan.

Dalam mengatur jadwal, Pandora juga melakukannya dengan sangat detail. Stage Manager kami bertugas untuk mengatur jadwal dengan pemain atau tim produksi yang bekerja dan berkuliah. Kapan jadwal untuk latihan dan kapan jadwal latihan untuk rapat diagendakan secara ketat dan tentunya sejalan dengan komunikasi dan kekeluargaan yang terawat baik.

Tantangan yang dihadapi Teater Pandora sebagai teater mandiri?

Modal awal pentas. Hal ini tidak hanya menjadi masalah bagi Pandora, namun grup teater keseluruhan. Kepercayaan perusahaan, brand atau partner terhadap pementasan teater khususnya masih sama dari tahun ke tahun. Kesulitan kami dalam mencari sponsor mulai kami teliti dan mencoba untuk mencari alternatif kerjasama yang tidak merugikan kedua belah pihak. RRP merupakan produksi pertama yang melakukan kerjasama non-modal oleh beberapa pihak sponsor. Kami melakukan kerjasama dengan beberapa perusahaan seperti Grrad (furniture) dalam menangani kebutuhan set, Cotton Ink (clothing) untuk provide kebutuhan kostum kita dan lain-lainnya melalui kontrapretasi yang kami tawarkan (misal, Teater Ads dalam kisah RRP yang dimainkan melalui adegan Martha-Martin muda mengenai perabotan impian mereka).

Tantangan lainnya adalah ketersediaan panggung pertunjukkan di Jakarta. Di Jakarta, panggung pertunjukan yang sesuai standar untuk pertunjukkan teater hanya tersedia di Taman Ismail Marzuki (GBB, Teater Kecil dan Teater Jakarta) dan Gedung Kesenian Jakarta. Sementara itu, kondisinya, kami akan selalu berebut tempat dan tanggal karena biaya sewanya yang murah. Hal ini membuat kami perlu menciptakan alternatif tempat yang bisa menjadi panggung pertunjukkan (Kami pernah mementaskan Samara di Paviliun 28) yang sesuai dengan kebutuhan cerita dan efektifitas penonton.

Sebagai anak muda yang berkarya lewat teater, apa yang diharapkan Teater Pandora untuk industri kreatif, terutama seni pertunjukan?

Dalam industri, kita berbicara produk. Dalam segi produk, bagaimana produk itu bernilai di mata penonton adalah ketika kita mampu memberikan/menjualnya secara berkualitas, utuh dan berbeda dengan yang ada. Untuk mencapai tujuan tersebut Teater Pandora membangun kesadaran industrinya melalui persiapan yang matang tanpa mengkhianati proses dan idealisme kesenian itu sendiri. Kami berharap kedepannya Pandora menjadi pelopor seni pertunjukan di industri kreatif yang berkualitas dan selalu melakukan pembaharuan.

Ke depannya apa yang akan digarap Pandora?

Sebuah pertunjukkan yang mampu dinikmati oleh semua orang tanpa harus datang ke gedung pertunjukkan. Sebuah pertunjukan yang bisa mengajak penonton dan pemain untuk experiencing kisah dan konflik. Kami juga akan melakukan kerjasama/partnership dengan suguhan yang berbeda dan subtle.


Foto: Dok. Teater Pandora

Oleh: Risangdaru

Like what you read? Give Qubicle Art your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Qubicle User

Qubicle Art

Similar stories

Stay Updated.

Every day, a dose of inspirations.🎉
Subscribe Qubicle
Qubicle Logo
© 2018 Qubicle. All rights reserved
FOLLOW US