RiwayatOrkesGambusSyechAlbar,AyahAhmadAlbar

March 14, 2017Qubicle Music


Siang itu, alunan suara khas Timur Tengah menyeruak di seluruh ruangan perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Jawa Barat. Anton Solihin, atau yang biasa saya sapa Bang Anton, sedang memutar lagu itu. “Ini lagu Syech Albar,” kata Bang Anton.

Lagu itu dimainkan oleh orkes gambus pimpinan Syech Albar. Alunan musiknya mendayu-dayu. Namun, tentu saja saya tak mengerti arti lirik lagunya. Sebab, dinyanyikan dalam bahasa Arab. Menurut Andrew N. Weintraub[1], musik Timur Tengah sangat punya peran pada orkes gambus. Orkes jenis ini menonjolkan alat musik petik berleher panjang tanpa papan nada (gambus) dan gendang dengan membran-ganda kecil.

Diperkirakan gambus masuk ke Indonesia melalui imigran dari kawasan Hadramaut (Yaman). Syech Albar─dalam sumber-sumber lawas disebut Sech Albar─merupakan ayah kandung dari musisi rock dan pop, Ahmad Albar dikenal sebagai vokalis God Bless.

Namun, meski bertalian darah, warna musik Ahmad Albar dan ayahnya jauh berbeda. Syech Albar tenar pada 1930-an sebagai seorang musisi gambus. Meski, selama beberapa lama, Ahmad Albar juga pernah bernyanyi dangdut─genre musik yang menurut Weintraub terbangun dari gambus. Ingat lagu "Zakia"?



Bermain Gambus dan Kasidah

Syech Albar lahir di Surabaya pada 1908. Ayahnya menyekolahkan Albar di Madrasah Al Chairijah di Surabaya, dan Madrasah Al Irsjad di Batavia. Namun, Albar tak menyukai pelajaran agama yang selalu diterimanya di sekolah tadi. Sepulang dari sekolah, ia kerap menyempatkan diri bermain gambus dan berkasidah. Ayahnya tak menyukai Albar memetik gambus dan menabuh rebana. Jika kedapatan sedang memetik gambus dan berkasidah, ayahnya geram. Tak segan, ayahnya akan membuang gambus yang dipetiknya. Oleh karena itu, Albar seringkali ngumpet-ngumpet untuk bisa menyalurkan hasrat seninya itu.

Suatu hari, ayahnya jatuh sakit. Lamat-lamat, ia mendengarkan suara orang bermain gambus dengan sangat merdu. Suara permainan gambus itu membuat ayahnya tenang. Setelah tahu yang bermain gambus itu adalah anaknya sendiri, maka Albar dizinkan bermain gambus dan berkasidah. Albar hanya bersekolah hingga kelas III. Pada 1921, ia mengunjungi tanah leluhurnya, Hadramaut di Yaman. Sebelum pulang ke Hindia Belanda pada 1926, Albar berkunjung ke Aden, Yaman. Ia belajar bermain gambus kepada Sayid Thaha bin Alwi Albar.


Ia menuntut ilmu selama tiga bulan. Setelah kembali ke Surabaya, ia belajar dengan seniman gambus Ahmad Faris[2]. Lama kelamaan, keahlian Albar meningkat tajam. Menurut Denny Sakrie[3], Syech Albar memiliki orkes gambus bernama Al Wathon. Namun, pendapat ini berbeda dengan tulisan L.M. Isa di Pedoman Radio Gids. Isa menyebut, Al Wathon─dalam artikel Isa tertulis Al Wathan─merupakan nama orkes gambus di Batavia pimpinan Al Aidrus[4]. Mungkin saja ada kemiripan nama. Akan tetapi, saya sendiri tak berhasil menemukan nama orkes gambus pimpinan Syech Albar ini. Menurut Andrew N. Weintraub[5], Syech Albar banyak menelurkan rekaman plat gramofon di Surabaya.

Rekaman plat gramofonnya pada 1937 diberi judul “Zahrotoel Hoesoen”, dengan keterangan “nyanyian Arab modern”. Lagu ini bernuansa Arab dengan gaya vokal suara rendah, diiringi pola irama rumba yang dimainkan dengan rebana, tamborin, dan ketik-ketik (clave) atau potongan kayu keras. Lagu ini juga diiringi dua gambus dan biola. Lagu tersebut direkam di label His Master’s Voice (HMV). Penulis artikel L.H. Isa[6] menulis, Albar dapat kontrak pertama kali dengan HMV pada 1931. Selain di HMV, orkes gambus Syech Albar juga masuk dalam label Canary. Keterangan ini saya dapatkan dari disertasi Philip Bradford Yampolsky[7]. Menurut Yampolsky, Canary adalah label petualang, yang tak hanya merekam keroncong dan tembang Sunda. Syech Albar, juga merekam suaranya di label ini. Weintraub[8] mencatat, label Canary merekam orkes Syech Albar yang bernuansa Hindustan, berjudul “Janasib I & II” pada 1939.

Tersohor di Surabaya

Budayawan Betawi, Alwi Shahab[9] menuturkan, orang-orang keturunan Arab terbiasa memainkan gambus di sela-sela waktu, terutama malam hari. Dalam perkembangannya, musik jenis ini diminati juga oleh masyarakat selain keturunan Arab. Maka, gambus menjadi musik pengiring pesta pernikahan. Gambus pernah menjadi musik paling populer hingga menjelang tahun 1950. Salah satu perintisnya Syech Albar. Corong radio zaman kolonial pun tak ketinggalan menyiarkan suara Syech Albar yang terdengar lembut dan merdu itu. Jika kita membuka majalah Soeara Nirom Soerabaia, niscaya nama Syech Albar ada di program siaran Nirom Surabaya. Orkes gambus pimpinan Syech Albar sangat digemari pada 1930-an. Saking digemarinya, Nirom Surabaya sampai-sampai terus mengundang orkes gambus ini dan bermain di studio mereka sebulan sekali[10]. Kali pertama, orkes gambus Syech Albar ini mengudara pada 1935[11]. Nirom Surabaya pun memuji, dengan mengatakan “dibawah pimpinan Syech Albar, maka gamboesorkest dari pada Nirom Ketimoeran di Soerabaia, adalah satoe-satoenja orkest jang boleh dibanggakan. Hal ini, boekan dari kesombongan kita, akan tetapi terboekti dari pada adanja rapport-rapport dan soerat-soerat jang menjatakan akan baiknja orkest itoe”[12]. Bahkan, menurut Nirom Surabaya, orkes gambus Syech Albar digemari hingga ke Semenanjung Melayu. Shahab[13] pun menulis, orkesnya disukai di Timur Tengah. Judul-judul lagu yang dimainkan orkes gambus Syech Albar beragam.

Biasanya mereka bermain di hari Rabu malam, sekitar pukul 20.30 WIB atau 21.15 WIB, dan bermain selama dua setengah jam diselingi lagu Melayu. Rutin sebulan sekali. Pada siaran tanggal 28 Januari 1937, orkes gambus Syech Albar memainkan lagu “Naroelchoek”, “Zahratoel Hoesan (Carioca)”, “Moetrib Foeadi”, dam “Doer Sjami”[14]. Lalu, pada siaran tanggal 9 Februari 1937, orkes gambus ini memainkan lagu berjudul “Joenadji (Mama)”, “Nalat Alajadiha”, “Ja Bibi Aidid”, dan “Janakisol Dawan”[15]. Kemudian, pada siaran tanggal 10 Maret 1937, orkes gambus Syech Albar memainkan lagu “Loela”, “Malimah Boebee”, “Al Ghazal”, dan “Lauatoel Oesjah” (Soeara Nirom Soerabaia, 1 Maret-15 Maret 1937: 33). Lantas, pada siaran tanggal 31 Maret mereka memainkan lagu “Arabia Rumba Djoefnoekoe”, “Ja Gazalan Soda Galbe”, “Silwan”, dan “Al Fadjar”[16]. Dari sini kita bisa melihat, betapa produktifnya Syech Albar menciptakan lagu untuk diperdengarkan di corong radio Nirom Surabaya. Mengenai hubungan pribadi, Menurut Ramadhan KH dan Nina Pane[17], Syech Albar menikah dengan Farida, gadis keturunan Maroko yang lahir di Pekalongan pada 1928. Saat menikahi Farida, yang masih berusia 14 tahun, Syech Albar sudah berstatus duda beranak dua. Selain Ahmad Albar, Farida melahirkan Saadiah Albar. Syech Albar wafat di Surabaya akibat penyakit TBC pada 30 Oktober 1947[18].


Orkes gambus Syech Albar memengaruhi peta musik tanah air. Menurut Alwi Shahab, jalan yang dirintis Syech Albar kemudian diikuti pemuda-pemuda keturunan Arab di berbagai daerah. Sejumlah orkes gambus pun muncul. Shahab[19] mencontohkan, di Batavia muncul orkes gambus bernama Al Usysyaag yang didirikan Husein Aidid pada 1947. Selain di Batavia, orkes gambus yang bermunculan sejak Syech Albar tenar, di antaranya Al Lahdji di Makassar dengan pimpinan Abdur Rahman Al Lahdji dan orkes gambus pimpinan S. Abas Almenaar di Palembang[20]. Di tengah populernya musik keroncong, di bawah Syech Albar, gambus menyeruak sebagai salah satu musik yang patut dicermati.

Musik jenis ini, meski tak sesubur pertumbuhan keroncong, saat masa kolonial hingga beberapa dekade setelah kemerdekaan, mampu menjaring peminat, tak hanya di kalangan keturunan Arab saja. Pedoman Radio Gids mencatat, Albar pintar mengolah orkes gambusnya hingga terasa pas di telinga masyarakat umum segala kalangan. Majalah ini berpendapat, Albar adalah pelopor musik gambus di Hindia Belanda, yang bisa dinikmati semua golongan[21].



[1] Weintraub, Andrew N. 2012. Dangdut; Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia. Jakarta: KPG. Hlm. 41.

[2] Isa, L.M. “Mengenangkan Almarhum Sjech Albar” dalam Pedoman Radio Gids, 4 Desember 1949. Hlm 10.

[3] Sakrie, Denny. 2015. 100 Tahun Musik Indonesia. Jakarta: Gagas Media. Hlm 10.

[4] Isa, L.M. “Mengenangkan Almarhum Sjech Albar” dalam Pedoman Radio Gids, 4 Desember 1949. Hlm 10.

[5] Weintraub, Andrew N. 2012. Dangdut; Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia. Jakarta: KPG. Hlm. 42.

[6] Isa, L.M, “Mengenangkan Almarhum Sjech Albar” dalam Pedoman Radio Gids, 4 Desember 1949. Hlm 10.

[7] Yampolsky, Philip Bradford. 2013. Music and media in the Dutch Esat Indies: Gramophone records and radio in the late colonial era, 1903-1942 (Disertasi). Washington DC: Washington University. Hlm. 165.

[8] Weintraub, Andrew N. 2012. Dangdut; Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia. Jakarta: KPG. Hlm. 42.

[9] Shahab, Alwi. 2004. Saudagar Baghdad dari Betawi. Jakarta: Republika. Hlm. 24-25.

[10] Soeara Nirom Soerabaia, 28 November-11 Desember 1937. Hlm. 6

[11] Isa, L.M. “Mengenangkan Almarhum Sjech Albar” dalam Pedoman Radio Gids, 4 Desember 1949. Hlm 10.

[12] Soeara Nirom Soerabaia, 16 Mei-29 Mei 1937. Hlm. 6

[13] Shahab, Alwi. 2004. Saudagar Baghdad dari Betawi. Jakarta: Republika. Hlm.25

[14] Soeara Nirom Soerabaia, 10 Januari-31 Januari 1937. Hlm. 37

[15] Soeara Nirom Soerabaia, 1 Februari-15 Februari 1937. Hlm. 31

[16] Soeara Nirom Soerabaia, 1 April-15 April 1937. Hlm. 43

[17] KH, Ramadhan dan Nina Pane. 2006. Pengusaha, Politikus, Pelopor Industri Film; Djamaludin Malik Melekat di Hati Banyak Orang. Jakarta: Kata Hasta Pustaka. Hlm 80

[18] Isa, L.M. “Mengenangkan Almarhum Sjech Albar” dalam Pedoman Radio Gids, 4 Desember 1949. Hlm 10.

[19] Shahab, Alwi. 2004. Saudagar Baghdad dari Betawi. Jakarta: Republika. Hlm.25

[20] Isa, L.M. “Mengenangkan Almarhum Sjech Albar” dalam Pedoman Radio Gids, 4 Desember 1949. Hlm 10; Pedoman Radio Gids, 16 Januari 1949. Hlm 19.

[21] “Ketika Malam’lah Datang” dalam Pedoman Radio Gids, 13 November 1949. Hlm 5


Oleh Fandy Hutari
Penulis lepas, peneliti sejarah. Tinggal di Jakarta.
Blog: www.fandyhutari.com

Like what you read? Give Qubicle Music your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Qubicle User

Qubicle Music

Similar stories

Stay Updated.

Every day, a dose of inspirations.🎉
Subscribe Qubicle
Qubicle Logo
© 2018 Qubicle. All rights reserved
FOLLOW US