Your Dance Tells Where You Came From

Sometimes it is impossible to know where you are headed without reflecting on where you came from.

Kerap kali kita tak menyadari, atau lupa, entahlah, bahwa tempat dimana kita lahir atau bertumbuh adalah salah satu hal amat krusial bagi kehidupan kita seutuhnya. Tempat itu akan memberi banyak hal yang akan berpengaruh selamanya dalam perjalanan hidup kita: nilai dan norma adalah salah duanya. Tempat itu adalah studio dimana seniman agung bernama alam semesta membentuk pribadi kita, pahatan demi pahatan dibuat dari waktu ke waktu yang akhirnya akan berwujud sebuah pribadi baru yang utuh dalam segala aspek.

Hal itu berlaku pula di dunia dansa dansi.

Tanpa disadari, bahkan oleh para penarinya sendiri, tempat dimana mereka bertumbuh dan mempelajari tari sangat berpengaruh kepada bentuk tarian mereka dan interpretasi mereka akan tari itu sendiri. Tidak, kita tidak sedang bicara tari daerah dimana masing-masing daerah mempunyai tariannya sendiri-sendiri. Kita sedang membicarakan penari-penari yang menarikan tarian yang sama namun berasal dari daerah-daerah yang berbeda, walaupun tak bisa disangkal pula tarian tradisi lokal sangat kuat pula pengaruhnya pada proses seorang penari, apapun genre tarinya, di suatu daerah.

You will never can break like a original Bronx bboys. Begitu kira-kira jargon tak tertulis yang diagungkan bagi para penari jalanan, khususnya bboys dan bgirls, asal Bronx, Amerika Serikat, tanah dimana tarian bernama breaking lahir. Kalian bisa menirukan apa yang mereka mulai di Bronx empat dekade lalu – tarian gila itu – bahkan dengan skill yang lebih mengagumkan, namun kalian tidak akan pernah bisa menduplikasi bagaimana mereka melakukannya: cara mereka bergerak, bagaimana mereka memaknainya dan, demi Tupac, aura itu. Tak akan pernah.

Di Indonesia hal semacam itu pun berlaku. Surabaya adalah contoh sempurnanya. Surabaya dikenal sebagai salah satu kota penghasil penari-penari terbaik dari kancah street dance Indonesia sepanjang sejarah, contoh yang paling moncer tentu saja tidak bukan adalah Semmy Blank yang pencapaiannya rasanya akan sulit disamai oleh penari lain di Indonesia sampai kapanpun.

Penari-penari asal Surabaya itu tentunya tidak mencapai levelnya yang tinggi itu secara simsalabim abrakadabra. Banyak proses yang dilewati. Waktu dan tenaga yang dikorbankan. Jam yang tidak sedikit yang dihabiskan di laboratorium tari meracik formula untuk menjadi yang terbaik.

Mentalitas macam itu tak lepas dari pengaruh kota dimana mereka bertumbuh. Surabaya dikenal sebagai kota dengan karakter yang keras, bersaing dan “kasar”. Karakter kota itu pun merasuk pada para penghuninya, termasuk para penari. Akan terasa masuk akal bila para penari asal kota pahlawan rata-rata adalah petarung dengan keganasan setara dengan pasukan Leonidas. Kompetitif dan ingin jadi yang terbaik sudah mengalir dalam darah mereka sejak awal.

Contoh lain adalah para penari terbaik dari sebelah timur Indonesia: Papua, Maluku, Nusa Tenggara Timur, sebutkan saja. Orang-orang dari daerah-daerah itu terkenal dengan kepiawaiannya dalam bergoyang tubuh. Saking piawainya mereka sampai melahirkan anekdot bahwa tak ada orang timur yang tak bisa menari. Hal ini dipengaruhi faktor sosio-kultural di tempat mereka bertumbuh dimana tari adalah sebuah hal yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Dan mereka akan membawanya kemanapun mereka pergi. Karenanya, jangan heran bila di kota besar manapun di negeri ini anda akan menemukan orang-orang timur (yang merantau) yang piawai menari. Percayalah, mereka adalah penari paling soulfull yang bisa anda temukan di republik ini. (Arthur Garincha)