Notifikasi

    RADIO OF ROCK TOUR SERIAL 2

    oleh RURUradio Setelah menuntaskan RURUradio Radio of Rock Tour Serial 2 menyambangi Purwokerto - Solo - Malang - Surabaya - Denpasar dengan keanehragaman yang mengeratkan tali pertemanan, persahabatan, persaudaraan dan bahkan perjodohan dalam situasi yang menyenangkan gembira gegap gempiskoy dengan mempersembahkan band-band Efek Rumah Kaca, White Shoes & The Couples Company, Goodnight Electric, Sangkakala, Inntena, Silampukau,The Hydrant yang membuat perjalanan berat jadi ringan dan penuh kenangan, mari kita kembali menikmati suasana semua itu dalam satu suguhan dokumentasi skoy yang membuat mata berkaca dan hati menerawang.Sikat skooooyyyyy!!!!

    Diskusi Tambahan yang Menambah Warna

    oleh RURUradio Salah satu faktor penyebaran informasi detail Radio of Rock Tour Serial 2 adalah media sosial. Secara kolektif, seluruh pihak yang terlibat di dalam tur ini mengabarkan kepada publik yang mereka kuasai tentang keberadaan tur ini. Efeknya menggelinding dan kabar tentang rangkaian tur ini bisa tersebar dalam waktu yang singkat.Irisan yang kuat antara media sosial dengan seluruh pihak yang terlibat menjadi bahasan yang menarik untuk didiskusikan. Terlebih, anggota rombongan Radio of Rock Tour Serial 2, juga memiliki latar belakang yang beragam. Ada dua seniman visual yang sedang menjadi perhatian banyak orang, The Popo dan Komikazer. Keduanya memanfaatkan media sosial sebagai media untuk menyebarkan karya visual mereka. Dari media sosial, berbagai macam kemungkinan bisa terbuka lebar.Kisah bagus ini dibagi di tiga kota yang disinggahi Radio of Rock Tour Serial 2: Solo, Surabaya dan Denpasar.Di masing-masing kota, sejumlah seniman visual lokal juga ikut urun rembug. Karakter yang beraneka ragam membuat diskusi berjalan dengan seru. Ditambah lagi, keberadaan duo moderator kocak, Gilang Gombloh dan Adjis Doaibu menambah bumbu. Mendiskusikan hal-hal yang ringan di sela-sela tur menjadi kegiatan yang menarik untuk dilakukan. Lumayan memberikan dimensi baru pada mereka yang datang menyimak.“Kami ingin diskusi-diskusi ini menjadi tradisi. Jadi, tur ini tidak hanya memberikan musik saja, tapi ada hal lain yang dibagi dari anggota rombongan yang lain,” kata Indra Ameng, salah satu inisiator Radio of Rock Tour Serial 2.Untuk sebuah kebiasaan baru, diskusi-diskusi model begini mendapatkan tempat yang seharusnya. Mereka, berhasil menambah warna. (*)

    Berbagi bersama Azer dan The Popo

    oleh RURUradio Di sepanjang rangkaian Radio of Rock Tour Serial 2, talks menjadi salah satu agenda penting. Di masing-masing kota, proses berbagi inspirasi ini mengisi cerita perjalanan.Dua orang seniman visual yang juga terlibat di banyak program RURUradio, Azer dan The Popo berkesempatan untuk berbincang dengan sejumlah orang di beberapa kota yang dilewati. Proses pengkaryaan yang dikombinasikan dengan pengaruh media sosial yang berbasis dunia digital menjadi bahasan. Kedua nama ini memang layak dijadikan subyek untuk berbagi referensi. Dengan pendekatan yang berbeda, keduanya tetap bisa memberi inspirasinya masing-masing untuk orang banyak.Azer lebih banyak berkutat dengan komik yang jenaka tapi di saat bersamaan bisa mengantarkan pesan penting tentang sebuah isu. Dari situ, basis penyimaknya berkembang pesat sehingga menjadi besar secara organik.Sementara The Popo lebih berkonsentrasi pada street art berbentuk grafitti dan mural yang punya arahan topik lebih kritis.Kajian-kajian kritis yang mereka lakukan lewat cara yang sederhana membuat rangkaian karyanya jadi lebih mudah diterima oleh orang banyak.Di kesempatan Radio of Rock Tour Serial 2 ini, Azer dan The Popo kedapatan giliran untuk berbagi di Solo, Surabaya dan Denpasar. Di masing-masing kota, bergabung juga sejumlah seniman lokal yang menambah materi pembahasan. Penyatuan topik dengan konteks lokal membuat semua pihak yang terlibat mendapatkan suatu bahasan untuk dikantongi. Scene visual memang tidak bisa dilepaskan begitu saja kaitannya dengan musik. Keduanya saling berkaitan dan memberi pengaruh satu sama lain. Begitu juga dengan penyebarannya yang sangat erat bersisian dengan teknologi. Bahasan yang terbagi di seputar beberapa kondisi keseharian yang didapati, membuat topik menjadi menarik. Memang, tidak banyak penyimaknya, tapi diskusi yang terjadi malah makin berkualitas lewat lemparan-lemparan feedback yang diberikan oleh audiens yang ditemui di masing-masing kota.Ide untuk mencampur adukkan proses berbagi dengan rangkaian tur, terbukti menambah nilai dari perjalanan panjang ini. (*)

    Silampukau: Tuan Rumah yang Baik

    oleh RURUradio Eki Tresnowening nampak sibuk mengeluarkan sebuah kardus dari dalam mobil yang diparkir di samping gedung. Kardus itu polos, tidak ada penanda.Tapi, orang-orang yang ditemuinya sepanjang perjalanan menuju bagian dalam gedung, menyambutnya dengan sumringah. Beberapa bahkan seolah tidak sabar untuk menunggu Eki meletakkannya di lantai dan membuka. Kardus polos itu berisi anggur merah yang aspek legalitasnya diakui oleh pemerintah. Anggur merah adalah suplemen andalan buatnya dan Kharis Junandharu, partnernya di Silampukau. Berbagai macam cerita yang mereka rekam, kebanyakan ditemani campur tangan minuman favorit banyak orang ini. Tidak beda hari itu.Tentu saja, aksi hangat ini berguna untuk banyak anggota rombongan Radio of Rock Tour Serial 2 yang memang menjadikan anggur merah favorit milik bersama. Silampukau turut beraksi di Surabaya menemani White Shoes and the Couples Company, Efek Rumah Kaca dan Goodnight Electric. Sejak merilis debut album penuh Dosa, Kota dan Kenangan, Silampukau berhasil menemui berbagai macam kemungkinan baru. Termasuk tur ke banyak kota di Indonesia untuk mempertontonkan materi-materi di album itu yang mendapatkan banyak pengakuan orang. Album yang bagus itu, berhasil menuntun mereka untuk menemui publik yang lebih luas.Kendati harus berkompromi dengan banyak hal, mereka memahami bahwa memperkenalkan sesuatu adalah investasi. Dan proses harus dijalani untuk ke sampai titik yang diinginkan. Bermain di dalam rangkaian tur ini dan menjadi tuan rumah yang baik untuk seluruh anggota rombongan tur juga merupakan salah satu satu kontribusi positif mereka untuk musik. Silampukau, dengan bangga mempertontonkan lagu-lagu hebat mereka di depan home crowd yang begitu apresiatif. Bermain dengan format asli –empat personil lengkap dengan drum— yang pada waktu itu masih asing untuk luar kota, terbukti membawa musik mereka lebih variatif dan tidak monoton.Perhatian dicurahkan dalam jumlah yang besar. Penonton dan banyak orang di sisi panggung tertegun menyaksikan format yang sedikit berbeda ini.“Kami aslinya memang seperti ini, main berempat. Kalau keluar kota memang harus menyesuaikan karena ada banyak halangan seperti logistik dan budget. Tapi kalau di Surabaya, harus diperjuangkan untuk main dengan format penuh,” ujar Kharis Junandharu. Yang ia bilang benar, Silampukau memang lebih punya nyawa dengan formasi lengkap. Respon aksi reaksi yang ideal pun tersaji dengan baik. Menyenangkan rasanya bisa menikmati tuan rumah yang tahu persis harus melakukan apa untuk membuat semua orang bisa menikmati malam. Setelah main, tentu saja mereka masih berkeliaran di belakang panggung. Satu kardus polos itu perlu waktu untuk dihabiskan bertemankan tawa yang tidak terhenti. (*)
    Memuat