RemajadanKegalauan:HikayatOrangMudaMenyintasZaman

March 13, 2018Qubicle Art
Mengapa novel ini disukai oleh para pembunuh?


Oleh: Rowland Prichard T

“Kamu sudah baca si JD Salinger? Eh kamu tau kan Salinger?”

“Ya taulah Bu. Tapi kalo baca emang sih belum. Susah bukunya. Sekali nemu di Kinokuniya. Mahal!”

Percakapan di atas terjadi beberapa tahun silam waktu saya masih duduk di bangku kuliah. Ibu dalam percakapan tadi, adalah ibu dosen P.K.K (Pengantar Kajian Kesusastraan) sekaligus dekan Fakultas Sastra. Orangnya nyentrik. Amerika-sentris dalam pengertian tersempitnya.

Sambil menghisap rokok Marlboro merah kesukaannya, Ibu dosen ini mengajak saya berpikir lompat-lompat di atas lintasan Sejarah Sastra Amerika. Pertama membahas si bengis Ernest Hemingway (A Farewell to Arms, Moveable Feast, The Old Man and The Sea), lalu ngulik si Trancendentalis dan penyendiri akut Henry David Thoreau (On Duty of Civil Disobedience dan Walden). Kemudian berpikir ideologis tentang si moralis John Steinback (Tortilla Flat dan Of Mice and Men) cekikian ngomogin Mark Twain (Tom Sawyer dan Huckleberry Finn). Atau kesel diskusiin novel si suicidal girl Sylvia Plath (The Bell Jar).

Memang saya akui, awal pertemuan ini hanya sebatas mengenal karakter beliau yang terkenal killer. Jadi saya pikir, iseng-iseng berhadiah deh. Ajak ngobrol sekalian pdkt intelektual. Gak ada salahnya toh. Tapi beberapa menit di ruangannya yang penuh asap, saya justru makin tertarik untuk terlibat perbincangan serius.

Sehabis membahas tentang pendekatan Sastra baik secara Intrinsik maupun Ekstrinsik di ruang kelas, saya penasaran. Kenapa kok karya Sastra yang dipakai untuk dikaji dalam mata kuliah P.K.K selalu Sastra Amerika. Jawabannya menarik. Menurut beliau, saya kutip langsung aja ya, “Ya kamu mikir aja. Dari pada baca karya si tua bangka Shakespeare. Atau Jane Austen atau Charles Dickens yang tebal-tebal membosankan. Lebih baik mengupas Sastra Amerika yang penuh liku-liku tema dan plotnya!”.

Jujur, sampai di sini. Saya jatuh cinta sama pemikiran beliau.

Singkat kata, saya dipinjami novel si Salinger ini. Dan saya selalu bermulut besar akan membunuh tokoh penting seperti yang dilakukan Mark David Chapman (disinyalir Chapman membaca habis novel Salinger) si pembunuh John Lennon. Tapi sampai detik ini, saya tidak pernah membunuh seorang pun.

Lulus kuliah, novel saya kembalikan kepada yang punya. Saya pun meneruskan cerita hidup dengan bekerja. Sampai beberapa waktu lalu, saya melihat di Instagram Post Santa, buku JD Salinger yang sempat saya pinjam dulu: Catcher in The Rye tapi versi terjemahan Bahasa. Tergoda hati saya untuk mencoba mencari-cari dalam ingatan otak tentang apa sih novel hebat itu. Sayang, tidak satu pun ingatan berhasil saya panggil. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli novel itu lagi.

Nicholas Hoult sebagai JD Salinger - Sebuah Film Biopic yang disutradarai oleh Danny Strong (Huffingtonpost.com)

Pelayanan toko buku post santa baik sekali. Tidak perlu waktu lama, dari saya mentransfer sampai magnum opus itu datang ke kantor dan saya peluk. Literally, saya peluk. Mungkin kedengarannya aneh. Tapi bagi kami anak Sastra, buku Sastra itu dejaratnya satu tingkat di bawah Kitab Suci. Jadi gak boleh sampe salah-salah. Kualat!

Sampai rumah, saya buat peraturan. Satu minggu habis ini buku. Dan ternyata belum sampai satu minggu, novel ini kelar. Sebagai anak Sastra lulus cum laude, ada baiknya saya bagikan perenungan saya terhadap salah satu novel terbaik abad modern.

Si Phoebe mengucapkan sesuatu, tetapi aku tidak dengar. Sisi mulutnya terbenam di dalam bantal, dan aku tidak bisa dengar apa yang ia katakan.
“Apa”? katanya. “Jangan kau tutupi mulutmu. Aku tak bisa dengar dengan mulut seperti itu.”
“Kau tidak suka apa pun yang terjadi.”
Aku menjadi semakin sedih begitu ia bilang itu.
“Ya betul. Ya betul. Tentu aku memang begitu. Tak perlu bilang itu. Kenapa kau bilang begitu?
“Karena memang kau begitu. Kau tidak suka sekolah apa pun. Kau tidak suka sejuta hal. Kau tidak suka.”

Percakapan di atas adalah saat tokoh Holden Caulfield yang dikeluarkan dari sekolahnya untuk kesekian kali, diam-diam menyelinap ke apartemen keluarganya untuk bertemu adiknya, Phoebe. Dalam percakapan singkat itu, saya menyadari bahwa tokoh Holden benar-benar tokoh favorit seorang pembunuh. Ia selalu tidak suka apapun. Ia selalu benci semua orang. Ia selalu marah-marah. Ia pasti selalu punya alasan untuk tidak suka dengan segala hal di sekelilingnya.

Walau plot yang dibangun Salinger tergolong lurus-lurus saja, tapi tiap tokoh Holden bertemu dengan masalah, pasti menarik untuk disimak bagaimana reaksinya. Agak terbawa emosional juga loh saat membaca Catcher in The Rye. Bawaannya mau marah mulu. Hehehe…

Holden memang digambarkan begitu menikmati masa mudanya. Sebagai seorang remaja, Holden tidak bodoh-bodoh amat. Pertemuan dengan gurunya dulu menyiratkan bahwa tokoh Holden sebenarnya cerdas. Sayang sih, kecerdasan Holden lebih tertutupi oleh kegalauan jiwa muda mencari jati diri. Sehingga banyak pilihan yang (kalau boleh bermoral sudut pandangnya) salah. Tapi bisa jadi, tokoh Holden adalah gambaran sejati kaum muda untuk survive di zaman serba digital ini. Berbuat sesuka hati, selama bisa dipertanggungjawabkan.

Kalau kalian udah pernah baca Cather in The Rye dan punya pandangan lain, saya sangat senang untuk mendengarnya. Coba kirim tulisanmu dan tulisan-tulisan lainnya tentang seni visual, desain, film bahkan sastra ke alamat email retina@qubicle.id

Siapa tau, tulisan kalian dimuat di channel Retina. Tidak ada salahnya menulis untuk dunia, toh berkaca dari tokoh Holden, lakuin aja dulu. Ditunggu ya!

Jangan lupa follow

IG: @retinaqube

FB: Retinaqube

Like what you read? Give Qubicle Art your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Comments

    Qubicle User

    Qubicle Art

    If you curious about visual art movement, here is the best place to feed your curiosity.

    Stay Updated.

    Every day, a dose of inspirations.🎉
    Subscribe Qubicle
    Qubicle Logo
    © 2018 Qubicle. All rights reserved
    FOLLOW US