Notifikasi

    SERU DI SEMERU

    oleh ESCAPADE Seru-nya ga habis-habis. Dimulai dari naik jeep, gorengan dan semangka yang harganya sama dari pos pertama sampai akhir. Dinginnya yang nyata terasa hangat karena teman dan suasana pendakian yang menyenangkan. Terimakasih banyak Semeru.

     Ternyata Nyawa Kita Beratnya Hanya 1,5 Mg Saja

    oleh ESCAPADE Text & Foto oleh @aditananda“Bakso saja atau harus tambah mie?”“Pakai baju yang merah tadi atau jaket kuning ini?”“Nonton drama Korea yang ini atau yang itu?”Seumur-umur inilah dilema yang sering saya hadapi; ecek-ecek dan tidak penting. Karena itulah ketika disodorkan pada pilihan kali ini, otak saya yang telah berkerak terpaksa harus berpikir keras. Ini adalah pilihan hidup mati! Literally.“Pegang atau tidak?” Jika pegang ada kemungkinan saya digigit ular laut ini dan dalam hitungan menit bye bye. Bila tidak pegang, saya akan selamat dari maut --for now.Ah, sepertinya aman deh, ularnya terlihat jinak... sepertinya tidak akan menggigit. Saya juga pernah baca bahwa Banded sea krait adalah ular yang tidak agresif dan jarang menggigit manusia karena ukuran mulutnya yang kecil. Telinga kanan saya kembali dibisiki: “Itu Laticauda colubrina, Dit, ular laut! The most venomous snake in the world.”“Penasaran sih sah-sah saja, tapi worth it nggak? Kalau udah pegang terus kenapa? Dapat piala?”“Kepuasan batin sih, tapi kalau mati sama aja bohong.”Sementara perang batin berlangsung, di depan saya dua bocah berumur 5 dan 7 tahun bernama Ria dan Siska sedang asyik bermain dengan ular tersebut. Sang ular dilingkarkan ke leher mereka, lalu mereka mencium dan memeluknya, aiiihhh. Nggak heran siih, mereka adalah anak dari Pak Yus, penjaga ular-ular ini. Sejak mereka lahir, mereka telah diajari hidup bersama ular laut, yaah setidaknya mereka tidak perlu squishy untuk cari yang kenyal-kenyal.Pak Yus adalah warga Desa Ohoi Revav, Kei Kecil, Maluku Tenggara. Keahliannya dalam mengendalikan ular laut berbisa ini diwariskan dari ayahnya. Nanti, ketika Pak Yus pensiun, maka ilmu ini pun akan diturunkan kepada salah satu anaknya, baik itu ke anak perempuan ataupun laki-laki.Salah satu tugas Pak Yus adalah menjaga keberlangsungan populasi ular laut yang terdapat di sekitar desa, terutama di Pulau Ular yang tepat berada 200 meter di seberang Desa Ohoi Revav. Dinamakan Pulau Ular karena pulau ini kerap disinggahi ular laut untuk beristirahat dan bereporduksi. Pulau yang hanya seluas 15 m ini didaulat sebagai pulau keramat dan dipercaya dulunya adalah sebuah perahu terdampar yang berasal dari Bali, sedangkan ular-ular lautini diyakini sebagai jelmaan dari penumpang kapal tersebut. Mumpung sedang berada di Kei Kecil, ingin rasanya saya melihat ular-ular suci ini. Namun tak bisa sembarangan orang datang ke Pulau Ular, harus terlebih dahulu meminta izin kepada para leluhur melalui penjaga ular. Karena itulah bersama dengan Pak Yus dan keluarganya saya mendatangi Pulau Ular ini. Ritual memohon izin menjadi hal pertama yang harus kami lakukan. Tak lama, satu ular laut berdiameter 10 cm datang menghampiri kami, antara senang dan ngeri bercampur aduk. Lain lagi denga Ria dan Siska, mereka langsung menyambutnya dengan suka cita dan sekarang mereka bertiga asyik bersenda gurau. Huh.Saya bertanya-tanya apa tak sedikit pun tebersit rasa takut, mengingat risiko yang sangat fatal bila tergigit. Ular laut menghasilkan 15 mg bisa neurotoxin yang menyerang syaraf dalam sekali injeksi. Untuk membunuh manusia hanya butuh bisa 1,5 mg saja. Wew… mati 10 kali dong ya kalau digigit.“ Aman kok Mbak, kita tidak akan digigit asalkan tidak punya kesalahan fatal di masa lalu, seperti merebut hak orang.”Aduduuee... kalau mengambil ballpoint di kantor termasuk merebut hak orang nggak ya?Akhirnya saya memberanikan diri mendekati ular yang sekarang dipegang oleh Pak Yus. Yap! Saya memutuskan untuk memegangnya. Pertama saya merasakan dulu tekstur kulitnya, rasanya seperti memegang jaket kulit sapi kualitas AAA+ --lembut dan licin. Pak Yus secara perlahan memberikan leher ular tersebut, sebelum akhirnya menyerahkan sang ular sepenuhnya kepada saya.. Oh.. la.. laaa …. “Good boy... good girl… good boy... good girl...“ ucap saya berulang-ulang dalam hati.Perhatian saya teralihkan oleh bentuk adaptasi ular ini terhadap lingkungan, yaitu buntutnya yang pipih dan lebar. Ooo ini dia sebabnya ular ini bergenus laticauda, latus artinya lebar dan cauda artinya buntut. Bentuk buntut ini memudahkan sang ular untuk berenang dan bermanuver di dalam air.Foto saya berwajah tegang bersama ular laut sudah cukup banyak. Sekarang saatnya mengembalikan ular ini kembali kepada ahlinya. HUWAAAA… MAMAA I’M STILL ALIIIIVEEEE... Ini akan menjadi pengalaman saya yang sangat berharga dan terakhir tentunya. No more twice …Untuk teman-teman jangan sekali pun mencobanya yaa. Karena salah sedikit saja, nyawa kita melayang, konyol kaan jadinya. Saya berani memegang ular ini karena ada Pak Yus sang pawang ular tersebut. Ia tahu benar bagaimana cara meng-handling agar sang ular tetap tenang dan aman –pembelaan diri. 

    Solo Travelling, Berani?

    oleh ESCAPADE Bagi sebagian orang, bepergian seorang diri adalah cara mereka menemukan kenyamanan bepergian. Mereka rela menggadaikan rasa aman berada di tempat asing, agar bisa menikmati liburan dengan caranya sendiri.Teks dan foto oleh Iyos KusumaTulisan seorang teman memenuhi kotak masuk e-mail saya beberapa hari terakhir. Ia adalah seorang perempuan yang baru kembali dari Iran. Berbekal rasa percaya diri, ia berkelana seorang diri ke negeri yang tidak dikenal sebagai tempat yang ramah terhadap hak-hak perempuan.Tulisan-tulisannya mengingatkan saya pada teman saya yang lain. Perempuan juga. Tahun lalu, ia melampaui angannya untuk berkelana sorang diri, atau solo traveling, ke negara-negara Asia Tenggara. Tak sekedar di Asia Tenggara, seorang diri pula akhirnya ia berani menyeberang hingga ke Nepal dan India.Sebenarnya solo traveling bukanlah hal baru bagi masyarakat kita. Namun ternyata, sebagian orang masih memandang perjalanan seorang diri ini sebagai kegiatan yang tidak lazim. Apa pun alasannya, terutama masalah keamanan dan keseruan liburan yang dianggap berkurang. Beberapa teman saya masih saja mengangkat alis mereka setelah mendengar jawaban bahwa saya akan pergi ke suatu tempat sendirian. Seperti mereka mendengar saya akan berlibur bersama Chelsea Islan atau Raisa.Bukankah solo traveling adalah jenis perjalanan yang mempertaruhkan keamanan? Ketika kita bepergian sebatang kara, bukankah resiko untuk menjadi korban kriminalitas juga akan semakin besar? Lalu apa yang menjadi begitu menarik dari solo traveling? Saya akan membahas beberapa hal yang saya anggap penting dari solo traveling.You’re the BossKetika Anda berlibur seorang diri, tidak akan ada lagi perbedatan soal tempat menginap, menu makan siang, atau jadwal kegiatan selama di tempat liburan. Anda tidak akan berhadapan dengan rekan perjalanan yang terkadang memiliki rencana yang berbeda dari rencana besar perjalanan Anda. Ini adalah salah satu hal utama yang membuat saya begitu keranjingan untuk berlibur seorang diri. Akui saja, Anda pernah sedikit bersitegang dengan teman perjalanan atau setidaknya menanam dongkol karena perbedaan ide perjalanan. Dengan solo traveling, Andalah boss-nya!Challenge YourselfBepergian sebatang kara ke tempat yang baru bagi Anda adalah sebuah tantangan. Lengkapnya bekal informasi yang Anda bawa dari rumah tak menjamin ada informasi yang meleset. Misalnya jadwal kendaraan umum atau kebiasaan masyarakat setempat. Mau tidak mau, semua hal harus Anda lakukan dan kerjakan sendiri. Anda dituntut untuk berani melakukan kegiatan-kegiatan atau mengunjungi tempat-tempat selama berlibur tanpa ada yang menemani. Disadari atau tidak, ini akan membawa manfaat bagi Anda: membuat Anda semakin dapat mengenal diri sendiri dengan mengukur kemampuan diri. Solo traveling juga melatih Anda semakin berani mengambil keputusan dan mengukur resiko.Berbaur dengan LingkunganKetika Anda bepergian bersama seorang teman, apalagi dalam rombongan besar, kesempatan Anda untuk dapat berinteraksi dengan lingkungan akan semakin kecil. Waktu dan perhatian Anda akan lebih banyak tercurah untuk teman-teman Anda, entah sekedar berfoto atau mengobrol. Padahal, menurut pengalaman saya, berbaur dengan masyarakat di tempat Anda berlibur adalah salah satu komponen penting ketika berlibur. Anda tahu, tidak semua informasi menarik tentang suatu tempat wisata sudah tersaji di Google. Terkadang, beberapa informasi seperti kuliner yang menjadi kesukaan warga setempat atau titik memotret sunset yang sempurna, baru bisa didapatkan dengan berbincang dengan warga setempat. Menurut pengalaman pribadi, bepergian seorang diri memberi saya peluang lebih besar untuk dapat bercengkrama dengan orang-orang asing di sekitar saya. Rogoh Kocek Lebih DalamKebebasan yang Anda nikmati selama melakukan solo traveling tidaklah gratis. Semua ada harganya. Ini pengalaman saya. Ketika saya bepergian seorang diri, saya harus merogoh kocek lebih dalam untuk membayar beberapa jenis pengeluaran. Pembengkakan biaya yang paling terasa adalah pembengkakan biaya akomodasi atau penginapan. Ketika saya berlibur bersama teman, saya dapat berbagi kamar untu meringankan biaya. Namun ketika saya sendirian, seluruh biaya akomodasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Selain biaya akomodasi, biaya transportasi juga terasa lebih besar ketika saya berlibur sendirian

    Hiu Paus, Si Raksasa Jinak

    oleh ESCAPADE Buat siapa saja yang ingin menyelam tentu akan ragu jika ketika melihat ke perairan ternyata ikan hiu yang besar sedang berenang-renang santai di sekeliling pandangan mata. Namun tak perlu khawatir jika itu terjadi di Perairan Desa Kwatisore, Teluk Cendrawasih, Papua, di mana ikan yang berukuran panjang sekitar 14 meter dan berat 12 ton ini malah menjadi artis idola. Dialah Hiu Paus atau whaleshark bernama gurano, mereka sama sekali tidak menyerang manusia meskipun memiliki gigi sebanyak 3000 buah. Ya, yang mereka mangsa hanyalah plankton dan hewan-hewan kecil di lautan. Rasakan sensasinya berenang bersama raksasa jinak ini. 

    Tiap Hari Senja Syahdu Mampir di Senggigi

    oleh ESCAPADE Tulisan : Irfan Ramdhani, Foto: Muhammad Saleh (Salmon) Kala itu langit memancarkan pesona yang begitu menawan, menuju senja di kala lembayung langit Pantai Senggigi sudah bersiap memberikan keindahan kepada seluruh pengunjung. Matahari di salah satu pantai yang menjadi ikon Pulau Lombok itu pun seakan malu menunjukkan sinarnya dan siap terbenam, menghasilkan pendar warna jingga di langit. Suasana nan syahdu yang tak terlupakan. Pemandangan Pantai Senggigi yang indah, ditambah dengan air lautnya yang tenang menjadikan salah satu alasan para wisatawan datang ke sini untuk berjemur. Alam dan kreativitas masyarakat lokal adalah gambaran utama yang saya dapatkan di sini. Di Pasar Seni Sengiggi beragam kerajinan lokal terpajang. Mulai dari kain khas Lombok, mutiara, patung, ukiran hingga gerabah menjadi komoditi istimewa sebagai cenderamata.Puas berkeliling Pasar Seni Senggigi, saya langsung menuju tepi pantainya. Ombaknya tenang walau sore semakin menjelang. Turis asing terlihat tetap asyik berjemur di bawah sinar matahari yang mulai kehilangan teriknya. Sedangkan beberapa pejalan lokal membaur bersama warga sekitar berkumpul di dermaga. Dan tak luput juga ada seorang nelayan yang sedang membetulkan jaringnya yang rusak.Pantai Senggigi tidak hanya sebagai destinasi wisata bahari utama. Perannya semakin besar karena pantai ini adalah pintu masuk menuju 3 gili besar di Lombok. Dari dermaga ini setiap harinya hilir mudik turis yang ingin menyepi di 3 gili tersebut terlihat. Tidak mengherankan bila banyak paket tur ditawarkan di sini. Sebuah ruang utama pariwisata dan juga penghubung wisata lainnya. Protagonis Lombok.Sore hari semakin menjelang. Salah satu sudut Pantai Senggigi yang kerap dijadikan sebagai lokasi berselancar pun sudah ditinggal peselancarnya. Matahari semakin dekat dengan peraduan. Pantai ini mulai memancarkan rona senja.Sementara di sebelah sana, perahu-perahu nelayan tengah bersandar di pantai. Beberapa wisatawan bercengkerama sambil menyaksikan riak-riak air yang menjilati pasir pantai. Satu dua bocah malah begitu asyik bermain-main pasir dan air laut yang memecah dan menjadi buih-buih putih. Ah, sungguh riangnya bocah-bocah itu.Angin pun seakan berbisik menuju ke tempat di mana para pemburu senja bersiap untuk mengabadikan langit yang begitu menawan untuk dilewatkan. Samar jauh di sana, terlihat sosok Gunung Agung di Pulau Bali begitu berwibawa seiring matahari yang terus bergerak tenggelam menuju tiang langit. Pekik burung-burung laut tak sedikit pun dihiraukan oleh sepasang muda-mudi yang duduk di hamparan pasir. Sungguh sore yang hangat dan romantis. Waktu terus bergulir. Cahaya di langit mulai malu-malu seakan ia akan bersembunyi di peraduannya. Matahari kian menyusut di cakrawala. Sebuah senja telah berakhir di Senggigi, dan senja-senja indah lainnya akan kembali hadir esok hari.

    Sponge Salvador Dali

    oleh ESCAPADE Salvador Dali, spesies cantik ini memiliki nama latin Petrosia lignosa, termasuk dalam kelas Demospongiae, filum Porifera dan Kingdom Animalia, yap Animalia! Banyak orang mengira, sponge ini adalah tumbuhan. Bagi para diver bila berkunjung ke Gorontalo, bertemu dengan Salvador Dali ini adalah suatu hal yang tak boleh dilewatkan, karena spesies ini hanya terdapat di Gorontalo saja lho. Sponge mendapatkan makanan dengan cara menyaring partikel organik terlarut yang terapung-apung dalam lautan atau kerap disebut dengan filter feeder. Meski terlihat hanya menjadi silent citizen diantara hingar bingarnya kehidupan ekosistem terumbu karang, sponge memiliki peranan penting di dalam ekosistemnya, salah satunya sponge mampu menyaring air lautan dengan volume 20.000 kali ukuran tubuhnya dalam setiap 24 jam. Ia pun memegang vital dalam siklus karbon dan nitrogen di dalam ekosistem.
    Memuat