C2OLibraryyangLebihdariSekadarLokasiKongkowGeek

May 28, 2019Qubicle Travel
Sebuah perpustakaan yang lebih dari wadah baca. simak ulasannya

Bersembunyi di antara ramainya arus tengah kota di Jalan Polisi Istimewa Darmo, c2o Library menawarkan sesuatu yang lain bagi yang ingin sejenak mengambil jarak atau kabur dari kegaduhan. Perpustakaan dan ruang kolaborasi yang berlokasi di Jl. Cipto no. 21 Surabaya ini tidak pernah neko-neko. Hanya ada setumpuk buku, dinaungi atap yang teduh. Semacam paradoks dari lalu-lalang Surabaya yang seolah tak pernah berhenti. Buka dari pukul 10.00 hingga 22.00, c2o agaknya selalu bisa jadi oase. Hanya dengan 50 sampai 100 ribu rupiah untuk pendaftaran, pengunjung sudah bisa meminjam banyak pilihan buku di sini. Tapi c2o tak mewajibkanmu jadi member. Tak masalah membaca buku-buku di sana—sambil ditemani semilir angin, minuman khas dari dapurnya, dan Charlie, kucing imut ‘tuan rumah’ c2o.

Yang menarik dari c2o adalah konsepnya yang seolah menembus batasan dari perpustakaan itu sendiri. Lebih dari itu, c2o adalah ruang bersama untuk belajar, berinteraksi, dan berkarya. Kamu yang merasa tak pernah punya ruang mengekspresikan ide, atau butuh tempat untuk sekadar berdiskusi untuk kemudian berserikat, c2o menyediakan lahan subur untuk hal semacam ini. Terlalu banyak aktivitas dalam ruang kreatif ini yang tanpa disadari banyak memengaruhi terbentuknya subkultur lokal. Bahkan aktivitas di ranah film, skena musik, dan wilayah seni rupa pun tak jarang disentuhnya.

  Nama C2O Library bermula dari lokasi perpustakaan ini terbentuk, yakni JL. Dr. Cipto No. 20, Surabaya (Foto: Qubicle)

Berbagai kolektif film, entah itu dari Surabaya atau luar kota, tak jarang berkunjung ke c2o. Entah mengadakan pemutaran, diskusi, atau sekadar kongkow bersama sineas lokal. Untuk musik, tak bisa dipungkiri lagi, atas peran c2o lah beberapa gigs lokal berhasil digelar. Kolektif musik Rumah Gemah Ripah contohnya. Bermula dari c2o, kolektif ini berhasil menggelar berbagai gigs lintas kota, dengan penonton yang nggak main-main. Kolektif folk kebanggaan Surabaya, Silampukau pun menjadi besar dengan dukungan dari awak c2o. Beberapa acara yang menjadi penanda mutu skena seperti Piknik Akustik—yang selanjutnya melahirkan lagi beberapa kompilasi unduh bebas—jadi bukti bahwa c2o lebih dari sekadar lokasi kongkow geek yang ingin terlihat nerd. Geliat indie, juga dimulai di sini.

Selain itu, dalam bidang seni rupa, c2o juga rutin menggelar acara DIYSUB yang mempertemukan banyak seniman dan ilustrator handal berbagai kota untuk berkolaborasi bersama. Sebagai ruang tengah kota, akses c2o memudahkan mereka yang ingin bertemu dan bertegur sapa, untuk selanjutnya melahirkan proyek-proyek kreatif yang mampu merekam denyut nadi urban. Semua peran inilah yang sampai saat ini masih dijalani c2o.

  Selain menyediakan bahan bacaan lebih dari 8.000 buku, C2O Library juga memberi ruang kreatif bagi masyarakat lintas disiplin di Surabaya (Foto: Qubicle)

Perpustakaan ini sudah berdiri sejak 2008 lalu. Lokasi awalnya jadi cikal bakal namanya: Jl. Cipto no. 20—sekarang bergeser satu rumah di Cipto 21. Tapi saya pertama kali mengunjunginya pada 2013 lalu. Sebagai mahasiswa semester pertama, tentu girang bukan kepalang menemukan tempat yang membuat saya bisa terlihat sedikit lebih intelek ini. Jiwa-jiwa snobbish awal kuliah bisa saya gali dari tempat ini. Tak hanya mewadahi orang untuk membaca buku, c2o selebihnya adalah jamuan untukmu yang ingin lebih memahami sisi skena yang penuh berbagai katalog seniman lokal—mulai dari musisi, penulis, hingga perupa.

C2o saat ini sudah berusia 10 tahun dan terus berusaha menyumbang peran pada pergerakan lanskap kreatif. Ini ditunjukkan dengan semakin berkembangnya fungsi ruang c2o: dari yang awalnya hanya perpustakaan dan ruang kreatif, menjadi lebih berdaya guna dengan adanya co-working space, ruang salah satu kolektif design, markas beragam pergerakan dan sindikit, juga tempat kongkow yang nyaman dengan hadirnya dapur c2o yang menyediakan berbagai menu klasik pilihan—untuk teman baca-baca ataupun ngobrol bersama.

  Koleksi perpustakaan C2O library berupa-rupa, studi film adalah salah satu yang terlaris (Foto: Qubicle)

Jadi, kamu yang mungkin baru saja tiba di Surabaya dan kesulitan menemukan persebaran lanskap kreatif, c2o sekali lagi adalah lahan basah. Kamu bisa mengunjunginya dan bergerak bersama. Sudah banyak gebrakan lintas kota yang sambang. Membuat diskusi kreatif, gigs mini, bedah buku, dan lain sebagainya. Saya yang sekarang kebetulan bekerja di industri kreatif, sangat bergantung dengan acara-acara semacam ini. Sebagai penambah wawasan dan memperluas jaringan. Ini sesuai semangat yang saat ini masih dipegang c2o: bahwa kita butuh berkumpul bersama demi meraih tujuan, alih-alih bergerak secara individu yang sudah pasti melelahkan.

So, mari mampir. Pintu c2o selalu terbuka—kecuali di hari Selasa dan libur besar nasional. Selalu ada buku-buku bagus, acara-acara menarik, dan beragam karya dari punggawa kreatif lokal yang bisa dilihat dan dijadikan koleksi.


Teks & Foto: Sammuel Christ 

Editor: Adit Kurniawan

Like what you read? Give Qubicle Travel your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Comments

    Qubicle User

    Qubicle Travel

    The ultimate place for reflective travel and adventure experience.

    Stay Updated.

    Every day, a dose of inspirations.🎉
    Subscribe Qubicle
    Qubicle Logo
    © 2018 Qubicle. All rights reserved
    FOLLOW US