PLEASE ! Jangan Mati di Everest


https://www.bbc.com/future/story/20151008-the-graveyard-in-the-clouds-everests-200-dead-bodies

Everest adalah puncak dunia, puncak tertinggi di planet bumi ini. Bukan saja menjadi incaran para pendaki, Everest menjadi sebuah milestone dan mimpi semua pendaki. Pendakian Everest membutuhkan waktu, tenaga dan biaya yang sangat banyak. Belum lagi ganasnya alam menanti siap untuk merenggut semangat, tenaga bahkan nyawa.

Walaupun kebesaran namanya bikin jiper, nyatanya sudah lebih dari 7000 kali Everest berhasil dijamah puncaknya oleh lebih dari 4000 pendaki sejak pertama kali Sir Edmun Hillary dan Tenzing Norgay merebut keperawannanya pada tahun 1953. Selain itu, dari begitu banyak keberhasilan “hanya” sekitar 282 kematian terjadi sampai tahun 2016. Angka yang relatif rendah untuk gunung sekaliber Everest. Beberapa orang bilang kalau mendaki Everest itu like a walk in a park. Gampang!

Hooi..

Jangan keburu nganggap remeh dulu!

Kematian yang terjadi pada pendakian Everest bisa terjadi karena kecelakaan dan jatuh kedalam jurang namun sebagian besar meregang nyawa di the death zone, area diatas ketinggian 8000 mdpl. Kadar oksigen yang tipis pada ketinggian tersebut sangat menguras tenaga, sehingga menyebabkan banyak pendaki kelelahan dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir di jalur pendakian ini.

https://www.viralitytoday.com/dead-bodies-lying-forever-on-mount-everest

Sandra Leduc, seorang pendaki dari Kanada menggambarkan kengerian saat menemukan banyak mayat membeku di sepanjang jalur pendakian menuju puncak Everest. Dia menggambarkan pendakian itu seperti memasuki “kamar jenazah”. Mungkin yang paling terkenal adalah jenazah Tsewang Paljor dari India. Sepatu hijau mentereng yang dipakai Tsewang saat mendaki saat mencolok dan berada di samping jalur pendakian. Jenazah ini menjadi landmark bagi para pendaki yang memuncaki Everest dari sisi Utara dan dikenal dengan green boots. Kebayang ga perasaan keluarga kalo jenazah kerabatnya dijadikan patokan pendakian? Sedih bangeet!

Loh kok jenazahnya dibiarkan begitu saja?

Kalau dihitung, mungkin ada lebih dari 200 jenazah yang masih terbujur beku di punggungan

Everest. Untuk memindahkan jenazah dari Everest bukan perkara yang bisa di Gojekin aja. Proses evakuasi 1 jenazah biasanya harus dilakukan oleh 6-10 orang Sherpa, suku asli pegunungan Himalaya, yang sangat berpengalaman dalam pendakian Everest. Waktu sangat membatasi proses pencarian dan evakuasi, karena kadar oksigen yang renda, tim rescue tidak boleh lebih dari 48 jam di area tersebut untuk melakukan pencarian, penggalian dan pemindahan. Belum lagi perubahan cuaca yang seringkali datang mendadak bisa-bisa mengancam nyawa tim penyelamat. Bobot jenazah yang telah beku bisa menjadi dua kali lipat lebih berat dari bobot aslinya karena banyaknya es yang menempel di badan jenazah.

https://img.washingtonpost.com/rf/image_1484w/2010-2019/WashingtonPost/2015/04/26/Foreign/Images/TS-Del6409518.jpg?uuid=3LS4fuwKEeSlXziST8qU-Q

Jenazah dibawa dengan sebuah rangka sled atau kain yang kuat kemudian diturunkan perlahan-lahan sampai menuju ke camp 2, di ketinggian 6.400 mdpl. Jenazah kemudian dijemput oleh Helikopter. Proses tersebut bisa memakan biaya 40.000 - 90.000 US Dollar atau mencapai 1.2 milliar rupiah. Woow!!

Tahun 1984 mungkin menjadi evakuasi termahal di Everest. Nyawa Yogenda Bahadur Thapa dan Ang Dorjee melayang dalam proses menurunkan jenazah seorang pendaki Jerman, Hannelore Schmatz. Bukan saja mahal, evakuasi di Everest bisa memakan korban jiwa. Tak heran bila sebelum pendakian Everest ada semacam penandatanganan surat “mati” yang menyatakan jenazah akan direlakan membeku di gunung atau dibawa pulang.

Jadi kalo temen-temen ada yang berencana untuk mendaki Everest, jangan mati di sana ya. Please, pulang ke rumah dengan selamat kembali ke pelukan keluarga. Amiiin.


Sumber: https://nationalpost.com/news/world/the-extraordinary-cost-and-hardship-of-retrieving-dead-bodies-from-mount-everest