ToroElmar:MemahamiReformasi1998LewatGraphicNovel

September 25, 2018Qubicle Art
Di Bawah Bendera Reformasi, Graphic Novel karya Toro Elmar

Graphic novel, adalah sebuah sebutan untuk bentuk karya seni campur teks yang memiliki elemen ilustrasi dalam panel dan cerita (storytelling) yang kuat. Karya ini sering disalah artikan dengan karya komik oleh para pembaca. Apa sih perbedaannya? Umumnya, graphic novel tidak berkelanjutan panjang seperti komik Conan, yang entah kapan akan tamat, misalnya. Ya, graphic novel biasanya dirangkum hanya dalam satu sampai dua seri saja.

Di Indonesia ini, kita jarang sekali menemukan graphic novel buatan lokal. Mungkin, karena kerumitan dalam membuatnya, serta tuntutan kreatornya untuk memberikan elemen cerita yang padat; yang dapat dirangkum hanya menjadi (maksimal) dua seri buku, serta ilustrasi yang dapat menggambarkan tiap-tiap jalan ceritanya. Salah satu karya graphic novel yang menjadi sorotan dunia adalah Persepolis karya Marjane Satrapi. Autobiografi berbentuk graphic novel ini bercerita tentang era revolusi islam di Iran pada masa itu dan terbit dalam dua jilid saja.

Graphic novel di Indonesia memang belum begitu berkembang. Setidaknya, kami merasa begitu karena sulitnya mencari karya spesifik ini. Pada akhirnya kami menemukan sebuah karya graphic novel berjudul Di Bawah Bendera Reformasi karya Toro Elmar, seorang visual artist, ilustrator dan art director dari Jakarta. Ada yang spesial dan tidak biasa dari karya ini, karena dibuat secara kolaboratif dengan para siswa di sebuah SMA di Rawamangun. Berikut wawancara Qubicle dengan salah satu kreator graphic novel yang telah sukses menerbitkan karyanya ini.

Secara karya, Di Bawah Bendera Reformasi bisa dibilang sebagai graphic novel. Apa kamu setuju?

Bisa disebut graphic novel, karena karya ini sendiri lebih menguatkan sisi storytelling, dibanding komik yang biasanya lebih menguatkan pada sisi ekspresi.

Cover "Di Bawah Bendera Reformasi 1998"  (foto:  dok. Toro Elmar)

Bagaimana proses menggarap karya ini?

Proses awalnya sebenarnya ini adalah sebuah project dari NGO (non profit organization) bernama Pamflet Generasi yang bekerja sama dengan sekolah-sekolah di beberapa kota di Indonesia. Setiap seniman mendapatkan satu project, kebetulan saya memilih project Di Bawah Bendera Reformasi, dan sekolah yang mendapatkan project ini adalah SMA Diponegoro 1, Rawamangun. Sebelum project mulai, kita semua berkumpul untuk membahas mengenai cerita, darimana harus mulai, sampai memikirkan ending-nya. Lalu, guru dan siswa SMA Diponegoro 1, mulai menggarap teks kasar, yang akhirnya saya jadikan landasan dasar untuk membuat karyanya. Hasil akhir karya selain dicetak dan diberikan kepada siswa-siswa, juga untuk dipamerkan yang diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki bersamaan dengan karya-karya lain.

Apa tujuan dalam membuat Di Bawah Bendera Reformasi?

Sebenarnya tujuan dari karya ini untuk menyebarkan pemahaman dan sejarah dibalik kejadian Reformasi ‘98 ke kalangan siswa sekolah SMP-SMA. Apalagi generasi anak SMA sekarang mungkin tidak mengalami langsung kejadian bersejarah tersebut, dan dengan buku visual bergambar, diharapkan siswa dapat langsung mengerti dan tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang peristiwa tersebut.

Beberapa ini ilustrasi di dalam graphic novel Toro (foto: dok. Toro Elmar)

Apa reaksi yang terlihat dari karya Di Bawah Bendera Reformasi dari para pembaca?

Sebenarnya, saya sendiri kurang begitu tahu dengan hasil yang terlihat setelah graphic novel ini dirilis dan diberikan ke siswa, tetapi dari yang saya tahu dari pihak Pamflet, respon siswa sangat baik dan mereka terus membaca karya tersebut. Dan juga, setelah saya merilis secara digital gratis lewat sosial media, respon yang saya dapat justru tidak saya sangka, yang tadinya saya hanya meminta e-mail mereka dan saya share secara personal, saya sampai harus mengunggah komik tersebut ke data cloud, agar bisa diunduh banyak orang.

Contoh ilustrasinya yang lain (foto: toroelmar.com)

Apakah karya ke depan kamu akan terus berkarya dalam bentuk graphic novel?

Belum dapat memastikan, tapi yang jelas saya akan terus membuat karya seperti ini kalau sempat (tertawa).

Sosok Toro Elmar (foto: dok. Toro Elmar)

Apa saja graphic novel yang kamu nikmati?

Hmm, ini bisa saya list beberapa Novel Graphic yang saya sangat rekomendasikan:

1. Blankets, by Craig Thompson

2. A Contract with God, Will Eisner

3. V For Vendetta, Allan Moore David Lloyd

4. Ghost World, Daniel Clowes

5. Persepolis, Marjane Satrapi

6. Epileptik, David B

7. Oyasumi, Punpun, Inio Asano.

Pesan untuk orang-orang yang ingin membuat graphic novel?

Kalo ada ide cerita, langsung aja tuangin dan jangan pake lama nunda buatnya. Jangan terpaku sama style yang harus ini itu, Graphic Novel stylenya sangat luas dan bebas, jadi jangan takut buat berkreasi dengan style sendiri!


Oleh: Risangdaru

Like what you read? Give Qubicle Art your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Qubicle User

Qubicle Art

Similar stories

Stay Updated.

Every day, a dose of inspirations.🎉
Subscribe Qubicle
Qubicle Logo
© 2018 Qubicle. All rights reserved
FOLLOW US