Saling Belajar dan Mengajari ala Fave Team (Bagian 2 dari 2)

Agra memberi contoh soal saling belajar dan mengajarkan itu, misalnya pada proyek mural di Bandung. Fave membuat mural di tembok 8x6 meter mengikuti gambar yang didesain oleh Elfan. “Pada saat membuat mural itu, kami minta diajari dulu oleh Elfan bagaimana cara melukis sesuai dengan gambar yang dia bikin,” kata Agra. Elfan lalu memberi contoh dengan mempraktekannya langsung di tembok. “Setelah itu kami ikutin arahannya dia,” kata Agra.

Sejauh ini, menurut Agra, karya yang paling sulit dibikin adalah gambar seluas 7,4 x 4 meter di sebuah tembok di rumah seorang pengusaha di Surabaya. Mural yang judulnya Ballads of the Stars itu oleh Agra dan Bayu disebut sebagai mural yang paling menguras emosi dan tenaga, dibikin saat puasa pula. Pada saat mengerjakan itu terpaksa mereka ngalong alias menjadi kalong alias kerja di malam hingga subuh hari dan tidur dari pagi hingga sore hari.

Dalam satu gambar itu ada empat unsur panorama yang digambar keroyokan oleh tim Fave. Ada unsur air, kota, awan-gemawan, dan langit luar angkasa yang bertabur bintang dan pesawat ulang-alik seperti pesawat-pesawat yang ada di Star Wars. Tiap-tiap unsur itu menuntut teknik dan detail yang berbeda-beda. “Di proyek itu kami merasa kami benar-benar diuji,” kata Agra. Apalagi pada saat pengerjaan banyak kecelakaan-kecelakaan kecil yang membuat hati semakin panas. Tapi akhirnya setelah 16 hari bekerja, gambar itu jadi juga.

Setiap kali membuat mural tahapannya hampir selalu sama. Gambar di kertas hasil nge-print dijadikan panduan. Dengan panduan itulah mereka menggambar ulang di tembok atau di lantai, dengan skala yang jauh lebih besar. Menurut Bayu, karena bidang gambar yang mereka kerjakan lebih besar, menggambar jadi lebih mudah.

Proyek kedua tersulit adalah proyek mural di tembok @america,  Jakarta. Apa sebab ia dibilang proyek tersulit? Di sana Fave mengerjakan empat tembok dalam sekali waktu. Tak hanya itu saja, tembok yang dikerjakan pun ukurannya lumayan jumbo, semuanya di atas tujuh meter. Di tempat ini spesialisasi tiap-tiap anggota Fave seolah tersalurkan, sebab hampir setiap desainer kebagian menggarap satu tembok. Agra, Elfan, dan Abdi mendesain gambar untuk satu bidang tembok.

Kendati sudah berjalan selama hitungan tahun dan sudah menggarap puluhan proyek, bikin-membikin mural tetaplah proyek sampingan bagi semua anggota Fave. Di luar proyek ini, mereka punya pekerjaan lain. Setahun belakangan proyek mural yang diterima Fave agak berkurang. Barang kali, kata Dika, salah satu sebabnya adalah ada banyak tim-tim mural lain bermunculan baik dari Bandung, Yogyakarta, dan Jakarta. “Tapi kami sesama pembuat mural tak pernah merasa saling bersaing. Malah saling memuji dan saling bertanya,” kata Dika.    


Penulis: Ananda Badudu