Notifikasi

    Liburan Awal Tahun di Pesisir Barat Lampung

    oleh Tias Anugrah Akhirnya wacana yang didiskusikan bersama teman-teman satu tongkrongan diakhir tahun kemarin tereksekusikan diawal tahun ini. Kami memilih untuk kembali ke tempat wisata pantai yang pernah kami kunjungi beberapa tahun lalu. Ya, Pantai Krui dan Pantai Tanjung Setia menjadi pilihan kami. Pantai yang merupakan salah satu spot wisata favorit bagi para wisatawan khususnya kalangan surfer mancanegara. Tempat yang sejuk dan damai yang menyajikan keindahan alam luar biasa dengan pasir putih dan ombaknya yang gemulai. Lokasi wisata pantai ini berada di Pesisir Barat Lampung.Kami menempuh perjalanan kurang lebih 11 jam dari kota Palembang. Sebenarnya agenda perjalanan liburan kami ini hanya kami rampungkan untuk ber-5, mengingat keadaan kendaraan yang kurang memadai, mobil yang kami bawa tidak berdaya tampung muatan besar, hanya cukup untuk 5 orang dan beberapa barang kebutuhan. Namun dihari ketika kami mau berangkat, ada 2 teman yang ingin ikut dan ngotot akan menempuh perjalanan dengan mengendarai motor, akhirnya kami sepakat untuk beriringan dan berganti-gantian kendaraan jika ada yang lelah selama perjalanan yang kami tempuh.Singkatnya, akhirnya kami tiba di Pantai Krui. Begitu tiba kami langsung berenang di pantai untuk penyegaran karena cukup lelah di perjalanan yang jauh. Setelah selesai kami langsung mendirikan tenda untuk bermalam. Kami memang merencanakan perjalanan kami dengan mandiri agar lebih seru, asik dan keakraban yang lebih. Tanpa hotel, penginapan yang mahal, bahkan losmen sekali pun. Hanya cukup dengan 2 tenda dome dengan muatan total 8 orang untuk kami beristirahat.Sejujurnya Pantai Krui tidak seindah dulu ketika pertama kali kami liburan disana, mungkin karena sudah terlalu banyak terjamah wisatawan dan ditambah pasangnya air laut yang menutupi pasir pantai sehingga pantai tak terlalu luas lagi untuk dinikmati.Lalu dihari berikutnya, kami memilih untuk pindah lokasi ke Tanjung Setia, cukup dengan waktu tempuh setengah jam perjalanan dari Krui. Begitu tiba kami menemukan spot yang cukup jauh dari jalan raya, namun luar biasa indah disalah satu perkebunan kelapa milik seorang Bapak yang baik hati disana, dan juga dijaga oleh seorang Bapak tua dan keluarganya yang baik hati pula. Tempat yang luas dengan banyak pohon kelapa, dan langsung disajikan pemandangan indah lepas pantai nan luas dan pasir pantai yang bersih. Lebih menyenangkan lagi karena disana hanya kami dan tak ada seorang pun yang berwisata, kami merasa seperti di rumah sendiri. Kami memutuskan untuk disana selama 2 hari 2 malam. Bergitar, bersenda gurau, tertawa-tawa, bercerita dengan si Bapak penjaga kebun, bermain bola, api unggun, dan pastinya berenang dan bermain ombak di pinggir pantai.Tempat yang luar biasa indah dan suasana yang tak terlupakan. Tanjung Setia cocok sekali untuk destinasi perjalanan dalam list kalian jika kalian ingin menikmati liburan bersama teman-teman dengan suasana keakraban yang kental. Namun yang perlu diingat adalah jangan pernah sesekali kalian kotori dan marilah jaga kebersihannya. Karena menjaga alam beserta keindahannya adalah tugas dari masing-masing kita yang diberi tempat hidup oleh Sang Pencipta dimana pun kita berada.

    Interview Bareng Rowe Seputar Street Art

    oleh Tias Anugrah Untuk scene street art, Palembang bisa dibilang tak kalah dengan scene-scene street art atau visual art kota-kota lain di Nusantara. Banyak sekali street artist yang mulai bermunculan, dan nama-nama lama pun tetap ikut meramaikan agenda-agenda acara visual art yang diorganisir oleh teman-teman lokal, juga mereka ikut andil dalam membesarkan nama Palembang untuk lebih ditoleh di sub-culture street art atau visual art Nasional.Rowe salah satunya, muralist yang sudah cukup lama berkecimpung di scene street art atau visual art lokal ini juga punya peran besar terhadap kemajuan scene di kota ini. Muralist bernama asli Romy Rizki Pratama ini dalam kesehariannya sibuk sebagai Store Manager di Daftstore Palembang, salah satu store yang cukup ternama disini.Darah muda berkelahiran tahun 1993 ini membuktikan bahwa kesibukannya sehari-hari tidak menghalanginya untuk terus berkarya di sub-culture visual art Palembang.Ya, dan kali ini simak obrolan saya bersama Rowe seputar cerita menariknya di dunia Street Art.Apa kabar nih Rowe?Alhamdulillahh baik dongSemenjak kapan Rowe nyemplung ke dunia street art? Dan apa yang buat Rowe tertarik untuk mulai nge-mural?Semenjak duduk di bangku SMP, hal yang menarik sehingga saya mulai ngemural itu ketika melihat coretan di tembok/dindingjalanSebenernya mural itu apa sih? Dan apa yang ngebedain mural sama grafiti?Menurut saya, mural itu sebagai tanda/pesan seseorang yang ingin mengapresiasikan pikirannya secara visual, bedanya mural sama graffiti mungkin terletak di toolsnya doang, kalau mural biasanya dilakukan dengan kuas, spons, kain. Kalau grafitty itu menggunakan kaleng/cat semprot dan beberapa alat bantu lainnya. Dan perbedaan hasil gambarnya pun biasanya kalau mural itu masih berbentuk/berupa, tapi kalau grafitty itu biasanya berbentuk font/letterDenger-denger katanya Rowe punya proyek mural yang namanya Dauruang, emang Dauruang itu apa sih?Kalau Dauruang sendiri adalah sebuah gerakan atau wadah untuk orang-orang yang tertarik di bidang art, belajar gambar dan beberapa proyek design yang berkaitan dengan art Sejak kapan Dauruang berdiri? Bisa lah ceritain sedikit gimana inisiatif bisa nge-bentuk Dauruang ini?Dauruang telah ada di tahun 2013 awal, dan terbentuk di kota Bandung, dimulai dari ketidaksengajaan yang di rencanakan, sebelum Dauruang ada nama yang mewakilkan berdasarkan gerakan yang saya bikin, yaitu ART & ROOM, karena hanya bergerak di bidang mural di dinding-dinding ruangan atau kamar. Dengan berjalanya waktu saya pun berpikir untuk memperluas gerakan tersebut, dengan kegiatan dan perbuatan yang lebih sehingga saya biasa melibatkan orang banyakProject kedepan yang sedang digarap oleh Dauruang?Saya ingin membentuk pola pikir di kota saya, ketika semua orang membutuhkan bantuan design, mural dan sebagainya yang berhubungan dengan dunia art, mereka langsung berpikir DAURUANG lah tempatnyaCeritain sedikit moment yang paling Rowe inget selama terjun ke dunia mural?Ketika semua orang suka dengan karya yang saya buat, dan mereka ingin memilikinyaBoleh dong ya kasih wejangan sedikit buat street artist lokal Palembang untuk tetap berkarya?Pointnya lakukan, berbuat dan jangan pernah meragukan apa yang kamu rencanakan untuk berkarya dalam bidang apapun itu

    Solidarity Gig From Us For Aceh

    oleh Tias Anugrah Tak butuh banyak alasan atau memang tak butuh mencari alasan dalam mengorganisir sebuah aksi solidaritas. Merespon bencana bukan hanya sekedar penggalangan dana, tapi juga sebuah penguatan untuk penyintas agarnya bisa menyusun ulang kehidupannya (dalam hal ini) dari reruntuhan bencana alam, untuk terus bertahan, untuk terus melanjutkan hidup. Dan sekali lagi yang menjadikan kenapa sebuah solidaritas begitu penting: saling menguatkan untuk terus hidup adalah yang utama. Aceh kembali lagi ditimpa bencana gempa, maka selanjutnya adalah penggalangan solidaritas akannya. Mengajakmu semua untuk bergabung di tanggal 26 Desember 2016, sekaligus tepat 12 tahun tsunami aceh, dalam sebuah gigs solidaritas "From Us For Aceh." It's from us, not anybody, bring what you think you can bring and give to survivor.Ya, begitulah caption menarik yang tercantum dalam digital flyer yang diposting teman-teman lokal dan juga partisipan yang terlibat di dalam acara Solidarity Gig From Us For Aceh yang kemarin tepat bertepatan dengan 12 tahun tsunami Aceh digelar di 4sore Cafe Palembang. Sebetulnya gigs yang diorganisir oleh banyak partisipatoris (begitu mereka menyebut partisipan yang terlibat) yang diantaranya adalah 4sore, Rocker Serabutan, Spektakel Klab, Youth Generator, Rimauman Music, Groovies Studio, Blacksheep Studio, RAW Rock Art Wear, Angkringan Bangkoek, dan Obscure Division ini dibuat untuk merespon gempa bumi Aceh yang berkekuatan 6,4 Skala Richter dan juga banyak memakan korban jiwa yang terjadi tanggal 7 Desember 2016 kemarin. Sengaja dipilih tanggal 26 Desember untuk sekaligus memperingati peristiwa bencana alam besar 12 tahun tsunami yang merenggut ratusan ribu nyawa pada waktu itu. Di gigs ini, terbuka juga bagi mereka yang ingin terlibat untuk melapak barang yang pembagian keuntungannya didonasikan untuk acara sesuai yang disepakati oleh panitia dan pelapak.Gigs ini dimulai pukul 5 sore. Dipandu oleh MC amatiran yaitu Agil Zihni dan Tias Anugrah. Melibatkan 7 band dari berbagai genre, band-band yang semuanya hampir tidak asing lagi di telinga tentunya. Namun di laga pembuka saya cukup terkesima dengan satu nama yang terdengar asing, yaitu Hear The Sound Of The World (H.T.S.O.T.W), yang ternyata adalah nama baru dari Time salah satu band indie rock/post-rock lokal favorit. Selepas hengkangnya si vokalis, lalu mereka memilih untuk terus melanjutkan musik mereka walau tanpa vokal. Ini penampilan perdana mereka dengan konsep baru tersebut, terus terang mereka tampak sangat memukau, dan mungkin selama saya menonton mereka ketika masih berwujud Time, ini adalah penampilan terbaik mereka, sebuah metamorfosis yang berbuah manis. Setelah H.T.S.O.T.W, penampilan langsung disambung oleh Tabu, unit grindcore yang baru saja merilis EP mereka bertajuk Simulasi Mati, mereka masih terlihat berbahaya walau saat itu berformat duo karena Tomi sang vokalis absen.Hear The Sound Of The World (Photo by Muhammad Megi)Acara dilanjutkan kembali pukul 19.30 WIB oleh Black Coffee Ice yang kembali memasukan City of Ghost milik ((AUMAN)) dalam song list mereka malam itu, seperti biasa dicover ala ska/reggae, tentunya membuat crowd yang dari tadi malu-malu langsung menyerbu ke depan stage untuk berdanska bergembira. Lanjut ke band berikutnya, Gerram malam itu memastikan crowd mereka tak berhenti melakukan stage diving sampai-sampai lampu gantung yang menghiasi 4sore sempat ambruk terkena kaki dari salah seorang crowdsurfer, untungnya langsung tanggap dirapikan kembali oleh panitia.GERRAM (Photo by Muhammad Megi)Tempo penampilan band-band yang sengaja diatur naik turun oleh panitia sangat pas untuk membuat crowdsurfer beristirahat sebentar, menghilangkan keringat sembari menikmati penampilan dari Aksata. Penampilan dan musikalitas Aksata selalu membuat saya terbius suasana, selain itu Ella (Bass) juga selalu berhasil mencuri perhatian audience ketika jari-jemarinya memainkan bass saat Aksata tampil, apalagi di gigs ini Ella satu-satunya pemanis di atas panggung dari beberapa band yang terlibat.AKSATA (Photo by Tias Anugrah)Selanjutnya aksi dari Manekin, Trio Powerviolence yang baru-baru ini juga merilis debut album Dead Violence Society dalam format kaset. Berisi lagu yang menyuarakan perlawanan dan kritik sosial akan anti fasisme. Manekin sukses memperkeruh mosh pit setelah aba-aba dari Taxlan (Vocal) direspon dengan baik oleh crowd yang langsung membentuk circle pit dan bersiap stage diving untuk lagu-lagu dengan tempo cepat dan durasi singkat. Akhirnya Hold It Down berada di formasi penampilan terakhir, band Hardcore ini sukses menutup Solidarity Gig From Us For Aceh dengan membawakan Sriwijaya Hardcore Alliance featuring Boilank dari Trendy Reject.MANEKIN (Photo by Tias Anugrah)Malam itu benar-benar berkesan. Entahlah, sebenarnya memang sudah jarang sekali gigs dengan suasana keakraban yang kental seperti ini atau mungkin saya yang mulai sering absen di agenda-agenda gigs yang menyenangkan. Ini menunjukan bahwa dalam kondisi apapun kita wajib tetap peduli akan sesama makhluk Tuhan dan menunjukan kepedulian juga solidaritas. Bahwa musibah tak harus direspon dengan kesedihan berlarut-larut, terkadang kita harus tersenyum dan bahagia untuk memancing senyum dan kebahagiaan mereka juga, untuk menghibur dan sejenak melupakan apa yang mereka alami. Semoga apa yang dilakukan teman-teman scene lokal bisa bermanfaat untuk saudara-saudara kita di Aceh. Karena seharusnya keluarga bukan hanya tercipta lewat hubungan darah, tetapi juga karena kebersamaan dan kepedulian antar sesama.Mosh Pit (Photo by Iga Aldila)

    Mengulas Kembali "Artmoshpit Compilation Album"

    oleh Tias Anugrah Satu tahun yang lalu tepatnya pada Desember 2015, muncul sebuah proyek album kompilasi yang bertajuk Artmoshpit Compilation Album yang digagas oleh Artmoshpit, yaitu sebuah inisiatif kreatif dari penggiat komunitas kreatif di Palembang, yang juga bekerjasama dengan Rimauman Music sebuah label musik mandiri yang juga berdomisili di Palembang, sebagai usaha menciptakan medium bagi band-band lokal Palembang dengan tujuan menembus batas lokalitas. Proyek album kompilasi ini mengenalkan aksi-aksi lokal scene musik Palembang secara lebih luas.Artmoshpit Compilation Album sebenarnya merupakan puncak dari rangkaian Artmoshpit, sebuah kegiatan musik juga beberapa sub-culture lain yang sudah berjalan dari November 2014. Beberapa rangkaian kegiatan tersebut diantaranya bertajuk Artmoshpit Zombie Invasion, Artmoshpit Otak Atik Musik, Artmoshpit Exchange, dan beberapa lainnya, sampai kepada Artmoshpit Fest 2015, yaitu release party dari album kompilasi tersebut yang juga turut mengundang Rajasinga (trio grindcore asal Bandung) dan Stars and Rabbit (duo folk asal Jogjakarta).Proses pengerjaan proyek album kompilasi ini dimulai dari band-band lokal yang ingin ambil bagian wajib mendrop demo lagu yang mereka ingin ikut sertakan di studio-studio yang sudah bekerjasama, yaitu Alexandria Studio, Blacksheep Studio, dan Groovies Studio. Setelah itu demo mereka akan dikurasi dan terpilihlan beberapa band. Namun ada juga beberapa band yang dipilih tanpa melalui tahap drop demo karena dinilai punya cukup kontribusi dan produktifitas untuk scene musik di kota Palembang. Album kompilasi ini berisi 19 band dari berbagai genre yang dinilai cukup kuat sebagai usaha untuk membakar batas lokalitas bahwa apa yang dilakukan di level lokal pun bisa mendapat apresiasi secara nasional, sebuah usaha kecil yang memiliki dampak yang besar.Artist: Various ArtistsAlbum Title: Artmoshpit Compilation AlbumFormat: Compact DiskLabel: Rimauman Music/ArtmoshpitCatalogue: RIMAUMAN-007/2015Country: IndonesiaRelease date: 19 December 2015Genre: Multi Genre Tracklist: 1.Sumar - Never Break Me Down2. Vent - Hidden3. Archie - Aktivasi Hati4. For Tomorrow - Masih Tersisa5. Black//Hawk - Nervous Breakdown6. Kantong Simayit - The Last Tiger Ogre7. Aircraft901 - Ghost In My Head8. FourtySixth Block - Glory and Story9. Against Oppression - Second Nature10. Chicken Shit Flower - Roda Paramuda11. Black Coffee Ice - S'moka Senja12. Nesto - Sohib Plastik13. Chicks Brain - Generasi Konsumtif14. Gerram - the Bloodthirst15. [C54] - Heartless16. Time - Time that Gone17. Cloud - Hopes for Freedom (Don't Afraid Sleeper)18. Shekill - Laga Pembantaian19. Dream Catcher - Change the World Bands curated and selected by Artmoshpit and Rimauman MusicProduced by Artmoshpit and Rimauman MusicMastered by Panji MustaqiemManufactured and distributed by Rimauman MusicDesign and layout by KIMO28**Rimauman Musicrimaumanmusic@gmail.comhttps://twitter.com/RimaumanMusichttps://soundcloud.com/RimaumanMusic Artmoshpitartmoshpit14@gmail.comhttps://twitter.com/ARTMOSHPIThttps://instagram.com/artmoshpit

    Eat Cafe n Resto dan Kontribusi Untuk Scene Musik Lokal

    oleh Tias Anugrah Di Palembang, cukup banyak jika anda ingin menemukan tempat makan atau cafe yang asik untuk sekedar nongkrong atau berkumpul bersama teman-teman menikmati waktu luang sambil menikmati live music atau hiburan sejenisnya yang rutin digelar oleh cafe itu sendiri. Namun sangat membutuhkan speak yang lincah serta budget yang ekstra untuk melobby sebuah cafe yang ingin tempatnya anda pakai untuk sebuah acara musik atau gigs agar cafe itu memberi izin tempatnya diperbolehkan untuk dipakai sebagai sebuah space pertunjukan musik. Tetapi itu tidak berlaku bagi Eat Cafe ‘n Resto Palembang.Eat Cafe ‘n Resto adalah bukti nyata bahwa masih ada cafe yang mensupport scene musik lokal Palembang, bahkan kebanyakan dari scene musik yang singgah untuk membuat gigs disini adalah musik-musik yang bisa dibilang keras atau malah underground sekalipun. Entah sudah berapa banyak gigs yang lalu lalang di cafe ini, mulai dari band yang merayakan hari jadi mereka, launching album mereka, music workshop, atau hanya sekedar ber-reuni ria, hingga band-band luar kota yang singgah melakukan tour mandiri. Eat selalu turut ambil bagian dalam mendukung pergerakan scene musik di kota ini.Cafe yang berlokasi di Jalan Hangtuah nomor 4 Talang Semut ini berkonsep outdoor cafe ala London, itu bisa dilihat dari gambar yang berada di tembok sisi sebelah kanan ketika anda masuk cafe ini, yaitu cover album salah satu band legendaris dunia The Beatles di album Abbey Road. Untuk menu andalan, kalian bisa mencoba berbagai macam steak yang rasanya tidak perlu diragukan lagi. Ya, kembali ke topik awal, bayangkan untuk cafe sekelas ini masih mau terlibat untuk memberi space kepada scene-scene musik lokal yang mau mandiri dan tetap berkarya tanpa pandang genre apapun yang mereka mainkan. Salut sekali untuk Eat Cafe ‘n Resto dan semua kontribusi yang mereka berikan sampai detik ini.

    Berkenalan dengan Pempek, Makanan Khas Kota Palembang

    oleh Tias Anugrah Pempek atau empek-empek adalah merupakan makanan khas dari kota Palembang. Namun menurut cerita dan sejarahnya, pempek bukanlah makanan asli orang Palembang, tetapi makanan yang dibuat oleh orang Tionghoa/Cina yang merantau dan bermukim di Palembang yaitu sekitar abad ke-16, saat Sultan Mahmud Badaruddin II berkuasa di Kesultanan Palembang Darussalam. Seiring berjalannya waktu, maka pempek menjadi makanan yang sangat disukai oleh semua warga di Palembang dan menjadi makanan khas di kota peninggalan Pemerintahan Kerajaan Sriwijaya tersebut.Nama pempek atau empek-empek ini banyak diyakini berasal dari sebutan “apek”, yaitu sebutan untuk lelaki keturunan Cina. Menurut cerita masyarakat Palembang, dulu ada seorang apek yang tinggal di pinggiran tepian sungai musi yang merasa bahwa tangkapan ikan yang didapat dari Sungai Musi belum semuanya dimanfaatkan dengan baik untuk dihidangkan sebagai makanan, hanya sebatas digoreng atau dipindang. Ia lalu berinisiatif untuk mengolah daging ikan giling dengan tepung tapioka, sehingga menjadi makanan baru dan dijajakan oleh para apek dengan bersepeda keliling kota Palembang. Orang-orang Palembang yang ingin membeli, biasanya mereka memanggil lelaki Tionghoa/Cina tersebut dengan panggilan “pek... apek”, maka dikenal makanan ini dengan nama pempek atau empek-empek.Hampir setiap hari orang Palembang memakan pempek. Pempek dihidangkan bersama cuka atau disebut orang Palembang dengan cuko yang menjadi menu wajib dan hidangan andalan ketika ada tamu yang datang dari kota-kota luar Palembang. Cuka adalah kuah yang berwarna hitam kecoklat-coklatan yang dibuat dari gula merah dan cabe rawit yang ditumbuk sehingga membuat cuka terasa pedas sebagai salah satu pelengkap dang penambah rasa nikmat ketika menyantap pempek. Seiring berjalannya waktu, menyantap pempek juga biasanya ditambahkan dengan udang ebi dan mentimun untuk menambah cita rasa di lidah.Banyak sekali jenis pempek, yang terkenal diantaranya adalah pempek lenjer dan pempek kapal selam (pempek telur besar). Ada juga pempek ada’an (pempek bulat), pempek pistel (berisi pepaya muda rebus), pempek keriting atau pempek kerupuk, pempek kulit, dan beberapa jenis pempek lainnya. Pempek yang terbuat dari ikan yang lezat biasanya memiliki harga yang mahal, tetapi jangan takut ketika anda berada di kota Palembang, karena banyak toko atau warung yang menjual pempek dengan harga yang relatif murah dan terjangkau, walapun harga kaki lima namun rasa bisa bersaing dengan bintang lima.
    Memuat