Satu Cerita tentang Payung Teduh

Oleh: Felix Dass

Payung Teduh adalah kisah yang tidak bisa ditiru. Rasanya banyak faktor tidak kelihatan yang membuat band ini bisa terus berjalan kencang sampai hari ini. Termasuk kisah sebuah malam di Jakarta yang sesak.

Kota ini sedang padat-padatnya ketika saya memutuskan untuk berjalan kaki dari Plasa Semanggi ke Yamaha Music Hall, beberapa gedung di sebelahnya. Saya tinggal hanya sekitar dua kilometer dari lokasi itu, tapi tidak punya kuasa besar untuk membawa kendaraan sendiri. Naik ojek, adalah pilihan yang paling baik untuk ditempuh.

Karena tenggang rasa, saya memutuskan untuk turun di pelataran gedung perbelanjaan itu supaya si tukang ojek bisa memutar balik via jalan samping Plasa Semanggi dan kembali ke kawasan tempatnya menciduk saya sebelumnya. Jalan itu lebih bijak ketimbang memutar balik di perempatan Kuningan dan kembali lewat Slipi. Saya tahu rasanya macet-macetan di salah satu ruas paling besar milik Jakarta itu.

Malam itu, Payung Teduh adalah hal yang perlu dibela. Keluar rumah di jam segitu, juga bukan merupakan pilihan yang bijak. Saya menghargai undangan yang dikirim ke ponsel saya, pertunjukan menurut undangan itu akan dimulai pukul 19.00 WIB. Jadi, bergegas adalah keharusan. Takut terlambat.

Saya lupa, tidak memberi akal sehat untuk berproses. Mana mungkin orang bikin pertunjukan pukul tujuh malam di daerah neraka jahanam. Benar saja, sesampainya di venue pertunjukan, sebuah ruang resital privat milik Yamaha Musik Indonesia, semua orang nampak masih sangat santai. Pertunjukan ini tertutup untuk umum. Konsentrasi penonton tidak banyak.

Pertunjukan baru dimulai pukul 20.00 WIB, sejam lebih lambat dari pemberitahuan e-flyers yang saya terima.

Begitu pintu lift terbuka, suasana lantai lima, level tempat ruang resital itu berada nampak riuh rendah tapi masih santai. Di sisi kanan, mata langsung menangkap konsumsi gratis yang nampaknya menjadi fasilitas bagi orang yang diundang datang. Ah, memang ganjaran yang sepadan untuk orang yang datang sesuai waktu yang telah ditentukan.

Suasananya santai. Tidak berapa lama, Rossi Rahadian, sound engineer Payung Teduh datang. Ia meneriakkan nama saya dari jauh.

“Lix, apa kabar?” ucapnya. “Terima kasih ya sudah datang.”

“Apa sih ini sebenarnya,” tanya saya balik.

“Ini Yamaha sebenarnya mengetes produk baru mereka, live recording console. Makanya ngajak Payung Teduh,” jawabnya.

Rossi adalah orang yang bertanggung jawab untuk tata suara, tapi ia nampak santai. Sejam sebelum pertunjukan dimulai, ia masih haha-hihi di ruang konsumsi dan menyeduh kopi serta mengambil beberapa buah lemper ayam pedas yang tersedia.

Tidak berapa lama, Yurie Dian, bekas manajer Efek Rumah Kaca yang sekarang menjadi media relations Payung Teduh menghampiri juga. Kami mengobrol. Membahas beberapa hal yang tidak penting untuk orang banyak tapi signifikan untuk kedua belah pihak. Catching up istilahnya. Terakhir kami bertemu di Synchronize Fest 2016 beberapa minggu sebelumnya.

Suasana cair itu, berbeda drastis ketika dua orang yang saya temui tadi mengurus pertunjukan Sinestesia milik Efek Rumah Kaca di Teater Besar Taman Ismail Marzuki awal tahun ini. Kebetulan, keduanya memang pernah bekerja untuk Efek Rumah Kaca. Di Jakarta, orang-orang produksi di scene independen adalah itu-itu saja. Mereka berputar dari satu band ke band lainnya. Lihat kondisi dan panggilan telepon saja. Demand banyak, tapi supply keok. Jadi, ya dia lagi, dia lagi.

Ketika sedang mengobrol dengan Yurie, Istiqamah Jamad –biasa dipanggil Is— vokalis Payung Teduh menghampiri kami. Saya menjabat tangannya sambil membuka pembicaraan, “Wah, kita udah lama banget nggak ketemu ya?”

Ia menimpali, “Iya ya?”

Memang begitu adanya. Saya sudah lama sekali tidak datang ke pertunjukan Payung Teduh. Lemper mencairkan suasana.

“Terima kasih ya sudah datang, ngomong-ngomong gugup juga nih,” lanjutnya.

Suasana santai yang membuat semua pelaku pertunjukan tumpah ruah di satu lokasi dengan penonton memang mencairkan segala macam kekakuan yang mungkin terjadi.

Payung Teduh mengumpulkan sejumlah orang untuk menyaksikan mereka merekam sebuah album live dengan fasilitas baru Yamaha Musik Indonesia. Album live ini akan didistribusikan kepada mereka yang telah melakukan preorder lewat sejumlah kanal media sosial mereka beberapa pekan ke belakang. Menurut rencana, hasilnya akan didistribusikan di penghujung tahun, beberapa minggu lagi.

Pertunjukannya sendiri menampilkan kemasan yang tidak biasa. Mungkin itu yang membuat Is gugup, karena ia harus menampilkan sesuatu yang luar biasa. Bukan tentang jumlah penonton kecil yang perlu dihadapi, tapi tentang diberi fasilitas super bagus dan tuntutan untuk merekam aransemen spesial dengan orkestra string dan tiup mini.

Pemain kibor panggung mereka, Sadrach Lukas menjadi music director. Sementara Alvin Witarsa diminta untuk mengurus orkestra mini. Jelas, pendekatan musik yang dilakukan beda ketimbang biasanya. Di hari normal, panggung Payung Teduh hanya diisi oleh lima orang musisi, kali ini tidak.

***

Mengambil jarak lama untuk tidak menonton Payung Teduh, tanpa disadari menjadi pilihan yang cukup baik. Supaya tidak bosan. Mungkin, magis musiknya untuk saya pribadi, sejak berkenalan dengan musik mereka di tahun 2010, sudah pelan-pelan terkikis. Penyebabnya hanya materi yang itu-itu saja.

Saya jadi berpikir, rasanya memang ada banyak faktor tidak kelihatan yang justru tetap memberi napas kuat untuk band ini. Bahkan, secara bisnis, mereka bisa berlari kencang dan mengamankan posisi di klub band-band independen berbayaran di atas tiga puluh lima juta sekali main. Tidak ada yang baru, tapi publik menyukainya.

Ketiadaan materi baru benar-benar mengikat pengalaman untuk menghalangi musik mereka secara reguler. Saya takut sekali merasa bosan dan kemudian meninggalkan musik mereka sepenuhnya.

Lagu yang sudah mereka rilis hanya belasan kecil jumlahnya, yang bisa dimainkan di panggung mungkin lebih sedikit. Tapi, jadwal panggungnya padat.

Upaya untuk merekam ulang sepuluh lagu dengan sentuhan orkestra ini rasanya hanya sebagai napas buatan untuk memperpanjang perimeter musik mereka. Bayangkan, band ini akan merilis tiga buah album dengan materi yang itu-itu saja. Luar biasa kan? Dan masih dibeli. Tentu, ini bukan salah mereka, tapi salah mereka yang mengonsumsi. Atau memang band ini terlalu dicintai oleh pendengarnya.

Penampilan mereka di panggung datar malam itu ok, kendati tidak spesial. Di awal pertunjukan, terlihat mereka masih berupaya keras untuk menguasai keadaan. Padahal latihan juga sudah berlaki-kali dilakukan. Ini persis seperti menonton tapping acara televisi.

Ke-ok-an pertunjukan malam itu terlihat jelas dari pelarian-pelarian kecil yang bisa diaplikasikan pada musik Payung Teduh. Mereka seolah membuka pintu selebar-lebarnya pada eksplorasi bunyi yang bisa diupayakan dari keberadaan string dan brass.

Pemain guitalele, backing vocal dan terompet, Ivan Lenwyn nampak begitu asyik mengamankan posisinya. Dari tempat saya duduk, dengan mudah bisa diamati betapa tepat gunanya ia bermain. Detail-detail kecil yang ia isi, memang sejatinya memperkuat vokal kharismatik Is.

Pemain bas Aziz Kariko masih cool seperti biasanya di sepanjang set. Sementara pemain drum Alejandro Saksakame mempertontonkan penampilan yang begitu bertenaga. Agak aneh, karena biasanya ia ada di belakang. Sementara malam itu, ia ada di sisi kanan. Jadi, langsung berbatasan dengan penonton. Format bunderan memang menjadi blocking yang dipilih oleh Payung Teduh untuk proses perekaman ini.

Fokus yang menuju pada proses perekaman, sesungguhnya membuat interaksi tidak berjalan begitu hangat. Dari sepuluh lagu yang ditampilkan di panggung, semuanya ok dan nyaris tidak punya kendala teknis berarti. Penonton yang sedikit pun puas. Nampak banyak pelaku industri hadir di sana, sekedar memberi dukungan atau malah melakukan pembahasan teknis karena memang latar belakang mereka membuat diskusi berlangsung ke arah situ.

***

“Tahun depan mungkin keluar,” ujar Is tanpa disangka di salah satu jeda lagu di penghujung set. Kalimat setengah janji itu mengacu pada album berisi lagu-lagu baru Payung Teduh. Bukan yang dimainkan dengan orkestra, bukan yang diaransemen ulang. Ini, yang murni karya baru.

Tentu saja, saya menunggu itu menjadi kenyataan. Seperti banyak orang di luar sana yang juga punya harapan yang sama. Keluarnya karya baru akan membuat Payung Teduh membuktikan satu hal: Mereka one hit wonder atau tidak.

Mengais rejeki dan menancapkan kuku dalam urusan pengkaryaan adalah dua hal berbeda. Itu kenapa catatan tentang Keith Martin, Maribeth atau Arkarna bolak-balik Indonesia mengais rejeki selalu relevan. Tapi, apa karya yang mereka hasilkan? Itu-itu saja kan? Sebagai musisi berskill baik, rasanya masing-masing orang di band ini juga sedang bertempur dengan ego mereka untuk menyelesaikan proses pengkaryaan yang berikutnya.

Bersukacitalah karena yang berikutnya akan hadir dengan wajah yang sedikit berbeda kendati mukanya tetap sama. Sekilas didengarkan, ada pengalaman baru menikmati musik Payung Teduh dalam proyek Payung Teduh Berorkestrasi ini.

Tapi, tidak ada yang lebih baik ketimbang mengetahui mereka masuk dapur rekaman untuk mempersiapkan karya baru.

Malam itu, pertunjukan selesai dalam waktu kurang lebih delapan puluh menit. Setelah lagu terakhir selesai dimainkan, penonton beranjak ke depan, menyapa personil Payung Teduh dan berbincang dengan mereka. Saya menuju pintu keluar, tidak ingin terlalu lama menunggu giliran turun dengan lift yang kecil.

Jalan Gatot Subroto masih padat. Titik macet masih belum terurai. Apalagi di jalan tol. Untung, saya jalan kaki ke Pasar Bendungan Hilir. Pertunjukannya berkesan. Selamat menantikan album live dan dvdnya dirilis. (*)

*) Seluruh foto di tulisan ini diambil oleh Alvin Eka Putra