Notifikasi

    Mengintip Karya John Raymond

    oleh Retina Tak kenal maka tak sayang, kalau kata pepatah. Yu kenalan sama John Raymond, biar sayang sama karya-karya pria lulusan DKV Itenas ini yang rajin mengunggahnya di akun Instagram @johnraymondart.Sekarang kesibukanya ngapain aja?Sekarang masih bekerja di advertising agency lokal di Jakarta. Disamping itu sedang mempersiapkan serangkaian karya yang mimpinya akan jadi materi solo exhibition. Sekarang masih tahap pemantapan karakter karya pribadi.Dulu ceritanya kenapa memilih jurusan DKV?Sejak SD memang sudah suka menggambar dan bermain musik. Sampailah di akhir SMA yang mengharuskan saya untuk meneruskan pendidikan, kecintaan pada desain dan musik itu sama porsinya. Namun kala itu di Bandung belum ada pendidikan formal musik, jadi memutuskan kuliah desain. Sat itu saya senang dengan visual, tapi belum benar-benar menemukan jati diri. Bisa jadi pilihan DKV hanya karena supaya ga ketemu pelajaran IPA haha..Ranah Jiwa itu apa?Ranah Jiwa itu akan jadi judul solo exhibition saya nanti. Makna ranah adalah cakupan, sedangkan jiwa adalah sesuatu yang bisa menikmati karya seni (menurut saya pribadi). Jadi ranah jiwa adalah cakupan sesuatu untuk menikmati seni.Yang menginspirasi kamu dalam berkarya?Banyak hal yang menginspirasi, kalau dari konsep karya bisa terinspirasi dari fenomena kehidupan sosial, musik, keunikan alam semesta, Tuhan, manusia-manusia dengan berbagai sifatnya, dan banyak lagi. Untuk seniman yang jadi inspirasi karakter saya membuat seni ada beberapa, namun yang melekat di ingatan saya Satsuki Shibuya, Andrea Wan, dan Tine Isachsen.BTW, kenapa ingin bikin pameran tunggal? Kan, jaman sekarang ada sosmed yang bisa menjangkau lebih banyak orang untuk melihat karya kamu dan mengapresiasi.. Karena pameran tunggal untuk saya pribadi adalah sebuah achievement. Proses untuk membuat pameran tunggal itu mirip dengan membuat album musik, perlu mengumpulkan materi, aransemen musik, latihan, recording pada akhirnya konser. Pameran tunggal itu ibarat konser dengan media berbeda. Menampilkan buah pemikiran yang dilukiskan dengan komposisi bentuk warna dalam media tertentu dan waktu yang dibutuhkan untuk membuat karya juga mungkin . Tentu saja apresiasi dalam sosmed dan apresiasi dalam pameran tunggal menurut saya berbeda. Dalam pameran, penikmat seni bisa melihat langsung karya, alur pemikiran, dan konsep dari seniman yang memerlukan effort serta waktu untuk menyempatkan datang ke pameran. Hal itu yang membuat pameran tunggal menjadi lebih membuat seniman diapresiasi. Kalau pameran ibarat konser musik, portal seni di sosmed itu ibarat album musik. Sama-sama merasa di apresiasi, bentuk dan effort dalam menikmatinya saja yang berbeda. Pesan apa yang ingin disampaikan melalui karya-karya kamu?Banyak pesan yang saya sampaikan lewat karya. Kadang hanya untuk menyalurkan emosi yang sedang dialami, atau bisa menyebarkan nilai kehidupan dan prinsip hidup yang saya pegang, ada juga karya yang berpesan untuk menguatkan sesama manusia dalam pergumulan hidupnya, atau tentang hubungan spiritual dengan Tuhan yang saya yakini. Apa yang membedakan karya-karya kamu dari karya-karya orang lain?Pada dasarnya semua manusia unik, memiliki wajah yang berbeda. Jika ada wajah yang mirip, karakternya berbeda. Hal itu juga yang membuat seniman selalu mempunyai ciri khas masing-masing, termasuk saya. Namun, di sisi yang lain tidak bisa dipungkiri bahwa tidak ada yang benar-benar original di dunia masa kini. Hanya mengamati, meniru, dan memodifikasi dengan ciri masing-masing. Saya juga demikian, mengamati beberapa seniman inspirasi yang sudah saya sebutkan, lalu meniru untuk latihan, dan memodifikasinya dengan menuangkan gagasan dari pesan yang sedang ingin saya sampaikan lewat karya. Yang bisa membedakan karya saya dengan yang lain, karakter goresan sketsa dengan leburan abstrak cat air dengan warna-warna bold dan goresan-goresan kurva tegas dilarut jadi sebuah komposisi. Mungkin karakter akan lebih terbangun dan dikenal seiring waktu dengan konsisten berkarya. Lalu setelah kuliah desain dan berkeseharian dalam dunia tersebut, apakah kamu merasa sudah menemukan jati diri kamu?Jati diri saya sebagai perupa sudah saya yakini, namun karakter dalam berkarya masih dalam proses mematangkan. Satsuki Shibuya, perupa asal Jepang ini yang membuka pikiran saya tentang berkarya. Pandangannya tentang abstrak, bahwa setiap goresan cat air yang dia lukis itu mengandung pesan spiritual dari semesta. Hal itu yang menggugah saya untuk memadukan seni konseptual dengan abstrak. Goresan sketsa memiliki bentuk yang lebih mudah dicerna dapat memudahkan untuk menyampaikan pesan yang ada di pikiran saya, lalu dipadukan dengan abstrak dengan goresan dan warna lebih seperti acak namun tetap memiliki komposisi yang harmonis dapat menjadi pendukung pesan atau sebaliknya, menjadi pesan utama yang tersirat dari karya saya.Sumber Foto : Dokumentasi PribadiPenulis: Nathania Gabrielle

    Rasa dan Emosi di Balik Gambar Potret Romdhona Prianto - Bagian II

    oleh Retina Rupanya semesta tak berpangku tangan mengetahui kecemasan yang sedang dihadapi Shirom. Semesta pun menghantarkan Shirom berjumpa dengan R. E. Hartanto di dunia maya. Perupa alumnus FSRD ITB itu membukakan mata Shirom bahwa, ternyata ketika perasaan cemas direspon dan diolah sedemikian rupa, ia dapat bertransformasi menjadi karya seni yang bisa dinikmati oleh khalayak ramai. Hal ini membuat Shirom jadi penasaran dengan dunia seni dan mendorongnya untuk mencari tahu tentang seni lebih lagi.Pria berbintang Libra yang bertekad untuk belajar ini pun memberanikan diri mengirim surel kepada Mas Tanto. Gayung bersambut, ternyata Mas Tanto meresponnya secara positif. Shirom mengikuti workshop yang dimentori oleh Mas Tanto, dan hingga kini keduanya masih menjalin hubungan yang baik.Ia terus berlatih dan mencoba berbagai teknik menggambar, salah satunya pointilis, yakni menggambar menggunakan titik-titik hingga membentuk suatu objek.“Dari teknik pointilis aku belajar sesuatu. Kalau dilihat di awal, ga berbentuk. Tapi kalau sabar, diterusin bikin titik-titiknya, lama-lama bakal mulai kebentuk tuh si gambar. Dari sini aku memahami konsep ‘menjalani proses’. Kalau satu titik doang, mungkin ga bakal ada artinya. Tapi kalau diterusin sampai 1.000 titik, it will start turning into shape.. Konsep ini juga senada sama speech-nya Steve Jobs soal connecting the dots. Dimana kita cuma bisa menghubungkan titik-titik itu dengan melihat ke belakang, bukan ke depan. Intinya sih have faith aja kalau titik-titik yang kita bikin bakal menghasilkan gambar yang indah, yang suatu saat ketika kita melihat ke belakang, jadi bisa mikir ‘oh jadi ini hikmah dari semua yang sudah aku jalanin..’. Problem with new artist is they try to run before they are even able to walk. Nah, menghargai proses itu artinya mau belajar pelan-pelan, dari merangkak, berdiri, jalan, jalan cepat, baru lari. Juga menghargai posisi kita, kalau kita baru bisa merangkak, ya syukuri, hargai, minimal kita udah bikin progress,” ucapnya bijak.Ya, pernah berada di ambang kematian membuat Shirom tumbuh menjadi pribadi yang bijaksana dan memiliki pandangan yang berbeda akan hidup ini. Pria yang kini menetap di Cimahi ini pun tak lagi take it for granted dalam menjalani hidup.Attitude-nya yang positif dalam penerimaan diri, menghadapi masalah, dan menjalani kehidupan ini juga diaplikasikannya ke dalam dunia gambar menggambarnya. Memiliki kepribadian yang ekstrovert, memudahkan Shirom untuk terhubung dengan orang lain. Keterbukaannya terhadap orang tanpa disadari menyihir orang lain untuk juga terbuka kepadanya.Ketika menerima pesanan menggambar, ia tak hanya sekedar ingin membuat gambar yang ‘bagus’. Shirom pasti selalu menanyakan ‘kisah’ di balik orang yang akan menjadi objek gambarnya. Tentunya bukan karena sekedar ‘kepo’. Lebih dari itu, dia ingin mendapatkan rasa serta ‘mood’ untuk menggambarnya. Mungkin karena itu, Shirom tak sekedar menggambar objeknya semata, ia juga menggambarkan rasa serta emosi dalam setiap karya-karyanya. Sumber Foto : dokumentasi pribadi, Instagram @sirom_portrait_drawing & @shiromdhona15Penulis: Nathania Gabrielle

    Rasa dan Emosi di Balik Gambar Potret Romdhona Prianto - Bagian I

    oleh Retina Bocah perempuan itu menekuk bibirnya, matanya memancarkan kehidupan. Gemessss, begitulah perasaan yang muncul ketika pertama kali melihat gambaran tangan Romdhona Prianto menggunakan pensil itu. Gambar-gambarnya yang realis memancarkan emosi, membuat orang yang melihatnya merasa terhubung, memiliki kedekatan dengan sosok dalam gambar.Selain menggambar potret bocah cilik, selama ini juga Shirom - begitulah kawan-kawannya memanggil, juga menggambar potret orang dewasa. Pria yang sempat berkuliah jurusan hubungan internasional di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Jogja ini menyambung hidup dari kegemarannya menggambar. Ia menerima pesanan gambar dari kawan-kawannya. Pesanan gambar tersebut biasanya sebagai kado untuk orang terdekat hingga karya yang melengkapi sebuah pernikahan. “Sampai sekarang masih pesanan dari teman-teman dan kenalan saja,” ucap pria yang senang dan pandai bercerita ini.Shirom mulai tertarik dan aktif menggambar sejak divonis dokter mengidap kanker getah bening pada tahun 2011 lalu. Sempat lumpuh tak bisa jalan selama setahun, membuatnya mau tak mau berbaring di ranjang hampir sepanjang waktu. Menggambar menjadi kegiatan kesehariannya di rumah sakit maupun pada masa pemulihan di rumah.Awalnya, ia sempat ga PD dengan hasil gambarnya. Sampai di satu titik, ada salah satu gambarnya yang bikin dia sadar kalau ternyata ‘aku bisa gambar’ dan menumbuhkan rasa percaya dirinya untuk terus ngulik teknik menggambar lebih jauh.Dinyatakan ‘bersih’ dari penyakit yang ganas oleh dokter menjadi buah simalakama, di satu sisi jadi anugerah yang disyukuri, di sisi lain melahirkan penyakit baru bagi pria yang hobi traveling ini. Penyakit baru itu bernama kecemasan. Cemas akan masa depan, cemas akan apa yang mau dilakukan selanjutnya. Sumber Foto : dokumentasi pribadi, Instagram @sirom_portrait_drawing & @shiromdhona15 Penulis: Nathania Gabrielle

    Oleh-Oleh Dari Urban Toys Stage

    oleh Retina Oleh-oleh dari Urban Toy StageAwal bulan Maret ini banyak event artsy yang diselenggarakan, salah satunya Urban Toy Stage 2017. Tim Retina sempet jalan-jalan ke sana dan ini oleh-olehnya. Para desainer toy ini merupakan para visual artist yang biasanya bermain dengan dua dimensi yang mentransformasikan karyanya jadi bentuk tiga dimensi. Namun tak semuanya visual artist, ada juga yang memang berprofesi sebagai desainaer toy dan toy customizer. Urban Toy Stage kali ini bertujuan menjadi titik berkumpul dan pencapaian prestisius untuk para desainer toy lokal. Mereka yang bergabung diacara ini diundang karena produktivitas dan konsistensi mereka dalam berkarya. Karena selama ini dirasa belum ada acara toys fair atau pameran yang mengangkat secara spesifik bertema desainer toy. Ternyata Indonesia punya desainer toy yang kece-kece loh karyanya!

    Mainan Urban

    oleh Retina Mainan UrbanPenulis : Aulia FitrisariFigur mainan apa yang paling kamu ingat saat kecil? Barbie yang menuai kontroversi karena ukuran lingkar pinggang yang tidak seimbang dengan lingkar dada? Tentara-tentaraan warna hijau kecil yang bikin ketagihan main perang-perangan? Figur lengkap hewan-hewan di kebun binatang yang sering dijadikan pengganti pion manusia kalau lagi main rumah-rumahan? Atau boneka bayi yang bisa disusui dan berakhir dengan coretan-coretan heboh, atau rambut gundul karena terus dipakai main salon-salonan? Opsi mainan anak itu banyak, yang jelas figur-figur yang menggiring imajinasi tadi pasti bikin bahagia, apapun kata orang di luar sana.Kalau sudah dewasa, masihkah kamu memainkannya? Ada yang masih, tapi kebanyakan biasanya bosan karena sudah bertemu mainan sungguhan di dunia nyata (tagihan listrik dan masalah kehidupan). Nah, kalau mainan yang satu ini, rasanya lebih keren dikoleksi oleh orang dewasa. Dari namanya saja sudah modern. Serikali disebut ”Urban Vinyl Toy” alias mainan yang terbuat dari soft vinyl untuk masyarakat urban, alias orang kota.Mainan ini lahir di sela-sela budaya pop culture dan dibuat khusus oleh para desainer. Figur yang ditampilkan adalah beragam karakter dengan tampilan lucu dan diproduksi dalam jumlah yang terbatas. Budaya urban, hip hop juga merupakan budaya yang erat dikaitkan dengan mainan ini.Uniknya, urban vinyl toys ternyata dipopulerkan oleh Michael Lau, seorang seniman asal Hongkong yang membuat 12 inch figure, sebelum diikuti oleh Takashi Murakami dari Jepang, Nathan Jurevicius dari Australia yang merancang Scarygirl dan Craig Anthony Perkins dari Los Angeles, lalu yang terkenal juga adalah seniman grafiti KAWS.Mulai popular di tahun 2005, tak semua urban vinyl toys berbentuk bulat-bulat. Jenisnya ada 3 versi, platform figure yang berbentuk polos dan harus direspon oleh desainer lain untuk jadi karya baru, unique sculpt yang bentuknya lebih rumit dan lebih mirip action figure dan kaiju yang berbentuk monster.Di Indonesia sendiri, sudah banyak pameran urban toys yang dibuat sebagai bentuk apresiasi pada media berkarya ini. Seniman yang pernah membuat urban vinyl toy diantaranya adalah Addy Debil, Bowo Baghaskara, David Cornelius Tan, Eric Noah, Rizky zakaria, Karamba Art Movement, dan banyak lagi. Photo Credit : instagram/urbantoystage

    KAR Jewellery Mengolah yang Berbeda

    oleh Retina Kerajinan tangan mengolah tanah liat yang menghasilkan benda berupa keramik bukan hal baru. Proses pembakaran yang dilewati untuk akhirnya menjadi benda fungsional sudah dikenal bahkan sejak 4000 tahun lalu dengan corak primitif berwarna hitam putih dan mudah pecah. Tak cuma jadi perabotan rumah, keramik yang banyak jadi simbol budaya menjelma dalam bentuk perhiasan yang mendukung gaya berpakaian. KAR, salat satu label lokal milik Tania Kardin, berekspolari dengan material ini, mengemas keramik dalam bentuk modern. Percakapan singkat dengan Tania, cukup memberi gambaran singkat dan padat tentang produk yang ia dan rekannya kembangkan. Mengolah keramik sebagai aksesoris sebenarnya bukan sesuatu yang baru, bagaimana kamu mengolahnya hingga ada pembeda dari aksesoris lainnya ?Poin yang khas dari KAR adalah penggunaan keramik (porcelain bone china) sebagai material utama dan inti dari tiap koleksi yang kita hasilkan. Selain itu juga setiap koleksi kita selalu berusaha untuk mengeksplorasi dan mengkombinasikan keramik dengan material lainnya (kuningan, silver, emas, tekstil, dan kayu).Apa yang terpikirkan ketika membuat perhiasan ? apa karena memang sejak dulu suka bidang desain, atau memang punya ikatan tersendiri dengan dunia perempuan dan kecantikan ?Latar belakang kita dari Kriya Keramik ITB, hal itu yang membuat dari sejak kuliah hingga setelah lulus kuliah terbiasa bermain di bidang keramik dan desain. Selain itu, kita juga punya ketertarikan khusus ke bidang fashion jewellery.Ketika membuat perhiasan ada banyak faktor yang terlibat, biasanya hal tersebut muncul dari hal hal keseharian.Respon seperti apa yang paling diharapkan dari yang menggunakan KAR ?Kita berharap teman-teman merasa nyaman dan percaya diri menggunakan KAR. Dari sisi penggunanya, tentu saja aksesori ini beda dengan yang lainnya. Bukan hanya karena rancangannya saja, tapi bentuknya yang memang dibuat langsung dengan tangan, membuatnya begitu personal. Buatan tangan memang sulit untuk mencapai kesempurnaan, tapi kegagalan-kegagalan kecil yang dibuat KAR selagi menjalani proses karyanya, justru yang memberi nilai lebih. Penulis: Aulia Fitrisari
    Memuat