Monohero,GelapNamunPenuhWarna

February 07, 2017Qubicle Music

Oleh: Anggung Suherman

Malang, kota yang selalu melekat dengan musik rock dan sepakbola, terus berkembang mencari identitas kebaruannya.

Sebagai salah satu kota tujuan pendidikan, Malang dihidupkan oleh kreativitas dari berbagai kota di Indonesia. Saya ingat perasaan pertama kali berkunjung ke kota ini pada tahun 2009. Ada perasaan dekat antara kota ini dengan Bandung; Dikelilingi gunung, dataran tinggi dan pilihan musiknya yang juga ikut-ikutan bernuansa iklim dingin.

Kota Malang memang menarik, bertetangga dengan Surabaya, namun tetap tidak ingin sama. Hal ini pun berlaku di bidang seni. Para pemudanya punya hasrat untuk menciptakan sesuatu yang baru. Namun di satu sisi, entah kenapa potensi-potensi kebaruan yang sudah tercipta itu masih banyak tersimpan jauh di dalam rumah-rumah mereka. Apakah masih terkendala jarak? Entahlah.

Di ruangan berukuran yang tidak begitu luas, berukuran 4x4 meter, yang disulap menjadi home recording, tiga pemuda Kota Malang menghabiskan waktu untuk meramu musik. Pemilik ruangan ini adalah Monohero. Mereka adalah Wafy, Omen dan Alfian.

Saya lupa bertanya kepada mereka, apa maksud dari nama Monohero itu. Malah, saya lebih banyak bertanya tentang Omen, pemuda berjenggot yang mengisi vocal di Monohero. Ketika dia bernyanyi, dia tidak berteriak, namun lantang. Dia juga tidak berbisik-bisik, namun lembut. Berulang-ulang dia menyanyikan kata “Bismillahirahmanirrahim” dengan alunan yang begitu indah. Berulang-ulang juga dia melantunkan kata “Maria” dengan penuh harapan.

Cara Omen bernyanyi di Monohero mengingatkan saya dengan Tilawah Al-quran. Saya lupa istilah lainnya, tapi yang jelas, teknik Omen bernyanyi adalah cara orang mengaji, ada lantunan nada yang tinggi, panjang hingga lekukan yang begitu terasa. Dan hal baiknya adalah, Omen tahu bagaimana cara mengaji yang baik dan benar.

Wafy, sepertiga dan pengendali utama Monohero bercerita tentang Omen, “Dia orang yang tertutup, dia jarang curhat, dia jarang bercerita. Aku cuma ngajak; kalo kamu gak bisa curhat secara langsung, ya nyanyi aja. Gak jarang juga dia marah-marah saat nyanyi, dan kadang bisa nangis juga selesei nyanyi.”

Lewat musik, dia akhirnya bisa terbuka untuk bercerita. Rangkaian kata-kata di lirik Monohero menjadi pesan-pesan personal yang ingin dibagikan kepada publik. Pesan-pesan yang bukan tentang masalah percintaan anak muda, bukan juga tentang masalah kegalauan hidup.

“Di lagu Escalating Wanderlust, dia menulis lirik yang menceritakan tentang lapisan-lapisan langit sampai langit ke tujuh. Lalu ada ‘Allahuakbar’ di dalamnya. Dia nggak bisa ngegambarin liriknya dengan kata-kata keseharian, dia berpendapat Allah itu maha besar, bisa menciptakan semua ini,” lanjutnya.

Ah iya, kemudian saya ingat istilah tepatnya: Qiroah. Dengan ilmu Qiroah yang dia miliki sejak di madrasah dulu, Omen menciptakan gayanya bernyanyi untuk mengiringi musik psychedelic ambient, dimana ini menjadi ciri khas dan kekuatan Monohero.

Departemen musik dikerjakan oleh Wafy, dia tidak begitu berjenggot, tapi gondrong. Dalam barisan nada dan suara yang dia tulis, jelas sekali pengaruh Tycho, Tame Impala, Sync 24, hingga Solar Field tumbuh di lagu-lagu Monohero. Lewat sequencer yang disembunyikan di balik Mandala, juga guitalele yang lengkap dengan broken chords-nya, beat-beat yang minimalis, soundscape yang hypnotize, irama Monohero sangat repetitive namun atmospheric, hingga pads yang mengawang dan tambahan ilustrasi field recording akhirnya membentuk Monohero menjadi band yang memabukkan, namun juga terdapat kesedihan.

“Aku sebenernya nulis musik sesusai mood aja, entah itu bisa ngebuat pendengar bagaimana, belum kepikiran. Tapi kebanyakan feedback yang bilang, kalo aku nulis musik pasti ada unsur galau nya. Padahal aku sendiri gak tahu galau yang seperti apa detilnya. Untuk ekspresi sendiri, musik adalah media dimana yang bener-bener puas buat ngeluapinnya,” katanya.

Sebelum di Monohero, Wafy aktif di Electric Lion. Wadah berkumpulnya para DJ di Malang yang lengkap memiliki event reguler. Kini dia juga menjadi dosen ilustrasi musik digital di salah satu kampus swasta di Malang. Tidak jarang juga dia mengerjakan scoring untuk film dan video. Rangkaian perjalanan yang menarik sebagai background kekuatan musik Wafy di Monohero.

Tiga elemen kekuatan Monohero adalah racikan musik yang mengawinkan ambient dengan unsur psychedelic. Lalu gaya bernyanyi dengan metode Tilawah Qur’an. Dan yang terakhir adalah visual.

Setiap panggung Monohero, kita akan dihadapkan dengan elemen hitam dan warna-warna psychedelic. Seolah-olah kita dihadapkan pada jendela besar yang membingkai alam semesta. Gelap, namun penuh warna.

Alfian, yang bertugas mengolah visual, berhasil menerjemahkan musik Monohero ke dalam pertunjukan audio visual yang sakral. Butuh sesuatu yang tinggi untuk menonton pertunjukan mereka, entah itu konsentrasi atau referensi. Tidak bisa hanya sekedar menonton lalu berbincang lalu menangkap gambar lalu menyebarkannya. Maka akan ada jeda panjang untuk kembali masuk ke dalam musik mereka jika tidak mengikuti urutan ritmenya.

Tahun 2016 Monohero tercatat merilis EP Shimmy and Shimmer sebagai perkenalan yang baik kepada publik. Ada dua materi dengan energi yang besar di EP tersebut, yaitu Escalating Wanderlust dan Avaveti. Keduanya memiliki optimisme yang tinggi untuk terus berkembang dan melebarkan perjalanan musiknya. Monohero sadar, butuh waktu dan cara khusus untuk terus menjejalkan musiknya ke ranah publik yang lebih luas. Pergi tur merupakan cara yang paling efektif untuk mengenalkan Monohero, karena sajian live menjadi menu yang ditawarkan di halaman depan.

“Bagi kami tour itu sebuah kewajiban. Kita paham, Monohero ini perlu dikenalkan ke banyak orang, dan kalo kita cuma di Malang, bagaimana cara musik kami bisa tersebar, bagaimana musik kami bisa diterima di masyarakat luas. Kita gak akan menolak main di gedung, kafe bahkan kampung,” ujar Wafy penuh semangat.

Butuh perkenalan yang intim dengan psychedelic ambient. Dua unsur yang disatukan ini pun jika dipisahkan masih perlu perlakuan khusus untuk bisa mencernanya dengan baik. Psychedelic bukan sesuatu yang baru, bukan sesuatu yang asing. Namun perlu rangkaian tahapan tertentu untuk bisa tiba di satu level yang murni, psychedelic experience. Ambient, bisa jadi bagian yang membosankan malah bikin ngantuk. Namun, ketika ramuan dan sajiannya benar, ambient bisa lebih bising, bisa mengamuk dan merobek-robek kesadaran.

Monohero sudah mengenalkan keduanya di perjalanan awal. Tahun ini mereka punya kesempatan lebih untuk membagi pengalaman ekspresinya lewat album penuh pertama. Keyakinan tentang musik yang dinilai berbeda selalu memiliki tantangan tersendiri. Publik selalu menarik untuk ditaklukan dengan kebaruan. Monohero, lengkap dengan atribut audio dan visual-nya selalu punya cerita untuk diekspresikan. Masih teringat dengan jelas kalimat yang saya tanyakan langsung kepada Wafy pada sore hari itu.

“Respon apa yang paling sering kalian terima dari publik?” tanya saya.

“Kita dianggap menyajikan sesuatu yang baru, dan dianggap performing art, bukan konser musik biasa,” jawabnya lengkap dengan senyuman. (*)

*) EP Shimmy And Shimmer bisa diakses di https://monohero.bandcamp.com/

*) Semua foto diperoleh dari Monohero

*) Anggung Suherman adalah setengah dari Bottlesmoker, duo elektronik asal Bandung. Sepanjang satu dekade terakhir, selain bermain musik, ia juga aktif menulis.

Like what you read? Give Qubicle Music your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Comments

    Qubicle User

    Qubicle Music

    We found it's important to give people on good music whether they're made by established musicians or newcomers.

    Stay Updated.

    Every day, a dose of inspirations.🎉
    Subscribe Qubicle
    Qubicle Logo
    © 2018 Qubicle. All rights reserved
    FOLLOW US