Q Interview: Wawancara dengan Garhana, Duo Potensial Asal Bandung

Garhana adalah moniker dari duo musik folk/pop asal Bandung berumur belia yang dibentuk oleh Garzibaldi (gitar/vokal) dan Hana (vokal). Beberapa waktu lalu, grup ini menjadi salah satu dari empat nama yang lolos kurasi dari kompetisi WTF: Submit Your Music—gelaran kolaborasi pihak Ismaya Live dan Demajors dalam mencari band-band potensial baru yang akan diberi kesempatan untuk tampil di We The Fest tahun 2018 ini (ada dua kali proses kurasi; pertama dipilih sepuluh teratas dari ratusan band yang mengirim materi musiknya, dari sepuluh itu kemudian dipilih menjadi empat, setelah mereka tampil secara langsung). Nggak heran, sih, jika Garhan menjadi salah satu yang akhirnya terpilih, karena memang penampilan live mereka saat WTF: Submit Your Music Showdown beberapa waktu lalu, bisa dibilang cukup menarik perhatian. 

Nah dari situ, Qubicle menghubungi dua orang ini untuk berbincang dan bertanya beberapa hal. Dalam obrolan yang berlangsung via aplikasi chatting di smartphone, Garhana berbicara soal asal muasal mereka, konsep live mereka yang agak berbeda dengan bentuk asli unit ini, apa saja inspirasi mereka, soal videoklip single terbaru, hingga yang membuat mereka excited sebagai sebuah unit musik.

Bisa diceritakan bagaimana awal pertemuan kalian membentuk Garhana?

Kami dipertemukan di gig ala-ala di Bandung. Saya, (Hana, vokalis) waktu itu sedang liputan buat salah satu media online. Kebetulan waktu itu Zaggle Griff, band lampaunya Garzi (gitaris) sedang menjadi salah satu performernya— eh ini mah awal pertemanan, ketang. Gimana ya? Intinya mungkin awalnya Garzi melihat adanya kesempatan—dalam kesempitan alias modus. Nggak deng. Waktu itu Hana lagi cuti studio, alter ego Garzi lagi membara dan nggak ada pertimbangan lain untuk tidak go! If anything goes wrong, resiko persahabatan nggak ada sih, malah peluang yang cukup menantang dan menarik untuk saling mengenal satu sama lain lebih dalam lagi melalui proyek ini, sebagai partners tentunya. Kami ngerasa memiliki keseimbangan antar persamaan dan keunikan masing-masing yang ingin ditunjukan melalui Garhana.

Bisa dibilang Garhana adalah duo. Namun, kemarin ketika WTF :Submit Your Music Showdown, kalian tampil full set. Apakah konsep ini baru pertama kali dilakukan kemarin atau sebelumnya memang sudah beberapa manggung lebih dari 2 orang? Atau apakah memang, Garhana dalam rekaman dan ketika live, konsepnya sedikit berbeda?

Kami memang duo, tapi untuk format live sendiri kita jadikan sefleksibel mungkin tergantung dari acaranya seperti apa, ruangnya, dan juga budgetnya. Sampai saat ini, kami punya 3 format yaitu duo, trio (set akustik), dan full band. Kenapa seperti itu? Singkatnya kita ingin memberikan experience yang berbeda kepada audience di tiap-tiap kita live. Bisa dibilang ini adalah respon Garhana dari sebuah fenomena masyarakat zaman sekarang yang suka bosenan, setuju nggak?

Garzibaldi dan Hana, otak dibalik duo Garhana. (foto oleh Gladina Shaska)

Siapa yang menginspirasi kalian sehingga memilih ragam musik seperti yang kalian mainkan ini?

Banyak sekali yang menginspirasi kami untuk bermusik, agak bingung juga sebetulnya mau mulai dari mana dulu; dari film-film dan buku/novel or other inspirational sources. Inginnya, sih, menghadirkan mood saat karya/ lagu itu diciptakan.

Apa aja cerita seru dibalik video klip single terbaru kalian, “A Long Short Dream”?

H-seminggu dan talent kami mengundurkan diri karena ngerasa under pressure, untungnya hadir Maria dengan pengalaman perdananya jadi talent video clip beginian. Thank God she hits the spot sih! Oh iya, cukup terhibur juga Garzi hari itu jadi cakep ala oppa Korea soalnya “terpaksa” didandanin.

Ngomong-ngomong soal mimpi, apakah kalian ingat, mimpi aneh apa yang terakhir kalian alami?

Garzi jalan bareng Carissa Peruset terus hal-hal lain terjadi. Kalo Hana terakhir kali mimpi sih nggak inget, maklum pikun. Namun, mimpi teraneh yang nggak bisa dilupakan adalah tiba-tiba tubuh berubah jadi tablet terus melayang-layang dalam kegelapan. Lebih ke bad dream atau bad trip ya itu? Besoknya masuk rumah sakit opname.

Bagaimana proses kreatif di dalam Garhana selama ini?

Fleksibel! Untuk lagu-lagu Garhana, kami nyari notasinya dulu baru liriknya. Kadang pakai tulisan Hana di notebooknya, kadang Gege punya cerita yang dikembangkan Hana, kadang Garzi nulis ataupun memiliki punch line, meskipun cuma sebait pasti kami rekam dulu di voicenotes dan sisanya menyusul. Ya amor fati aja sih, seorganik dan sesantai mungkin, cari yang pas aja dalam waktu dan keadaan tertentu. Dan yang sangat membantu proses kreatif selama ini adalah digging dan more digging dari lagu, film, buku ataupun hanya sekedar nongkrong. Dan terkadang kita berkontemplasi jg kalau butuh. Hmm, namaste.

Hana, vokalis dari Garhana. (foto oleh Gladina Shaska)

Sebagai band yang lolos kompetisi WTF: Submit Your Music, apa pendapat kalian soal gelaran tersebut? Apa pendapat kalian juga tentang We The Fest? Ada yang ingin kalian tonton secara khusus?

WTF: Submit Your Music sangat membantu musisi/band-band khususnya yang baru lahir mungkin ya, untuk selain challenge, juga memperkenalkan karya, dan juga bersaing secara sehat di lingkup yang lebih luas lagi, serta untuk mendapatkan kesempatan untuk tampil di festival bertaraf international, so thank to We The Fest for giving us the chance to be part of this.

Menurut kita WTF selalu memberikan pengalaman yang sangat berkesan bagi semua yang terlibat di dalamnya, sebagai salah satu festival bertaraf international yang selalu ditunggu-tunggu setiap tahunnya oleh kami, masyarakat yang kurang hiburan. Hehehe. Sudah lama sekali kami mendambakan The Strokes main di Indonesia. Nah, tahun ini dengan adanya Albert Hammond Jr. di We The Fest sudah lebih dari cukup untuk kami Degdegan sih jadinya—seneng maksudnya.

Aksi live Garhana yang cukup memukau di WTF:Submit Your Music Showdown. (foto oleh Habsi Mahardicha)

Apa yang kalian amati dari kancah musik lokal saat ini, khususnya di Bandung?

Khusus di Bandung, banyak sekali acara musik yang berbasis kolektif dengan spirit untuk memajukan kancah, hanya saja masih kurang terfasilitasi dan belum terakomodir dengan baik.

Hal apa saja yang membuat kalian merasa excited sebagai sebuah band?

Bisa menyambangi tempat-tempat baru, bertemu dengan banyak orang baru yang memiliki ilmu baru. Dan tentunya bisa terus berkarya karena “art is a mirror of society” dalam bermusik. Diberi semangat dan tanggung jawab untuk menjadi moral public figure juga sih secara tidak langsung—semoga dapat menyebarluaskan nilai-nilai that really matters in life. Apa lagi ya? Excitement of memikirkan chances of becoming a philanthropist one day, hahaha! Ingin banget berperan dan memberi manfaat ke mereka yang membutuhkan, like financially donating to charity foundations. Can’t wait for that day to come, hahahahaha! Ya bismillah aja dulu.

Apa rencana Garhana sepanjang sisa tahun ini?

Rencana kami tahun ini adalah terus berkarya terus dan terus pastinya, membuat materi utk EP/album perdana, dan kalau tidak ada halangan kami berencana untuk menggelar showcase sendiri di akhir tahun ini yang mudah-mudahan terlaksana dan dilancarkan. Doain yah!

Garhana saat tampil di WTF: Submit Your Music Showdown beberapa waktu lalu. (foto oleh Habsi Mahardicha)

Garhana akan tampil di We The Fest 2018 yang berlangsung tanggal 20-22 Juli 2018 di JIEXPO, Kemayoran, Jakarta.