TheFutureFolkInterview:Omuniuum

October 18, 2016Qubicle Music

Oleh: Felix Dass

Di Sudirman Central Business District, Jakarta Selatan, saya bertemu Iit Sukmiati dan Stafianto Trie Juniantoro, dua orang pemilik Omuniuum. Turut bergabung dalam perbincangan, berbagi meja dan dipaksa diam, Adi Adriandi, teman baik kami yang kebetulan memang sedang berada di Jakarta. Iit, dijadwalkan menjadi pembicara di At America, pusat kebudayaan yang masuknya super ribet di salah satu gedung pusat perbelanjaan di kawasan itu. Jakarta sudah sore. Sebelum mewawancarai mereka, perlu waktu lama untuk menyakinkan. “Emang apa lagi sih yang mau elo tahu dari gue?” tanya Iit. Pertanyaan sok iye yang standar tapi sebenarnya retoris.

Kami sering berbicara bisnis. Duo Iit dan Trie punya sumbangsih yang luar biasa pada perkembangan industri musik independen. Mereka adalah retailer yang membantu banyak orang mendistribusikan karya langsung kepada penggemar. Dan kisah mereka, terlampau sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Selamat membaca. Kalau ingin tahu lebih jauh, silakan langsung datang ke toko mereka di Jalan Ciumbuleuit, Bandung. Mereka biasanya ada di toko mulai pukul empat sore. Oh, dan for the record, tidak mudah membuat Trie berbicara panjang lebar tentang bisnisnya. Rasanya, lebih mudah mengobrol tentang perkembangan industri pornografi atau pengunduhan ilegal.

81


Tahun 2016 ini Omuniuum sudah berapa sih usianya?

Boit (B): Di Ciumbuleuit berarti tahun ke sembilan.

Tahun ke sembilan, sudah berdikari? Elo mulai merasakan kesuksesan finansial tuh di tahun ke berapa?

B: Kesuksesan finansial, turn overnya sih kalau buat gue 2012.

Itu berarti empat tahun yang lalu?

B: Iya. Jadi 2012 itu ketika awalnya Komunal pas nitip CD Gemuruh Rock Pertiwi yang pengennya cuma di Omuniuum doang. Meskipun sebetulnya kita yang, “Bener nih?” Tapi band-nya yang mau, kitanya yang malah, “Eh beneran nih serius?”Begitu beneran dijalanin terus kayak kaget sendiri sama hasilnya.

Nah itu berapa sih? Empat ratus? Eh berapa ratus copy sih?

B: Berapa? Berapa ya mas? Lima ratus, ya? Lima ratus dalam sebulan. Bikinnya mah seribu.

Tapi akhirnya semua abis juga kan? Semuanya lewat Omuniuum?

B: Enggak semuanya. Sebulan pertama cuma di Omuniuum aja. ​

Trie (T): Iya. Karena dia blablabla ke Pekanbaru yang sama ke tokonya temen atau apa gitu kan. Jadi suka ngirim sepuluh atau dua puluh gitu. Sisanya mah terserah.

Dari situ akhirnya jadi kebuka ke yang lain-lain? Maksudnya itu titik pertama elo mulai merasa menghasilkan sesuatu yang besar? Dari segi size ya, kita gak ngomong angka.

B: Sampe sekarang pun kita tuh masih merasa, ah kita mah lokal gitu. Tapi mungkin orang-orang jadi ngeh dengan kepercayaan Komunal itu. Jadi semacam, “Eh, Omuniuum nih.” Ternyata setelah gue liat data, ya bener gitu loh. Mungkin band-band itu mikirnya, “Daripada gue nitipin ke sepuluh tempat ngabisin energi. Ya udah di elo aja.” Dan,berhasil.

Jadi sekarang lu berhasil ngejual paling, paling rekor satu album berapa?

B: Seberapa ini?

Bebas, secara kuantitas per item aja.

B: Sebetulnya macem-macem. Kalo kayak misalnya elo nanya kita rekor berapa paling banyak itu, waktu kita ngebantuin si Risa(Saraswati dari kelompok Sarasvati) jual buku. Itu tiga ribu. Seribu dibeli sponsor konser. Dua ribu berikutnya beneran abis di toko.

Itu rekor paling? Bukunya Risa berarti?

T: Nah masalahnya gini, kalo misalnya gue dititipin cd lima ratus terus udah gitu abis. Apakah gue bisa jadi delapan ratus? Mungkin. Tapikan hanya lima ratus yang ke kitanya.

Dijatahin ya?

T: Iya, gitukan? Kalo misalnya elo ngomong seribu, ya gitu. Sebenernya kita nggak bisa ngukur.

B: Yang lain juga nggak pernah ngeluarin data masalahnya.

Yang lain tuh maksudnya?

B: Iya, toko-toko lain. Apakah segitu banyak toko-toko lain dalam sebulan? Belum tentu loh. Si Risa dua ribu mungkin karena kita yang produksi. Jadi gue tahu punya dua ribu dan itu udah abis. Saat itu berhenti dan setelah itu gue bilang, “Ah gue capek. Mendingan kasih aja ke penerbit.” Mungkin demandnya masih ada. Bahkan kita tidak mengambil itu, karena memang kita tidak bisa ngelakuin hal yang itu doang, jadi ya kita akhirnya yang membatasi.

Tapi, sebenarnya si size bisnis band independen itu sudah sangat bisa bikin pelakunya hidup enak?

B: Gini masalahnya. Jadi data setahun nih ya. Kita ngomongin tahun lalu lah. Kita menjual sekitar total setahun itu sekitar enam ribu keping lah. Yang di atas lima ratus keping paling dua.

Oke. Enam ribu. Yang diatas lima ratus, dua?

T: Satu sampe tiga ratus kopi ada berapa band. Yang cd-nya terjual di bawah lima kopi, itu ada tiga ratusan band.

B: Untuk gue sih oke. Tiga ratus kali dua, enam ratus. Coba kalo satunya gue dapat sepuluh ribu, gue dapet enam juta. Bandnya?

Kapasitas pasarnya segitu?

T: Gila juga ya. Ternyata gue bisa. Orang yang percaya ke gue tuh segitu. Kalo misalnya gue jual Seringai seribu, ada yang bilang, di luaran udah dua puluh ribu loh. Berarti gue masih kecil dong? Susah ngukurnya karena nggak ada yang keluarin angka. Untuk gue sih cukup; gue berdua, pegawai lima orang. Ya cukup.

Jadi sebenernya lu ngomong, buat lu cukup tapi sebenernya industrinya parameternya lu belum tau?

T: Belum. Belum tahu.

Seberapa besar gedenya tuh industri lu belum tau. Tapi, lu udah gunain data dari lama?

B: Dari 2012.

Seberapa penting sih pedagang seperti lu punya data?

T: Oh penting banget. Elo kan bisa tahu mana yang laku, mana yang harus dikejar gitu.

B: Itu kan bisa nentuin, tahun depan yang mesti dikejar siapa saja atau bidang yang mana. Jadi kalo misalnya kayak ngomongin merchandise band aja, misalnya kenapa kita berani untuk kita cobain sama si Rajasinga, karena mereka waktu rilis album, penjualannya di kita bagus. Jadi kan berarti nih si merchandisenya juga harusnya bagus. Terukurlah ya.

Jadi lebih terukur?

T: Jadi kalo misalnya Komunal mau rilis album baru, gue minta seribu langsung.

B: Atau Seringai dan Efek Rumah Kaca, ketika mereka rilis album baru, kita langsung minta seribu.

Efek Rumah Kaca juga?

B: Waktu Sinestesia rilis, seratus cd dateng sore, jam sembilan malem abis.

Kalau untuk ukuran sehari tuh, kalian punya kapasitas berapa banyak ngepack barang? Rekor sehari, kayak lo sehari ship out barang.

B: Waktu Seringai dulu. Tiga hari empat ratus lima puluh kopi.

Enggak maksudnya sehari nih, anak-anak tuh ngepack barang?

B: Ya empat ratus lima puluh kopi harus kita beresin dalam tiga hari. Dari nerima order, deal sampai shipping.

Tiga hari beres?

T: Iya harus beres. Nah ini yang tadi gue maksud. Lo mau ngomong data, kalo dikeluarin mungkin diketawain, iya nggak? Kayak gue ngomong, gue ngepack empat ratus gitu. Toko online tuh ada yang seribu sehari loh.

Jadi emang sebenernya masih ada pertanyaan besar tentang seberapa besar bisnis retail merchandise, record, dan segala macem buat, buat lo?

B: Kalo buat kita sih iya. Eh tapi di Omuniuum kita juga masih sering mengalami kekagetan sih.

Maksudnya?

B: Iya maksudnya kayak tiba-tiba loh kok abisnya bisa dalam dua hari, tiga hari. Jadi kita masih suka terkaget-kaget sendiri.

Oh jadi emang sebenernya kalian sendiri masih belum, belum mapan, belum merasa, “Oh gue punya standar segini, gue punya ukuran segini.”

B: Nggak, karena itu memang kasus per kasus. Jadi bener-bener timing. Kalau ngomong merchandise mah faktornya ada timing, ada design, ada banyak sih.

Daya serap si pasar tuh pengaruh, jadi ada kayak kasus gini, si Barasuara masukin kaos tujuh puluh, bisa abis dalam dua hari. Tapi kemarin dia naro seratus itu kayak dua minggu ini jalannya biasa aja. Kan buat kita juga jadi, “Eh kok nggak secepet yang kemarin?”

Lo belum tau medan perangnya sebagaimana?

B: Enggak. Karena buat gue massanya juga berubah terus. Jadi tiap tahun elo akan menemukan orang-orang yang itu-itu aja yang beli. Atau bisa juga sebetulnya setiap hari itu ada orang baru yang beli juga. Jadi, hhmm nggak ada parameternya.

Oh jadi, jadi maksudnya sebenernya emang anomali pola bisnisnya masih besar?

T: Kalo kata gue sih sebenernya pasarnya masih kecil.

Pasarnya masih kecil?

T: Masih kecil. Jadi kalo ada gangguan kecil aja, kita yang goyang. Jadi kayak misalnya, gue harus memilih ketika gue hanya punya dua ratus ribu di tangan. Sementara gue suka tiga kaos. Harus milih kan? Mau yang ini atau yang itu. Oh, band yang ini gue udah punya, yang ini entar dulu deh, yang itu aja.

Jadi emang sebenernya daya belinya juga belum besar?

B: Bukan belum besar sih. Kalo buat gue sih karena itu karena berubah terus sih generasinya ya. Dan tiap band juga massanya juga beda-beda. Ada yang, ada band yang emang begitu udah liat apapun yang dikeluarkan sama bandnya, si fans akan mengeluarkan uang. Tapi ada juga fans-fans yang, “Ya entar lagi lah.”

Terus gue jadi inget dengan fenomena-fenomena yang akhirnya gue inget, dulu elopernah bilang kalo si Omuniuum itu dijalanin dengan sistem warung, masih gitu?

B: Masih. Masih pakai Excel.

Catet buku masih?

B: Masih. Jadi tiap malem itu anak-anak ada buku PR. Isinya, yang ini udah transfer harus ditag, yang ini ditag, itu ditag. Jadi yang pagi-pagi itu tugasnya pasti ngepack yang malemnya transfer dan udah ditag untuk dikirim siangnya.

Tapi itu business model yang masih paling cocok buat lo?

B: Iya.

Sekarang beneran masih?

B: Tim gue dibentuk sejak lama. Latihannya berkali-kali dan terus-terusan gitu, jadi sekarang tuh ya kalo misalnya kita ngomongin angka, misalnya omset sehari satu juta-tiga jutaan. Di angka tiga jutaan itu anak-anak sibuknya minta ampun. Terus sekarang misalnya di tiga sampai lima, di angka lima tuh anak-anak sibuk. Lalu naik lagi, misal lima sampai tujuh, di angka tujuh tuh anak-anak udah enggak sibuk. Harus di atas sepuluh juta sehari baru anak-anak sibuk.

Jadi kayak sebenernya skalanya naik ya? Skala orang-orangnya juga tumbuh bersama.

B: Kemampuannya, kemampuannya naik. Si industri ini emang naik.

Seneng dong?

B: Gue mah seneng-seneng ajalah. Sewa gedungnya juga naik.

T: Sewanya naik, ya berarti kan harus tetep naik kan gitu kan penjualannya?

Lalu, yang elo temui sebagai halangan apa sih sekarang?

B: Budgetingnya ketat. Jadi tiap dua tahun, eh maksudnya bayar sewakan tiap dua tahun, abis bayar sewa kita pasti menabung lagi buat bayar sewa. Udah gitu, sekarang rebutannya juga makin banyak.

T: Elo harus terus berubah.

B: Kita harus ikutin zaman sih.

Ikutin zaman tuh maksudnya gimana?

B: Harus update terus-terusan. Kalau Mas Trie mah misalnya secara musik, dia berhenti entah kapan. Jadi, itu kerjaannya gue yang nyari tahu terus band ini lagi ngapain, itu lagi ngapain, siapa yang harus kita ajakin. Kayak gitu-gitu.

Berarti lo ada proses mencari tau, misalnya ada satu band lagi banyak diomongin nih. Lo yang akan datang ke band itu.

B: Oh iya.

Misalnya buka omongan, “Cd lo ada ga ya? Taro di tempat gue dong.”

B: Belum tentu.

Tapi itu sering terjadi?

T: Kadang-kadang, malah konsumen yang nanya ke bandnya. Kenapa nggak dijual di Omuniuum. Kalau dijual di sana, gue mau beli.

Itu juga karena lo udah punya audience sendiri?

B: Request by fans, yang request udah si fansnya. Jadi si, misalnya siapa yang lama, kaya Kelompok Penerbang Roket agak telat masuknya ke kita. Yang nanyain cdnya tuh banyak.

Tapi kalau lo nyari itu masih ada?

B: Udah gak sih. Karena yang kita urusin juga udah banyak.

Oh jadi udah gak ada ruang untuk ngulik?

B: Maksudnya nguliknya tetep, ngulik beritanya tetep, ngulik ini itunya tetep. Tapi untuk ngejar orang yang beneran dikejar-kejar, “Eh lo nitip di gue dong.” Udah nggak, karena gue mikirnya juga kalau misal semua diambil si Omuniuum lapak yang lain apa kabar? Buat gue pribadi juga dengan posisi si Omuniuum sekarang itu malah selalu was-was.

Kenapa was-was?

B: Was-wasnya lebih ke, “Oke tahun ini kita bisa sampai segini, ntar tahun depan bisa nggak di titik yang sama atau ngelebihin titik yang kemarin?” Terus, ya pokonya was-wasnya seperti itu. Dan kalau nggak ada lawan kita modelnya kaya, “Anjing. Kalau misalnya nggak kompetitif kan kitanya jadi males.”

Tapi lo merasa ada persaingan keras?

B: Untuk sekarang, di Bandung, nggak ada persaingan.

Marketnya kalau si Omuniuum nggak hanya Bandungkan?

B: Nggak, maksudnya kalau sekarang elo ngomongin Bandung yang skalanya seperti Omuniuum itu nggak ada ya, mas?

Ya makanya menurut gue sih, lo retailer paling gede se-Indonesia.

B: Jogja?

Gak ada yang sizenya kaya elo mah.

T: Blok M harusnya.

Blok M mah tokonya banyak. Maksud gue yang secara toko individual. Eh, persentase order Bandung sama luar Bandung gimana? Besaran luar Bandung ya?

B: Yang foto di toko tuh suka tiba-tiba orang Sulawesi, Malaysialah.

T: Kalau pesen kaos, mesti orang smskan? Setelah 2007, hampir sepuluh tahun kita pakai sms, baru kemarin buka whatsapp. Banjir tuh buka Whatsapp. Sms aja trafficnya kaya gitu apa lagi Whatsapp.

B: Terus belum yang numpuk, mereka yang nanya doang.

Gitu masih lo ladenin dong?

B: Masih. DM Instagram kita per hari antarasepuluh sampai dua puluh. DM itu kerjanya cuma nanya, “Bang kaos itu masih ada ga? Ini masih ada gak? Itu masih ada ga?”

T: Kalau di Facebook hanya liat, lalu sms lagi.

Tapi itu bagian dari kalian mengadaptasi perubahan yang terus-terusan datang?

T: Sekarang lebih kencang di Instagram daripada di Facebook.

76

Ini ada satu yang menarik, sebenernya kaya tadi Kelompok Penerbang Roket ngirimnya lama. Menurut lo itu jadi satu halangan gak sih? Kaya ada satu band yang punya barang bagus teruskan ketika, ya standar hukum daganglah ada supply dan demand, ketika demandnya tinggi terus supplynya kendor dan bisa jadi ilang momentum. Itukan kaya dari cerita lo beberapa kali sering kejadian. Kayakyang baru, The Trees and the Wild misalnya,menurut elo ada satu hal yang keganggu nggak sih dari sisi pedagang?

T: Dari sisi pedagang iya. Mestinya elo bisa menjual seratus dalam sehari, tapi karena ngirimnya dua puluh dan itu habis dalam sejam, setelah itu udah. Elo kehilangan delapan puluh lagi nih secara ekonomi itu mah ya jadi cost gue lah. Tapi apakah bandnya merasa itu kerugian? Tidak. Karena persentasenya kecil di dia.

Tapi kalau ngomonginnya band-band yang jualannya di market ini?

T: Iya, kaitannya kaya dari seratus kopi, elo untung berapa sih buat band? Mau diusahain nggak? Ya udah entar ajalah penjualan cd. Yang penting kita manggung di mana-mana.

Karena band anglenya ngomong ekonomi jadi pengamen ya sekarang?

T: Tergantung bandnya, bandnya untung nggak gitu. Beberapa band yang sadar, mikirnya penjualan cd itu sebagai gimmick untuk memperbanyak panggung mereka. Kalau sekedar jualan doang sih, nggak ada waktu.

Tapi sebenernya emang ada masalah di situ juga, bahwa si pemilik produk ini nggak begitu sadar bahwa mereka harus jaga konsistensi ketersediaan produk?

T: Gue sih bukan soal sadarnya. Tapi kalau memang tidak bisa ngurus itu, ya kasih ke pihak ketiga aja.

Oh, maksudnya kalau lo nggak siap dengan sistem seperti itu, udah kasih label aja?

T: Iya. Karena kadang-kadang kita kecepetan. Barang elo bisa lewat dalam dua jam.

Nah, sekarang belok sedikit. Belajar dari model bisnis yang kalian jalani, ada ekspansi yang kalian lakukan, mulai jadi produsen dari sekedar jadi pedagang. Elo berdua bisnis kaos, terus tiba-tiba ada ini-itu segala macem. Emang itu yang bakal diambil?

T: Ok gini, jadi kayak apapun, kita pedagang nih.Apapun yang kita lakukan ke arah dagang, kalau misalnya kita jadi produsen, jadi gini, kalau lo sebagai orang luar terus sebagai pedagang saja gimana caranya elo meminta Rajasinga untuk menitipkan lima ratus cd di elo? Nggak masuk akal. Ya udah kita bangun aja kerja samanya dengan Rajasinga, supaya di gue bisa ada lima ratus cd. Gitu kan? Arahnya ke situ. Jadi pokoknya gimana caranya supaya akar bisnis gue tetep jalan.

B: Dua-tiga tahun yang lalu itu juga ada obrolan itu. Maksudnya di situ juga jadi menyelamatkan.Jadi sebetulnya kita juga nggak nyadar kalau apa yang kita lakukan itu juga ternyata ngebantu banyak orang.

T: Gue sempat ngomong sama Boit, untuk menyelamatkan pundi-pundi kita, kita harus menyelamatkan industri. Jadi supaya pundi-pundigue tetep besar, gue harus membuat industri ini sehat.

B: Dulu nggak kepikir ke sana. Itungannya cuma sederhana, sesederhana yang gue selalu bilang “Mas, kita per dua tahun, eh per tahun kita bisa bantuin dua band deh. Untuk ngapain aja, untuk produksi kek, atau ngapain, bikin showcase kek, atau apa kek, terserah deh.” Oh ya udah, terus bertemulah kita sama beberapa band. Ya itu udah lama sih sebetulnya, udah temenan lama. Tapi pas ngobrol itu kita baru tahu kalau, “Anjing nih anak-anak. Nggak tahu apa-apa. Brengsek. Sebagai band mereka baru tahu kalau rekaman itu harus dimastering, dimixing.”

Anjing! Yang bener lo?

B: Beneran. Akhirnya mereka masing-masing jadi belajar juga. Ada yang belajar audio mixing. Mereka jadi tahu apa yang mereka kerjakan dan apa yang harus dibuat agak produksi tetap bagus. Parah sih generasi sekarang.

T: Ada lagi yang datang, “Mas mau bikin album.” Lalu gue bales, “Ok gue bantu, gue minta masternya ajalah.” Dibales lagi, “Via email ya.” Gue bingung, mau kirim master via email ini gimana? Emang elo nggak punya cd master? Dijawabnya nggak.

B: Karena sekarang kebutuhannya si master itu kan buat penggandaan. Karena era digital orang suka ngegampangin.

Kualitasnya mikir tai kucing semua ya?

T: Kualitas bisa dikendalikan sebenarnya sama saja. Tapi kalau master memang harusnya dari cd. Kalau ada apa-apa kan gampang.

B: Ya di situ terus mulai mikir, “Waduh, ini PRnya ternyata nambah.” Jadi bener-bener mikir, ini kalau diserahin ke band nggak bakal beres. Maksudnya kita juga harus masuk ke sana, tadinya nggak ada rencana.

Tapi, ketika elo harus melakukan banyak perintilan itu, elo keberatan nggak sih?

T: Ya, demi pundi-pundilah. (*)

Omuniuum terletak di Jalan Ciumbuleuit 151B, Bandung. Mereka juga bisa ditengok di www.instagram.com/omuniuum. Tips: Datanglah setelah waktu maghrib, mungkin Boit punya sesuatu untuk dibagi dari dapur tempatnya biasa memasak.


Like what you read? Give Qubicle Music your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Qubicle User

Qubicle Music

Similar stories

Stay Updated.

Every day, a dose of inspirations.🎉
Subscribe Qubicle
Qubicle Logo
© 2018 Qubicle. All rights reserved
FOLLOW US