Proyek Tupia Bagian 1

Ratusan perjalanan feri berdurasi sekitar 2 jam, melayani penumpang dan kendaraan setiap harinya, menyeberangi Selat Sunda dari Pelabuhan Merak - Banten menuju Pulau Sumatera, dan sebaliknya. Bagi kebanyakan orang, hal ini mungkin biasa-biasa saja, menjadi bagian dari perjalanan yang perlu dilalui, sebelum tiba di tujuan.

Berbeda bagi Alma, Luca, dan Andras, tiga mahasiswa/i asal Hungaria yang tengah menimba ilmu di Bandung dan Yogyakarta. Ketiganya pergi jauh dari rumah, beradaptasi dengan kehidupan di negeri tropis. Dalam kondisi fisik yang kelelahan setelah melakukan perjalanan di Pulau Jawa, ketiganya menyeberangi Selat Sunda, Selat yang sama yang dilalui oleh Tupia. Kedekatan geografis memungkinkan mereka melihat pemandangan yang mungkin-mungkin sama dengan apa yang dilihat oleh Tupia dalam perjalanan di Selat Sunda. Hal ini membuat ketiganya merasa begitu dekat dengan Tupia.

Perjumpaan dengan Tupia

Andras Hesky yang sedang berkuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) sejak September tahun lalu, banyak menghabiskan waktu dengan membaca di perpustakaan kampus. Sampai suatu hari, ia membaca sebuah buku - membahas kesenian barat yang dipengaruhi oleh kebudayaan luar, misalnya saja Islam.

Buku tersebut membahas seni barat mulai dari Renaissance di abad 13 - 15, dan di abad ke-18 nama Tupia disebut di sana, Tupia dengan gaya menggambarnya yang ‘tidak Eropa’ sama sekali. Rasa penasaran menghantarkan Andras untuk mencari informasi lebih lagi mengenai sosok Tupia.

Tupia merupakan seorang Tahiti kelahiran Ra’iatea yang ahli dalam navigasi, geografi Pacific, meteorologi, menggambar dengan gaya lokal, juga imam yang disegani. Tupia membantu menjadi penerjemah antara masyarakat lokal dengan orang Inggris yang tiba di Tahiti untuk mengobservasi Transit of The Venus di tahun 1769.

Setelah ahli tumbuhan dan hewan asal Inggris, Joseph Banks meyakinkan Kapten Cook untuk membawa serta Tupia, akhirnya ia bergabung dalam pelayaran HMS Endeavour untuk menemukan Australia dan New Zealand. Tupia meninggal dalam perjalanan pulang ke Inggris di Batavia pada tahun 1770.

Setelah mendapatkan informasi mengenai Tupia, Andras menceritakan ketertarikannya ini kepada Alma. Keduanya pun meluncur ke Yogyakarta untuk menemui Luca. Berbekal semangat serta rasa penasaran yang sama, ketiganya memulai Proyek Tupia ini dengan melakukan performance di atas kapal ferry yang menyeberangi Selat Sunda, sebuah kegiatan yang digagas oleh Ferial Afif.

Bersambung.. lanjutan cerita ada di sini.

Sumber : Dokumentasi oleh Nathania Gabriele

Penulis: Nathania Gabriele