NgobrolIntensdenganKimsSeputarHipHopSertaUBC

August 06, 2018Aden Sanlano
Menurut bos UBC ini, Jazz itu lebih punk daripada musik punk-nya. Dan atmosfer hip hop lokal memang segitu kompetitifnya, sadar atau tidak.

Pernah menjadi gitaris band indie rock legendaris asal Jakarta yakni C'mon Lennon dan juga otak utama dibalik salah satu pionir label streetwear lokal bernama Capital, buat kami sah-sah saja jika menobatkan Kims sebagai salah satu tokoh penting penggerak street culture anak muda Jakarta. Setelah era WhatNot, SUB Magazine dan Capital, Kims pun saat ini aktif di sebuah kolektif hip hop lokal bentukannya yakni Underground Bizniz Club (UBC). UBC sendiri merupakan mesin dinamo hip hop lokal yang menjadi rumah dari Ramengvrl, Gbrand, Keilanboi--sempat juga Sonjah, Tuan Tigabelas dan Matter Mos sebelum mereka cabut.

Kepada kami, Kims bercerita banyak mulai dari alasan kenapa ia semakin yakin mendalami hip hop serta industrinya, proses pendirian UBC, bagaimana ia menemukan Ramengvrl sekaligus dampak ‘basah’ dari kesuksesan Ramen terhadap UBC, sampai daftar 5 album hip hop favoritnya sepanjang masa. Dalam sesi obrolan santai sekaligus intens di salah satu area multifungsi ternyaman di Selatan Jakarta, bos besar UBC ini juga secara blak-blakan bercerita tentang atmosfer hip hop setempat yang begitu kompetitif, sehingga membuat ia malas terlibat dalam urusan politik hip hop lokal. 


Hello, Pak. Ceritain dong awal mula kecintaan Kims terhadap musik hip hop.

Gue suka musik, I listen to any kind of genre, mainstream atau sidestream, gue nge-band juga dulu bareng C'mon Lennon (tertawa). Dari zaman C'mon Lennon, mau gue lagi ngapain, pasti selingannya gue dengerin hip hop. Somehow gue dengerin memang metal, punk, indies, tapi hip hop tuh selalu ada gitu buat gue.

Tidak heran juga sih karena ngelihat gaya Kims waktu di C'mon Lennon memang paling beda sendiri.

(tertawa) lumayan sih paling hip hop sendiri gue, paling nggak indie gaya gue (tertawa).

Lalu setelah era C'mon Lennon berakhir, apa yang dilakukan?

Setelah gue berhenti nge-band, saat itu gue mutusin total tidak nge-band lagi ke depannya. Dan mulai dari situ sampailah pada titik dimana gue dengerin musik hip hop lebih sering lagi, lebih ngulik lagi. Gue benar-benar ngulik sampai industrinya di sana, production-nya di sana, mainstream dan sidestream, gue benar-benar seperti jatuh cinta lebih lagi sama hip hop pada saat itu.

 
Kims mengaku bahwa kultur skate sangat berjasa membentuk karakter dirinya hingga sampai sekarang (Foto: Kims)

Menurut Kims, bagaimana kondisi hip hop lokal dulu era 90-2000 ‘an dan sekarang?

Hip hop lokal pernah jaya dulu waktu era Pesta Rap tahun 90 'an. RUN DMC sempat ke sini, dulu Kris Kross juga pernah ke sini. Tren celana gombrong, baju flannel, wah pokoknya hip hop sempat gede banget. Tapi habis itu apa? Habis sudah. Padahal dulu kita punya potensi, punya fondasi, cuma ya terkadang seiring berjalannya waktu, terkena pengaruh (perputaran) tren musik dunia juga memang, nggak ada lagi nih kelanjutannya. Sorry, maksud gue berkelanjutan, cuma berkelanjutannya bukan pada skala industri secara masif, melainkan komunitas. Sedangkan kalau gue lihat, ini sebelum hip hop seperti sekarang yang disorot banget sampai semuanya juga pingin nge-rap ya, sebenarnya yang potensial (hip hop lokal) banyak banget. Gue ngulik tuh dari 2010. Namun kenapa hanya di komunitas sih? Padahal dilihat dari bakat para pemainnya, kesempatan mereka tuh gede banget loh.

Jadi kondisi semacam itu yang memicu Kims untuk segera membentuk UBC?

Seperti nggak fair saja sih, kalau gue tahu hip hop, tahu industrinya di luar bagaimana, tahu potensi anak-anaknya seperti apa, tapi gue nggak turun ngasih kontribusi nyata. Sampai gue memutuskan ngebentuk UBC tuh agak perang batin juga sih awalnya, memang yakin ya gue mau terjun di sini (industri hip hop lokal), gue kalau mau basah ya basah sekalian. Gue nggak mau setengah-setengah.

Apa karena melihat realita industri hip hop di Indonesia juga?

Lebih balik ke guenya juga. Gue capable nggak nih ngurus ginian. Gue sadar bakal ngurusin orang. Biasanya gue ngurusin bahan, ngobrol sama bahan (FYI, Kims merupakan pendiri salah satu pionir label streetwear lokal bernama CAPITAL. Artikel wawancara Kims seputar Capital dan street culture juga akan tayang segera), sekarang sama orang, maintain anak orang. Isi kepala orang beda-beda kan. Gue nggak bisa maksain ego gue. Kalau bahan, gue mau potong model begini-begitu, ke kiri-kanan, kan terserah gue.


Kims saat bercerita proses awal pembentukan UBC yang batiniah secara personal (Foto: Qubicle)

Balik ke UBC. Bagaimana cerita awal mula UBC terbentuk?

Singkat cerita, gue ketemu sama kawan yang punya minat sama akan musik hip hop. Dia nyekokin gue terus dengerin Sonjah. Cuma waktu itu gue masih denial. Tapi gue dicekokin terus, ngehe, dari situ ide-ide gue mulai bermunculan tuh. Bisa digini-gituin nih (rapper). Dan akhirnya sampai di titik gue bilang ke dia, "Ya sudah sini gue kerjain deh. Gue sudah tahu mau digimanain saja nih (rapper)". Akhirnya kita jalan bertiga. Pertama ngegarap debut single Sonjah "Real”. Itu pilot project gue dalam ngerjain musik hip hop. Selepas itu kami (UBC) ada Tuan Tigabelas, Sonjah sudah nggak kerja bareng lagi, dia jalan berdua sama bekas partner gue di UBC tadi. Di tahun 2017, Tuan Tigabelas dan Matter Mos sudah tidak sama UBC juga. Mereka jalan masing-masing. Sisa Ramen Gvrl, Gbrand, dan selang beberapa lama Keilanboi masuk.

Setelah UBC berjalan, gue menyadari ini semua tentang waktu sih. Contoh TDE (Top Dawg Entertainment), waktu itu ya ampun mereka masih miskin kali tuh (tertawa). Bentukannya masih pada kurus-kurus, masih kelihatan DIY banget. Tapi begitu Kendrick Lamar disorot sama Dr. Dre, ya sudah, melejit deh tuh. Dari awal gue lihat Kendrick (Lamar) juga bakal gede sih, dan ternyata benar. Dan momen terebut bawa pengaruh ke TDE sebagai label.

Kalau begitu, TDE (Top Dawg Entertainment) ngasih pengaruh besar ya kepada eksistensi UBC?

Sangat, Pak. Sebenarnya gini, yang seru tuh sebenarnya lo musti jaga spirit-nya. Spirit komunitasnya ya. Kayak hip hop di sini tuh spirit masing-masing komunitasnya juga jangan sampai hilang sih. Kaya punk rock lah, spirit DIY-nya jangan sampai hilang. Bahkan musik jazz, jazz tuh lebih punk rock ketimbang musik punk-nya sendiri kalau menurut gue. Musik punk rock masih bisa hidup, masih bisa jual merchandise, masih bisa dapat panggungan dengan penonton cukup banyak. Punk rock, metal, indie, lifestyle-nya masih bisa dijual. Jazz tuh lebih indie loh. Gue pernah nanya ke seorang teman, kebetulan dia seorang musisi jazz, "Lo main musik gini (jazz) tadi pas lo manggung ada yang salah nggak sih?", lalu teman gue jawab, "Ha? Yang salah gue ngambil jalur jazz" (tertawa). Itu deep banget (tertawa).


Petang itu, Kims mengenakan kaus putih, bucket hat Burberry, celana jeans dan  sepatu Converse x JW Anderson (Foto: Qubicle)

Saat masa awal UBC terbentuk, atmosfer hip hop lokal saat itu sedang bagaimana, Kims?

Gue nggak bermaksud ngotak-ngotakin ya, gue nggak mau kebawa politik hip hop juga, menurut gue hip hop itu kompetitif banget. Dari sananya (Amerika) saja sudah kompetitif juga. Hip hop tuh memang seperti itu. Ya lo bisa dengar lah dari diss track, beef sana sini, di situ tercermin kalau hip hop tuh kompetitif banget sebenarnya.

Memang UBC punya kompetitor?

Nggak, gue nggak pernah merasa compete sama siapa pun, gue nggak mau juga sih. Cuma itu yang terjadi kok. Gue selalu bilang sama anak-anak, mau di luar lagi ada drama apa, si ini ribut sama si itu, gue nggak peduli, yang penting kita jaga hubungan sama semuanya. Kita baik sama semua. Kita di sini cuma bermusik. Lo bermusik, lo senang, lo dapat duit, that’s fair. Masalah politiknya, masalah dramanya, nggak usah ikut-ikutanlah.

Iya memang, kondisi kompetitif semacam itu sudah terjadi dari zaman dulu sebenarnya. Namun semakin kesini, kami melihatnya musisi hip hop lokal antar kolektif malah saling mendukung. Banyak kolaborasi yang terjadi satu sama lain, baik di sesi rekaman maupun panggung.

Iya itu yang harusnya terjadi menurut gue. Cuma, tetap kok ada tuh sisi kompetisinya. Bisa dirasain lah.

Bagaimana proses menemukan Ramengvrl dulu? Bisa ceritakan?

Waktu itu ada satu project, gue kenal dari salah satu teman Rapper yang dulu sempat lagi gue coba bantuin saat era sebelum UBC ada. Terus gue didengerin Ramengvrl. Waktu itu Ramen masih kerja. Pertama kali gue kontak saja, dia (Ramen) masih belum yakin mau nge-rap atau tidak. Itu tahun 2015. Alhasil akhirnya kita sempat ketemu, ngobrol, nah habis itu dia sempat ngilang. Mungkin dia masih labil, masih mau kerja (kantoran) apa nggak ya. Atau mungkin waktu itu belum didukung seperti sekarag (tertawa), nggak tahu juga deh. Ada kali waktu itu dia ngilang setahun. 

Wah, setahun banget? 

Iya. 2015 kita sempat ketemu, mau workshop dan segala macam, tiba-tiba dia ngilang… deung! Ngilang saja sudah, setahun menghilang. Sampai pada akhirnya 2016, ternyata dia sudah yakin mau mulai nge-rap serius biarpun saat itu dia masih kerja. Saat itu, Tuan Tigabelas sudah rilis. Setelah itu harusnya tahap produksi masuk ke Gbrand terus lanjut Matter Mos, itu 2016 akhir kalau tidak salah. Tapi ternyata pada waktu itu materi "I'm Da Man" lagi dibikin, lagi workshop, nah di situ, gue dengerin sekilas saja, terus gue bilang, "Kenapa nggak ini aja dijadiin?".

Sudah punya prediksi ya memang kalau Ramengvrl bakal besar?

Sangat sudah gue prediksi. Menurut gue nggak ada yang seperti dia. Dia punya karakter, itu penting banget. Karakter pribadi dia, karakter nge-rap dia, cara dia menyampaikan pesan, kuat banget karakternya.

Terkait dampak sukses Ramengvrl, imbasnya bagaimana terhadap UBC?

Dampak secara finansial dan branding sih besar banget. Ini portfolio terbesar UBC. UBC sebagai independen label hip-hop, sempat didekati oleh beberapa label gede, bukan Ramengvrl-nya saja, tapi mereka mau a whole package of UBC. Gue bisa bilang di sejarah perjalanan musik hip hop Indonesia, baru pertama ini ada label besar yang menawarkan kerja sama semacam ini. Contoh, di luar ada Interscope sama Sony Music. Pendeknya, UBC bisa ngisi slot hip hop untuk label besar tersebut, dan itu nggak cuma satu label besar doang yang nawarin gue. Itu yang terjadi sekarang antara UBC sama Juni Records.


Ramengvrl bersama rosters UBC lainnya di panggung We The Fest '18 (Foto: Habsi Mahardicha)

Okay. Masuk ke tahap lebih profesional, memang kerja sama antara UBC dan Juni Records bentuknya seperti apa?

Kami kerja sama di bagian slot genre hip hop. Slot genre tersebut yang ngisi bagiannya adalah UBC. Mereka (Juni Records) mau kerja sama bareng UBC, awalnya tuh karena mereka lingkupnya major. Untuk cakupan ranah hip hop, bisa dikatakan mereka awam, apalagi sampai ke komunitas, itu mereka (Juni Records) nggak sampai situ radarnya. Sebab itu, mereka lihat UBC potensinya bisa sampai situ, karena memang berangkatnya dari situ kan.

Sistem pembagian kerja dengan Juni Records sendiri, bagaimana?

Kami di UBC ngejagain karya dan platform hip hop ini, lebih ngejagain dalam termin kreatif. Kalau dari bagian Juni, mereka membantu kita membuat struktur. Mulai dari promo, bikin video clip, ngejadwalin segala macam, mereka lebih pegang kendali dari segi bisnis.

Apa perbedaan yang dirasain dari hasil kerja sama bareng Juni Records?

Pastinya lebih terstruktur, yang mana baik juga untuk kami di UBC. Tapi ya UBC masih baru juga, so let's just see. Ikutin saja dulu. Bakal sampai mana sih ngebawa kita, bakal bagaimana ngebawa kita. Namun sejauh ini, single pertama bareng Juni Records berjudul "Cashmere" responnya melebihi "I'm Da Man" dulu sih. And that’s a great thing.

Khusus “Cashmere” kerasa banget memang dari segi produksi. Tapi terlepas dari itu semua, Ramen juga jago banget sih nyiptain hook yang super catchy. “When I die, I’ll be covered in cashmere”. That’s so hard.

Yoi (tertawa), Puce (nama sapaan Ramengvrl di bawah panggung) pintar banget memang bikin hook model begitu.


Dengan terjun ke industri hip hop melalui UBC, Kims mengatakan kalau banyak pelajaran baru yang ia dapat (Foto: Qubicle)

Proyek UBC ke depan ada apa saja nih, Kims?

Paling dekat Keilanboi ngeluarin single pertama Agustus ini. Habis itu mungkin Ramengvrl lagi. Gue ngejar Ramen tahun ini semoga bisa album. New talent mungkin ada nambah satu atau dua. Tapi khusus new talent masih kami diskusiin internal dulu.

Untuk mengakhiri wawancara ini, kasih tahu kami dong 5 album hip hop terbaik sepanjang masa versi Kims UBC apa saja.

N.E.R.D album Fly or Die, itu mengubah lansekap hip hop modern.

Tyler The Creator nggak ada N.E.R.D sih nggak jadi apa-apaan ya (tertawa).

Mending nggak jadi, nggak ada malah (tertawa)

Lalu apalagi, Kims?

Digable Planet album Blowout Comb. Gue rasa anak-anak sekarang dengerin Digable Planets masih bisa relate sih. Terus, Outkast yang Speakerboxxx/The Love Below, sama Nas Illmatic.

Enter The Wu-Tang, nggak nih?

Wu-Tang masuk sih, cuma gue nggak mau Wu-Tang ah (tertawa). Semua orang pasti Wu-Tang. Terus apalagi ya… Nah, lo sendiri lebih ke (Enter The) Wu-Tang apa NWA Straight Outta Compton?

Enter The Wu-Tang, dong. 

Yakin lo? Pillihannya berat loh (tertawa). Oiya, gue Chronic 2011 deh!


*Sebelum sekarang aktif di UBC, Kims juga merupakan pendiri salah satu pionir label streetwear lokal bernama CAPITAL. Artikel wawancara kami dengan Kims seputar Capital dan street culture akan tayang segera.

Like what you read? Give Aden Sanlano your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Comments

    Qubicle User

    Aden Sanlano

    Find latest news and top stories updates from across the world.

    Stay Updated.

    Every day, a dose of inspirations.🎉
    Subscribe Qubicle
    Qubicle Logo
    © 2018 Qubicle. All rights reserved
    FOLLOW US