TheFutureFolkInterview:SugiartoIrine

June 30, 2018Qubicle Music
Sugiarto Irine asal Samarinda, baru saja melepas Altokomulus Kelabu, debut mini albumnya. Ini wawacaranya bersama Felix Dass.

Oleh: Felix Dass

Sugiarto Irine berdomisili di Samarinda, Kalimantan Timur. Ia merupakan talenta menarik berikutnya dari kota penting di Pulau Borneo itu. Di bulan Juni ini, ia memberanikan melakukan tur mandiri ke Jakarta untuk mengenalkan musiknya langsung pada publik lokal. Mandiri sejatinya benar-benar sendiri, beberapa pertunjukan bahkan diinisiasi sesampainya di Jakarta.

Upaya membuka ruang dan jaringan ini, menjadikannya punya nilai lebih di luar debut mini album yang bagus dan membuai. Ia berkenalan, mempresentasikan karya di depan orang-orang baru serta kemudian secara perlahan menyebar virus yang bisa jadi membuat karyanya nempel di kepala banyak orang.

EP Altokumulus Kelabu, mini albumnya, adalah sebuah album yang terdiri dari empat lagu dan satu intro. Bakat menulisnya tertera dengan jelas lewat serangkaian bunyi yang enak dinikmati secara simultan.

Untuk orang yang hidup di Jakarta, mini album Sugiarto Irine sebenarnya bisa berfungsi sebagai obat pengendor tekanan dari hidup super cepat yang jadi menu keseharian. Semoga saja, beberapa penampilannya kemarin memberi kisi-kisi untuk fungsi tersembunyi itu. Dan tentu saja, semoga kota ini dan kota-kota lainnya di masa yang akan datang bisa menyaksikannya bermain langsung.

The Future Folk Interview ini, direkam dalam satu potongan waktu perjalanannya di Jakarta. Selamat membaca. Jika tertarik, cari tahu lebih dalam. Sayang kalau musik seenak EP Altokumulus Kelabu ini tidak dinikmati dengan frekuensi yang banyak.

Mbak, selamat atas debut mini albumnya. Boleh diceritakan ini album tentang apa secara garis besar? Dari beberapa materi promosi dan kemasan visualnya, saya merasa ada satu konsep besar yang coba kamu presentasikan pada orang banyak.

Secara garis besar aku sebenarnya ingin menyampaikan bahwa musik bisa berfungsi sebagai alternatif penyembuhan dari segala keluh sakit. Baik itu buat yang mendengar atau bahkan untuk aku sebagai penyampai. Seluruh materi di mini album ini, harapannya jadi media pengutara tapi juga bisa jadi pendengar dan penegasan buat mereka yang se'iya' dengan pesan yang disampaikan.

Kenapa memilih sudut pandang yang itu? Musik sebagai alternatif penyembuhan dari segala keluh sakit...

Karena menurut aku, pasti setiap orang punya zona keluhnya masing-masing. Termasuk akupun begitu. Dan punya orang lain hanya untuk mendengar keluh kesah itu bagus, tapi kadang saking tak bisa diungkapkan lagi, kita cuma bisa diam dan pengennya malah mendengar. Dan menurutku musik merupakan penyampai dan pendengar yang cukup jujur dan sederhana untuk menyatakan, mengiyakan atau menguatkan serta menyembuhkan.

Rasanya, secara umum, kamu tertarik untuk memungsikan lebih dari sekedar gugusan bunyi. Pemahaman untuk menarik musik keluar dari apa yang terdengar di permukaan munculnya dari mana sih? Idenya kenapa bisa membawa musik ke ruang yang itu?

Kalau bicara idenya darimana, maka jawabannya dari apa yang kudapat, alami, dan kudengar sampai saat ini. Entah nanti ke depannya apa yg lagi yang mau Dia kasih tahu lebih banyak. Misalnya, aku nggak pandai menghibur atau mengucapkan kata-kata kekuatan untuk mereka yang cerita atau yang kutahu sedang dirundung keluhnya mereka masing-masing, tapi lebih bisa menguatkan lewat kidung pujian sesuai konteks. Bahkan kalau aku nggak kuat ngomong apa-apa karena ikut merasakan apa yang dialami, yah cuma bisa bersenandung sambil menyentuh; peluk, pegangan tangan dan lain-lain. Ibuku juga melakukan hal yang sama sih ke aku.

Tapi, ini semuanya cerita orang? Atau ada cerita sendiri?

Ada cerita sendiri. Di Permata untuk Raja dan Altokumulus Kelabu.

Kamu tumbuh dari keluarga yang peduli dengan keberadaan musik? Tadi menyinggung bahwa ibumu juga melakukan hal yang sama tentang penggunaan musik?

Iya betul. Pondasinya dari kidung pujian dini hari.

Sekarang ke album. Albumnya sendiri perlu waktu berapa untuk penggarapannya? Sampai akhirnya rilis?

Sebelas bulan, hampir satu tahun.

Menggarap album itu susah nggak sih? Kan katanya bukan sekedar mengumpulkan lagu-lagu yang sudah ada dan merekamnya. Tapi ada pemikiran lain yang menyatukan.

Susah. Hehe. Akupun perlu beberapa waktu untuk memikirkan materi mana yang akan masuk ke dalam EP ini. Tapi senangnya, di saat-saat seperti itu, kayak langsung terbantu dengan mengingat kembali pesan apa yang mau disampaikan dari EP ini. Kisah-kisah sederhananya, peristiwa yang menganalogikannya, titik tengah putih hitamnya. Jadi akhirnya bsia menyatukan.

Kalau secara teknis? Sebagai seorang musisi dan kemudian menghasilkan karya lalu merekamnya? Itu susah nggak?

Kalau bicara tentang teknis mengerakkan dan media yang membantu, tidak begitu susah. Tapi untuk mendengar dan menentukan isian dan apa yang cocok untuk menggambarkan suasana lewat instrumen yang dipakai menurutku secara pribadi masih sedikit susah.

Tapi kamu nampaknya tidak kesulitan dari hasil yang dikerjakan di album ini? Saya mendengarnya seperti mendengarkan seorang yang nampak sudah sangat paham atas apa yang ia lakukan...

Kalau membayangkan proses ke belakang dari aku pribadi, perjuangannya cukup PR. Tapi cukup membuat aku bertumbuh. Contohnya juga menyisipkan tinjauan acara di awal sebelum masuk ke semua lagu. Itu awalnya karena bingung bagaimana menyatakan ucapan syukur atas lahirnya EP ini dan mengenangnya sebagai produk rilisan pasca hari raya tahun ini. Itu cukup menguras kuota beberapa pekan karena mencari bentuk penyampaian yang pas, dan akhirnya jatuh ke tinjauan acara berita.

Buatku, itu sebagai pengantar yang baik sih. Anyway, dari kacamata hasil akhir, apakah kamu puas dengan album ini?

Hasil akhirnya membuatku cukup puas untuk format pengemasan EP. Tapi untuk next full album, aku akan cocokan dengan materi-materi yang lain, jadi pasti perlu retake.

Oh, jadi, materi dari EP ini diproyeksikan untuk diikutsertakan kembali di album penuh nanti?

Iya, rencana awalnya begitu.

Kenapa? Memang punya masalah menulis materi lagu? Hehe...

Ya pengennya di awal ini bisa ada versi terbarukan mungkin yang sepaket dengan materi lainnya. Makanya belanya sih diimbuhi 'awalnya'. Haha.

Ok. Cukup dulu dengan musik. Saya menyukai fakta bahwa kamu berasal dari Samarinda, kota besar yang banjir di Kalimantan. Haha. Sebenarnya, kemerdekaan untuk melakukan sesuatu yang disuka di sana seperti apa sih? Kamu memilih untuk jadi musisi, tidak banyak kan band dari kota itu yang berani merekam berkarya dan menyebarluaskan karya mereka kemana-mana.

Justru karena di Kota Samarinda, akhirnya aku kebuka bahwa kita bebas memilih apa dan lewat apa aja. Kayak aku memilih musisi. Karakternya mau seperti apa, melalui apa, sesederhana apa, justru membuat berani karena mengawalinya di Samarinda.

Bisa diceritakan bagaimana sih kondisi scene musik di Samarinda? Kami yang di luar kota kan banyak yang nggak familiar dengan kota itu. Paling, yang masuk di radar selama ini hanya: Murphy's Radio atau Sarana. Dan kamu...

Kalau aku pribadi melihat teman-teman musisi di Samarinda udah mulai solid, baik itu ngebuka diri dengan hadirnya jenis musik musik baru, seperti ada WajahAbstrak, Jendela dan Pena, Void, dan masih banyak lagi dengan karakternya yang beda-beda, bahkan terus mencari. Atau mengangkat lagi musisi lama yg sempat vakum karena keluarga dan sebagai-nya. Kami juga saling support untuk teman-teman musisi yg sedang gencar berjuang ke lintas pulau. Ada juga nama Rio Satrio, dan yang tadi udah disebutin: Murphy’s Radio dan Sarana. Seenggaknya pasti ditagih untuk ngopi dan cerita perjalanan dan sambutan dari Pulau Jawa kalau sehabis jalan-jalan seperti ini.

Jadi, proses itu memang lazim; yang pulang ke rumah setelah jalan-jalan akan dimintai semacam pertanggungjawaban untuk bercerita ada apa di dalam perjalanannya?

Iya. Ada teman-teman yang semangat buat tahu kelanjutannya. Ada temen-teman yang mungkin baru ikut serta yang akhirnya kebawa semangat yang sama. Tapi yang skeptis juga ada sih. Walaupun ikut mantau. Haha.

Kamu sendiri, mendapatkan pengaruh dari proses-proses seperti itu?

Iya, mas. Aku jadi lebih berani sih.

Lebih berani dalam perkara apa nih maksudnya?

Beberapa sih; Untuk buat rilisan fisik misalnya, dan untuk jalan-jalan supaya tahu medan-medan di kota lain gitu.

Okeh, dari perjalanan kali ini, apa yang didapat? Begitu juga dengan ke Malang tahun lalu pas kita ketemu di Folk Music Festival (FMF)?

Sejak dari FMF dan kesempatan di A-Stage tahun lalu, yang kudapat secara garis besar adalah percaya diri dengan karya sendiri. Terbuka dengan masukan dari siapapun, dan jangan kurangin rasa ingin tahu. Selebihnya seperti disiplin waktu, perbanyak latihan, dan bisa setting alat sendiri juga jadi inti dari perjalanan kali ini. Karena benar-benar sendiri untuk jalan-jalan kali ini. Selebihnya kalau ada yang bantu dan support, itu bonus banget dan sambutan hangat buat aku pribadi.

Ketagihan nggak bikin tur?

Iya sih. Sekarang, setiap dapat kesempatan main di luar, pasti mikirnya, “Next, berarti gini, gitu.”

Jadi, akan ada yang next untuk kami-kami di Jakarta ini melihat kamu bermain di sini? Atau dilebarkan ke kota lain?

Ada dong. Karena kan perjumpaan kali ini kayaknya belum lengkap dan aku sendiripun belum puas ngejajak dan nongkrongnya. Nyambi juga merencanakan kota-kota lucu lainnya. (*)


*) Seluruh foto merupakan dokumentasi Sugiarto Irine
*) Debut Altokumulus Kelabu EP bisa didapatkan di www.sugearto.com

Like what you read? Give Qubicle Music your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Qubicle User

Qubicle Music

Similar stories

Stay Updated.

Every day, a dose of inspirations.🎉
Subscribe Qubicle
Qubicle Logo
© 2018 Qubicle. All rights reserved
FOLLOW US