Proyek Tupia Bagian 2

Dalam penampilannya, mereka membacakan secara lantang bagian jurnal yang menceritakan rombongan Kapten Cook tiba di Selat Sunda sebelum mencapai Batavia, dimana Tupia meninggal di kemudian hari. Jurnal tersebut ditulis oleh Kapten Cook, Joseph Banks, dan ilustrator Sydney Parkinson. Saat itu Tupia telah sekarat, sehingga rombongan berhenti di salah satu pulau untuk mencari buah untuknya. Namun, hanya berhasil menemukan kelapa dan pisang.

Alma, Luca, dan Andras menyertakan kelapa dalam penampilannya. Mereka memakannya sambil membacakan jurnal tersebut ketika bolak-balik menyeberangi selat sebanyak tiga kali. Mereka juga menjahit sebuah kaos dengan kata-kata dalam bahasa Tahiti, Tyau mate see, yang berarti ‘My friends, I am dying’. Kata-kata terakhir dari Tupia yang menyesal telah meninggalkan tanah airnya, sebelum meninggal.


Setelah melakukan performance di atas kapal dan mendokumentasikannya, Alma, Luca, serta Andras melanjutkan petualangannya ke Pulau Damar Besar di Kepulauan Seribu. Pulau dimana Tupia dikuburkan. Namun sayang, mereka tak berhasil menemukan makam Tupia. Di pulau ini, mereka pun melakukan dan mendokumentasikan performance lainnya. Masih menggunakan jurnal yang sama dengan di atas kapal ferry, mereka membakar setiap halaman yang menyebutkan nama Tupia. Abu yang dihasilkan pun dicampur dengan pasir dan tanah dari beberapa tempat di pulau. Di sana, mereka pun berbagi kisah mengenai Tupia pada masyarakat yang sebelumnya tak pernah mendengar nama ini.

Sekembalinya ke kota masing-masing, Ketiganya memutuskan untuk memamerkan hasil dari perjalanannya dan Tupia. Pameran perdana digelar di Omni Space, Bandung pada 2 – 9 Juni lalu dengan tajuk ‘by Means of Tupia’. Menampilkan video dokumentasi dan artefak dari performance yang telah mereka lakukan; catatan harian; foto-foto laut yang merefleksikan ikatan mereka dengan perjalanan Kapten Cook dua setengah abad yang lalu; gambar yang dibuat oleh Tupia; tak lupa, mereka pun membuat timeline yang menceritakan latar belakang sejarah perjalanan dari tahun 1768 – 1771, yang memudahkan pengunjung untuk memahami kisahnya.

Secara keseluruhan, mereka merespon secara artistik hasil temuan yang didapatkan melalui performance, memamerkan dokumentasinya, mengolah hasil riset yang didapatkan dan juga menampilkannya dengan sentuhan artistik, serta mengintepretasi Tupia secara personal. Ketiganya ingin menyampaikan bahwa dibalik sebuah kisah sejarah yang besar, selalu ada ‘orang-orang minor’ yang bersembunyi di belakangnya.

Proyek Tupia yang merupakan kampanye partisipatif ini tak berakhir hingga di sini, mereka melanjutkan pameran ke Yogyakarta pada 22 – 29 Juni di Galeri Sesama. Proyek ini juga akan ditampilkan dalam Thessaloniki Biennale. Selain itu, sebuah platform virtual juga dibentuk melalui website tupia.org, dengan tujuan membangun jaringan fisik dan virtual dengan orang-orang yang mau membantu untuk ‘mengembalikan’ Tupia ke Tahiti sebagai aksi untuk memenuhi keinginannya kembali ke tanah air.

Sumber : Dokumentasi oleh Nathania Gabriele

Penulis: Nathania Gabriele