SutradaraAntiPotonganSensor

April 20, 2016Martin Johnindra
Potongan karya Chairun Nissa - Dok. Potongan

Lulusan Film dari Intitut Kesenian Jakarta ini telah melahirkan karya-karya yang mengangkat isu sosial di Indonesia. Beberapa karyanya antara lain: Purnama di Pesisir, yang menembus Rome Independent Film Festival 2010 dan Chocolate Comedy, yang berhasil masuk Official Selection International Documentary Film Festival Amsterdam 2013.

Dalam ajang Film Musik Makan 2016 kemarin, Chairun Nissa, yang biasa disapa Ilun, menghadirkan film dokumenternya yang mengungkap proses sensor film di negeri ini. Film tersebut berjudul Potongan. Saya lalu mengajaknya berbincang usai pemutaran perdana film tersebut. Berikut cuplikannya.

Mengapa Ilun tertarik membuat film dokumenter?

Dari 2011 bikin dokumenter. Kalau dokumenter itu tim sedikit dan kesempatan lebih banyak. Jadi bisa direct langsung.

Film Potongan ini jadi setelah proses shooting dua tahun. Kesulitan apa yang dirasakan Ilun?

Kesulitannya macam-macam. Ketika kami submit film Babi Buta Ingin Terbang (BBIT) ke Lembaga Sensor Film (LSF) itu prosesnya lama, berbulan-bulan. Nggak efektif birokrasinya. Kami juga dapat kabar kalau film Senyap ditolak mereka. Jadi, ketika bikin film dokumenter itu ada kejadian-kejadian dan kami merespon yang sebelumnya kami nggak tahu juga. Perubahan-perubahan yang terjadi kami masukkan ke struktur cerita. Itu jadi tantangan yang paling mengasyikan juga berat. Bayangkan saja, berbulan-bulan mengedit, memilih materi yang sudah kita shoot. Bisa bercerita apa, nih, dari potongan-potongan itu.

Dari proses berbelit-belit di LSF. Mana pengalaman yang paling berkesan?

Semuanya. Ini pengalaman pertama gue bisa ikut: dari merekam, mendengar langsung, sampai ketemu orang-orangnya. Ini jadi semacam, “Oh, pantes aja, ya, film kita itu-itu aja.” Nggak ada yang mencoba memberikan keberagaman ke penonton.

Kenapa BBIT, film dari 2008, dan baru di 2014 dibawa ke LSF?

Kami diskusi mana yang cocok. Jatuh ke BBIT karena kami merasa sangat personal bagi filmmaker-nya, Edwin. Bagaimana dia melihat dan ingin berbagi pengalaman jadi etnis Tionghoa di saat-saat itu yang jadi kaum minoritas. Kami merasa film itu tepat. Kalau filmmaker nggak menyensor dirinya sendiri, nggak membatasi diri, ingin jujur mempertanyakan sesuatu dan membuat film, ternyata itu jadi penting. Ketakutan-ketakutan akan ditolak dan dikritisi LSF, maka film itu akan menemukan caranya sendiri. Terbukti, ada screening di beberapa tempat yang mungkin nggak komersial yang membuat penonton-penontonnya mencari sendiri. Ada penonton yang butuh menonton film-film seperti itu. Film BBIT akhirnya yang kami rasa cocok.

Ilun ingin buat another documentary?

Masih riset tentang sekolah atlet. Gue melihat bobroknya sekolah itu secara fasilitas, padahal itu tanggung jawab negara. Bibit muda yang bela negara. Sekolah atlet negara tapi negara nggak peduli.

Banyak kalangan film yang ngegang dari genre sampai film apa yang diangkat. Bahkan, perusahaan-perusahaan tempat mereka bernaung itu memberikan asupan 'gizi' ke LSF, hingga lembaga tersebut masih bertahan. Bagaimana tanggapan Ilun?

Ketika bikin film Potongan, kami merasa, sebenarnya ini masalah yang dibuat-buat apa ini masalah yang memang mau dibahas karena berulang dan bukan baru. Kok, nggak ada yang bereaksi. Semua nyaman. Semoga dengan film ini launching, terutama para filmmaker, mereka bisa menyadari kalau kenyamanan itu merugikan mereka. Mereka jadi nggak bisa berpendapat, nggak bisa mengekspresikan kreativitas dengan konsekuensi gue akan disensor. Ternyata hal itu sudah ditunggu oleh publik. Ya, memang nggak semudah membalik telapak tangan. Teman-teman filmmaker yang nonton bisa bertanya ke diri sendiri, mau sampai kapan? He-he-he.

Film apa lagi yang sedang digarap oleh Ilun?

Ada webseries dokumenter. Om PMR “Belum Ada Judul”. PMR itu Pengantar Minum Racun, band lawas setelah Warkop. Salah satu personelnya Jhonny Iskandar. Mereka sangat ahli memparodikan lagu-lagu yang sedang hits. Usianya udah 50-60an, tapi setiap tampil selalu 'pecah'. Kekuatan kata-katanyanya itu imajinasi yang luas. Gue mengapresiasi itu dengan buat webseries-nya. Dua sudah launching, sekarang lagi running episode tiga.


Like what you read? Give Martin Johnindra your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Comments

    Qubicle User

    Martin Johnindra

    All of the latest film and tv.

    Stay Updated.

    Every day, a dose of inspirations.🎉
    Subscribe Qubicle
    Qubicle Logo
    © 2018 Qubicle. All rights reserved
    FOLLOW US