SentimentalMoodsRekamUlang“SelamatLebaran”IsmailMarzuki

June 11, 2018Qubicle Music
Lima alasan Sentimental Moods merekam ulang "Selamat Lebaran" dari Ismail Marzuki


Menyambut Hari Raya Idul Fitri 2018 kelompok musik Sentimental Moods merilis lagu berjudul “Selamat Lebaran”. Karya masterpiece dan klasik dan komposer Indonesia, Ismail Marzuki.

Dalam rilis yang mereka kirim, Sentimental Moods yang tahun ini mendapat nominasi di kategori Instrumental Album di ajang Indonesian Choice Awards (ICA) 2018 dari NET memilih lagu Selamat Lebaran" seperti versi pertama lagu ini yang dibawakan sebuah kelompok vokal bernama Lima Seirama dan diperdengarkan pertama kali di RRI (Radio Republik Indonesia) sekitar tahun 1952.

Ada banyak fakta menarik dari komposisi yang selalu kita dengar menjelang lebaran setiap tahun ini. Berikut adalah 5 alasan dari Senmental Moods kenapa mereka merekam ulang lagu “Selamat Lebaran” dari Ismail Marzuki.

Dok.Sentimental Moods

1. Lagu ini diciptakan Ismail Marzuki sebagai kritik terhadap kondisi sosial masyarakat Jakarta dan mungkin beberapa kota lain di Indonesia (setelah era revolusi kemerdekaan, 1950-an). Bang Mail mengungkapkan pendapat sarkastis terhadap pemimpin dan para pejabat Indonesia saat itu. Yap, saat itu Indonesia memiliki sistem parlementer yang dipimpin seorang Perdana Menteri yang bergonta-ganti cepat karena konflik politik hingga tak sempat menjalani program-program yang berpihak pada rakyat. Makanya dengan sarkastis Bang Mail menyindir "Selamat para Pemimpin, Rakyatnya Makmur Terjamin...".

2. Saat itu mulai muncul para OKB (Orang Kaya Baru, terutama dari kalangan pejabat pemerintah dan pengusaha yang sukses berkat KKN dengan pemerintah) di tengah mayoritas masyarakat yang hidupnya di bawah garis kemiskinan. Termasuk keluarga mereka yang suka memamerkan kekayaan dengan acara-acara eksklusif di kalangan mereka sendiri (dalam lirik disitir, "Kondangan Boleh Kurangin...", mungkin sekarang seperti kaum sosialita kali ya hehehe...), padahal hartanya ya dari hasil korupsi (cek lirik "Korupsi Jangan Kerjain...").

3. Sementara di kelas masyarakat bawah yang secara ekonomi miskin serba kekurangan, justru budaya-budaya lama tetap terpelihara. Mereka boleh saja sehari-hari kekurangan, namun spesial untuk hari Lebaran dibela-belain membeli "... Pakaian Baru Serba Indah...", begitu kata salah satu lirik lagu ini. Lebaran jadi momen masyarakat bawah untuk bergembira dan bertamasya, walau hanya sekadar jalan-jalan keliling Jakarta dengan Trem (semacam transportasi menyerupai kereta rel yang melintas di jalan-jalan raya, pernah ada di Jakarta dan Surabaya antara tahun 1869 dan akhirnya dibubarkan tahun 1960 karena dianggap sebagai biang kemacetan dan sering terjadi kecelakaan, terutama pada becak dan oplet - semacam angkot era itu). Dengan kocak, Bang Mail menyitir prilaku kelompok masyarakat ini yang memaksa tampil keren, baju dan sepatu baru, walau akhirnya berantakan dan kaki lecet hingga sepatu baru pun ditenteng.

4. Karena liriknya yang kritis dan satir, lagu ini sempat dilarang diputar di RRI (satu-satunya radio saat itu) di era Orde Lama (1950-1966). Akhirnya baru populer lagi di Orde Baru (1967-1998), tapi bukan versi awal yang diputar. Lagu ini dibuat ulang oleh beberapa musisi dan band untuk kebutuhan radio dan acara di TVRI (satu-satunya stasiun TV di era awal Orde Baru), namun berdasarkan instruksi pemerintah (lewat Departemen Penerangan dan Komkamtib). Bahwa bait lirik yang boleh dinyanyikan hanya bait pertama, dimaknai sebagai pujian atas kesuksesan pemerintah saat itu. Sedangkan bait lirik kedua dan ketiga yang lebih kritis dihilangkan. Bahkan nama Ismail Marzuki pun (beliau wafat 25 Mei 1958 di usia baru 44 tahun) lenyap sebagai komponisnya.

5. Akhirnya lagu "Selamat Lebaran" dengan lirik tiga paket bait ini dipopulerkan kembali di era tahun 2000-an. Lewat berbagai media termasuk internet, akhirnya lagu kritis ini kembali ke asalnya sebagai lagu satir yang humoris namun kritis. Nama Ismail Marzuki pun kembali terangkat sekaligus dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional tahun 2004. Termasuk memberikan jaminan dana dan sosial kepada janda almarhum yang sempat hidup dalam kemiskinan bertahun-tahun sejak ditinggal almarhum, serta diurus soal royalti atas lagu-lagu karya beliau. 

Simak "Selamat Lebaran" versi Sentimental Moods berikut ini:


Oleh: Yusuf Maulana / Foto: Dok. Sentimental Moods 

Like what you read? Give Qubicle Music your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Qubicle User

Qubicle Music

Similar stories

Stay Updated.

Every day, a dose of inspirations.🎉
Subscribe Qubicle
Qubicle Logo
© 2018 Qubicle. All rights reserved
FOLLOW US