Notifikasi

    Cobra Coba Coba: Musik Memori Bermukim

    oleh Majalah Cobra Jadi orang tua itu ada enaknya: sudah mulai mengerti nostalgia. Jika di luar sana terlalu pikuk, hingga tema-tema sosial seperti terlalu kusut dan bertumpuk, mungkin ada baiknya kembali ke rumah sendiri.Memanfaatkan ruang rumah bukan cuma monopoli teori arsitek, atau tukang almari. Memanfaatkan wilayah-wilayah di rumah, jelas pula bisa diambil alih oleh para penulis lagu. Dan semakin dia jarang pindah rumah, semakin berumur si musisi, semakin banyak yang memori yang bisa digali.Waktu kecil kamu suka tidak boleh masuk ke kamar kakakmu? Ini dia saatnya! Ambil alat musik dan alat rekam, masuk ke kamar kakakmu, dan mulailah menulis lagu. Semoga ingatan emosi itu turut membantu komposisimu,Sejak kecil gemar bersemayam di loteng? Beuh, apalagi itu! Ayo, naik ke sana, rekam komposisi semelankoli kau dapat!Teras itu klise? Eits... belum tentu! Cobalah duduk dulu. Minum teh manis hangatmu. Mungkin kamu akan berubah pikiran dan segera memboyong alat rekam ke sana, disaksikan tetangga kanan-kiri dan ikan peliharaanmu di aquarium depan.Apa lagi? Kamar tidurmu? Ya, so pasti! Pilih saja sudut pandang yang kau gemas untuk menulisnya.Bagaimana dengan meja makan? Wah, saya pilih juga itu! Terlalu banyak percakapan dahulu mengitari meja itu. Bagaimanapun jenis keluarga kita, bisa ada sesuatu di sana. Mungkin getir. Mungkin ekstra-bahagia. Mungkin berkasih sayang dan begitu berharga.Mau bikin lagu di mana lagi? Dapur? Hajar, bos! Walau mungkin seumur-umur kita tidak pernah masak di sana sekalipun, ada banyak bumbu bertabur di dapur. Apalagi kalau kamu koki, atau setidaknya hobi masak, cociks berat. Atau bahkan sekedar memori dihukum mencuci piring seisi rumah karena kamu bandel menjual sepedamu ke abang tukang gambaran.Rumahmu bertingkat? Tangga digaraplah, kawan! Resapi jejak-jejak naik-turun di anak-anaknya. Aw! U... yeahhh!Singkatnya, setiap sudut rumah, setiap tengah rumah, dan setiap rumah yang desainnya tak bersudut sekalipun, bisa memancing tema. Kamu dan memori bermukim di sana. Untuk pilihan cover version, bolehlah direkam Motley Crue “Home Sweet Home”. Biar ada unsur gagahnya saja. Kalau mau digaringin, kalau kamu tega, rekam sedikit bait “Hompimpa”.  Teks oleh Harlan BoerGambar oleh Feransis

    Cobra Coba Coba: Duduk Bernada

    oleh Majalah Cobra Suatu hari di parkiran Mal Ambassador, saat melihat sesuatu yang “mengagetkan”. Di tikungan gedung itu saya melihat seorang petugas parkir duduk di kursi yang sangat tinggi, mirip kursi wasit pertandingan bulu tangkis. Dia memantau laju kendaraan di sana. Posisi itu sekonyong-konyong membangkitkan fantasi pose yang sedikit berbeda. Saya membayangkan pria itu sedang memangku gitar akustik, bernyanyi berbisik-bisik, atau mungkin lantang, sambil membuat lagunya, di gedung parkir yang temaram itu. Dengan suasana yang sedemikian rupa, ditambah dengan fantasi sosok seniman yang sensitif, seperti apakah lagu yang dihasilkannya?Kursi itu yang kini menjadi gacoan saya untuk mulai menulis Cobra Coba Coba ini. Saya kini dapat membayangkan berbagai desain kursi. Aneka rupa. Aneka ketinggian. Aneka kadar keempukan. Aneka lokasi peletakkan. Juga bisa juga aneka warnanya.Seperti kita mahfum, banyak musisi yang merekam gitar, terlebih gitar akustik, dengan posisi duduk. Di studio. Di atas kursi yang bisa kita bayangkan kurang lebih kondisinya. Ketika merekam, mungkin tidak terlalu berpengaruh. Tetapi, bagaimana ketika menulis lagunya? Jangan-jangan pilihan kursi menjadi berperan terhadap arahan lagu yang ditulis. Lalu terpikirlah untuk mencoba membuat sepuluh lagu, misalnya, untuk sebuah album penuh, yang ditulis di sepuluh tempat duduk yang berbeda.Lagu pertama: di dingklik. Lagu kedua: di sofa. Lagu ketiga: di kursi apotik. Lagu keempat: di kursi pijat. Lagu kelima: di kursi warung bakmi. Lagu keenam: di kursi goyang. Lagu ketujuh: di bangku taman. Lagu kedelapan: di kursi roda. Lagu kesembilan: di bangku halte. Lagu kesepuluh: di kursi lipat.Peletakan tempat duduk juga berpengaruh. Begitupun cahaya dan suasana umumnya di sana.Proses pembuatan lagu bisa beragam. Bisa spontan. Bisa dengan duduk dulu berlama-lama, atau bahkan berhari-hari, baru kemudian di saat yang terasa pas mulai membawa gitar dan menulis lagu di sana.Secara keseluruhan kemasan, ya, paling standarnya ada foto kursi-kursi itu duduk berdampingan dengan masing-masing lirik lagunya. Ditulislah catatan pembuka album, atau bisa juga diceritakan sebagai audio pembuka, tentang proses album tersebut. Ya, sebagai tambahan saja.Kalau lagu-lagunya memang enak, tidak ada masalah dengan semua tempat duduk itu. Terlebih bila hasilnya terasa: setiap tempat duduk mempengaruhi masing-masing mood lagunya. Jika tema lagunya beragam, judul album bolehlah dikasih nama “Duduk Perkara”. Kalau tema lagu-lagunya tentang jatuh cinta, boleh juga judul albumnya “Dag Dig Duduk”. Bila mayoritas tentang kota, berlirik pelik, coba saja judul albumnya “Kependudukan”. Selamat duduk dan berkarya. Bila sedang ambeyen, coba sedikit saja. Semoga lekas sembuh. Teks oleh Harlan BoerGambar oleh Feransis

    Wawancara Yang Menyongsong: Haikal Azizi

    oleh Majalah Cobra Sore hari kami janjian bertemu dengan Haikal di Toko Buku. Siang dia berangkat dari Bandung menuju Jakarta untuk mendatangi sebuah event pameran senirupa. Dia menyempatkan untuk bertemu kami, menyisihkan waktu untuk ngobrol dan melakukan wawancara singkat, dan inilah hasilnya. Selamat menonton.#WawancaraYangMenyongsong bersamaIndra PerkasaOscar Lolang

    Liner Notes: Eksperimen Sembilan Belas Sembilan Satu

    oleh Majalah Cobra Kaset 1991 adalah salah satu album terkelam Iwan Fals paling favorit saya, dan boleh jadi itu karena Iwan khusus mengajak Cok Rampal, frontman dari band electric folk ultra-obscure asal Bandung bernama INPRES untuk turut serta menggarap musiknya. Nama-nama lain sebagai backing band di album ini pun tak kalah unik: Mates pada bass dan Gilang Ramadhan pada drum (dua musisi yang lebih sering berkecimpung di musik jazz), meski tetap ada nama langganan, Toto Tewel, di departemen gitar. Album ini dibuka dengan petikan lirih gitar Iwan dan sebaris gumam yang menggambarkan isi keseluruhan album ini, "..dalam gelap 'ku berjalan/ membelah belantara akar/ sendiri, sendiri, selalu sendiri..// ..dalam terang 'ku merenung/ mencari kesejatian/ mencari, mencari, selalu mencari.." Sangat terasa tegangan Iwan dan kawan-kawan di sini, antara menghayati-yang-sepi dan mencari-yang-sejati. Nomor-nomor selanjutnya lebih mirip jam session panjang, melibatkan instrumen-instrumen tak lazim untuk ukuran repertoar Iwan, seperti cow-bell (klenengan sapi), terompet reog, blues harp, flute, juga saksofon dari Embong Rahardjo; dengan durasi per lagu hampir semuanya di atas lima menit, bahkan ada yang hampir sembilan menit. Lirik-liriknya pun penuh sesak dengan metafora, yang tak mudah dipahami pendengar awam secara langsung, apalagi melodinya cenderung susah untuk dipakai sing along. Ini jelas pilihan estetik yang berani. Tak heran album ini konon kurang laku di masanya, bahkan di antara para penggemar Iwan sendiri. Jika di album terdahulu Iwan Fals pernah bernyanyi tentang anak sulungnya untuk kritik sosial yang tajam di lagu "Galang Rambu Anarki", maka di album ini, lagu dengan judul nama anaknya yang lain (yang juga menggambar sampul album ini), "Cikal", lebih memilih diksi-diksi halus untuk menyembunyikan makna lebih mendalam: perhatikan kiasan fabel nan puitik tentang interaksi antarkelas sosial yang rumit berkelindan di situ, "..kerbauku kerbau petani/ ularku ular sanca/ bayiku bayi harimau/ ia ada di gorong-gorong kota.." Ada pula pertanyaan abadi manusia tentang spiritualitas di lagu "Ada" dan "Alam Malam", serta tema nuklir (!) di "Proyek 13". Album ini sophisticated dengan caranya sendiri, bermain-main cantik penuh risiko di antara batas gelap dan terang, meliuk-liuk lembut namun sekaligus bertenaga, dan bisa terbayang betapa segala proses kreatif di belakangnya pastilah menguras banyak tenaga, waktu, dan pikiran. Apalagi setelah membaca liner notes-nya yang singkat, padat, dan jelas, berikut ini:_SALAM. Setidak-tidaknya kami sudah bekerja, melelahkan tapi asik. Baik dan buruk kami kembalikan kepada yang berhak. _ Teks dan Foto oleh: Budi Warsito 

    Wawancara Yang Menyongsong: Daffa Andika

    oleh Majalah Cobra Kita mengenalnya dulu sebagai penulis, sekarang kesibukannya sudah berbeda. Sambil kuliah Daffa menjalankan Kolibri dengan senang-senang. Ikuti Wawancara Yang Menyongsong kali ini bersamanya.Kawan dapat menonton #WawancaraYangMenyongsong bersamaIndische PartyVira TalisaMuhammad Asranur
    Memuat