Perjalanan Menelusuri Bumi Sang Keramikus Muda


Berbeda dari seniman muda kebanyakan yang memilih seni grafis, fotografi ataupun video art—Dian Hardiansyah mantap menekuni keramik sejak menempuh studi di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta. Eksplorasinya pada keramik semakin luas kala nyantrik di studio keramik pasangan kurator & perupa, Sujud Dartanto-Endang Lestari. Di sana, ia menyadari bahwa keramik dapat diolah menjadi ragam bentuk karya dan keluar dari batasan bentuk yang populer saat ini.

Ia memiliki ketertarikan pada biota laut yang kemudian diterjemahkannya melalui konsep Biomimicry Project. Baginya, biota laut adalah anomali dengan ketidakjelasan bentuk dan warna. Dian mengamati pola dan bentuk visual organisme secara kasat mata sekaligus membedah perilaku adaptasi oganisme terhadap lingkungannya. Proses ini merupakan telah berlangsung sejak ia duduk di bangku sekolah menengah, dan ditambah akumulasi pengalamannya bergelut dengan dunia imajiner melalui video game.

Dalam karya Dian, kita dapat melihat ketekunan, ketelitian dan kesabaran dalam mengolah material tanah menjadi karya. Ia memperlakukan tanah, tidak semata-mata sebagai obyek gubahan, melainkan teman dialog dan negosiasi tentang bentuk apa yang diinginkan materialnya. Dalam karya The Rhyme, ia membuat 52 obyek menyerupai sulur-sulur yang terhembus angin. Warnanya hijau kecokelatan. Polanya berbeda satu sama lain, namun dipilin dengan lengkungan yang nyaris sama. Semuanya dilakukan manual dengan tangan. Karya ini dipasang secara modular pada empat panel kayu besar–terlihat seolah kayu itu dirambati lumut bila dilihat pada sudut pandang tertentu.

Dian tidak sedang mengilustrasikan biota laut. Lebih dari itu, ia mencari identitas dan bagaimana biota laut saling menyerupai (mimikri). Demi memeroleh kepuasan estetis, Dian enggan menggunakan material yang beredar di pasaran. Ia memilih tanah mentah asal Sukabumi yang dicampur air dengan perbandingan 70:30. Perbedaan takaran turut memengaruhi tekstur serta warna yang dihasilkan. “Hasil glasir keramik akan lebih menonjol jika warna tanahnya putih pucat. Sementara untuk pembakaran, saya memilih teknik bakaran tinggi (stoneware) agar menghasilkan kesan bersih dan mengkilap,” terang putera pematung Syahrizal Koto ini.

Eksperimen material sekaligus keterampilan tangan Dian juga nampak dalam dua instalasi keramiknya yang bertajuk Little Bit Habit dan D.I.D (Dissosiative Identity Disorder). Little Bit Habit seolah-olah simulasi pola karang terumbu, namun jutsru dihadirkan dengan warna monokrom. Setidaknya ada empat teknik yang dapat kita jumpai dalam karya ini; cetak tuang, putar, pijat dan pilin yang dilakukan secara manual. Karya ini hadir dalam 15 variasi obyek dengan ukuran 10x10 cm. Sementara itu, karya D.I.D (Dissosiative Identity Disorder) menghadirkan pola karang terumbu dengan tentacle menyerupai duri-duri. Menggunakan teknik bakaran bone chine, tekstur yang dihasilkan menyerupai perselen cina yang putih mengkilap. Karya ini merupakan serial bujur sangkar yang nyaris sama secara warna dan dimensi.

Keramik mungkin adalah medium paling primitif yang dijumpai manusia sebagai produk budayanya. Untuk mendekati dan memperlakukannya, tanah dapat mencitrakan setiap persona yang membentuknya. Kejujuran, kerapihan, kesabaran bahkan kecerobohan sekaligus dapat terlihat di sana. Karya Dian merefleksikan kepribadiannya yang dingin, tenang dan penuh ketekunan. Seniornya Handiwirman Saputra, menandai Dian berbeda dengan keramikus lain. “Ia memperlakukan sang Tanah dengan cinta yang besar,” tukas Handi. Sebagai bagian dari kelompok Sakato (kelompok seniman Minangkabau) hanya Dian yang menekuni keramik. “Rasanya anti mainstream sih, sementara yang lain melukis. Saya justru bisa mencari beragam celah dari keterbatasan yang ada,” katanya terkekeh.

Dalam karya lainnya, Living on The Edge menuntun kita pada kesadaran tentang hubungan spiritual antara manusia dengan tanah (alam), hubungan konektivitas antar sesama manusia sekaligus capaian transendental dengan Tuhan. Karya ini terdiri atas susunan keramik yang disatukan dalam duri dan plat besi berjumlah 99. Semula ia ingin membuat 100 obyek yang disusun simetris namun selalu pecah saat keramik dibakar. Di tengah proses berkarya, ia tersadar sifat perfeksionisnya telah dikalahkan oleh kuasa yang tak dipahami. Alhasil 99 obyek dalam Living in The Edge ini ia dedikasikan pada kesempurnaan Sang Maha Tahu.

Intimation or Imitation / Colouring bone chine, wood glass / Variable dimension (17 pieces, 10 x 15 x 15 pcs) / 2015
Karya Intimation or Imitation membawa Dian menjadi finalis Bandung Contemporary Art Award #BACAA-4 2015
Story / Bone chine, LED, acrylic cable / Variable dimension / 2015

Akhirnya, bagi saya pribadi karya-karyanya dapat dimaknai sebagai sebuah praktik penziarahan seorang Dian Hardiansyah atas dedikasinya pada tanah di bumi berdasarkan akumulasi pengalamannya. Keramik Dian dapat menambah kosakata baru dalam praktik seni rupa kontemporer yang kini padat dengan pesan sosial-politik. Rangkaian karya dalam pameran ini membawa kita untuk melihat lagi sublimasi seni, keteknikan maupun ketrampilan. Sesuatu yang kini dipisahkan oleh ideologi seni tertentu, dan nyaris tidak pernah dipersoalkan lagi.


Credit foto: Young Experimental Studio, Riski Januar dan Benni Kurniadi

Penulis: Hamada Adzani Mahaswara