IMSAK

WIB

WITA

WIT

MAGHRIB

WIB

WITA

WIT

IMSAK

WIB

WITA

WIT

MAGHRIB

WIB

WITA

WIT

Trastrash dan Sajian Visual Mapping Miliknya

Sebaiknya pertunjukan musik didukung oleh artisik visual yang baik, sebagai background atau sejalan dengan musiknya itu sendiri. Dulu memang hanya sedikit musisi yang memikirkan visual panggung. Namun sekarang, hal itu tidak lagi terjadi. Banyak musisi yang sudah memikirkannya. Menonton pertunjukan musik yang didukung visual lebih menyenangkan karena tidak hanya kupingmu tapi matamu juga dimanjakan. Dan beberapa tahun kebelakang, visual tersebut menjadi sama pentingnya. Beberapa acara besar membuat video mapping di tempat-tempat penting.

Atras Alwafi, anak muda yang sedang menggeluti visual mapping ini kami ajak ngobrol, setelah beberapa kali melihat bagaimana dia mengisi tembok di sebuah pameran dengan visualnya. Pertanyaan pertama yang kami lontarkan adalah bagaimana ia mengenal visual mapping. Kemudian ia menjawab sambil mengingat. Di tahun 2008, ketika ia masih duduk di sekolah kejuruan, ia menonton video klip Lingkar Labirin dari The Brandals yang diproduksi oleh The Jadugar. Hal tersebut yang membuatnya memilih masuk ke IKJ (Institut Kesenian Jakarta). 

 “Gw mampir ke IKJ, ini tempat gw banget ini kanan kiri penuh coretan, musik dimana-mana. Terus gw nanya salah satu senior di sana. Mas gedung seni rupa itu dimana? Katanya ikutin aja tembok penuh coretan. Ternyata itu tembok muterin TIM (Taman Ismail Marzuki). Gw dikerjain. Dan gw mikir, ini kampus gw. Gimana caranya gw masuk sini.” 

  Sumber Foto: Instagram @trastrash  

Aktifnya Atras dalam dunia kampusnya, membuat dia berpikir untuk membuat sebuah karakternya sendiri. Secara tidak sengaja dia menemukan karakter tersebut dari ayahnya sendiri. Ayahnya yang kala itu menjabat sebagai pengurus warga di tempat tinggalnya, menjadi inspirasi penemuan Fingerprint sebagai visual yang sampai sekarang ia terus tampilkan. “Selama sebulan gw ngikutin kegiatan bokap gw sebagai pengurus di RT/RW di tempat gw tinggal. Dia suka menyetempel surat-surat dan gw ikutin main bak stempel itu. Dengan randomnya gw mainin bak stempelnya. Gw bikin cap dari jempol gw sendiri. Lalu gw berpikir, ketika seorang designer karyanya gak akan lepas dari sebuah karakter yang dia ciptakan. Akhirnya fingerprint itu yang gw jadikan karakter gw berkarya.” Selain menjadi karakternya, fingerprint tersebut menjadi sebuah ‘kenang-kenangan’ untuk ayahnya. “Bokap gw gak akan abadi, tapi kalau karya pasti abadi. Seengganya bisa diceritain sama banyak orang bisa dan didiskusiin. Kalau bokap gw udah meninggal, ya ini yg gw kasih.”

Sumber Foto:  Instagram @trastrash

Ketika sudah menemukan karakternya, Atras semakin giat berkarya. Selain aktivitas vandal-nya di luar kampus, dia juga membuat desain dan video untuk personal bersama Tivitivian. Karena banyak footage video tersimpan di harddisk-nya, membuatnya terpancing untuk memanfaatkannya. Atras bertemu dengan sekelompok kecil teman-teman kampusnya yang menyukai visual berproyeksi, sebab visual tersebut merupakan hal yang mahal. Kemudian dia bertemu dengan kakak kelasnya dan berdiskusi tentang visual berproyeksi. “Dia mengopikan pertama kali resolume 4 di laptop gw. Dia ngajarin dengan gampangnya ke gw. Katanya ini resolume, kita party di IKJ usahain ada lighting dan proyektor yang nyala. Setelah dari situ mulailah gw main sendiri-sendiri.”

  Sumber Foto: Instagram @trastrash  
  Sumber Foto: Instagram @trastrash  

Banyak job yang mulai berdatangan menjadi Visual Jockey yang dia terima. Tapi targetnya adalah menjadi multimedia performance bukan menjadi VJ saja. Tersadar akan hal itu, dia mulai mengulik fingerprint menjadi motion, yang kemudian ia beranikan membawa itu ke teman-temannya. Dan responnya pun positif. Kecintaanya terhadap visual mapping membuatnya berani mengangkat mapping ke dalam tugas akhir kuliahnya. Namun hal tersebut ditolak oleh dosennya. “Pas tugas akhir gw present tenyata gw ditolak mentah-mentah. Gw sempet kecewa banget. Tapi mau gimana ini instansi akademisi, gak bisa berbau-bau eksperimental gini.”

Akhirnya Atras pun mencari aman dan merancang sebuah perjanjian dengan dirinya sendiri. “Sampai gw keluar dari IKJ, gw bakal bikin tur sendiri atas nama temen-temen, koneksi dari kota-kota yang pernah gw datengin selama kuliah.” Dan akhirnya ia pun lulus dengan perasaan mengganjal. Mengganjal dengan perjanjian yang ia telah buat.

November 2017, akhirnya perjanjian yang ia buat dijalankan. Selama dua minggu ia berkeliling ke-7 kota di pulau Jawa melakukan tur yang didasari oleh koneksi yang ia kenal, Tour Coli-day. Tur ini dimulai di kota Semarang, Salatiga, Solo, Surabaya, Yogyakarta, Bekasi dan Bogor. “H-2 minggu sebelum jalan, gw ngabarin temen-temen gw. Gw kirimin proposal dalam waktu 4 hari mereka approve semua.” Hanya bermodal uang tabungannya ia memberanikan menjalani turnya. Selain untuk melunaskan janjinya, Tour Coli-day ini merupakan sebuah plesetan dari holiday yang berarti liburan. Liburan sambil berkolaborasi. “Inti dari Tour Coliday ini adalah berkolaborasi singkat sama temen-temen di kota-kota tersebut untuk melakukan project bersama sambil berlibur."

"Dari situ gw cuma mau menerjemahkan bahwa yg namanya mapping bukan barang mahal atau bukan sekedar barang yg hype banget. Gw cuma mau bilang gw ngelakuin mapping karena terkoneksi dan gw nge-VJ bukan untuk memenuhi pasar atau menargetkan main di venue besar. Karena mapping udah jadi kebutuhan gw  dalam berkarya."

Obrolan yang cukup panjang bersama Atras ini, mengingatkan kita untuk tidak pernah menyerah kepada semua hal yang kamu sukai. Bagaimana pencarian karakter fingerprint-nya yang bertahun-tahun, kekecewaan terhadap institusi dan perjanjian untuk sebuah pembuktian. :)

Sumber Video: Youtube Tivitivian


Jangan Lupa Follow:

IG: @retinaqube

FB: Retinaqube