PerjalananIndraMenus

July 04, 2017Qubicle Music
Duta besar musik noise Indonesia punya cerita.

Oleh: Felix Dass

Musik noise, bertahan lama dan terus menerus dihidupkan oleh mereka yang memainkannya. Salah satu yang menjalaninya adalah Indra Menus.

Indra Menus bisa diasosiasikan dengan banyak peran di scene independen lokal Jogjakarta. Dia bagian dari Doggy House Records, bermain bersama To Die dan sejumlah band lain, menjalankan YK Booking yang memfasilitasi banyak gig mandiri sekaligus menjadi tuan rumah yang kompeten untuk sejumlah band luar kota (atau negeri) yang berkunjung ke kota itu. Ia juga secara aktif mengambil bagian pada Kongsi Jahat Syndicate dan Jogja Noise Bombing, dua kolektif musik garis depan di Jogjakarta. Ada banyak atribut yang menempel padanya.

Ada yang menarik. Beberapa waktu belakangan ini, ia mencoba peruntungan keliling ke sejumlah tempat untuk memperkenalkan scene noise Jogjakarta, secara spesifik. Tentu, tidak sendirian. Selain fisiknya yang berkeliling, ada sejumlah teman yang mendukung di belakang.

Berkeliling berarti juga membuka banyak jaringan baru. Termasuk bertukar informasi dan mengembangkan diri dan komunitas secara otomatis.

Secara umum, scene musik noise di Indonesia, memang banyak mendapatkan sumbangan nadi dari kota tempat Menus tinggal. Seolah punya bensin yang tidak terbatas jumlahnya, berbagai macam ide bergulir. Beberapa bisa berubah status dari rencana menjadi kejadian. Karena kuantitas yang tidak sedikit, konsistensi pun terbentuk. Jogjakarta, kini, bisa dibilang sebagai salah satu kantong tempat scene musik noise mekar merekah.

Dalam kacamata yang lebih besar, scene musik noise telah mengembangan diri dengan sangat baik; berbagai macam talenta muncul dari tempat yang tidak seragam.

“(Sekarang) semakin meriah. Musik noise di sini sudah menyebar ke daerah pedalaman dan pulau-pulau selain Jawa. Kita bisa menemukan proyek noise di Muara Enim, Sanggau, Ponorogo, Tondo dan sampai ke Lombok,” ujarnya memberi gambaran umum.

Batasan memang habis diterabas. Untuk orang awam, mengartikan noise bisa sesederhana termin memainkan kebisingan. Padahal, bisa jadi lebih luas dari itu. Ada unsur eksperimental di dalamnya. Dan ia dominan. Keberanian untuk mengartikan batas yang baru, selalu dikandung dengan baik oleh mereka yang berkecimpung di scene ini.

Menus menjelaskan sedikit. Bisa dibilang, ini merupakan Noise 101 versinya, “Intinya musik noise itu adalah membuat eksplorasi suara dengan menggunakan alat apa saja yang dimiliki. Karena noise sendiri bersinggungan dengan eksperimental, bisa jadi batasan itu kemudian sengaja ditiadakan. Sekarang kan apa saja bisa digabungkan, jadi batasannya semakin memudar.”

Sedikit banyak, penjelasan itu memberikan dasar kenapa di dalam scene musik noise ada banyak pendekatan yang dilakukan. Pengertian instrumen bisa berupa banyak hal, tidak melulu apa yang dikenal luas dalam kacamata konvensional. Kreativitas, dengan sendirinya, juga digedor untuk menghasilkan berbagai macam keluaran untuk dipresentasikan kepada orang. Cara presentasinya pun macam-macam, tidak melulu dalam bentuk yang teratur.

“Kalaupun ada batasan, mungkin itu dibuat untuk lebih memudahkan para ‘kurator’ ketika memilih proyek noise mana yang bisa bermain di gig atau kompilasi rilisan mereka,” lanjut Menus.

Kerangkeng yang luas itu membuat perkembangan scene musik noise bisa muncul dalam berbagai macam kemungkinan.

“Kalau di Indonesia, kebanyakan masih mencoba menemukan sound dan karakternya masing-masing. Tapi secara umum bisa dibilang di sini punya ciri khas yang lekat dengan etika kemandirian/ DIY. Karena kebanyakan pemainnya berasal dari scene punk atau underground. Itu tercermin dari kemauan untuk membuat alat sendiri, amplifier ala kadarnya sampai ke memroduksi rekaman dan distribusi rilisannya yang juga mirip dengan scene punk. Ini membuat kita sedikit beda dengan scene noise di negara lain,” cerocosnya lagi.

Perkembangan secara kuantitas juga perlu disoroti.

Menus tidak mau berhenti menjelaskan, “Orang-orang yang sekarang main itu beda. Dulu kebanyakan mereka berkutat di kamar dan cenderung introvert. Jaringannya masih sangat underground. Sekarang sudah berani keluar dan menunjukkan diri. Kalau di Jogjakarta sendiri, dulu masih didominasi oleh para seniman kontemporer. Lalu dilanjutkan oleh mahasiswa sekolah sekolah seni dan di generasi sekarang orang-orangnya banyak yang berasal dari scene hardcore, punk, grunge, metal dan sampai ke pemuja grup-grup idol.”

Setelah bertahan bertahun-tahun dan terus menghasilkan karya, tentu saja ada alasan kuat yang menyertainya. Alasan itu kemudian diakui secara massal, menjadi motif yang sama bagi orang-orang yang berkecimpung di scene noise.

“Menurut penelitianku, sepanjang era 1995-2015 ada sekitar 123 noise act di Indonesia,” ceritanya. Dari segi jumplah, angkanya tidak main-main. Tentu, kalau bicara kualitas, levelnya bisa beragam. Tapi, kuantitas bisa menunjukkan betapa semaraknya sebuah scene. Terlebih sesuatu yang memang tidak pernah dijalankan dengan cara pandang budaya populer.

“Mungkin tidak bisa menjadi sebesar budaya pop,” akunya.

Dengan angka dan penyebaran yang beragam, bisa dibilang bahwa scene noise memang hidup dan bertumbuh kembang di Indonesia.

“Film Bising: The Movie adalah salah satu pintu audio visual yang membuka mata dunia tentang scene noise di Indonesia,” terangnya.

Bising: The Movie adalah film dokumenter yang merekam sebuah era perkembangan musik noise di Indonesia. Film ini sempat berkeliling ke sejumlah festival dan secara sporadis masih bisa ditemui screeningnya di Indonesia.

Film itu digarap dengan logika musisi noise, menabrak segala macam batasan teknis dalam menciptakan sebuah film untuk memperjuangkan ide yang lebih besar; memperkenalkan keberadaan jenis musik ini di Indonesia.

Kembali ke cerita Menus, belakangan ini, ia tidak berhenti di aktivitas performance. Menus juga mulai merambah ke ranah yang lain; riset. Dalam beberapa kali kesempatan, ia mulai mendapatkan kesempatan untuk membawa scene musik noise ke level yang lebih dalam; meneliti dan mendokumentasikan. Pertukaran informasi terjadi. Jogja Noise Bombing, kolektif yang menaunginya dijadikan payung penting bagi proses ini.

“Contohnya waktu kami mengajak DJ Sniff dari Jepang –yang bermukim di Hongkong— main di Jogja Noise Bombing Festival. Beberapa waktu kemudian, dia mengajak kami main di festival yang dia kuratori, di Jepang lagi. Dari situ akhirnya bertemu dengan jaringan yang lain dan mendapat kesempatan untuk melakukan riset. Lalu kurang lebih, hal yang sama berlangsung ketika Jogja Noise Bombing diundang ke Holland Festival di Belanda,” ceritanya.

Ia melanjutkan panjang lebar, “Saya malah kaget karena di beberapa negara Asia Tenggara tempat saya melakukan penelitian, orang-orang sudah tahu tentang Jogja Noise Bombing. Di Manila bahkan ada sebuah kegiatan yang terinspirasi oleh JNB, yaitu Dead Nation Noise Bombing yang diorganisir oleh kolektif Noisebath PH. Sementara kalau di Jepang, orang masih melihat Indonesia sebagai negara yang eksotis dan lekat dengan budaya tradisi. Jadi, ketika melihat ada yang bermain DIY synthesizer yang identik dengan hal modern, mereka kaget. Sama seperti orang barat yang terkejut ketika saya beritahu tentang pembuat synthesizer asli Indonesia model Kenali Rangkai Pakai. Dalam beberapa penyelenggaraan Jogja Noise Bombing Festival, saya sering menemukan penonton dari luar negeri yang tidak menyangka bahwa musik semacam ini sudah ada di Indonesia.”


Dari komunikasi-komunikasi sporadis seperti itu, kemudian jaringan dibangun dan dipelihara.

“Saya mendapatkan beberapa email setelah merilis kaset Pekak!. Mereka menanyakan tentang keadaan scene noise di Indonesia. Kemudian meminta bantuan untuk dibuatkan tur di sini,” katanya lagi.

Berbagai macam cabang pengalaman itu, membuat ceritanya kaya. Menus adalah salah satu orang yang menghidupi scene noise Indonesia. Ia ada untuk jangka waktu yang lama.

Sambil berkelakar, ia mengutarakan rencana masa depannya, “Tantang paling utama sih bagaimana memastikan supaya kita bisa tetap beraktivitas di area ini sementara di saat yang bersamaan kehidupan percintaan bisa berjalan lancar juga.” (*)

*) Karya-karya Indra Menus, bisa didengarkan di link di bawah ini.


Like what you read? Give Qubicle Music your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Comments

    Qubicle User

    Qubicle Music

    We found it's important to give people on good music whether they're made by established musicians or newcomers.

    Stay Updated.

    Every day, a dose of inspirations.🎉
    Subscribe Qubicle
    Qubicle Logo
    © 2018 Qubicle. All rights reserved
    FOLLOW US