Notifikasi

    Future Folk
    Mendokumentasikan banyak hal menarik di sekitar scene musik independen. Dibangun dan dihidupi oleh mereka yang percaya bahwa musik adalah perjalanan panjang ke masa depan.
    Mendokumentasikan banyak hal menarik di sekitar scene musik independen. Dibangun dan dihidupi oleh mereka yang percaya bahwa musik adalah perjalanan panjang ke masa depan.
    IKUTI

    The Future Folk Interview: Kolibri Rekords

    oleh Future Folk Oleh: Felix DassBeberapa tahun yang lalu, Daffa Andika, seorang kawan lama, mengirim pesan. Saya lupa medianya apa, kalau tidak salah Facebook Messenger. Dia memberitahu bahwa ia baru mendirikan sebuah record label dan merilis roster pertamanya. Labelnya bernama Kolibri Rekords dan band yang ia rilis bernama Bedchamber.Ini Daffa: Saya membeli cd debut mini album Bedchamber dan langsung terkesima luar biasa. Seolah, ada dunia baru yang dibuka di depan layar hidup saya. Band itu, punya vokalis yang akan kharismatik di masa depan. Namanya Ratta Bill.Ini Ratta: Inti dari Kolibri Rekords adalah mereka berdua. Dalam aktivitas kesehariannya, dibantu oleh sejumlah teman. Ada yang menarik dan tidak henti-hentinya bisa dibahas; mereka membawa energi baru yang bisa mendobrak sekaligus mempertanyakan banyak hal di seputaran scene musik independen. Salah satu yang paling penting adalah regenerasi sekaligus menghadirkan talenta baru muda usia yang bisa meneruskan geliat bermusik ke masa depan.Kami bertemu di Bintar Xchange, sebuah mal yang dari segi kepraktisan boleh diacungi jempol tapi isinya suka buat kepala keblinger. Obrolan dimulai malam hari, awalnya dengan Daffa dan kemudian ditambah Ratta. Mulut mereka besar, sebesar hasrat menjalankan apa yang mereka genggam di dalam tangan sekarang ini.Karena gairah itulah, Kolibri Rekords menarik untuk dikabarkan pada orang banyak. Selamat membaca. (*)Ceritain dong gimana berdirinya Kolibri Rekords?Daffa (D): Awalnya gue mendirikan Kolibri Rekords itu sekitar 2013. Waktu itu, gue sama Ratta lagi apa ya, ibaratnya lagi euforia membuat sesuatu. Kita kayak baru akrab. Menghasilkan sesuatu. Saat itu kita sukses, dalam tanda kutip ya, untuk bikin sebuah pameran visual yang isinya beberapa artis muda. Gue sama dia yang menginisiasi pameran itu dan lumayan ramai yang datang. Salah satu yang ikut adalah Smita (Basuki) dan Abi (Chalabi) yang kemudian jadi personil Bedchamber. Jadi ya, si Ratta ketemu mereka via pameran ini. Mereka bertemu dan lebih nyambung soal musik ketimbang soal desain dan visual. Akhirnya mereka ngeband dan memutuskan untuk merilis single. Gue juga kebetulan waktu itu masih aktif nulis untuk berbagai webzine, tapi sudah mulai bosan. Pas tahu Ratta akhirnya ngeband lagi dan mau rilis single plus gue denger materinya juga ok, gue merasa bikin record label sepertinya seru juga dan masuk akal. Niatnya untuk membantu Ratta merilis Bedchamber dan gue ingin mencoba hal baru aja. Ratta pun merespon dengan semangat untuk membantu ide itu dan akhirnya kita sepakat untuk bikin Kolibri Rekords.2013 akhir? Berarti usia kalian sama?D: Gue sama Ratta seangkatan.Kelahiran 1995?D: 1994.Berarti di pameran itu kan langsung dapat dua gebukan tuh; jadi Kolibri Rekords, jadi Bedchamber. Menurut lo, kenapa bikin record label itu masuk akal sih? Idenya hanya ingin membantu Ratta merilis sesuatu atau punya hal yang lebih besar dari itu?D: Gue lupa ini datangnya belakangan atau langsung saat itu. Gue berpikir bahwa pameran itu bertujuan untuk bikinin showcase untuk teman-teman yang gue tahu dari internet. Di Facebook nih, dia berkarya. Cuma nggak punya exposure. Nggak pernah dapat exposure. Mereka cuma sebatas upload di akun pribadi aja. Belum dapat rekomendasi yang lebih. Padahal karya-karyanya lumayan khas dan kuat. Kenapa nggak kalau kita bikin pameran dengan kurasi yang nyantai dan dilakukan oleh teman-teman yang seangkatan, segenerasi untuk mewakili segi visual atau seni rupa untuk generasi kita ya seperti ini. Dengan logika itu, akhirnya gue mikir, “Kenapa nggak gue terapkan hal yang sama untuk musik ya?” Kebetulan gue juga punya ketertarikan di musik. Gue merasa cukup punya jaringan dan kenal dengan sejumlah orang yang mungkin bisa bantu gue di kemudian hari. Saat itu juga, gue melihat bahwa di scene musik lokal, gue bosan juga. Gue melihatnya kayak gini-gini aja. Gini-gini aja tuh kayak gimana maksudnya?Maksudnya, hanya dilakukan oleh orang-orang yang senior. Mereka hanya mengulangi hal-hal baru, maksudnya ada kebaruan di sana tapi ternyata ujung-ujungnya adalah orang-orang lama juga di baliknya. Kenapa generasi gue jadi pasif aja, cuma jadi konsumen. Karena kalau gue datang ke gigs saat itu, misalkan apa ya, apakah gue bisa mewakili generasi gue? Oke, gue mungkin beruntung lebih dulu kenal banyak orang. Gue punya privilege kenal banyak orang, tahu banyak hal dan gue terbiasa ada di situ. Cuma dengan posisi yang begitu, kadang gue merasa sebagai alien. Semua konteks pergaulannya gue belum tentu ngerti. Ada internal jokes yang begitulah. Gue nggak bisa menikmati konteks acara itu secara keseluruhan. Gue merasa ya itu karena gue anak baru, anak bawang yang nggak ngerti apa-apa. Karena umur gue dan gimana lagi teman yang lain? Misalnya gue ngajak teman nonton, lah gue enak masih bisa ngobrol sama yang lain karena kenal dan masih punya sedikit konteks. Sedang kalau mereka, teman-teman itu, nonton aja kayak nggak tau apa-apa, nggak kenal siapa-siapa. Merasa kayak, “Eh, mereka lagi ngomongin apa sih? Mereka lagi ngetawain apa sih?” Gitu kan? Mereka merasa nggak punya kedekatan dan kepemilikan terhadap itu. Gue hanya datang sebagai penonton dan sudah gue pulang sehabisnya. Nggak ada rasa kepemilikan bahwa ini bagian dari gue juga atau gue ingin memberi kontribusi supaya ini jauh lebih baik lagi. Yang kayak gitu tuh nggak ada. Sedangkan, gue merasa kalau begini terus, kayaknya lama-lama ya habis. Akan berhenti di generasi gue. Apakah daam beberapa tahun lagi adik-adik gue masih mungkin merasakan hal-hal yang begini? Coba aja cek, orang yang lahir setelah 1996 itu scenenya udah nggak ada.Oh gitu?Iya, sejauh ini, gue melihat kayaknya yang ngumpul-ngumpul bikin acara mungkin berhenti di angkatan yang lahir 1994 atau 1995. Setelah itu sudah jarang. Malah mungkin nggak ada buat gue. Semoga aja gue salah. Cuma ya itu tadi, balik lagi ke awal gue bikin record label; gue ingin mencoba. Ya mungkin setidaknya punya pergerakan untuk membuat generasi gue lebih kaya aja. Gue juga pengen sesuatu yang lebih segar, yang baru. Kita melakukan hal-hal juga dengan semangat yang masih baru, dengan perspektif yang baru. Scenenya nggak cuma berisi orang-orang lama aja. Orang tua lagi, orang tua lagi. Jadi, gue pengen di acara gue, bisa have fun, teriak-teriak, memaki bandnya, karena itu mungkin yang nggak bisa gue dapatkan di scene orang lama. Elo ngerti kan maksudnya? Pasti elo akan akan mengalami experience yang lebih menyeluruh ketika gue benar-benar bisa menjadi diri sendiri di gig itu. Gue bisa dengan enak ngatain band, penonton dengan santai. Karena itu kita masih connected dan seumuran. Nggak ada sungkannya. Jadi begitu sih, itu yang gue harapkan dari bikin record label sendiri. Menurut elo, memang seberapa membosankannya scene yang berisi orang-orang lama?D: Bukan membosankan dalam arti boring ya. Cuma dalam artian kenapa elo-elo terus pelakunya?Itu membuat elo resah?D: Lumayan.Kenapa menurut elo bisa begitu?D: Karena memang apa ya, gue melihatnya orang-orang yang ada di scene musik independen sekarang ini kebanyakan adalah mereka yang sudah ada di situ sejak puluhan tahun yang lalu. Sejak scene ini baru dimulai. Orang-orangnya mungkin masih sama-sama aja. Ada yang sudah tidak aktif, tapi yang aktif sekarang, kebanyakan mereka yang ada di sana sejak dulu kala. Di saat orang-orang ini akhirnya punya hidup yang lebih mapan, mereka akhirnya bisa bekerja untuk media, bisa bekerja untuk segala macam yang akhirnya bisa menghidupi scene ini. Yang tadinya anggak ada. Misalnya ada yang tadinya dekat sponsor, promotor, vendor produksi atau media tadi. Orang-orang ini secara nggak langsung menghidupi scene ini jadi lebih maju. Jadi maju ya berkat orang-orang itu. Pada akhirnya timbul anggapan bahwa scene ini adalah mereka. Ketika elo bilang scene independen, ya secara nggak langsung ada perwakilan-perwakilan yang mendefinisikan term itu. Karena makin established, akhirnya angkatan baru melihat itu sebagai sesuatu yang sudah mapan. Mereka menerima itu apa adanya. Melihat White Shoes and the Couples Company atau Efek Rumah Kaca sudah sebagai band besar yang mereka idolakan. Sudah, sampai di situ saja. Berhenti. Ini gue melihat kondisinya sudah mapan dan tinggal dinikmati saja. Mereka nggak berpikir bahwa ini merupakan suatu hal yang harus dibina sama-sama, harus dibangun. Nggak kepikiran tuh.Jadi, sudut pandangnya sudah beda ya?D: Sudah berbeda. Buat anak-anak sekarang, atau mereka yang di bawah gue, scene itu adalah sesuatu yang mereka take it for granted. Udah ada di sana, tinggal dinikmati. Mereka nggak tahu kalau di belakang itu ada proses-proses yang harus juga dijalani. Scene itu bukan sekedar band-bandnya saja. Mindset itu nggak dimiliki oleh anak-anak sekarang. Jadi, gue ingin mencoba, ya nggak tahu juga gue bisa apa nggak, tapi setidaknya di kepala gue ada niatan untuk merangkul setidaknya generasi gue. Anak-anak yang sudah berjarak dengan logika-logika scene itu tadi. Gue memperkenalkan itu; misalnya saja kita perlu untuk bergerak barengan, membuat segala sesuatunya sendiri dan untuk sampai ke satu titik tertentu, memang ada prosesnya. Ok. Itu kan tadi tentang misi dasarnya. Lalu Kolibri Rekords kan jalan dengan keberadaan Bedchamber, saling berkaitan. Nah, ketika Bedchamber kemudian dirilis dan mendapatkan respon yang luar biasa bagus, menurut kalian, kenapa bisa begitu sih? Kalian merilis Perennial EP yang jumlahnya lima ratus dan habis dalam berapa, enam atau tujuh bulan?Ratta (R): Ya, kurang dari setahunlah.Dan berhasil meninggalkan jejak kan? Kalau tadi Daffa bilang kalian harus membuat sesuatu dari dasar dan ternyata efeknya lebih dari target market yang kalian tuju, menurut lo kenapa bisa begitu?R: Untuk konteks Bedchamber, pastinya di awal ngeband ada banyak aspek. Gara-gara ketemu teman yang cocok, punya intensi yang sama. Awalnya seiring waktu, kita merilis EP itu pada dasarnya hanya ingin punya bentuk fisik dari rekaman kita. Dan nggak disangka demandnya lumayan dan sampai sekarang pun masih ada. Kita nggak banyak menerka-nerka ada apa sebenarnya. Tapi dari pengalaman gue sih, emang kayaknya kita ada di momen yang tepat. Gue suka musik begitu, ya gue main musik yang begitu. Jadinya jujur aja EPnya. Nggak meledak, tapi ya perlahan orang tahu dan beli. Dari sistem penjualannya, gue bisa lihat bahwa orang-orang sebenarnya mencari, tapi nggak tahu harus mencari kemana.Harus kemana nyarinya? Nggak tahu apanya?R: Oh, maksudnya sistem penjualan kita kan nggak kayak Collapse (band asal Bandung, yang juga menuai ketertarikan orang banyak), misalnya. Collapse tuh jualannya lebih cepat dari kita. Kalau Bedchamber itu laku, tapi ya naik terus. Jadi berasa orang mencari dari level yang nggak tahu sampai akhirnya tahu. Pelan-pelan. Karena Bedchamber kan memang mulai dari nol. Orang tahun, mencari dan kemudian akhirnya habis dibeli. Gara-gara Bedchamber pula akhirnya si Kolibri bisa dapat hitungan bisnis yang make sense atau gimana? Karena itu kan rilisan pertama dan akhirnya sampai sekarang kalian sudah sampai rilisan ke berapa, tujuh? Delapan?D: Enam, baru mau ketujuh.R: Yang fisik baru lima, bandnya sih tujuh kalau nggak salah.Ok, dari Bedchamber itu kan kalian dapat benefit finansial berarti? Apakah itu kemudian membawa ide-ide ini berkembang? Awalnya kan saling terkait, lalu kemudian menyentuh band-band lain yang tidak sekedar Bedchamber saja.R: Sebenarnya dari awal, ini bukan hal yang kita fokuskan. Memang ada pikiran bahwa ternyata musik yang dimainkan oleh Bedchamber, walaupun nggak baru dan sudah ada band yang memainkan musik sejenis di sini, untuk ranah populer masih sesuatu yang jarang. Ada The Wellingtons, Sharesprings atau Humsik, yah band-bandnya Heyho Records itulah. Mereka sudah memainkan musik yang model begini dari lama. Tapi mereka memang bermain di tatanan yang lebih underground lagi, benar-benar indiepop yang murnilah ibaratnya. Sedangkan mungkin satu-satunya yang lebih populer dengan musik yang mirip, mungkin The Sastro. Tapi mereka sudah selesai, bertahun-tahun sebelum Bedchamber keluar. Ini menurut gue kenapa tiba-tiba jadi nyambung. Jadinya klik banget sama orang banyak, mungkin karena ada rasa yang baru aja. Saat itu yang keluar kan yang gitu aja. Bedchamber memainkan pop jangly yang jarang terdengar. Mungkin juga karena visual dan konsep yang kita bawa cukup berbeda. Jadinya kena di banyak orang. Selebihnya gue nggak tahu tapi apakah berdampak besar, jawabannya iya. Karena akhirnya gara-gara Bedchamber gue merasakan, “Anjing, gue punya duit nih!” Di tangan ada lima, enam juta. Wah, nggak nyangka juga bakalan punya segitu dari jualan rekaman. Dan saat itu kita baru mulai. Baru rilisan pertama. Di rilisan kedua saja kemudian orang sudah mengafiliasikan Kolibri Rekords dengan genre tertentu. Ada banyak orang kasih rekomendasi ke gue, “Ini ada band A, band B” atau datang mengirim demo, ngechat gue. Band-band itu datang dengan sendirinya sih, dengan natural. Entah itu mereka yang datang ke gue atau gue yang akhirnya menemukan jalur yang sudah terbuka dan kita ketemu.Kemudian Kolibri Rekords kan bisa melebarkan sayapnya nih. Tadinya cuma mengurus Bedchamber, terus ada Atsea, Gizpel, Kaveh Kanes, Low Pink dan sekarang Seahoarse. Jadi banyak tuh. Sebenarnya proses pencarian talenta-talenta itu gimana sih?D: Sebenarnya emang terbatas di selera gue dan Ratta sih. Kalau kita suka, ya sudah sikat. Tapi emang sampai sekarang masih berkisar di ranah indiepop. Arahnya ke sana. Padahal kita memang tidak ingin meniatkan diri untuk seperti itu. Sangat fleksibel dan terbuka dengan genre lain. Kita masih mengharapkan dapat roster yang musiknya post punk, shoegaze, rock atau apalah yang sama dengan kita. Cuma sampai sekarang kita berdua ya masih pop-pop begitu. Di luaran kita juga sama-sama suka dengar musik yang begitu. Dan secara nggak langsung itu terbentuk dari roster yang sudah ada. Orang sudah kayak nggak langsung memberi cap, menstigmakan kalau Kolibri Rekords adalah record label indiepop. Jadi ya suka, nggak suka, diterimalah. Dan di luar musiknya ternyata ada faktor X dari sebuah band yang gue sama Ratta sama-sama nggak bisa menjelaskan. Kayak kita sama-sama ngerti dan paham ada itu, tapi nggak bisa menjelaskan. Misalnya kayak gue mendengarkan sebuah lagu, kita lihat-lihatan dan bilang ok secara musik. Cuma kalau nggak ada faktor X yang hanya kita berdua yang paham, ya sudah nggak bisa. Band bagus itu banyak, cuma yang punya faktor X yang buat kita ok itu yang agak jarang. Jadi, begitu musik ok, secara konsep ok dan faktor Xnya keluar, sikat. Ok. Lalu selain musik, kalian kan juga mulai meninggalkan jejak yang lain di sekitar urusan musik tadi ya. Gue juga tertarik, misalnya, pada hal yang tadi kalian ceritakan; kemasan-kemasan visual yang mengikuti. Kalian punya jejak yang sangat kuat di sisi visual. Kenapa sih mengawinkan musik dengan sisi visual?R: Ya, pada dasarnya mungkin karena Daffa orang yang bergerak dan peka dengan musik. Sementara gue emang dasarnya desainer. Gue dari SMP, SMA, senangnya menggambar. Bikin karyalah, bikin art apa gitu. Dan itu semacam preferensi yang terus terbawa sampai sekarang. Sampai era Kolibri Rekords. Gue dan Daffa mencari posisi kami masing-masing. Karena kita kan mau fokus di bidang masing-masing juga. Daffa lebih paham soal manajemen musik dan gue lebih ke visual. Akhirnya kita jadi berkonsentrasi masing-masing di sana dan gue pribadi memediasikan Kolibri Rekords sebagai lahan untuk gue berkarya saja. Bisa dilihat lewat beberapa video yang gue direct. Beberapa visual juga ada gue yang direct, packaging dan segala macam. Bukan cuma itu aja, gue juga ingin mengajak seniman-seniman muda untuk terlibat.Tapi itu identitas yang mau diset juga selain musik?R: Sebenarnya kita nggak pernah ngomongin itu terlalu rinci tertulis. Tapi, iya sih. Gue personal cukup menjaga untuk yang gitu-gitu. Karena bisa dilihat dari rilisan pertama sampai yang paling baru, walaupun visual artisnya beda-beda, semua yang layout dan desain selalu dari gue. Dan gue masih punya privilege untuk ngobrol sama bandnya menentukan mana yang bisa dan nggak bisa ditampilin. Model begitulah.Dengan peranan yang model begitu, pernah punya konflik dengan band kalian?R: Mungkin Daffa pernah punya konfliknya sendiri dan gue juga punya konflik gue sendiri.Maksudnya di departemen visual. R: Oh, ada sih. Gue nggak perlu sebutin nama. Tapi orangnya lebih ngambek ke gue, dia lepasin visual artnya di tengah jalan. Jadi mau nggak mau, gue yang lanjutin dan coba cara untuk menyelesaikannya. Oh, ada juga yang bebel banget pas prosesnya. Tapi sampai sekarang nggak ada orang yang merasakan masalah berarti sih. Emang smooth aja secara umum.Sebelumnya, pernah memprediksi kalau konflik kepentingan pasti akan terjadi di proses berjalannya Kolibri Rekords?R: Ya pasti sih, hal-hal kayak gitu nggak bisa dihindari.D: Kalau gue nggak sih. Nggak pernah berpikir sejauh itu. Karean sejauh ini, kita punya kontrol untuk mengarahkan visual dan segala macamnya. Nggak akan semengekang dan otoriter itu juga. Kita selalu diskusi sama bandnya, nanya elo maunya apa. Terus kalau masih make sense, kenapa nggak dikejar. Kalau ternyata ada hal-hal yang menurut kita kurang, kayaknya terlalu tahun kemarin banget deh, ya bisa kita car jalan tengahnya. Gue nggak melihat itu sebagai problem yang besar sih. Dalam artian visual, selalu bisa dikondisikan. Selalu bisa diubah. Tapi kalau musik, kita nggak pernah mengubah. Ya sudah apa adanya aja. Emangnya mau diubah kayak apa? Kalau visual sih, masih fleksibel. Sejauh ini, dalam kisah Kolibri Rekords, problem terbesarnya apa?D: Finansial sih. Sama manajemen. Karena gue sama Ratta jarang punya rencana dari jauh hari. Selalu kita itu spontan banget. Kayak kita nggak tahu mau ngapain tiba-tiba dapat ide, “Eh, ini mungkin nih. Yuk kita bikin.” Jadi dari sisi keuangan pun agak gambling. Pada dasarnya, gue orangnya begitu. Jadi kayak gue juga bodo amat, sikat aja dulu. Duit mah belakangan. Kendalanya sejauh ini ya kita melakukan sesuatu dengan budget yang minim. Harus berusaha untuk mengakali sesuatu untuk bisa tercapai, walaupun jadinya nggak maksimal.Biasanya mengakalinya gimana? Puter otak cari sumber pendanaan?R: Apa ya, gue justru merasa justru kadang-kadang adanya limitas malah bikin kita bisa lebih fokus. Kayak misalnya, ok duitnya cuma ada tiga belas ribu atau hanya bisa pakai packaging dua lipat. Ya sudah, kita jadi konsentrasi untuk memaksimalkannya daripada mesti mikir kemana-mana. Kadang limitasi yang ada di Kolibri Rekords jadi challenge untuk kitanya. Dari visual art juga begitu, misalnya terakhir kali gue shooting video klip Low Pink. Kita nggak ada budget, waktu, segala macamlah. Jadinya hanya bisa memilih satu lokasi dan satu hari. Di situ, gue jadi lebih fokus untuk berpikir di situ saja. Ya sudah kita eksploitasi tempat habis-habisan selama satu hari. Kita bikin yang rapi dan puas sama hasil akhirnya. Kadang limitasi juga yang bikin memicu untuk fokus.D: Hasilnya juga mengagetkan. Beda sama misalnya kita sudah punya rencana, tahunya hasilnya gimana gitu. Yang spontan itu hasilnya lebih unexpected dan kita juga bisa gila nih. Jadi kayak santai aja sih gue. Santai, walaupun gue juga mengakui bahwa itu jadi problem terbesar Kolibri Rekords.Yang juga perlu ditanyakan adalah keberanian kalian untuk tidak berhenti di satu titik saja. Contohnya tur. Seri Internet Fwendz itu juga sudah beberapa kali terjadi. Ide-ide itu datangnya dari mana sih? Nggak ada yang baru, tapi perkaranya kalian berupaya untuk membuatnya jadi nyata. Itu kan yang bikin beda.D: Balik lagi ke yang tadi gue bilang, bahwa ini merupakan implementasi visi besar gue. Gue ingin menggerakan lagi gig-gig yang dilakukan oleh orang-orang baru. Dengan line up yang belum terlalu familiar di telinga orang banyak. Tapi dengan segala privilege yang gue punya, bisa gue bawa ke publik yang ukurannya lebih luas. Walaupun itu kecil dan nggak seberapa, nggak terlalu berpengaruh juga, tapi gue yakin bisa memromosikan itu ke tatanan yang lebih atas, ke permukaan yang lebih atas. Walaupun orang-orangnya nggak datang, tapi setidaknya ini bisa kasih tahu bahwa kita ada dan masih terus bergerak. Yang kayak gitu, gue harap bisa memacu generasi gue atau yang di bawah untuk bisa menempatkan Kolibri Rekords sebagai motivasi. Selama ini kalau gue buat acara juga nggak pernah bagus-bagus banget dan wah. Gue pengen kasih lihat bahwa acara sederhana itu bisa loh. Gue bisa bikin, kenapa elo nggak bisa?Nggak pernah ingin lebih serius?D: Itu kita selalu serius.Oh gitu? Haha. Oh ya, ngomong-ngomong, arrange tur itu gampang nggak sih? Dalam kasus kalian? Walaupun sudah dengar elo menjelaskan itu beberapa kali, tapi gue kok selalu ingin elo berbagi tentang hal itu.D: Gampang-gampang susah sih. Dalam artian, gue sebelum ada Kolibri Rekords, nggak punya ide sama sekali tentang mengatur sebuah tur. Dan ketika kita memutuskan untuk pergi tur pertama kali, itu gambling banget. Gue total nekat karena gue nggak tahu juga gimana caranya mengatur tur yang proper dan sebagainya. Hanya mengandalkan keinginan untuk menuju satu kota dan siapa di sana yang bisa dikontak untuk membantu. Sudah, sesederhana itu. Itu yang kemudian mengenalkan elo dengan banyak orang yang umurnya selevel dan punya niat yang sama di kota-kota lain?D: Iya. Dan akhirnya menemukan teman-teman baru di Surabaya, Malang beberapa kota lain juga. Kenalnya dari situ.Jadi sebenarnya, udah email aja, kontak aja, whatsapp, line?D: Iya, karena pada dasarnya sebelum bikin Kolibri Rekords, gue juga sudah berteman via Facebook sama beberapa anak di luar kota gue. Walaupun nggak intens berkomunikasi, tapi gue tahu siapa yang bisa dikontak di kota itu. Sebatas mengabari dia, “Eh, gue mau tur nih. Kira-kira elo tertarik nggak bantuin? Gue nggak punya budget.” Kalau kira-kira mereka ok, kita sikat. Kalau nggak ok, ya kita skip. Sesederhana itu. Karena kita belum punya modal untuk bikin sendiri di kota itu. Gue juga masih mengandalkan teman-teman di kota itu. Kalau mereka pass karena nggak sanggup, ya kita juga pass. Alternatifnya, ya cari orang lain yang bisa handle juga.Itu hubungan yang mutual? Kalian juga membantu mereka kalau mereka main di Jakarta?D: Iya. Kita pernah bantu Hema Records, Moiss. Kita yang host juga kalau mereka tur. Kalau ada yang mau tur ke Jakarta, bisa juga kontak kita. Selagi kita bisa bantu, pasti kita bantu. Itu yang gue dapat sih dari dua kali tur. Ternyata memang mudah-mudah gampang dan sebenarnya sederhana. Asalkan elonya juga mau effort untuk membuka kontak di situ.Gue mau balik lagi ke isu finansial. Itu selalu menarik. Setelah punya sekian banyak rilisan, sudah stabil belum sih?D: Sebenarnya jujur aja, dari rilisan kedua sampai keenam ini, secara finansial kita belum berhasil. Karena memang cd itu baliknya lama ya? Gila. Secara kuantitas kita juga rilis di angka yang sama dan ternyata baliknya lama. Nagihnya susah. Kadang ada yang mangkrak juga tuh duit. Emang sistemnya belum baik sih. Udah gitu, banyak juga yang nimbun. Gawat juga tuh. Nimbun? Emang ada yang nimbun rilisan lo?D: Itu Bedchamber dijual mahal-mahal.Seberapa mahal?D: Seratus lima puluh ribu ada, dua ratus ribu ada, tiga ratus ribu juga ada.Elo nggak mau operasi pasar? Elo cetak lagi?D: Bandnya nggak mau.R: Timingnya rada garing sih. Maksudnya kita sadar demandnya tinggi setelah rilis satu setengah atau dua tahunlah. Timingnya rada nanggung. Kalau mau, mending kemarin dilanjutkan atau ya nanti aja sekalian. Lagipula Bedchamber kan juga sedang menyiapkan rilisan baru. Supaya nggak cepat puas di satu rilisan itu aja sih.Channel digital udah masuk?R: Udah.Semuanya?D: Duh, kurang riset nih elo.Kenapa lama baru ada?D: Apa ya? Secara digital mungkin sesederhana karena kita baru tahu caranya. Haha.Di scene musik independen Indonesia, salah satu persoalan yang selalu berulang, menurut gue, adalah ketika si pelaku mulai memasuki fase umur tertentu. Di mana di level personal elo akan mempertanyakan apakah yang elo lakukan ini bisa menghidupi elo atau tidak. Elo memprediski masa depan nggak sih dalam kasus Kolibri Rekords? Sampai kapan elo akan menjalankan ini semua?D: Mungkin kita punya perspektif yang berbeda.R: Dari awal, gue cuma melihat ini sebagai hobi sih. Tapi tetap serius. Hobi yang ini gue tahu ada potensinya, tapi balik lagi, gue nggak mau expect banyak. Jadi, kesadaran gue, intensi gue, menjalankan ini sebagai hobi. Dan gue jadinya nothing to lose. Kalau band gue nggak laku, nggak masalah. Yang penting konsisten. Kalau namanya hobi kan pasti sesuatu yang kita suka dan nggak ada yang menyuruh kita untuk melakukan itu juga kan? Kayak intensinya benar-benar personal dan pure. Jadi, misalnya kayak sekarang gue kerja pukul sepuluh sampai tujuh sore segala macam gue nggak pernah merasa kehilangan. Karena dari jaman gue sekolah, gue nggak pernah full time di sini. Baik dari segi waktu atau fokus. Gue tetap merasa ini, bukan fokus utama. Tapi gue tetap serius dan punya waktu di sini. Mungkin Daffa beda.D: Ya beda sih. Eh, kurang lebih sama. Gue juga nggak mau menjadikan ini sebagai hal yang benar-benar serius. Cuma, mau nggak mau, gue harus menghadapi kenyataan bahwa ternyata ini cukup menyita fokus gue dalam kehidupan. Karena gue makan, gue bengong ternyata mikirnya gue ke situ. Pikirannya apa ya, selalu ke sana. Ternyata gue sudah sampai level itu. Hal-hal yang gue pikirkan selalu tentang apa yang bisa dilakukan Kolibri Rekords. Potensinya ada banget asalkan gue lebih fokus dan niat. Usaha keras lagi juga. Mungkin ini bisa sangat menguntungkan untuk gue dan menghidupi orang-orang lain. Gue nggak tahu sih, kita lihat aja ke depannya sejauh mana kita bisa tahan dengan ini.R: Sebenarnya kita sudah ada di di titik di mana Daffa lebih banyak mengurusi Kolibri Rekords. Bisa make sense banget sebenarnya. Jadi semua sudah diserahkan ke dia?R: Sebenarnya kita nggak ada deal kayak apa. Ya potensinya sayang saja kalau salah satu dari kita nggak fokus di sini. Bisa jadi kalau fokus Daffa sekecil gue, ini nggak jalan. Dan apa yang kita kerjakan bisa berhenti begitu saja di sini. Salah satu dari kita harus ada yang fokus sih.Obsesi elo apa sih sebenarnya dengan Kolibri Rekords? Apakah, misalnya, elo pengen sampai punya rilisan ke dua ratus gitu?R: Apa ya? Gue lebih ke mencari keseruan aja sih. Karena sebagai pelaku, gue akuin bahwa highlight hidup gue dalam empat tahun terakhir ini adalah Bedchamber dan Kolibri Rekords sih. Gue nggak terlalu mikir macem-macem untuk menjaganya supaya tetap seru. Dan kalau gue bisa membagi pengalaman ini ke teman-teman yang juga merasakan hal yang sama, gue akan senang banget sih. Gue pengen konsisten sih. Karena bagaimanapun, tahun ini Kolibri Rekords akan memasuki fase baru. Mulai ada roster kami yang masuk rilisan kedua. Yang lebih susah adalah gimana kita bukan cuma menjaga kualitas tapi menaikkannya dan konsisten di rilisan berikut. Ibaratnya kita sudah punya starting point, dari situ mau ke mana nih? Yang ini jadi PR tiap band menurut gue. Gue harap kita bisa menunjukan kualitas kita di fase rilisan kedua ini sih.Yang akan masuk rilisan kedua pertama si Bedchamber?R: Kayaknya sih iya. Gizpel juga. Sebenarnya Atsea juga, tapi nggak tahu juga proses di dapur mereka gimana. Yang lagi gerak banget sih si Bedchamber.D: Kalau obsesi, gue juga nggak tahu sih. Gue nggak punya obsesi. Gue nggak membayangkan rilisan Kolibri Rekords sampai angka dua ratus juga. Kalau terjadi, ya amin. Kalau nggak, ya juga nggak apa. Cuma yang paling dekat bisa gue bayangkan adalah membangun konsistensi itu. Nggak harus rapet banget rilisannya. Yang penting setahun sekali, dua kali adalah. Dan kualitas juga terus naik. Walaupun nggak langsung bagus banget. Tapi seenggaknya lebih bagus dari sebelumnya. Dan tetap sih, gue masih punya keinginan untuk mentrigger generasi Z. Kan umurnya sudah masuk tuh, sudah fase usia dua puluhan. Gue pengen mereka lihat bahwa kegiatan ngeband itu emang hal yang keren. Ini sesuatu yang fun dan layak dicoba. Gue memastikan bahwa ide ini sampai ke bawah. Gue rangkul mereka.Ngerangkul apa cari pacar?D: Ya, kalau dapat kenapa nggak? Mungkin terakhir, obsesi gue dengan Kolibri Rekords ini kayak bisa menghadirkan inovasi sih. Misalkan musik yang dirilis nggak baru-baru banget, cuma kita melakukan hal yang jarang dilakukan orang atau belum pernah dilakukan oleh yang lain. R: Pada dasarnya, titik barunya Kolibri Rekords adalah memindahkan konteks aja sih. Kayak yang tadi cerita tur, misalnya itu kebiasaan yang sudah ada sebenarnya. Tapi gimana kalau itu terjadi di konteks generasi kita. Atau mereka yang tidak akrab dengan hal itu. Segala yang sudah ada itu, kalau kita pindahkan ke konteks baru jadinya beda banget. Outputnya juga bakal beda. (*)

    Album Review: Akibat Pergaulan Blues oleh Jason Ranti

    oleh Future Folk Oleh: Felix DassDalam beberapa kesempatan, kalau ditanya siapa penulis lirik berbahasa Indonesia terbaik di negeri ini, saya pasti akan menjawabnya dengan tiga kemungkinan; JA. Verdijantoro dari Koil, Arian13 dari Seringai/ Puppen dan Morgue Vanguard dari Homicide. Ketiga nama itu, punya koleksi karya yang berbasis kata-kata yang sangat kuat. Sejarah mereka juga panjang. Kalau ditanya sekarang, bulan Maret 2017, mungkin saya harus menambahkan satu nama lagi, jadi empat kemungkinan; JA. Verdijantoro dari Koil, Arian13 dari Seringai/ Puppen, Morgue Vanguard dari Homicide dan Jason Ranti dari Tangerang Selatan.Album Akibat Pergaulan Blues adalah dasarnya. Baru bisa dibilang secara terbuka sekarang, karena album itu akhirnya dirilis untuk orang banyak. Ia bukan lagi orang yang main dari satu panggung ke panggung lain dengan sederhana. Sekarang, statusnya sudah berubah, ia musisi yang sudah punya album.Cinta dengan Jason Ranti sesungguhnya dimulai dengan ponsel butut Dado Darmawan, orang yang kini menjadi manajernya. Di sebuah malam, kami berkenalan. Dalam hitungan menit, layaknya seorang penjaja MLM, ia sudah membuat saya mencolok earphones ke kuping dan mendengarkan seorang temannya bernyanyi. Mulutnya sompral. Kata becandaan, kayak nggak pernah sekolah. Tentu saja, korelasi kata-kata kotor dengan status tai kucing itu, tidak begitu penting. Jika sebelumnya, keindahan ketidakteraturan itu hanya bisa dirayakan lewat serangkaian pertunjukan langsung, maka sekarang bisa memutar albumnya kapanpun. Tentu, rumusan bahwa pertunjukan langsung dan rekaman album adalah dua ranah yang berbeda, bisa diaplikasikan dengan baik dalam kasus Jason Ranti. Musiknya punya ruang yang lebar untuk improvisasi. Dan dengan sendirinya, pertunjukan langsung bisa menyajikan banyak kejutan. Tergantung ruang dan tempat. Sementara, kalau bicara album, di situlah kekuatan karyanya diuji. Album akan diam sepanjang masa. Apapun keraguan, kesalahan atau bahkan kejeniusan yang sempat disinggung tadi, akan tersaji dengan begitu saja.Ada dua pengalaman berbeda dalam mendengarkan Jason Ranti. Mendengarkan albumnya, justru tidak bisa mendapatkan ketidakteraturan itu. Ia trengginas dalam keberanian berkata-kata. Kalau didengarkan orang sayap kanan, sudah pasti Jason Ranti dan album Akibat Pergaulan Blues, akan difatwa haram. Minimal dicap kafir. Padahal, yang ia sajikan adalah sisi dunia yang nyata dan tidak fana. Kalaupun ada surga, levelnya masih di alam yang ini, yang kita pijak sekarang dan membuat anda bisa membaca artikel ini.Jason Ranti berbicara tentang kehidupan manusia biasa yang apa adanya; fundamentalis brengsek, hamil di luar nikah, seks bebas, narkoba, depresi, social climber, minuman keras, obat terlaran dan banyak hal nyata lainnya yang jelas-jelas dekat dengan orang banyak.Kesimpulan yang bisa diambil: Menjadi nakal dalam hidup itu sah-sah saja. Dan nakal, punya pembeda yang jelas dengan jahat. Sedihnya, seringkali keadaan itu, tidak bisa dipandang dengan jernih. Tapi, mari jangan masuk ke sana. Jadinya nanti dramatis. Haha.Ia merekam proses kehidupan yang telanjang. Caranya? Luar biasa mendetail. Dari sebelas lagu yang ada di rekaman ini, nampak ia sangat dekat dengan masing-masing ceritanya. Tentu, persoalan mengalami secara langsung atau tidak, bukan jadi urusan kita. Itu ruang personal, sama seperti agama yang ia gugat dengan jelas di beberapa bagian album ini.Kalau diperhatikan dengan baik, lagu-lagu yang nampak serampangan ini digarap dengan riset yang sangat memakan waktu, karena mengalami proses melihat ulang dan benar-benar dipikirkan struktur katanya. Di permukaan nampak sederhana, tapi proses di balik layarnya pasti njlimet. Kalau dibelah, ia benar-benar menguliti sebuah persoalan dan kemudian menyajikannya sehingga kemudian efek hiburan menyergap kita yang mendengarkannya. Kalau kuping anda panas ketika mendengarkan rekaman ini, berarti anda kurang ok dan bisa jadi musik bukan cabang seni budaya yang cocok untuk hidup yang sedang dijalani. Kalau anda malah jadi tertawa satir setelah mendengarkan album ini, berarti anda bisa menemukan sisi terbaik kegunaan album ini untuk orang banyak. Pilihannya, tentu saja ada di tangan anda. Lagu favorit saya: Pulang ke Rahim Ibunya, Bahaya Komunis, Suci Maksimal, Kau yang Cari, Doa Sejuta Umat dan Stephanie Anak Senie.Well, silakan diburu cdnya. Oh, dan Jason Ranti adalah seorang artis visual yang juga ok. Dan semoga pula saya tidak perlu meralat pernyataan bahwa penulis lirik favorit saya ada empat orang di masa yang akan datang. (*)

    Tur untuk Mengisi Libur

    oleh Future Folk Oleh: BabotzKantor tempat sehari-hari bekerja tengah diliburkan. Tentu menjadi sebuah kesenangan tersendiri bagi para pekerjanya. Pilihan tersedia; Dimanfaatkan untuk istirahat dengan diam di rumah atau berlibur. Tapi bagi yang punya aktifitas lain seperti bermusik, melakukan tur singkat adalah pilihannya. Dan ini yang dijalankan Christabel Annora dari Malang, kendati sehari-hari ia beraktivitas di Surabaya.Short Gateway Tour 2017. Begitulah nama yang diberikan pada rangkaian tur yang dilakoni Ista, begitu panggilan akrabnya. Ada beberapa tempat yang disinggahi, salah satunya adalah Paviliun 28 di bilangan Petogogan, Jakarta Selatan. Dilangsungkan pada hari Selasa, 21 Maret 2017.Mendadak malam itu Paviliun 28 tak sengaja menjadi ajang berkumpulnya kera ngalam yang kebetulan berdomisili atau menjadi perantau di Jakarta. Riuh rendah obrolan berbahasa Jawa mengisi ruangan. Saling bertukar cerita sambil menikmati musik dari teman satu daerah.Jadilah Ista memainkan lagu-lagunya sambil disela-sela jeda antarlagu menyapa teman-teman yang datang. Lagu-lagu yang diambil dari debut albumnya, Talking Days. Tidak semua memang dibawakan. Ditambah beberapa lagu milik penyanyi lain kesukaannya : ‘Love of My Life’ (Queen), ‘Someone in the Crowd’ (Soundtrack La La Land), ‘Desember’ (Efek Rumah Kaca) dan ‘You & Me’ (Gabriel Mayo).Hujan tiba-tiba mengguyur di luar Paviliun 28 ketika Ista menyanyikan ‘Desember’. Lagu yang bercerita tentang hujan di bulan Desember lalu seolah mendapat dukungan semesta malam itu dengan guyuran hujan di bulan Maret. Sebuah kebetulan yang menyenangkan.Sebelum Ista, lebih dahulu dibuka oleh penampilan sepasang duo dengan gitar akustik, Aird. Terdiri dari Elnova Halimawan dan Asti Hasanudin membawakan lagu-lagu orisinal milik mereka sendiri. (*)

    Suara dari Jauh Telah Lahir

    oleh Future Folk Oleh: Babotz“Lihatlah ke dalam kotak tempat mainan anakku. Dengarlah dia menyebutkan mainannya satu per satu. Menghidupkan karakternya. Menyematkan jiwa dan menitipkan rindu,” begitu suara bening seorang anak kecil terdengar menyanyi di deretan bangku penonton di Gedung Kesenian Jakarta. Dia adalah seorang anak perempuan berusia tiga tahun bernama Rintik Rindu. Rindu duduk di samping ibunya tengah menyaksikan sang ayah yang tampil di depannya di atas panggung. Ayahnya adalah Adrian Yunan yang dikenal sebagai pembetot bass Efek Rumah Kaca. Dengan lancar Rindu mengikuti ayahnya menyanyikan lagu berjudul ‘Mainan’ yang dibuat untuk ditujukan kepadanya. Adrian sedang mempertunjukan proyek solonya pada Kamis, 23 Maret 2017, tengah tampil sebagai pembuka untuk pentas AriReda. Malam itu duo Ari Malibu dan Reda Gaudiamo mengenalkan sekaligus menandakan perilisan materi baru dari album ketiga, Suara Dari Jauh. Mereka identik sekali dengan musikalisasi puisi milik Sapardi Djoko Damono. Tapi kali ini, puisi-puisi milik Goenawan Mohamad menjadi lahannya.Adalah berkat Umar Muslim, sosok dibalik banyak gubahan musikalisasi puisi AriReda, yang membantu “menyelamatkan” mereka dalam memilah ratusan puisi milik GM. Umar memiliki simpanan 24 komposisi dan lalu dipilih 10 oleh AriReda yang menjadi materi album Suara Dari Jauh.“Walaupun tujuan penyair sebenarnya bukan untuk dikenal, barangkali itu bedanya puisi dengan sinetron. Bagi penyair, yang lebih penting adalah bila puisinya menjadi bagian dari hidup dan artikulasi pembacanya,” ujar GM lewat sambutannya. “Musik yang membawakan puisi bisa menembus bunyi puisi dengan cepat.”Pentas Arireda dibagi dalam dua babak. Dimana babak pertama membawakan materi dari dua album sebelumnya. Lagu setelah jeda sekitar 10 menit dilanjutkan babak kedua untuk memperkenalkan materi album Suara Dari Jauh. Kali ini dilengkapi dengan visual yang ditembak ke kain-kain putih di belakang mereka. Visual yang sama merupakan karya Ruth Marbun juga menghiasi halaman demi halaman dalam album. Pentas memperkenalkan lagu-lagu, “Di album yang buatnya ini tuh beratnya minta ampun,” kata Reda sambil tertawa, diakhiri dengan tiga lagu tambahan karena paksaan penonton. Penonton yang merupakan barisan pengikut setia karya dan pentas AriReda. Selalu menodong tambahan lagu terkadang suka usil terus “memaksakan” kehendak mereka. (*)

    Mengenal: Mocca

    oleh Future Folk Oleh: Felix DassBeberapa tahun belakangan ini, Mocca bangkit dari kubur. Setelah memutuskan untuk vakum selama beberapa waktu karena vokalis Arina Ephipania menghabiskan waktu beberapa tahun di Amerika Serikat, mereka mulai kembali beraksi di panggung. Pelan-pelan kuantitasnya digenjot.Selain Arina Ephipania, Mocca juga diperkuat oleh Riko Prayitno (gitar), Indra Massad (drum) dan Toma Pratama (bas). Formasinya tidak pernah berganti.Selepas kebangkitan ini, Mocca menjadi salah satu raksasa yang penghasilan kotor dari manggungnya paling besar di antara sejumlah band independen lain. Mereka mengklaim kembali apa yang pernah mereka miliki di masa lalu; perhatian sebagai band yang memang meletakkan peran penting dalam cetak biru scene independen lokal Indonesia.Pertama kali, Mocca muncul di tahun 2002, lewat album My Diary. Album itu membuat banyak orang tercengang. Tidak hanya perkara musik yang segar, tapi packaging yang luar biasa bikin orang ngiler; ngiri, karena label besar tidak mungkin mengejar pendekatan desain produk yang mewah seperti itu. Jalan terbuka lebar dan mereka terus menari dengan musiknya. Mencapai satu demi satu torehan kisah yang penting untuk diceritakan ke orang banyak.Sampai hari ini, selain My Diary, Mocca telah merilis Friends (2004), Music Inspired by the Movie: Untuk Rena (2005), Colours (2007), Dear Friends (2010) dan Home (2014). Katalog yang banyak itu, kebanyakan bagus. Kecuali mini album kompilasi Dear Friends yang bisa dibilang tidak punya nyawa.Tujuh lagu di bawah ini adalah perkenalan yang mungkin bisa jadi cocok untuk memulai cerita personal dengan musik Mocca. (*)It’s Over Now Track penutup album Friends. Suara gitar lagu yang disambut gebukan tipis drum menghadirkan lagu balada paling cantik yang pernah mereka hasilkan. Dimainkan kadang-kadang di atas panggung. Biasanya sehabis diteriakkan oleh orang-orang tertentu. Kalau suka, boleh ikut teriak di panggung mereka berikutnya. Supaya lagu ini lebih sering dimainkan. Kisah cinta yang gagal, tapi disajikan dengan seperlunya. Mengena di hati kalau didengarkan berulang-ulang.Do What You Wanna Do Lagu ini menampilkan sejumlah nama sebagai pengisi vokal latarnya. Dua di antaranya adalah Rektivianto Yoewono dari The SIGIT dan Risa Saraswati dari Sarasvati. Lagu ini, merupakan provokasi aktif untuk mengejar kebebasan yang bisa jadi mimpi siang bolong untuk banyak orang. Mereka seolah bilang, “Eh, kebebasan itu bukan omong kosong loh.”Lucky Man Senada dengan It’s Over Now, Lucky Man juga mengedepankan suara gitar yang dominan dan menempel dengan erat di kepala setelah didengarkan berulang-ulang. Secara konstan, di latar belakang, permainan piano digital yang konstan juga menjadi contoh baik bagaimana kontribusi pemain tamu Agung Nugraha, anggota kelima Mocca yang menyertai mereka sejak era awal band ini.Life Keeps On Turning Video lagu ini menampilkan Satria Nur Bambang dari Pure Saturday dan Teenage Death Star. Salah satu single dari album My Diary yang berputar kencang untuk orang banyak di era MTV Indonesia sedang jaya-jayanya. Lagu klasik yang kalau dimainkan sekarang, mungkin menguras napas karena temponya agak kencang.Sebelum Kau Tidur Di mini album Music Inspired by the Movie: Untuk Rena, lagu ini menjadi satu dari dua lagu pertama Mocca yang ditulis dalam Bahasa Indonesia dan dirilis untuk orang banyak. Menampilkan sisi band itu yang tidak sering-sering muncul. Syahdu.Changing Fate Menampilkan vokal Cil dari The Triangle, band sampingan Riko Prayitno. Diambil dari album Home yang dirilis dengan status band yang dewasa. Sisi lain Mocca yang lengkap; dengan vokal latar yang bernyanyi di hampir sepanjang lagu dan megah.When We Were Young Ini paling gila: Arina Ephipania yang memang dikenal freak dengan kemampuan presisi suara dan gaya bernyanyi, bersanding dengan vokalis metal Vicky Mono dari Burgerkill. Suaranya? Ya jelas musiknya Mocca. Di beberapa artikel yang bertebaran di internet, Vicky dikisahkan mendapatkan pelajaran bernyanyi dari Arina.You’re the Man Secara konstan, band ini menyimpan ketertarikan ke banyak jenis musik. Makanya bisa super variatif dan kaya dari segi aransemen. You’re the Man, yang diambil dari album Home, menjadi contoh terbarunya. Brass section mereka yang memang selalu ambil bagian menyumbang peran dominan di lagu ini. Mungkin juga, lagu ini memfasilitasi kecintaan Riko Prayitno pada musik rockabilly.Keterangan foto:- Foto tema Mocca oleh Terry Manoppo- Foto di bodi teks oleh Shutterbeater

    Zoo Berkelana, di Eropa

    oleh Future Folk Oleh: Felix DassDua belas tahun berkarir, pembabakan baru dicoba. Zoo, mulai Rabu, 22 Maret 2017, akan melangsungkan Kelana Eropa 2017 Tour.Tidak banyak yang bisa diceritakan dari pencarian internet untuk kiprah Zoo. Mereka kecil, tapi jika peristiwa musiknya dialami dan dirasakan, kesan yang didapatkan akan tinggal dalam waktu yang lama; bisa enek, bisa kagum atau malah menikmati kekacauan yang ditinggalkan oleh berbagai nada yang dimiliki musiknya.Band ini dibentuk di Jogjakarta pada 2005. Sepanjang dua belas tahun berkarir, sampari hari ini, mereka telah merilis tiga album penuh, dua mini album dan sebuah dvd yang merekam perjalanan tur band di era album Prasasti.Band ini, memang tiarap. Semata-mata dipengaruhi oleh padatnya aktivitas Rully Shabara, vokalisnya yang kebetulan juga sedang dikenal luas lewat proyek –yang tadinya sampingan— Senyawa bersama multi instrumentalis Wukir Suryadi.Sebuah kabar masuk ke orang banyak, Zoo akan pergi ke eropa dan menjalankan sebuah agenda padat untuk mengenalkan musik mereka pada orang banyak. Bukan sekedar menjadi turis musik yang kemudian malah mendapatkan apresiasi besar di kandang sendiri, tapi minim perhatian di tempat yang justru mereka singgahi.Dalam dua puluh empat hari, mereka akan bermain di dua puluh satu pertunjukan. Waktu untuk istirahat hanya tiga hari. Di dalamnya, ada pula agenda berpindah kota. Siapapun yang pernah terlibat dalam produksi pertunjukan dan tur, pasti akan memahami; jadwal yang dimiliki Zoo bisa dibilang gila. “Kami pernah melakukan tur sebelas kota di tahun 2013, tapi itu tur yang murni DIY –do it yourself –ed—, kami selenggarakan sendiri. Kali ini kami akan didampingi oleh road manager dan sound engineer yang berasal dari Paris. Mereka akan sangat membantu kebutuhan tetek-bengeknya. Seluruh tur ini akan dijalankan lewat darat. Kami akan berpindah dengan sebuah van yang berisi backline dan alat musik. Itu sebabnya, kami hanya tur ke empat negara yang berdekatan, agar bisa ditempuh dengan jalan darat,” cerita Rully Shabara.Selain Rully, Zoo juga diperkuat oleh pemain bas Bhakti Prasetyo, pemain perkusi Dimas Budi Satya dan pemain drum Ramberto Agozalie. Dimas juga dikenal luas sebagai penabuh perkusi band folk Sungai sementara Ramberto atau biasa dipanggil Obet tercatat menjadi penggebuk drum untuk band metal legendaris Jogjakarta, Cranial Incisored.Rully kemudian melanjutkan, “Setiap kota yang kami singgahi sudah disusun secara cermat rutenya demi memaksimalkan pendapatan, meminimalisir pengeluaran dan memastikan setiap kota kecil yang kami singgahi akan membawa kita lambat laun ke kota besar selanjutnya tanpa membuang waktu dan biaya.” Sekedar catatan, perjalanan tur di belahan dunia yang industrinya sudah maju, merupakan sebuah upaya spartan untuk memperkenalkan dan kemudian menanggung reaksi masa depan atas musik yang dimainkan. Di dalamnya, hitungan ekonomi dijadikan salah satu faktor pendukung yang perlu dihitung dengan baik. Kadang, kalau salah dalam perencanaan, bisa jadi band malah harus mengeluarkan biaya untuk seluruh perjalanan tur mereka. “Pertama kali Senyawa tur eropa tahun 2012, kondisinya hampir sama. Jadwal turnya padat merayap, main di segala bentuk venue. Memang seperti itu caranya tur yang benar bagi band DIY yang mungkin belum banyak dikenal di tempat yang hendak dituju. Supaya dampaknya bisa lebih maksimal,” papar Rully tentang pengalamannya berkeliling bersama Senyawa yang kini coba diterapkan bersama Zoo.Dalam sebuah tur independen nan spartan, yang biasa terjadi pada kenyataan sehari-hari adalah sistem persinggahan di sebuah malam yang disertai dengan penjualan karya, merchandise atau sistem bagi hasil dengan venue yang disinggahi. Itu kenapa, strategi yang dibilang Rully di jawabannya jadi masuk akal.Persinggahan di kota kecil, bisa menjadi sebuah jeda sekaligus membuka kemungkinan baru yang tidak pernah bisa diprediksi wujudnya sebelum ia dijalankan. “Tahun lalu, ada promotor tur dari Prancis yang mengajak Zoo untuk merilis ulang album Prasasti dalam bentuk vinyl dan menggelar tur untuk mempromosikan album itu,” kata Rully tentang agenda utama tur ini.Jelas, empat orang personil band ini, tidak sedang dalam urusan pelesir. Mereka sedang bekerja untuk membawa musik yang mereka percaya ke panggung yang lebih lebar.Rully kembali merepet, “Kami berharap tur ini bisa membuka jalan. Belajar dari Senyawa yang hidup dari tur, pengalaman yang didapat dari perjalanan seperti ini sangat penting. Bukan untuk mengasah kemampuan saja, tapi juga pemikiran dan sudut pandang. Ini baik sekali mengingat ke depannya Zoo butuh banyak pemikiran yang radikal. Keluar kandang adalah cara terbaik untuk membuka sudut pandang. Selain itu, sepertinya sudah saatnya anak-anak diberi pengalaman setelah dua belas tahun konsisten berkarir. Lagipula, apa gunanya saya sibuk kemana-mana dengan Senyawa tapi tidak bisa mempromosikan band kesayangan sendiri?” Zoo sendiri, secara musikal, sekarang sedang melakukan riset untuk penggarapan karya baru mereka.“Arah musik Zoo ke depannya akan berubah cukup drastis. Akan banyak perubahan dalam hal strategi, metode penggarapan musik dan pendekatan terhadap bagaimana menjalankan band ini. Sejujurnya, bagi saya pribadi, band-bandan akan menjadi sangat membosankan bila menggunakan strategi pada umumnya yakni membuat lagu, merekamnya menjadi album dan memperbesar fanbase saja. Bagaimana bila band atau musik menjadi hanya salah satu elemen untuk mewujudkan proyek yang lebih besar? Itu yang akan kami capat rencananya sebelum 2025,” ceritanya. Investasi waktu yang diminta, memang panjang. Tentu saja, tidak perlu ditunggu. Zoo, setipe dengan Senyawa, adalah peristiwa mengalami sebuah momen berlatar belakang musik. Musiknya sendiri menjadi hal pendukung.Ia melanjutkan, “Zoo sebagai band hanya akan menjadi penopang konsep yang jauh lebih besar. Musik hanya sebagai salah satu unsur saja sehingga tidak hanya itu yang diperlukan untuk memahaminya. Semoga orang akan sabar mengikuti perkembangan kami agar paham apa yang saya maksud.” Nampaknya, memang misteri menjadi sesuatu yang harus ditinggalkan dari peristiwa mengalami musik Zoo ini. Supaya menjadi petunjuk untuk bisa dilanjutkan ke masa depan.“Tahap riset sudah jalan. Kami membentuk beberapa tim yang membantu untuk itu. Musik baru akan digarap bulan Oktober. Namun sebelum itu, akan ada beberapa tahap yang harus diselesaikan,” pungkasnya tentang proyek yang menanti Zoo selepas mereka kembali dari perjalanan gila ini.Selamat berkelana. (*)*) Seluruh album penuh Zoo bisa diunduh secara bebas di https://yesnowave.com/artist/zoo/.
    Memuat