NonaRia: Para Pembaca Waktu Modernitas!

Kopi dulu pak
Santai saja
Pisang goreng pak
Gula jawa

Oleh: Rowland Prichard T

Sekilas lirik di atas, terdengar biasa-biasa saja. Namun jika sudah mendengar lagu 'Santai' secara penuh dari grup Jazz NonaRia, pembaca yang budiman pasti segera menggoyang kepala seiring dengan alunan musik Swing Jazz yang diusung tiga dara ini dan bilang 'ini sih gak biasa-biasa aja!'.

Jika ditilik lebih dalam, memang konsep bermusik NonaRia membaptiskan diri mereka dengan lirik yang sederhana namun bisa dinikmati penuh rasa. Cek 'Antri Yuk' single NonaRia yang sudah dibuat lirik videonya.



Dari dua lagu tersebut, saya melakukan sebuah kontemplasi spiritual untuk melakukan pemaknaan - bukan hanya politik di Jakarta saja yang butuh intepretasi tingkat tinggi loh! Dan yap! Sekejap saya tergeragap! NonaRia menurut saya adalah band Swing Jazz Indonesia yang memang bisa menjadi pembaca semangat zaman yang dalam ilmu Filsafat sering disebut Zeitgeist.

Coba deh didengar lagi 'Antri Yuk!' dengan seksama. Kemudian lihat sekeliling. Buat kalian yang tinggal di Jakarta, kata antri hampir tidak mempunyai makna lagi. Semua orang seakan telat. Semua orang seakan super sibuk. Semua orang bahkan menjadi fakir waktu. Terburu-buru! ‘Nggak ada waktu gue’! ‘Waktu cepet banget ya’! ‘Gak kerasa waktunya’! Ungkapan-ungkapan di atas pasti sering kita dengar. Jadi bukan hal aneh bagi orang-orang urban modern, atas nama Waktu, kita bisa melanggar rambu lalu lintas, melawan arus, bahkan menyerobot antrian.

NonaRia di Gudang Sarinah (Foto: Dokumentasi NonaRia)

Lantas pertanyaan sesungguhnya adalah apa itu Waktu? 

Menurut Filsuf Jerman, Martin Heidegger, Waktu dapat dibedakan menjadi dua macam. Innerzeitigkeit dan Zeitlichkeit. Innerzeitigkeit adalah ‘keberadaan-di-dalam-waktu’. Artinya, Waktu dimaknai dalam linearitas, dari satu titik beranjak ke titik lain. Titik yang sudah dilewati bernama masa lalu. Titik yang akan dilewati bernama masa depan. Sementara Waktu Zeitlichkeit artinya ‘kemewaktuan’, memaknai Waktu. Zeitlichkeit inilah yang dalam pandangan Heideggerian harus dialami manusia, karena menurut Heidegger, manusia atau Dasein (berada-di-dalam-dunia) selalu memberi makna dalam keberadaannya di dalam waktu. Berapapun lama kita mewaktu, entah sedang menunggu, entah sedang buang air besar, entah sedang kesal karena jadi tersangka (lagi) kasus mega-korupsi! Waktu yang dilewati harus punya makna untuk sesama atau setidak-tidaknya untuk diri sendiri.

Saat Shooting Video Lirik Antri Yuk! (Foto: Dokumentasi NonaRia)

'Antri Yuk!', kembali menyadarkan bahwa Waktu jika dilihat dalam bentuk garis lurus, awal sampai akhir, tidak akan pernah cukup bagi kita karena tidak dihidupi, hanya lewat begitu saja. Sehingga orang-orang seperti berada dalam suatu track lari yang harus mengejar atau dikejar. Hasilnya, mereka tidak sadar akan Waktu, jadi sembrono memahaminya. Tapi lain cerita kalau setiap menit atau bahkan detik, Waktu justru kita pahami, kita ajak berdiskusi. Sekali-kali, toh, tidak apa-apa menjadi Sufi!

Seperti kata NonaRia, Ayo Teman/ B'lajar Antri/ Ayo Kawan/ B'lajar Rapi/ Jangan Rebutan/ Ayo Antri.../ Kalau Kau Tertib/ Semua Lancar Pasti// Ingat, mulai sekarang maknai Waktu atau kalau lebih radikal cara berpikirnya, bersenggamalah dengan Waktu! Caranya? ya antri! Next time, kalau melihat orang yang terburu-buru tidak memaknai Waktu, suruh dengerin Nonaria. Atau kalau masih bebal, lempar aja sama bukunya Heidegger yang tebal! Semoga sadar. Semoga…