Notifikasi

    Future Folk
    Mendokumentasikan banyak hal menarik di sekitar scene musik independen. Dibangun dan dihidupi oleh mereka yang percaya bahwa musik adalah perjalanan panjang ke masa depan.
    Mendokumentasikan banyak hal menarik di sekitar scene musik independen. Dibangun dan dihidupi oleh mereka yang percaya bahwa musik adalah perjalanan panjang ke masa depan.
    IKUTI

    Mengenal: Mocca

    oleh Future Folk Oleh: Felix DassBeberapa tahun belakangan ini, Mocca bangkit dari kubur. Setelah memutuskan untuk vakum selama beberapa waktu karena vokalis Arina Ephipania menghabiskan waktu beberapa tahun di Amerika Serikat, mereka mulai kembali beraksi di panggung. Pelan-pelan kuantitasnya digenjot.Selain Arina Ephipania, Mocca juga diperkuat oleh Riko Prayitno (gitar), Indra Massad (drum) dan Toma Pratama (bas). Formasinya tidak pernah berganti.Selepas kebangkitan ini, Mocca menjadi salah satu raksasa yang penghasilan kotor dari manggungnya paling besar di antara sejumlah band independen lain. Mereka mengklaim kembali apa yang pernah mereka miliki di masa lalu; perhatian sebagai band yang memang meletakkan peran penting dalam cetak biru scene independen lokal Indonesia.Pertama kali, Mocca muncul di tahun 2002, lewat album My Diary. Album itu membuat banyak orang tercengang. Tidak hanya perkara musik yang segar, tapi packaging yang luar biasa bikin orang ngiler; ngiri, karena label besar tidak mungkin mengejar pendekatan desain produk yang mewah seperti itu. Jalan terbuka lebar dan mereka terus menari dengan musiknya. Mencapai satu demi satu torehan kisah yang penting untuk diceritakan ke orang banyak.Sampai hari ini, selain My Diary, Mocca telah merilis Friends (2004), Music Inspired by the Movie: Untuk Rena (2005), Colours (2007), Dear Friends (2010) dan Home (2014). Katalog yang banyak itu, kebanyakan bagus. Kecuali mini album kompilasi Dear Friends yang bisa dibilang tidak punya nyawa.Tujuh lagu di bawah ini adalah perkenalan yang mungkin bisa jadi cocok untuk memulai cerita personal dengan musik Mocca. (*)It’s Over Now Track penutup album Friends. Suara gitar lagu yang disambut gebukan tipis drum menghadirkan lagu balada paling cantik yang pernah mereka hasilkan. Dimainkan kadang-kadang di atas panggung. Biasanya sehabis diteriakkan oleh orang-orang tertentu. Kalau suka, boleh ikut teriak di panggung mereka berikutnya. Supaya lagu ini lebih sering dimainkan. Kisah cinta yang gagal, tapi disajikan dengan seperlunya. Mengena di hati kalau didengarkan berulang-ulang.Do What You Wanna Do Lagu ini menampilkan sejumlah nama sebagai pengisi vokal latarnya. Dua di antaranya adalah Rektivianto Yoewono dari The SIGIT dan Risa Saraswati dari Sarasvati. Lagu ini, merupakan provokasi aktif untuk mengejar kebebasan yang bisa jadi mimpi siang bolong untuk banyak orang. Mereka seolah bilang, “Eh, kebebasan itu bukan omong kosong loh.”Lucky Man Senada dengan It’s Over Now, Lucky Man juga mengedepankan suara gitar yang dominan dan menempel dengan erat di kepala setelah didengarkan berulang-ulang. Secara konstan, di latar belakang, permainan piano digital yang konstan juga menjadi contoh baik bagaimana kontribusi pemain tamu Agung Nugraha, anggota kelima Mocca yang menyertai mereka sejak era awal band ini.Life Keeps On Turning Video lagu ini menampilkan Satria Nur Bambang dari Pure Saturday dan Teenage Death Star. Salah satu single dari album My Diary yang berputar kencang untuk orang banyak di era MTV Indonesia sedang jaya-jayanya. Lagu klasik yang kalau dimainkan sekarang, mungkin menguras napas karena temponya agak kencang.Sebelum Kau Tidur Di mini album Music Inspired by the Movie: Untuk Rena, lagu ini menjadi satu dari dua lagu pertama Mocca yang ditulis dalam Bahasa Indonesia dan dirilis untuk orang banyak. Menampilkan sisi band itu yang tidak sering-sering muncul. Syahdu.Changing Fate Menampilkan vokal Cil dari The Triangle, band sampingan Riko Prayitno. Diambil dari album Home yang dirilis dengan status band yang dewasa. Sisi lain Mocca yang lengkap; dengan vokal latar yang bernyanyi di hampir sepanjang lagu dan megah.When We Were Young Ini paling gila: Arina Ephipania yang memang dikenal freak dengan kemampuan presisi suara dan gaya bernyanyi, bersanding dengan vokalis metal Vicky Mono dari Burgerkill. Suaranya? Ya jelas musiknya Mocca. Di beberapa artikel yang bertebaran di internet, Vicky dikisahkan mendapatkan pelajaran bernyanyi dari Arina.You’re the Man Secara konstan, band ini menyimpan ketertarikan ke banyak jenis musik. Makanya bisa super variatif dan kaya dari segi aransemen. You’re the Man, yang diambil dari album Home, menjadi contoh terbarunya. Brass section mereka yang memang selalu ambil bagian menyumbang peran dominan di lagu ini. Mungkin juga, lagu ini memfasilitasi kecintaan Riko Prayitno pada musik rockabilly.Keterangan foto:- Foto tema Mocca oleh Terry Manoppo- Foto di bodi teks oleh Shutterbeater

    Zoo Berkelana, di Eropa

    oleh Future Folk Oleh: Felix DassDua belas tahun berkarir, pembabakan baru dicoba. Zoo, mulai Rabu, 22 Maret 2017, akan melangsungkan Kelana Eropa 2017 Tour.Tidak banyak yang bisa diceritakan dari pencarian internet untuk kiprah Zoo. Mereka kecil, tapi jika peristiwa musiknya dialami dan dirasakan, kesan yang didapatkan akan tinggal dalam waktu yang lama; bisa enek, bisa kagum atau malah menikmati kekacauan yang ditinggalkan oleh berbagai nada yang dimiliki musiknya.Band ini dibentuk di Jogjakarta pada 2005. Sepanjang dua belas tahun berkarir, sampari hari ini, mereka telah merilis tiga album penuh, dua mini album dan sebuah dvd yang merekam perjalanan tur band di era album Prasasti.Band ini, memang tiarap. Semata-mata dipengaruhi oleh padatnya aktivitas Rully Shabara, vokalisnya yang kebetulan juga sedang dikenal luas lewat proyek –yang tadinya sampingan— Senyawa bersama multi instrumentalis Wukir Suryadi.Sebuah kabar masuk ke orang banyak, Zoo akan pergi ke eropa dan menjalankan sebuah agenda padat untuk mengenalkan musik mereka pada orang banyak. Bukan sekedar menjadi turis musik yang kemudian malah mendapatkan apresiasi besar di kandang sendiri, tapi minim perhatian di tempat yang justru mereka singgahi.Dalam dua puluh empat hari, mereka akan bermain di dua puluh satu pertunjukan. Waktu untuk istirahat hanya tiga hari. Di dalamnya, ada pula agenda berpindah kota. Siapapun yang pernah terlibat dalam produksi pertunjukan dan tur, pasti akan memahami; jadwal yang dimiliki Zoo bisa dibilang gila. “Kami pernah melakukan tur sebelas kota di tahun 2013, tapi itu tur yang murni DIY –do it yourself –ed—, kami selenggarakan sendiri. Kali ini kami akan didampingi oleh road manager dan sound engineer yang berasal dari Paris. Mereka akan sangat membantu kebutuhan tetek-bengeknya. Seluruh tur ini akan dijalankan lewat darat. Kami akan berpindah dengan sebuah van yang berisi backline dan alat musik. Itu sebabnya, kami hanya tur ke empat negara yang berdekatan, agar bisa ditempuh dengan jalan darat,” cerita Rully Shabara.Selain Rully, Zoo juga diperkuat oleh pemain bas Bhakti Prasetyo, pemain perkusi Dimas Budi Satya dan pemain drum Ramberto Agozalie. Dimas juga dikenal luas sebagai penabuh perkusi band folk Sungai sementara Ramberto atau biasa dipanggil Obet tercatat menjadi penggebuk drum untuk band metal legendaris Jogjakarta, Cranial Incisored.Rully kemudian melanjutkan, “Setiap kota yang kami singgahi sudah disusun secara cermat rutenya demi memaksimalkan pendapatan, meminimalisir pengeluaran dan memastikan setiap kota kecil yang kami singgahi akan membawa kita lambat laun ke kota besar selanjutnya tanpa membuang waktu dan biaya.” Sekedar catatan, perjalanan tur di belahan dunia yang industrinya sudah maju, merupakan sebuah upaya spartan untuk memperkenalkan dan kemudian menanggung reaksi masa depan atas musik yang dimainkan. Di dalamnya, hitungan ekonomi dijadikan salah satu faktor pendukung yang perlu dihitung dengan baik. Kadang, kalau salah dalam perencanaan, bisa jadi band malah harus mengeluarkan biaya untuk seluruh perjalanan tur mereka. “Pertama kali Senyawa tur eropa tahun 2012, kondisinya hampir sama. Jadwal turnya padat merayap, main di segala bentuk venue. Memang seperti itu caranya tur yang benar bagi band DIY yang mungkin belum banyak dikenal di tempat yang hendak dituju. Supaya dampaknya bisa lebih maksimal,” papar Rully tentang pengalamannya berkeliling bersama Senyawa yang kini coba diterapkan bersama Zoo.Dalam sebuah tur independen nan spartan, yang biasa terjadi pada kenyataan sehari-hari adalah sistem persinggahan di sebuah malam yang disertai dengan penjualan karya, merchandise atau sistem bagi hasil dengan venue yang disinggahi. Itu kenapa, strategi yang dibilang Rully di jawabannya jadi masuk akal.Persinggahan di kota kecil, bisa menjadi sebuah jeda sekaligus membuka kemungkinan baru yang tidak pernah bisa diprediksi wujudnya sebelum ia dijalankan. “Tahun lalu, ada promotor tur dari Prancis yang mengajak Zoo untuk merilis ulang album Prasasti dalam bentuk vinyl dan menggelar tur untuk mempromosikan album itu,” kata Rully tentang agenda utama tur ini.Jelas, empat orang personil band ini, tidak sedang dalam urusan pelesir. Mereka sedang bekerja untuk membawa musik yang mereka percaya ke panggung yang lebih lebar.Rully kembali merepet, “Kami berharap tur ini bisa membuka jalan. Belajar dari Senyawa yang hidup dari tur, pengalaman yang didapat dari perjalanan seperti ini sangat penting. Bukan untuk mengasah kemampuan saja, tapi juga pemikiran dan sudut pandang. Ini baik sekali mengingat ke depannya Zoo butuh banyak pemikiran yang radikal. Keluar kandang adalah cara terbaik untuk membuka sudut pandang. Selain itu, sepertinya sudah saatnya anak-anak diberi pengalaman setelah dua belas tahun konsisten berkarir. Lagipula, apa gunanya saya sibuk kemana-mana dengan Senyawa tapi tidak bisa mempromosikan band kesayangan sendiri?” Zoo sendiri, secara musikal, sekarang sedang melakukan riset untuk penggarapan karya baru mereka.“Arah musik Zoo ke depannya akan berubah cukup drastis. Akan banyak perubahan dalam hal strategi, metode penggarapan musik dan pendekatan terhadap bagaimana menjalankan band ini. Sejujurnya, bagi saya pribadi, band-bandan akan menjadi sangat membosankan bila menggunakan strategi pada umumnya yakni membuat lagu, merekamnya menjadi album dan memperbesar fanbase saja. Bagaimana bila band atau musik menjadi hanya salah satu elemen untuk mewujudkan proyek yang lebih besar? Itu yang akan kami capat rencananya sebelum 2025,” ceritanya. Investasi waktu yang diminta, memang panjang. Tentu saja, tidak perlu ditunggu. Zoo, setipe dengan Senyawa, adalah peristiwa mengalami sebuah momen berlatar belakang musik. Musiknya sendiri menjadi hal pendukung.Ia melanjutkan, “Zoo sebagai band hanya akan menjadi penopang konsep yang jauh lebih besar. Musik hanya sebagai salah satu unsur saja sehingga tidak hanya itu yang diperlukan untuk memahaminya. Semoga orang akan sabar mengikuti perkembangan kami agar paham apa yang saya maksud.” Nampaknya, memang misteri menjadi sesuatu yang harus ditinggalkan dari peristiwa mengalami musik Zoo ini. Supaya menjadi petunjuk untuk bisa dilanjutkan ke masa depan.“Tahap riset sudah jalan. Kami membentuk beberapa tim yang membantu untuk itu. Musik baru akan digarap bulan Oktober. Namun sebelum itu, akan ada beberapa tahap yang harus diselesaikan,” pungkasnya tentang proyek yang menanti Zoo selepas mereka kembali dari perjalanan gila ini.Selamat berkelana. (*)*) Seluruh album penuh Zoo bisa diunduh secara bebas di https://yesnowave.com/artist/zoo/.

    Bocah Tua Nakal Itu Berulah Lagi

    oleh Future Folk Oleh: BabotzEnam bocah tua nakal itu membuat “ulah” lagi. Setelah mengacak-acak lagu milik Seringai, Efek Rumah Kaca dan Naif, kini giliran Kunto Aji. Lagu Terlalu Lama Sendiri berhasil dipermak oleh Johnny Iskandar (vokal, seruling), Boedi Padukone (gitar), Yuri Mahippal (mandolin), Imma Maranaan (bass), Ajie Cetti Bahadur Syah (perkusi) dan Harri "Muke Kapur" (mini drum) menjadi jenaka.Semua dilakukan agar awet muda. Sesederhana itu alasan diberikan Johnny memilih lagu yang judulnya menjadi Too Long To Be Alone. Sementara Boedi memberikan alasan lain yang tak kalah absurd; Karena Kunto mirip Johnny ketika muda. Sedangkan alasan yang lebih masuk akal adalah syair lagu tersebut cocok untuk dikomersilkan.Too Long To Be Alone secara resmi dirilis sebagai single pada Rabu, 16 Maret 2017. Dan sebuah pentas pun digelar di No Name Bar, Poins Square, di bilangan Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Tempat yang terbilang sempit dipenuhi dengan Sahabat Ratjoen, demikian penggemar OM PMR disebut. Nunung CS bertindak sebagai penampil pembuka. Tampil cukup percaya diri membawakan beberapa karya orisinal dan lagu penyanyi bule yang diaransemen ulang ala Nunung CS. Menggelontorkan canda yang inginnya mengundang tawa namun kerap kali garing.Leanna Rachel selanjutnya tampil menenangkan suasana dengan petikan gitar dan suaranya. Tanggapan penonton yang tampaknya tak sabar menanti OM PMR beragam. Entah tidak mengerti atau berusaha tidak meladeni, Leanna terus saja menyanyi atau sesekali menyapa penonton. Leanna tampil juga dengan dua orang temannya : Rebecca Reijman dan Athron. Tempik sorak sontak terjadi ketika OM PMR hadir. Tapi diawali dengan hal yang serius : menyanyikan Indonesia Raya. Lagu “serius” lagi-lagi dibawakan ketika menjelang akhir pentas mereka. Rayuan Pulau Kelapa dibawakan dengan aransemen khas OM PMR tentunya.Dibawakannya dua lagu nasional itu tampaknya adalah upaya OM PMR untuk menunjukkan kecintaan kepada Indonesia. Seperti yang diungkapkan Boedi beberapa jam sebelum acara, bahwa mereka ingin seperti Gombloh memiliki lagu nasionalis. Bukannya tidak pernah mencoba, sudah beberapa kali namun belum menemukan formula yang tepat.Kembali ke suasana pentas, goyangan dan koor massal tak terbendung. Bahkan ada pula pemandangan yang kerap terlihat di konser dangdut; penonton berjoget sambil di gendong di bahu temannya. Lengkap pula dengan atraksi membuka baju lalu memutar-mutarnya. OM PMR pun tak mau kalah. Harri Muke Kapur seperti biasa tampil menggila dengan mini drumnya. Bahkan mengajak Leanna dan Rebecca naik panggung untuk berjoget. Sementara Boedi, Johnny dan Ajie menggelontorkan humor dewasa. Johnny bahkan sempat pula menyinggung soal pengharaman musik. (*)

    Cerita Garna dari Amerika

    oleh Future Folk Oleh: Felix DassHari esok selalu menjadi misteri. Kadang, ia terlalu berjalan liar di luar akal sehat dan prediksi-prediksi yang bisa ditakar manusia. Garna Raditya mengalaminya.Buat orang yang hidup di luar Semarang, kota itu bisa dengan mudah diasosiasikan dengan Garna kalau sudah bicara musik. Kuantitas aktivitas yang ia rekam sejak awal 2000-an berjalan begitu masif. Ia ada di mana-mana, di segala macam lekukan aktivitas scene independen. Musik, menjadi tidak terkotak-kotakan dalam kamusnya. Segala macam dilahap.Geliat Semarang sebagai kota, memang belum jadi yang terdepan untuk urusan talenta. Fungsinya, dilengkapi dengan latar belakang sebagai kota besar, masih sebatas konsumen. Itu secara umum. Tidak banyak band asal Semarang yang bisa keluar dan kemudian mengukir ceritanya di pasar yang lebih besar. Peran dominannya sebagai kota besar dalam lanskap kehidupan Indonesia secara umum, tidak tercermin dengan baik jika bicara scene musik independen. Tapi, toh berbagai macam aktivitas yang independen berlangsung dengan konsisten, kendati belum besar. Yang dilakukan Garna secara spartan sejak beberapa tahun yang lalu adalah memperkenalkan kota itu ke dalam peta nasional. Berbagai cara ditempuh, mulai dari bermain musik sampai membuat media atau membangun jaringan swadaya yang membuat para pelaku di sekitarnya bisa mendapatkan putaran ekonomi untuk terus melanjutkan hidup sembari bersenang-senang band-bandan. Kerjanya keras. Tentu, didukung oleh sejumlah kawan yang bekerja secara kolektif. Yang ia suka, dihidupi. Kendati pada akhirnya sampai di sebuah persimpangan jalan; memilih hidup pribadi atau komunal.Perjalanan membawanya hijrah ke Amerika Serikat, memulai hidup yang baru dengan Megan Hewitt, istrinya yang juga merupakan partnernya di duo folk Antaralain. Mereka berdua dipertemukan Semarang. Bisa jadi, bagian dari sebuah partikel peristiwa besar yang didapat dari berbagai macam aktivitasnya di dalam scene independen.Menjelang kepergiannya di 2016, ia mengebut sejumlah pencapaian yang ada di kepala. Mengejar banyak proyek tertunda. Termasuk merilis beberapa album secara berturut-turut; mulai dari Antaralain, AK//47 dan proyek solonya, Benua yang Sunyi. Sebuah album yang sama sekali tidak pernah diduga keberadaannya, di mana ia memainkan gitarnya sendiri dan membuat serangkaian komposisi instrumentalia. Tidak bisa dilupakan juga bahwa ia merupakan bagian dari band indiepop OK Karaoke. “Sambil ngeband ini-itu, sekaligus menjadi wartawan membuat saya semakin mendengarkan banyak jenis musik. Dan perasaan itu membuat kegelisahan; ketika menyukai lagu tertentu kemudian membayangkan seolah-olah sedang berada di panggung, memainkannya. Itu yang saya rasakan tiap mendengar lagu. Suka musiknya, bikin lagunya. Ingin menjajal semua. Ada impian, suatu saat membuat album antologi, lintas genre,” jelasnya tentang alasan sederhana di balik petualangan liarnya menjajal banyak sisi musik dalam pengkaryaannya.Sampai hari ini, ia telah merilis tujuh buah album yang meletakan peran sentralnya sebagai seorang musisi. Bukan jumlah yang sedikit. Tidak banyak yang tahu, bahwa referensi memang mengambil peran penting dalam sejarah hidupnya. Kendati dikenal luas pertama kali sebagai gitaris sebuah band grindcore, sesungguhnya petualangan cintanya dengan musik berlangsung sejak jauh di belakang. Di masa-masa ia hidup berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya.“Di masa SD-SMP, saya pindah ke Surabaya, kota yang kerap disebut barometer musik rock. Bersama teman-teman sekelas, saya mendatangi acara musik kampus yang banyak menampilkan band-band underground dan alternatif seperti Karpet, Bluekhutuq atau Andromeda,” kenang Garna.Ia melanjutkan, “Memasuki SMA, saya pindah ke Depok dan mulai membaca banyak fanzine dan mendengarkan rilisan punkrock dan grindcore di markas Anti Fascist dan Rascist Action (AFRA) yang menjadi cikal bakal kolektif Taring Babi yang juga diinisiasi teman-teman Marjinal. Dari situlah saya berkenalan dengan musik bertema politis.” Jadi, ketika ia hijrah ke Semarang di periode hidup berikutnya dan kemudian membangun banyak hal, tabungan referensi itu mengambil peran.Dalam petualangannya, setidaknya ada sejumlah belokan penting di sekitar musik yang menjadi persinggahannya. Selain menjadi musisi, ia juga menjadi inisiator untuk semarangonfire.com, Inkraft yang bergerak di bidang wirausaha serta mengelola Vitus Records, label dan distro untuk berbagai macam barang berbau musik.Salah satu yang penting adalah membangun semarangonfire.com, sebuah portal yang memberitakan banyak hal yang berlangsung di Semarang.“Yang saya alami dulu, jarang yang menulis tentang aktivitas kami di sekitar. Lingkaran peran musik hanya meliputi band, album, distro, videografer, pendengar, merchandise, organiser, fotografer dan beberapa hal lain. Sayangnya, di kota kami jarang ada penulis. Berawal dari situlah hasrat untuk menyiarkan apa saja yang dilakukan anak-anak Semarang tumbuh. Meskipun tidak keren-keren amat, setidaknya menegakkan tradisi untuk mencatat,” ujarnya. Lalu bagaimana kehidupannya sekarang selepas membuka halaman baru di benua yang (mungkin awalnya) sunyi?Ia menjawab santai, “Ketika saya pindah ke sini, saya tidak memiliki ekspektasi yang berlebihan. Ini bukan sebuah hidup yang tampak mudah seperti pada foto-foto yang diunggah di media sosial.” Kendati berbau sinisme, ia melanjutkan omongannya, “Tapi hidup di negara bagian California, itu sudah cukup menyenangkan. Sekaligus bisa menjadi kawah candradimuka. Apa yang bisa kita nikmati dari Indonesia, banyak yang berasal dari sini. Tidak bisa dipungkiri. Saya bertemu dengan orang-orang tersebut dan memicu untuk melakukan hal-hal yang belum saya lakukan dulu.”Itu sudah bisa diterjemahkan dengan mudah; mendapati banyak band dengan talenta dan inspirasi penting yang sebelumnya hanya bisa didengarkan dan kini bisa ditonton dengan mata kepala sendiri. Termasuk kemudian melanjutkan euforia dengan menciptakan band baru.“Sudah dapat kalau band. Mencarinya itu sulit setengah mati. Saya mencari lewat Craigslist selama enam bulan dan tiga kali gagal audisi. Akhirnya dapat yang ideal, punya studio latihan dengan alat lengkap dan bisa rekaman sendiri serta mampu latihan tiga jam per hari dan dua kali per minggu. Jadi disiplin. Nanti kalau sudah siap tempur, pasti diceritakan,” ujarnya membongkar sedikit rahasia. Cerita panjangnya mengindikasikan sesuatu; ia tidak bisa berhenti begitu saja. Rencana-rencana yang berkaitan dengan kampung halaman, masih dijalankan dengan komitmen yang tebal.“Semuanya hampir masih saya kerjakan. Album solo kedua, mini album AK//47 dan Antaralain sudah diagendakan untuk dirilis tahun 2017. Sedangkan OK Karaoke akan merilis kaset maxi single untuk beberapa materi yang belum dirilis. Kita juga akan merilis sebuah video klip. Secara keseluruhan, saya hanya absen di panggung saja. Perkara menulis lagu, masih jalan terus,” paparnya. Badan boleh jauh, pikiran tetap dekat.“Hampir sama seperti yang lain, kangen pasti ada. Kadang saya merasa konyol ketika merindukan nyamuk, polusi, makanan yang tidak higienis dan hal-hal lain yang pernah saya cemooh ketika tinggal di Semarang. Setelah pindah ke sini, saya bisa melihat perspektif yang berbeda. Saya bisa lebih dekat dengan teman-teman di Indonesia dan ingin tahu lebih banyak apa saja yang mereka lakukan,” katanya.Garna masih ada untuk kita semua, yang terus bergerak di kampung halaman. Kontribusinya, mungkin tidak terasa secara fisik, tapi inspirasinya masih berputar. Yang hilang, mungkin hanya teman minum Chongyang dan makan babi di Pecinan Semarang. Selebihnya, karyanya masih terus berbunyi. “Ada yang bilang, usia 30-40 adalah tahun stamina kuda. Agaknya waktunya pas jika sekarang saya berada di lingkungan baru. Menjadi bukan siapa-siapa adalah awal yang baik. Kembali merasakan diremehkan oleh orang lain. Itu bisa memberitahumu apa yang perlu dipelajari. Saya kadang masih kikuk, minum bermacam-macam bir dan miras lainnya. Varian baks yang begitu banyaknya dan seolah-olah hidupnya hedon. Tapi ya begitu, di sini kerja keras. Pesta pun lebih keras. Sehingga hidupnya lumayan seimbang,” ceritanya panjang lebar.Rasanya, kita semua yang membaca tulisan ini, harus bersyukur. Orang-orang dengan bensin bertangki penuh, selalu ada untuk mengobarkan perjalanan melakukan apa yang disukai. Musik, jadi medium yang memang selalu dihidupi. Semoga, yang direncanakan oleh Garna, bisa segera tiba di genggaman. (*)

    Album Review: Apologia (ReIssue) oleh Sajama Cut

    oleh Future Folk Oleh: Felix DassKetika gelombang reissue datang untuk menghadirkan kembali romantisme masa lalu dan karya-karya lama yang sempat terlupakan, saya memberikan ruang untuk menunggu bagi Apologia, debut album Sajama Cut.Album yang sangat gelap itu, dirilis tahun 2001. Di stiker kover depan versi reissue ini, album ini disebut sebagai “The mythical debut album”.Saya mengenalnya ketika baru saja pindah ke Bandung untuk masuk kuliah. Sebuah titik distribusi kecil di seberang kampus, memajang poster album Apologia dengan cara berpromosi saat itu; kuantitas banyak, dijejerkan untuk menarik perhatian. Masih berupa kertas fotokopi yang hitungan tarifnya beda dengan teks. Gambar perlu tinta lebih banyak, menurut para pengusaha fotokopi itu. Pada saat itu, saya belum tahu musik seperti apa yang dimainkan oleh Sajama Cut. Tapi dengan frekuensi pandang yang meneror itu, akhirnya saya memutuskan untuk berkenalan dengan rekaman itu.Apologia di putaran pertama –waktu itu formatnya kaset— tidak ramah di telinga. Saya tidak asing-asing amat dengan kualitas rekaman lo-fi, tapi kebisingan dan raungan liar Sajama Cut terasa begitu sakit di telinga. Perlu investasi waktu yang cukup lama untuk bisa kemudian memberi pengertian diri untuk menyimak Sajama Cut.Dan rasanya, seperti itulah cara mereka masuk ke dalam diri saya. Sajama Cut selalu tentang mendorong titik toleransi menjadi lebih jauh. Apologia adalah pembukanya.Ada satu frase yang terus terang menghantui sampai hari ini, sepotong lirik Momentum Dimana Terluka, track pembuka album ini.Begini bunyinya:Bakar jiwa tusuk hati setiap hariRenung nanti saat dimana semua dapat kembaliAku bersedia mati...Menyeramkan kan? Kalimat terakhir itu mengiang-ngiang. Dalam hati, “Kok ada ya orang yang segini pasrahnya sama hidup?” Waktu Apologia dirilis, saya merupakan seorang yang hidupnya sangat cerah, berusia delapan belas tahun. Hidup masih terlalu hitam putih dan kekontrasan yang ada di dalam diri, masih begitu tebal. Kurang lebih begini: Kenapa harus negatif kalau bisa positif?Mendengarkan Apologia adalah pendorong keberanian untuk mencoba hal-hal baru. Teriakan-teriakan Marcel Thee nampak begitu penuh dengan kemarahan. Tapi, begitu disadari, ia tidak sedang bercerita tentang isu-isu sosial. Ia menulis dengan sangat personal. Entah memang kehidupanya seperti itu atau tidak, tapi kemampuannya untuk memotret sebuah hal negatif dengan begitu anggun, membuat saya punya pengalaman baru. Tidak mengherankan jika kemudian Momentum Dimana Terluka itu jadi menempel dengan jelas. Album ini jadi semakin dinanti ketika fakta mencatat bahwa Sajama Cut jadi manis di rilisan-rilisan berikutnya. Sisi misterius Marcel Thee, diakomodir di kendaraan yang lain. Sementara Sajama Cut dibawanya menjadi unit indie rock yang musiknya melodius. Kalaupun perlu marah, cara penyampaiannya tidak perlu semarah Apologia. Dengan memegang cd Apologia di tangan dan mengubah lagu-lagu di dalamnya ke dalam format mp3 untuk didengarkan di sejumlah tempat lain di luar rumah, harus diakui merupakan sebuah pengalaman yang utuh; telah dinantikan lama, berhasil dilakukan dan dijadikan kebiasaan. Satu bagian dari checklist sudah dicentang. Apa yang dilakukan Sajama Cut (dengan bantuan Paviliun Records dan Kebun Suara), menunjukan bahwa proyek reissue memang pada dasarnya memberikan nyawa kembali pada rekaman lama.Jangan kaget menemukan Sajama Cut yang penuh amarah ya. (*)*) Foto kover Apologia diambil dari akun Instagram Table Six, biro desain yang menggarap kover album reissue ini.*) Foto resmi Sajama Cut diambil dari www.sajama-cut.com.

    Album Review: Milkbox oleh Barefood

    oleh Future Folk Oleh: Felix DassDi sebuah pagi, ketika review ini ditulis, saya turun ke bawah, keluar dari kamar. Melihat kehidupan di sebuah pagi di lantai bawah rumah. Tujuan pertama dapur; menyeduh kopi. Sembari menunggu air mendidih, saya beranjak melangkah ke area tempat memutar cd. Tanpa perlu mengganti apa yang ada di dalam mesin pemutar, saya mengambil remote control dan memencet tombol play. Tidak perlu mengecek apa yang ada di dalam, karena ia telah ada di sana dalam beberapa puluh jam terakhir; bersemayam dan setia.Cd yang diputar adalah album Milkbox milik Barefood. Kepingan yang terus menerus menguasai kepala beberapa hari terakhir. Review ini ditulis di hari kelima ia menemui dunia dalam bentuk fisik. Sebelumnya, ia dirilis secara digital. Beberapa pekan sebelumnya.Milkbox menguasai hidup saya. Seolah tidak peduli antrian, ia menyelak dan tidak mau melepaskan hak untuk perhatian yang sepatutnya memang dibagi rata. Saya tipe orang yang membeli cd sekaligus dalam jumlah banyak, untuk kemudian mendengarkannya satu demi satu. Tapi, Milkbox mengambil keinginan untuk mendengarkan cd-cd baru tadi dengan semaunya. Satu-satunya jeda adalah ketika saya harus mendengarkan musik tidak dengan pemutar cd tadi. Album ini belum dirip menjadi mp3, jadi tidak bisa dibawa kemana-mana musiknya. Maklum, komputer pribadi saya, tidak punya cd-rom. Jadi, sesi ngerip cd memang jatahnya seminggu sekali, di komputernya RURUradio.Itu cerita personal tentang bagaimana sebuah album bisa menguasai hidup orang yang mendengarkannya. Klise, tapi saya yakin tidak sendirian. Ada banyak orang yang hidupnya seketika langsung dikuasai oleh Milkbox.Tidak banyak album yang punya kemampuan seperti ini. Dan semuanya harus ditarik ke masa lalu untuk bisa menjelaskan kenapa bisa jadi begini.Tahuh 2013, saya ingat sebuah peristiwa lagi. Latar belakangnya sama; rumah. Hanya saja, waktu itu saya tinggal di belahan kota yang lain. Persis seperti apa yang terjadi di awalan tulisan ini, hanya saja di sore hari. Saya nyangkut dengan sebuah cd –juga bercover perempuan— berjudul Sullen EP. Itu adalah debut mini album Barefood dan lima ratus kopi cd yang diproduksi Anoa Records, ludes dalam waktu yang tidak lama.Sullen (dan musik Barefood) nihil pembaruan. Ia bisa tersambung dengan selera banyak orang, mungkin, karena keberaniannya mengembalikan indierock yang tradisional pada khitahnya. Mereka tidak menggunakan banyak efek yang tidak perlu hanya untuk menunjukkan sesuatu yang kurang penting. Mereka seperlunya dan mengandalkan petikan gitar yang konstan serta dua tipe vokal yang mirip milik Ditto dan Mamet, dua orang personil asli band ini.Semua yang serba pas itu menempel di hati orang banyak. Termasuk kemudian timbulnya harapan untuk sebuah karya yang lebih panjang yang mengikuti Sullen.Tahun 2015, proses Milkbox dimulai. Perlu satu setengah tahun kira-kira untuk menyelesaikannya. Bandnya tidak gegabah untuk merilis album ini cepat-cepat. Santai saja dan hasilnya ya seperti sekarang ini; album ini berhasil menemui banyak ekspektasi orang yang berani berharap tadi. Termasuk saya. Milkbox adalah kelanjutan yang sangat menyenangkan untuk didengar. Mereka lebih menghitung kemungkinan dan aransemen yang dimainkan. Jadi lebih matang dan berhasil membagi sama rata sama rasa energi yang dimiliki. Semua tracknya nampak pas ada di sana. Alur mendengarkannya terasa stabil dari depan sampai belakang.Ada sesuatu yang perlu diceritakan. Begitu Milkbox dirilis dalam format digital, saya menulis status di Facebook pribadi, menanyakan kepada kawan-kawan lagu apa yang disukai dari album ini. Saya memilih Amelie, yang sedari pertama memang mencuri perhatian. Tentunya setelah mendengarkan single berjudul Milkbox yang sudah dirilis duluan beberapa minggu sebelumnya. Yang menjawab banyak. Kebanyakan memilih lagunya masing-masing. Setidaknya ada enam atau tujuh lagu yang disebut di status itu. Berarti, memang album ini punya materi yang kuat kalau sampai orang dengan berbagai macam karakter bisa berbeda pendapat untuk mengungkapkan apa yang membuat mereka nyangkut mendengarkan Milkbox.Segenap puja-puji dan rasa terima kasih memang perlu diberikan pada Barefood atas Milkbox. Buat saya, sepanjang 2017 yang sedang berjalan ini, bisa jadi Milkbox adalah album terbaik.Coba dengarkan lagu-lagu ini: Milkbox, Amelie, Candy, Grown Up, Hitam, Biru dan Sears. Itu rekomendasi saya.Kok banyak? Iya. Karena semuanya yang tersebut itu bagus.Memang satu album ada berapa lagu? Sembilan. Tujuh dari sembilan bagus. Sudah cukup menjelaskan? Kalau belum, simak rentetan kalimat berikut (dan dengarkan link musik di halaman ini): Milkbox adalah album penuh pertama Barefood, duo dari Bekasi. Mereka memainkan indierock klasik tiga jurus dengan dua vokalis yang bertipe suara mirip, mengisinya dengan banyak melodi gitar dan lini bas yang menjaga kedalaman. Musiknya terdengar melodius, digarap dengan rekaman yang baik. Mereka menulis lirik dalam dua bahasa, tapi tidak dicantumkan di dalam sleeve album yang mereka rilis. Milkbox harus disimak baik-baik, karena ia menjadi katalisator bagi Barefood untuk didengarkan oleh lebih banyak orang di luar sana. Sekian.Milkbox dirilis oleh Anoa Records. Bisa jadi, setelah Sullen EP, ini akan menjadi katalog paling laris manis tanjung kimpul milik Anoa Records. Berdoa saja supaya mereka mau terus mencetak rekaman ini agar ketersediaannya terjamin. Kalau tidak ingin bergabung dalam deretan pendoa ini, segera cari cdnya. Belilah dua atau tiga kopi. Jadi, kalau rusak karena keseringan diputar, masih ada cadangan di masa depan. Tapi ingat, jangan menggunakan sudut pandang pengepul ya, kasihan orang yang mau benar-benar memilikinya. Selamat mencari. Saya mau menghabiskan kopi tubruk andalan dulu. (*)*) Milkbox bisa didapatkan di banyak toko musik. Coba cek www.instagram.com/anoarecords, semua tokok yang menjual Milkbox tercantum di sana.
    Memuat