Jemparingan,OlahRasadenganMemanahTradisiMataram

April 16, 2019Qubicle Travel
Jemparingan menjadi tren saat ini, ingin mencobanya? ikuti ulasan dari kami

Musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri, PR-nya adalah bagaimana menaklukan diri kita sendiri. Begitulah semangat Kapten Tsubasa berkata ke dirinya saat mau menendang bola dengan slow motion yang cukup lama sampai bisa diselingi flash back. Cukup ya cerita Kapten Tsubasa-nya, kutipan semangat itu akan menjadi jembatan yang cocok untuk masuk ke Jemparingan.

Memanah sambil duduk bersila, mengenakan pakaian adat Jawa, busur dan anak panahnya dari bambu, dibidik dengan mata hati. Selamat datang di Jemparingan Mataraman saudara-saudara netizen yang budiman.

Mas Agung Memratekkan Gaya Mataraman (Foto: Qubicle)
Mas Agung Memratekkan gaya Mataram (Foto: Qubicle)

Menurut sumber video dengan GKR Hayu sebagai penanggung jawabnya, menyebutkan bahwa Jemparingan adalah kegiatan panahan yang ditujukan untuk mengolah rasa kawula dan rakyat Ngayogjokarto Hadiningrat. Hal ini awalanya pada pemerintahan Sultan Hamangkubuwono I terjadi demiliterisasi oleh Belanda, maka dari itu prajurit keraton banyak yang di-non-aktifkan. Panahan kemudian dijadikan sebagai media olah rasa dengan modifikasi duduk bersila dan menarik anak panah tidak ke arah mata, namun ditarik ke arah hati.Target sasarannya bukan papan namun orang-orangan yang diwujudkan dalam bentuk silinder memanjang menyerupai boneka orang yang berukuran sekitar 30 cm, digantungkan dalam sebilah tali. Hmmm... maknanya cukup dalam, memanah dengan mata hati. Konsentrasi tidak melulu melihat obyek dengan mata, namun biarkan mata tertutup dan lihatlah dengan mata hati maka niscaya lebih terang dan tajam. Olah rasa.

Hmmm... Dalam juga ya rasa yang diolah, eh tapi kalau ke Yogya dan ingin merasakan jemparingan terus gimana? kalau tujuannya adalah wisata akan lebih amboi kalau berkenalan dengan mas Agung Susila. Mas Agung merupakan salah satu pelaku dan penggerak Jemparingan di daerah Yogyakarta dan sekitarnya. Mas Agung, membuat kelas Jemparingan untuk wisatawan di daerah Candi Banyunibo Dusun Cepit, Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Dia mengajarkan para wisatawan dengan gaya Jemparingan model bidik mata. Selain itu, mas Agung dan teman-temannya bermain di halaman pendopo Hotel Ambarukmo, kegiatan ini juga sebagai atraksi budaya bagi pengunjung di area Ambarukmo. Biasanya, mas Agung akan mendemonstrasikan jemparingan mataram, yaitu memanah dengan bidik mata. Gaya ini relatif lebih mudah dan umum di masyarakat serta pas difoto akan terlihat muka dengan busur panah menyatu. Untuk mencoba Jemparingan tidak bisa mendadak, Mas Agung menyarankan untuk janjian terlebih dahulu agar bisa disiapkan peralatan dan tempatnya. Peserta harus menerapkan sistem keselamatan, karena bagaimanapun juga Jemparing adalah senjata. Jadi ya semua peserta harus didampingi instruktur agar tidak membahayakan. Amit-amit jabang bayi lah kalau sampai anak panah melesat liar seperti nafsu darah muda saat menikmati cuci gudang sneakers, bahaya!

Uwong-Uwongan Target Sasaran (Foto: Qubicle)

Nah begitu, jika kalian kok rasanya ingin mencoba olah rasa atau hanya berpose demi engagements sosial media silakan saja hubungi mas Agung. Mas Agung dengan baiknya memberikan informasi nomor ponselnya 08122748217. Baiklah, selamat olah rasa di Yogya!


Penulis: Yudo Nugroho

Editor: Adit Kurniawan

Like what you read? Give Qubicle Travel your appreciation.

From a quick cheer to a standing ovation, like to show how much you enjoyed this story.

Comments

    Qubicle User

    Qubicle Travel

    The ultimate place for reflective travel and adventure experience.

    Stay Updated.

    Every day, a dose of inspirations.🎉
    Subscribe Qubicle
    Qubicle Logo
    © 2018 Qubicle. All rights reserved
    FOLLOW US