Music
MusicLife

Record Store Day : Merayakan Hari Rilisan Fisik Musik Dunia

Sejak beberapa tahun yang lalu, popularitas piringan hitam tiba-tiba menanjak secara berkelajutan. Para musisi pun akhirnya melihat ini sebagai format  lain untuk menyebarkan karyanya.

Tren rilisan piringan hitam (vinyl) ini pun juga dilihat sebagai kesempatan para musisi lama untuk merilis ulang karya-karya mereka yang terdahulu, seperti The Beatles yang album Abbey Road-nya berhasil menempati posisi 5 sebagai plat album terlaris tahun 2017 seperti data yang dirilis oleh Official Charts Company.

Posisi teratas di daftar ini ditempati oleh album Divide milik Ed Sheeran yang berhasil terjual 21 ribu kopi secara global. Yang disusul oleh album Back to Black milik Amy Winehouse, dan nama-nama besar lain seperti David Bowie, The XX, Pink Floyd, Nirvana, Arctic Monkeys, A Tribe Called Quest, The Stone Roses, hingga OASIS.


Budaya mengoleksi rilisan fisik satu ini memang cukup seksi, sehingga sangat mewabah di generasi millennial. Tak heran sejak tahun 2008 lalu dicetuskan Record Store Day yang berlangsung di beberapa tempat di Amerika. Setelahnya itu setiap tanggal 22 April setiap tahun Record Store Day diselenggarakan secara global di berbagai negara.

Tahun ini menandai ulang tahun ke 10 dari Record Store Day, sebuah acara  tahunan untuk merayakan toko rekaman independen lokal. Ini juga menjadi hari raya ketika penggemar rilisan fisik berduyun-duyun ke toko musik mencari rilisan edisi eksklusif dan terbatas dari musisi idola. Tahun ini duta  Record Store Day 2017 jatuh pada St. Vincent. 

Data dari Nielsen, walau  streaming sekarang adalah cara yang paling populer untuk mengakses musik, Record Store Day telah menambahkan bahan bakar yang signifikan untuk kebangkitan format piringan hitam.

Saat Record Store Day pertama di tahun 2008   penjualan digital berkembang dengan cepat. Namun toko-toko rekaman kecil bisa menyumbang  7% penjualan  fisik musik di Amerika. Hal itu yang membuat   benih-benih pelaksanaan Record Store Day setiap tahun makin membesar.

Ketika tahun kedua pelaksanaan bergulir, dampak penjualan bahkan lebih dramatis lagi, dengan peritel independen penjualan naik sebesar 21% pada minggu awal Record Store Day.

Penjualan vinyl di pengecer indie minggu melonjak 114% dan menyumbang 75% dari seluruh penjualan vinyl. Pada titik ini jelas Record Store Day bukan hanya kekuatan positif dan signifikan bagi peritel indie,  namun juga menjadi anugerah bagi industri musik secara keseluruhan. Trend ini rasanya perlu diserap untuk pasar Indonesia. Agar makin banyak rilisan dalam format vinyl dirilis.

Tahun ini Indonesia juga ikut ambil bagian dalam euforia perayaan Record Store Day tersebut. Mengambil tema peayaan 10 tahun Record Store Day, di Jakarta sendiri perayaan Record Store Day akan mengambil lokasi di Lantai 7 Kuningan City, Jakarta Selatan pada 21-22 April 2017. Untuk tahun ini, puluhan peserta/toko musik independent turut serta dalam pesta besar rilisan fisik ini. Tercatat di kota-kota lain juga banyak yang menggelar acara serupa.

Sementara untuk rilisan khusus, dimana para musisi memang selalu mengambil momen Record Store Day untuk merilisnya, sekitar 40 (akan terus bertambah) rilisan secara khusus dirilis saat Record Store Day, seperti The Trees And The Wild – Monumen (EP), Petaka – Live at Extreme Moshpit (kaset), Payung Teduh – Live and Loud (kaset), Giant Step – Life Not The Same (Cd, Vinyl, kaset,-boxset), Alice – Konsorsiumhumaniora (kaset), dan beberapa rilisan lainnya.

Selama dua hari, para pengunjung juga akan dihibur dengan penampilan beberapa band seperti Giant Step, Petaka, Fable, The Trees And The Wild, Dialog Dini Hari, Monkey To Millionaire, Barefood, Skalie, Sentimental Moods, Indische Party, Polyester Embassy, Piston, Ramayana Soul dan banyak lagi lainnya. Selain performance band, juga ada workshop, lelang dan interactive activity.

Selamat merayakan Hari Rilisan Musik Fisik Dunia.


Oleh: Irvan Gaza & Widya.S  / Foto: RSD 2017